Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 27 September 2023

Jakarta, ICMES. Komando militer Bahrain menuduh pasukan Ansarullah (Houthi) Yaman membunuh dua tentara Bahrain dalam serangan drone  di perbatasan selatan Arab Saudi dengan Yaman.

Pasukan elit Iran Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) memuji kemampuan militer dan teknologi pertahanan mutakhir  Iran, dan mengatakan bahwa negara republik Islam ini telah menjadi “pelopor” di bidang pesawat nirawak (UAV/drone).

Menteri Pariwisata Israel Haim Katz telah berkunjung selama dua hari ke Riyadh, ibu kota Arab Saudi, untuk menghadiri konferensi PBB, ungkap kantornya, sembari menyebut kunjungan itu sebagai perjalanan publik pertama seorang anggota kabinet Israel ke Saudi.  

Berita Selengkapnya:

Dua Tentara Bahrain Dilaporkan Tewas Terkena Serangan Drone Ansarullah Yaman

Komando militer Bahrain menuduh pasukan Ansarullah (Houthi) Yaman membunuh dua tentara Bahrain dalam serangan drone  di perbatasan selatan Arab Saudi dengan Yaman.

Sejumlah tentara Bahrain juga terluka dalam serangan itu, kata militer Bahrain dalam sebuah pernyataan, yang disiarkan oleh kantor berita resmi Bahrain, Senin (26/9). Jumlah pasti tentara yang terluka tidak diumumkan.

“Serangan teroris ini dilakukan oleh Houthi, yang mengirimkan pesawat yang menyasar posisi penjaga Bahrain di perbatasan selatan kerajaan Arab Saudi meskipun operasi militer antara pihak yang bertikai di Yaman dihentikan,” bunyi klaim militer Bahrain.

Bahrain adalah sekutu dekat Arab Saudi, yang turut memerangi Ansarullah di Yaman selama beberapa tahun.

Pihak Ansarullah tidak segera mengakui serangan tersebut.  Media dan operasi media sosial yang dijalankan oleh Ansarullah juga tidak menyebutkan adanya serangan tersebut.

Perunding Ansarullah pada awal bulan ini mengadakan pembicaraan dengan pejabat Arab Saudi untuk membuka kemungkinan perjanjian untuk mengakhiri konflik di Yaman. Tidak jelas apakah serangan drone dan tewasnya tentara Bahrain itu akan menggagalkan ataupun mengusik perundingan damai.

Koalisi yang dipimpin Arab Saudi memperingatkan Ansarullah bahwa “tindakan bermusuhan dan provokatif yang berulang-ulang seperti itu tidak sejalan dengan upaya positif yang dilakukan untuk mengakhiri krisis dan mencapai solusi politik yang komprehensif”.

Pada 21 September lalu Ansarullah menggelar parade militer secara besar-besaran antara lain dengan memperlihatkan rudal balistik dan drone bersenjata di Sanaa, ibu kota Yaman.

Mobil lapis baja, rudal dan ribuan prajurit berseragam berparade untuk unjuk kekuatan di hadapan para pejabat pemerintah Sanaa.

Pada kesempatan itu, Menteri Pertahanan Mohammed al-Atifi  dalam kata sambutannya menegaskan, “Kami mengulangi peringatan kami kepada pasukan asing bahwa kami tidak akan menerima kehadiran mereka di wilayah kami, mereka harus pergi atau mereka akan menghadapi gelombang kemarahan Yaman.”

Dalam sebuah pernyataan saat itu, Ansarullah menyuarakan kesiapannya untuk berperang lagi demi membela tanah air.

“Rakyat kami percaya bahwa perdamaian hanya akan tercapai dengan menerapkan upaya pencegahan militer yang memaksa musuh untuk tunduk pada semua tuntutan yang sah dan adil,” bunyi pernyataan itu.

Ansarullah menambahkan, “Kami akan melipatgandakan tingkat kesiapan tempur kami selama beberapa minggu dan bulan ke depan sebagai bagian dari respons praktis dan bertanggung jawab untuk menghadapi perkembangan apa pun dengan tegas.” (aljazeera/presstv)

Jenderal IRGC: Iran Pelopor Teknologi Drone

Pasukan elit Iran Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) memuji kemampuan militer dan teknologi pertahanan mutakhir  Iran, dan mengatakan bahwa negara republik Islam ini telah menjadi “pelopor” di bidang pesawat nirawak (UAV/drone).

Komandan Divisi Dirgantara IRGC, Brigadir Jenderal Amir-Ali Hajizadeh, dalam kata sambutannya pada acara peringatan perang Irak terhadap Iran pada tahun 1980-an, Selasa (26/9), mengatakan bahwa kekuatan Republik Islam Iran telah melampaui skala regional.

