Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 3 Agustus 2022

Jakarta, ICMES. Dirjen Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi mengklaim program nuklir Iran berkembang dengan amat dan sangat pesat.

Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah kembali menegaskan kebijakan dan tekad kelompok pejuang Hizbullah terkait dengan sengketa perbatasan laut antara Lebanon dan Rezim Zionis Israel.

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian menegaskan lagi dukungan negaranya kepada perjuangan Palestina, dan menyebut Rezim Zionis Israel hanya mengerti bahasa kekerasan.

Berita Selengkapnya:

Dirjen IAEA Sebut Program Nuklir Iran Berkembang dengan“Sangat dan Sangat Pesat”

Dirjen Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi mengklaim program nuklir Iran berkembang dengan amat dan sangat pesat.

Dikutip Reuters, Selasa (2/8), Grossi kepada wartawan di PBB mengatakan, “Ketika berbicara tentang nuklir, kata-kata yang baik tidak akan berhasil. Yang perlu Anda lakukan adalah bersikap transparan dan patuh serta bekerjasama dengan kami. Kami siap dan saya harap mereka juga siap.”

“Mereka memiliki program nuklir yang sangat ambisius, yang perlu diverifikasi dengan cara yang tepat. Program ini bergerak maju dengan sangat, sangat cepat dan tidak hanya maju, melainkan juga menyamping, karena ambisi dan kapasitasnya meningkat,” imbuhnya.

Sehari sebelumnya,  Juru bicara Badan Energi Atom Iran (AEOI) Behrouz Kamalvandi mengumumkan bahwa telah ada perintah pengoperasian ratusan mesin sentrifugal baru Iran, termasuk generasi keenam IR-6 yang canggih, dan IAEA telah diberitahu soal ini.

Pada hari yang sama, AEOI mengumumkan penangguhan pengoperasian sejumlah kamera keamanan tambahan IAEA di Iran.

Perkembangan ini terjadi karena negosiasi di Wina mengenai pencabutan embargo macet sejak beberapa bulan lalu.

Sejak awal negosiasi ini, pemerintah AS tidak mengusulkan inisiatif praktis untuk membuat kemajuan dalam pembicaraan, dan malah menuduh pihak lain menghambat proses negosiasi. (reuters/alalam)

Nasrallah: Kami akan Terus Menghadang Proyek AS dan Israel

Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah kembali menegaskan kebijakan dan tekad kelompok pejuang Hizbullah terkait dengan sengketa perbatasan laut antara Lebanon dan Rezim Zionis Israel.

 “Kami akan memberi sedikit waktu untuk urusan demarkasi perbatasan guna melihat ke mana arahnya. AS harus memperhatikan permainan waktu dan mengetahui bahwa sikap pemerintah (Lebanon) dan kubu resistensi dalam masalah demarkasi perbatasan laut adalah satu, ” kata Sayid Nasrallah dalam pidato pada malam kelima peringatan Asyura, Selasa (2/8).

“Waktunya sudah mepet, dan kami akan bertindak sesuai respon,” imbuhnya.

Hari itu pula, media Israel mengutip pernyataan seorang pejabat senior Israel di sektor gas bahwa “perjanjian demarkasi perbatasan laut yang terbentuk dengan Lebanon” merupakan “tindakan menyerah sepenuhnya dari pihak Israel.”

Media Israel menyebutkan bahwa “perjanjianyang mulai terbentuk sekarang adalah penyerahan penuh ke Lebanon oleh Perdana Menteri Yair Lapid, dan Menteri Pertahanan Benny Gantz,” dan bahwa “menyerahnya Israel adalah kemenangan besar bagi Sekjen Hizbullah”.

Sehari sebelumnya sumber diplomatik Libanon menegaskan bahwa Libanon menolak tawaran Israel agar Beirut mengabaikan tuntutannya atas Blok No. 8 di utara jalur ke-23, dengan imbalan kesediaan Israel mengabaikan tuntutannya atas ladang gas Qana.

