Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 28 Agustus 2019

HizbullahJakarta, ICMES: Hizbullah menyatakan bahwa setiap agresi Israel ke Libanon akan direaksi dengan balasan yang mengejutkan.

Presiden Iran menyatakan tak mungkin bertemu dengan Presiden AS selagi AS tidak mencabut sanksinya terhadap Iran.

Petinggi militer Iran menyatakan AS tak sanggup berkonfrontasi militer dengan Iran sehingga yang dilakukan AS hanyalah perang psikologis, ekonomi, dan kebudayaan.

Rusia menyatakan jumlah anggota kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang tersisa dan masih aktif di berbagai wilayah Suriah mencapai sekira 3000 orang.

Berita selengkapnya:

Hizbullah: Israel akan Mendapat Serangan Mengejutkan

Wakil Sekjen Hizbullah Libanon Syeikh Naim Qassem dalam wawancara dengan RT milik Rusia, Selasa (28/8/2019), menyatakan bahwa setiap agresi Israel ke Libanon akan direaksi dengan balasan yang mengejutkan.

Dia mengingatkan bahwa agresi Israel tidak bisa dipandang dan diperlakukan dengan sambil lalu, melainkan akan dibalas dengan serangan setimpal, tanpa menyebutkan detail balasan yang dijanjikan oleh Sekjen Hizbullah Sayid Hasan Nasrallah belum lama in.

Qassem mengatakan pihaknya tidak akan berbicara mengenai rincian karena hanya akan menguntungkan Israel.

“Serangan akan mengejutkan dan setimpal,” ujarnya, sembari menyebutkan bahwa situasi sekarang bukan situasi perang, melainkan situasi balasan atas serangan, sedangkan kehebohan mengenai perang tidak akan dapat menekan Hizbullah.

“Sikap pemerintah Libanon atas agresi Israel sudah benar, dan kami tidak akan menunggu tanggapan di Dewan Keamanan,” imbuhnya.

Sementara itu, sumber yang dekat dengan Sayid Nasrallah mengatakan bahwa kelompok pejuang ini tidak akan terburu-buru dalam melancarkan serangan balasan, dan balasan itu bisa jadi terbatas hanya pada pelumpuhan kemampuan Israel mengintai melalui pesawat nirawak.

Mengutip perkataan Nasrallah, sumber itu mengatakan,  “Pihak resistensilah yang menentukan kapan dan di mana akan menyerang. Mereka dapat menjatuhkan tidak lebih dari 4-5 pesawat nirawak, dan dalam bentuk yang membatasi gerakan pengintaian Israel.”

Dia melanjutkan, “Jika kami memiliki senjata tersendiri maka kami tidak akan banyak memakainya untuk pesawat nirawak.”

Mengenai waktu pembalasan, dia juga mengutip pernyataan Nasrallah bahwa ketika terjadi serangan Israel ke Quneitra yang menggugurkan enam anggota Hizbullah, kelompok ini menunggu waktu sampai 10 hari.

“Kita tidak terburu-buru dalam urusan kita, biarlah Israel berada dalam kondisi siapa penuh,” ungkap sumber itu. (raialyoum)

Rouhani Tegaskan Tak Mungkin Adakan Pertemuan dengan Trump

Presiden Iran Hassan Rouhani, Selasa (28/8/2019), menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) harus mencabut semua sanksi “kejam” dan “melanggar hukum” terhadap Iran serta mulai menghormati hak-hak bangsa Iran, sebagai “langkah pertama” menuju dialog.

Hal ini dia nyatakan sehari setelah Presiden Perancis Emmanuel Macron mengaku berharap terjadi pertemuan antara Rouhani dan mitranya dari AS, Donald Trump, “dalam beberapa minggu ke depan.”

Rouhani mengaku tidak mungkin akan terlibat dalam negosiasi hanya untuk sekedar mengambil foto bersama dan tak ada kaitannya dengan hak dan kepentingan bangsa Iran.

