Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 3 Juli 2019

iran jenderal Kioumars HeydariJakarta, ICMES: Iran siap meladeni secara telak segala bentuk serangan dan agresi negara musuh besarnya, AS.

Rezim Zionis ini sedang mempersiapkan kemungkinan keterlibatan militer dalam konfrontasi yang mungkin terjadi antara Iran dan AS.

Rusia menyatakan bahwa serangan Israel yang berkelanjutan terhadap Suriah merupakan ancaman bagi stabilitas regional serta eskalasi ketegangan yang menimbulkan kekhawatiran Moskow.

Militer Suriah sudah menyiagakan sistem S-300 militer Suriah dalam peristiwa serangan terbaru Israel, namun fasilitas itu tidak digunakan.

Berita selengkapnya:

Israel Nyatakan Siap Keroyok ke Iran

Menteri Luar Negeri Israel, Yisrael Katz, Selasa (2/7/2019), menyatakan bahwa rezim Zionis ini sedang mempersiapkan kemungkinan keterlibatan militer dalam konfrontasi yang mungkin terjadi antara Iran dan AS.

Sembari terus mendorong AS agar terus menekan Iran dengan sanksi, Israel memprediksi Teheran pada akhirnya akan menyerah dan berunding lagi untuk menjalin kesepakatan nuklir yang lebih ketat.

Namun demikian, kepada sebuah forum keamanan internasional Yisrael Katz mengatakan bahwa Iran mungkin secara tidak sengaja akan tersandung dari apa yang disebutnya “zona abu-abu”, yakni konfrontasi terkendali.

“Harus diperhitungkan bahwa perhitungan yang keliru oleh rezim (Iran) ini… bertanggung jawab membawa perubahan dari ‘zona abu-abu’ ke ‘zona merah’ – yaitu, kebakaran besar militer,” katanya dalam sebuah pidato pada Konferensi Herzliya.

Israel sudah lama mengancam menempuh tindakan militer pre-emptive untuk mencegah apa yang disebutnya upaya Iran membuat senjata nuklir, tuduhan yang selalu dibantah Iran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu Senin lalu menyatakan bahwa dalam waktu dekat ini negaranya akan mengajukan argumen tambahan yang membuktikan apa yang disebutnya sebagai tindakan Iran mengelabui khalayak internasional terkait dengan kesepakatan nuklir.

Dia juga menegaskan bahwa bagaimanapun juga Israel tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.

Ketegangan antara Iran dan AS meningkat setelah Washington menarik diri dari perjanjian nuklir multilateral tahun 2015 sejak lebih dari satu tahun lalu. AS kemudian memberlakukan kembali sanksi ekonomi berat terhadap Teheran. (reuters/raialyoum)

Militer Iran Akan Lawan Serangan AS Dengan “Fasilitas dan Teknologi Lokal”

Komandan Angkatan Darat Iran Brigjen Kioumars Heydari, Selasa (2/7/2019), menegaskan negaranya siap meladeni secara telak segala bentuk serangan dan agresi negara musuh besarnya, AS.

Dia juga memastikan bahwa Iran mandiri di bidang alutsista sehingga tidak akan mengandalkan sarana dan teknologi asing.

“Jika terjadi konfrontasi dengan musuh maka Angkatan Bersenjata Iran akan menggunakan fasilitas, teknologi, dan taktik yang sepenuhnya lokal,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Angkatan Bersenjata Iran siap bereaksi telak terhadap kerakusan musuh, ataupun terhadap segala bentuk tindakan bodoh mereka, seberapapun besarnya, baik darat, udara, maupun udara.”

Dia juga menegaskan kesanggupan Iran “menjungkir balik keseimbangan” musuh besarnya itu jika berani gegabah menyerang Iran.

Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri parlemen Iran Mojtaba Zolnoor bersumbar bahwa Israel akan musnah dalam tempo “hanya setengah jam” jika AS menyerang Iran. (alalam)

Rusia Sebut Serangan Israel ke Suriah Ancaman Bagi Stabilitas Regional

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa serangan Israel yang berkelanjutan terhadap Suriah merupakan ancaman bagi stabilitas regional serta eskalasi ketegangan yang menimbulkan kekhawatiran Moskow.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova, Selasa (2/7/2019), menilai serangan udara Israel ke Suriah pada malam 1 Juli sebagai  serangan terbesar dalam satu tahun terakhir.