Sayid Nasrallah juga mengatakan, “Bahan bakar Iran akan mencapai pelabuhan Lebanon, tidak seperti solar yang ke Baniyas Suriah, dan semua ini dimulai dari keputusan resmi Lebanon.”

Menteri Energi Lebanon Walid Fayad kepada wartawan mengatakan,“Kami berbicara dengan (mediator AS, Amos) Hochstein tentang bahan bakar Iran, dan saya jujur mengatakan kepadanya ​​bahwa saya mendukung pengiriman listrik ke Lebanon, dan saya tidak dapat menolak sumbangan apa pun dalam hal ini.”

Dia menyebut tawaran Iran untuk memasok bahan bakar ke Lebanon sebagai “proposal serius dan di atas berkas resmi.”

Dalam wawancara dengan Al-Mayadeen beberapa waktu lalu, Sayid Nasrallah menyatakan kesiapannya “mendatangkan bahan bakar Iran ke pembangkit listrik Lebanon secara cuma-cuma jika pemerintah Lebanon menyetujuinya.”

Pada pidato Selasa kemarin, Sayid Nasrallah menegaskan bahwa kubu resistensi Lebanon akan terus berjuang menghadang agenda keji AS dan Israel.

“Selagi masih ada proyek AS dan Israel, kami akan menghadapinya pada semua aspek militer, keamanan, kebudayaan dan sosial,” tegasnya.

Dia juga mengatakan, “Dalam beberapa tahun terakhir ini Washington mulai menerapkan sanksi-sanksi dengan berbagai label dengan tujuan menekan Lebanon. Hizbullah akan terus mencari solusi, dan tak akan membiarkan mereka menyeret negara ini kepada perang saudara.” (raialyoum)

Iran Sebut Israel Hanya Mengerti Bahasa Kekerasan

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian menegaskan lagi dukungan negaranya kepada perjuangan Palestina, dan menyebut Rezim Zionis Israel hanya mengerti bahasa kekerasan.

 “Kami dengan bangga dan lantang mengumumkan bahwa pengalaman revolusi Islam, Republik Islam, dan resistensi telah membuktikan bahwa tidak ada apa pun selain bahasa kekuatan dan perlawanan yang efektif dalam menghadapi ambisi apartheid rezim palsu Zionis,” ujarnya dalam sebuah pidato pada sebuah acara tentang HAM dan harkat kemanusiaan,  Selasa (2/8).

Dia menekan lagi seruan Teheran untuk pengadaan referendum warga Palestina, termasuk Muslim, Kristen, dan Yahudi pribumi,  di bawah pengawasan PBB sebagai solusi politik demokratis untuk konflik Palestina-Israel.

“Tentu saja, Zionis tidak dan tidak akan mendukung gagasan ini. Apa yang dipahami Zionis adalah bahasa kekuatan dan perlawanan,” lanjutnya.

Menyinggung kasus pembunuhan jurnalis Palestina Shireen Abu Akleh, yang juga dikenang dalam acara tersebut, Amir-Abdollahian menyebutkan bahwa kasus itu merupakan contoh nyata “penggunaan alat terorisme” untuk membenarkan penjualan senjata AS.

Menteri Luar Negeri Iran juga menyebut Barat mencoba memaksakan “nilai-nilai palsu” di negara-negara lain, sementara Barat sendiri, termasuk AS, “tidak menghormati HAM”.

Israel dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan serangannya di berbagai kota Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat, mengakibatkan puluhan warga Palestina gugur dan ratusan orang ditangkap. Sejak awal tahun ini sedikitnya 60 warga Palestina, yang sepertiga di antaranya berasal dari Jenin, dibunuh oleh tentara Israel.

Pada pertengahan Mei, pasukan Israel menembak mati Abu Akleh, 51 tahun, ketika dia sedang meliput serangan pasukan Zionis di Jenin. Seruan untuk penyelidikan penuh, independen dan transparan atas pembunuhan jurnalis Al-Jazeera ini meningkat dan para pemimpin dunia pun turut menuntut pertanggungjawaban dari pelakunya.  (fna)