“Kami berusaha menyelesaikan berbagai isu dan persoalan dengan cara yang rasional, tapi kami tidak mencari foto. Bagi siapa pun yang ingin berfoto dengan Hassan Rouhani, ini tidak mungkin,” ungkapnya dalam pidato yang disiarkan langsung di televisi pemerintah.

Rouhani melanjutkan bahwa pertemuan antara dirinya dan Trump hanya mungkin terjadi apabila AS sudi menghormati hak bangsa Iran dan mencabut semua sanksinya.

“Kita tidak akan menyaksikan perkembangan positif kecuali jika AS mencabut larangan dan membatalkan kebijakan ekonominya yang bermusuhan terhadap Iran,” tegas Rouhani. (presstv)

Jenderal Iran Sebut AS Hanya Bisa Mengobarkan Perang Urat Saraf

Juru bicara Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Abolfazl Shekarchi menyatakan bahwa negara musuh besar Iran, Amerika Serikat (AS), tak sanggup berkonfrontasi militer dengan Iran sehingga yang dilakukan oleh negara arogan ini hanyalah perang psikologis, ekonomi, dan kebudayaan.

Dalam  kata sambutannya pada sebuah upacara militer, Selasa (28/8/2019), Shekarchi mengatakan bahwa musuh Iran memroduksi senjata hanya demi “memerangi Allah dan kaum tertindas serta melawan perintah Allah.”

Dia mengatakan bahwa dukungan kepada revolusi Islam Iran memang harus dibayar dengan harga mahal dan menuntut kesiapan prajurit Iran menyongsong segala bentuk serangan.

Shekarchi memastikan bahwa salah satu cara dan konspirasi musuh dalam upayanya untuk melumpuhkan Iran ialah menciptakan perpecahan di tengah generasi muda serta para pejabat dan rakyat Iran secara keseluruhan.

Dia kemudian menegaskan, “Musuh tak dapat berhadapan langsung, dan tidak punya apa-apa kecuali kemampuan perang psikologis, ekonomi, dan kebudayaan, dan ini merupakan front berbahaya. Front kebudayaan jauh lebih berat daripada front pertempuran sehingga kita harus terjaga.”

Dia mengingatkan bahwa di front kebudayaan terjadi upaya menguasai opini publik, menggeser kebenaran dengan kebatilan, dan menciptakan kondisi untuk penghapusan nilai-nilai yang dianut dan berlaku selama ini.

“Karena itu kita harus terjaga agar kita dapat membayar hutang budi kita kepada para syuhada,” pungkasnya. (alalam)

Rusia Sebutkan Jumlah Anggota ISIS yang Tersisa di Suriah

Rusia menyatakan jumlah anggota kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang tersisa dan masih aktif di berbagai wilayah Suriah mencapai sekira 3000 orang.

Deputi Wakil Tetap Rusia untuk PBB Gennady Kuzmin dalam sidang Dewan Keamanan PBB di New York, AS, mengenai terorisme, Selasa (28/8/2019), mengatakan, “Dewasa ini jumlah keseluruhan anggota ISIS di Suriah hampir 3000 orang.”

Diplomat Rusia ini menambahkan, “Organisasi-organisasi teroris lain banyak, dan juga masih aktif di Suriah sekarang.”

ISIS yang semula berhasil menguasai sebagian besar wilayah Suriah akhirnya kalah perang dalam dua tahun terakhir melawan pasukan pemerintah Suriah dan sekutunya serta milisi Kurdi yang didukung AS dan gerilyawan oposisi Suriah, Pasukan Kebebasan Suriah (SAA), yang didukung Turki.

Eksistensi ISIS lantas dinyatakan sudah tidak ada di Suriah, namun berbagai pihak internasional memastikan bahwa sel-sel tidur kelompok ekstrem yang mengatas namakan jihad itu masih aktif terutama di kawasan perbatasan Suriah-Irak. (raialyoum)