“Iran berada di tingkat dunia dalam bidang drone dan telah menjadi pelopor dalam bidang teknik dan taktik,” kata Hajizadeh, sembari menekankan bahwa banyak negara di dunia menggunakan keahlian Iran sebagai model dalam pembuatan drone.

“Saat ini, kami menggunakan drone tidak hanya untuk misi pengintaian, pengawasan, pertempuran dan pertahanan, melainkan juga dapat menggunakannya untuk puluhan misi,” sambungnya.

Mengenai agresi militer Irak yang didukung asing terhadap Iran di era diktator Irak mendiang Saddam Hossein,  Hajizadeh memuji perlawanan sengit bangsa Iran.

“Sekitar 30 negara menentang kami untuk menghancurkan pendirian (negara republik Islam) ini dan menghancurkan Iran, namun berkat anugerah Allah dan perlawanan bangsa ini, kami tidak hanya berhasil mengatasi mesin perang mereka, melainkan juga tidak kehilangan barang satu meter persegi tanah air kami, dan dapat memaksakan kehendak kami pada mereka,” terangnya.

Irak mengobarkan perang terhadap Iran pada lebih dari satu setengah tahun setelah kemenangan Revolusi Islam tahun 1979, yang menggulingkan rezim Pahlavi yang notabene antek AS. Pertahanan Iran selama delapan tahun peristiwa agresi militer Irak itu menjadi pangkal kemunculan gerakan resistensi Islam di Timur Tengah.

Para ahli dan insinyur militer Iran dalam beberapa tahun terakhir telah membuat terobosan luar biasa dalam pembuatan berbagai peralatan militer dalam negeri, sehingga memungkinkan angkatan bersenjata Iran untuk berswasembada.

Iran terus mengembangkan kemampuannya di bidang drone bertenaga turbin serta drone “hibrida” jenis baru, yang dapat mendarat dan lepas landas di darat atau di permukaan air.

Brigjen Ali Reza Tangsiri, salah seorang komandan IRGC, dalam pernyataan sebelumnya mengatakan bahwa AL IRGC ini telah mengembangkan drone yang dapat mendarat dan lepas landas di permukaan air, dan bahwa perkembangan ini merupakan peringatan bagi Washington dan sekutunya untuk tidak melakukan tindakan agresif apa pun terhadap Iran.

Brigjen Tangsiri melanjutkan, drone hibrida Iran dilengkapi dengan dua mesin dan dapat melakukan misi pengintaian secara kontinyu hingga 15 jam.

Pekan lalu, Iran meluncurkan drone baru bernama “Mohajer-10” yang mampu terbang sejauh 2.000 kilometer dengan muatan senjata seberat 300 kilogram, dengan durasi 24 jam. (alalam/sputnik)

Pertama Kali, Seorang Menteri Israel Berkunjung ke Arab Saudi  

Menteri Pariwisata Israel Haim Katz telah berkunjung selama dua hari ke Riyadh, ibu kota Arab Saudi, untuk menghadiri konferensi PBB, ungkap kantornya, sembari menyebut kunjungan itu sebagai perjalanan publik pertama seorang anggota kabinet Israel ke Saudi.  

Kunjungan Haim Katz ke Riyadh terjadi ketika Arab Saudi sedang mencari kemungkinan kesepakatan yang ditengahi Amerika Serikat (AS) yang akan membentuk hubungan bilateral formal dengan Israel. Katz memimpin delegasi sebagai bagian dari acara Organisasi Pariwisata Dunia PBB.

“Pariwisata adalah jembatan antar negara. Kerja sama di bidang pariwisata berpotensi menyatukan hati dan kemajuan ekonomi,” ,” kata Katz.

“Saya akan berupaya memajukan kerja sama, pariwisata, dan hubungan luar negeri Israel,” tambahnya.

Pemerintah Saudi tidak segera mengkonfirmasi kunjungan tersebut.

Washington telah mendesak sekutunya di Timur Tengah, Israel dan Arab Saudi, untuk menormalisasi hubungan diplomatik menyusul kesepakatan serupa yang melibatkan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko.

Palestina telah menyebut perjanjian yang ditengahi AS itu sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina untuk menjadi negara merdeka.

Putra mahkota Saudi dan penguasa de facto negara itu, Mohammed bin Salman, pekan lalu mengatakan kepada jaringan berita AS Fox bahwa Saudi semakin “mendekati” kesepakatan dengan Israel tetapi dia juga bersikeras bahwa perjuangan Palestina tetap “sangat penting” bagi Riyadh.

Dalam beberapa bulan terakhir, Israel telah mengirim delegasi ke Arab Saudi untuk berpartisipasi dalam olahraga dan acara lainnya, termasuk pertemuan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO). (aljazeera)