“Kami prihatin dengan perkembangan yang mengkhawatirkan ini. Eskalasi mereka menjadi perhatian ekstrem,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Penggunaan kekuatan, terang-terangan melanggar kedaulatan Suriah, tidak hanya mencegah normalisasi situasi di negara itu, melainkan juga membawa potensi destabilisasi kawasan, di mana tidak ada negara-negara Timur Tengah dapat melihat kepentingan keamanan nasional mereka dapat diandalkan.”

Pada Senin malam, fasilitas pertahanan udara Suriah telah menangkis serangan rudal yang menyasar Damaskus dan Homs.

Menurut kantor berita SANA, pesawat tempur Israel menembakkan rudal dari wilayah udara Libanon, dan menyebabkan kematian warga sipil.

Reuters mengabarkan perwakilan dari Pasukan Pertahanan Israel enggan komentar tentang serangan itu.

Sementara itu, Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) menyatakan bahwa serangan udara Rusia, Selasa, menewaskan 15 kawanan bersenjata dari kelompok Jaish al-Nokhbah di provinsi Idlib di bagian barat laut Suriah.

Menurut SOHR, serangan jet tempur Rusia ke markas Jaish al-Nokhbah di desa Madaya itu juga melukai 10 orang kawanan bersenjata dengan kondisi sebagian di antaranya parah sehingga jumlah korban tewas bisa jadi akan bertambah.

Idlib merupakan zona operasi Rusia dan sejak dua tahun lalu diatur oleh serangkaian kesepakan gencatan senjata di mana yang terakhir di antaranya adalah kesepakatan Rusia dengan Turki untuk menetapkan zona perlucutan senjata pada September 2018. (tass/raialyoum)

Antisipasi Kelanjutan Serangan Israel, Suriah Siagakan S-300

Militer Suriah sudah menyiagakan sistem S-300 militer Suriah dalam peristiwa serangan Israel pada hari Minggu malam (1/7/2019), namun fasilitas itu tidak digunakan,  demikian sebuah sumber mengatakan kepada Sputnik News versi bahasa Arab.

Menurut sumber itu, S-200 era Soviet berhasil mencegat lima dari enam rudal jelajah Israel yang ditembakkan ke arah Gubernur Homs, sehingga tidak perlu menggunakan sistem S-300.

Angkatan Udara Israel melancarkan serangan laut dan udara ke provinsi Damaskus dan Homs, menyebabkan kerusakan signifikan pada sejumlah daerah di bagian barat daya Suriah, termasuk kota Sahnaya.

Sebelum serangan itu, perusahaan Image Satellite International yang berbasis di Israel merilis foto yang menunjukkan bahwa sistem S-300 Suriah sepenuhnya utuh dan siap dioperasikan di kota Masyaf.

Militer Suriah pertama kali menerima sistem S-300 dari Rusia pada 1 Oktober 2018. Rusia mengirim sistem itu setelah menyalahkan Angkatan Udara Israel atas tertembak jatuhnya pesawat pengintai IL-20 militer Rusia di lepas pantai Latakia oleh sistem pertahanan udara Suriah.

Kementerian Pertahanan Rusia menjelaskan bahwa jet tempur F-16 Israel berlindung di balik IL-20 ketika pertahanan udara Suriah berupaya mencegat serangan udara Israel, namun militer Israel membantah tuduhan ini.

Selama sembilan bulan terakhir, S-300 belum dinyatakan operasional. Namun, sejak 30 Juni lalu hasil pencitraan satelitet Israel menunjukkan penyiagaan empat unit S-300 dan sistem radar.

Radar ini memiliki jangkauan deteksi ratusan kilometer, dan rudal S-300 diduga dapat mencegat target pada jarak hingga 200 km. Wilayah Masyaf yang menjadi tempat penyiagaan rudal itu hanya berjarak puluhan kilometer dari daerah yang dinyatakan Suriah mendapat serangan udara pada Senin pagi. (alalam/almasdarnews/meforum)