Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 27 November 2019

isisJakarta, ICMES. Sekretaris Jenderal “Harakah Injaz” (Gerakan Pencapaian) yang berbasis di Irak, Baqir al-Zubaedi, mengungkap bahwa AS dan Israel berencana membentuk aliansi teroris besar baru di delapan negara, termasuk Irak.

Pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi mengaku telah mengambil keputusan untuk membebaskan 200 tawanan Ansarullah Yaman dalam rangka pelaksanaan perjanjian gencatan senjata yang telah dicapai di Stockholm, Swedia.

Harakah al-Nujaba, salah satu elemen utama pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi, menyatakan siap berada di barisan terdepan jika terjadi perang melawan Rezim Zionis Israel.

Beberapa media Israel melaporkan bahwa lima roket telah ditembakkan dari Jalur Gaza ke arah kota dan permukiman Zionis Israel di sekitar Jalur Gaza.

Berita selengkapnya:

Celaka, AS dan Israel Galang Aliansi Teroris Besar di Delapan Negara

Sekretaris Jenderal “Harakah Injaz” (Gerakan Pencapaian) yang berbasis di Irak, Baqir al-Zubaedi, mengungkap bahwa AS dan Israel berencana membentuk aliansi teroris besar baru di delapan negara, termasuk Irak.

Dia menyebutkan bahwa para teroris terkemuka dalam organisasi yang diproyeksikan oleh AS an Israel itu terdiri dari para perwira pembelot Suriah dan para eks-perwira militer mantan diktator Irak mendiang Saddam Hossein.

“Proyek itu bertujuan membentuk aliansi teroris global antara ISIS dan kelompok-kelompok teroris di kawasan Afghanistan, Cechnya, Yaman selatan, Afrika, Suriah, Irak, Libanon, dan Arab Saudi,” terang al-Zubaedi, seperti dikutip Fars, Selasa (26/11/2019).

Dia juga menjelaskan, “Ada 13,000 orang ISIS di penjara-penjara milik Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) dan berada di pengawasan AS, dan 3000 di antaranya adalah militan asing, sedangkan sisanya adalah militan Arab yang sebagian besar adalah orang Saudi, dan separuh sisanya adalah orang Irak.”

Lebih jauh al-Zubeidi menambahkan rincian dengan menyebutkan bahwa kelompok teroris Jabhat al-Nusra terdiri atas 50,000 militan multinasional, Pasukan Nour al-Din al-Zenky terdiri atas 60,000 militan Turkmen Suriah, yang belakangan ini telah mendapatkan status warga negara Turki dan semuanya beraliran Salafi/Wahhabi, dan kemudian kelompok Jaish al-Hur yang terdiri atas 25,000 militan.

“Mereka semua adalah orang-orang yang sudah banyak terlatih dari pengalaman panjang mereka dalam pertempuran selama enam tahun,” tutur al-Zubeidi.

Dia juga menyebutkan bahwa  aliansi teroris besar itu menghimpun para perwira desersi Suriah, para mantan perwira Saddam, para perwira Libya, para pakar kimia yang sebagian di antaranya asal Irak, Suriah, Cechnya, Rusia, dan Eropa, serta sel-sel ISIS yang keluar dari Mosul dan sejumlah besar di antaranya memiliki keahlian di bidang komputer dan multimedia.

Al-Zubeidi menyatakan bahwa mereka juga memiliki banyak dana hasil penjarahan atas bank-bank di provinsi Nineveh, Irak, serta penyelundupan minyak Irak dan Suriah, selain juga dana dari negara-negara Arab Teluk Persia. (fars)

Koalisi Saudi-UEA Mengaku Bebaskan 200 Tawanan Ansarullah Yaman

Pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi mengaku telah mengambil keputusan untuk membebaskan 200 tawanan Ansarullah Yaman dalam rangka pelaksanaan perjanjian gencatan senjata yang telah dicapai di Stockholm, Swedia.

Juru bicara resmi aliansi itu,Turki al-Maliki, Selasa (26/11/2019), menyebut keputusan itu sebagai inisiatf baru untuk Yaman.

Dia menambahkan bahwa selain keputusan itu juga telah diambil keputusan lain yang memungkinkan perjalanan udara bagi pasien dari bandara Sanaa, ibu kota Yaman, ke negara-negara lain untuk berobat, namun dengan persyaratan ada kerjasama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menurut al-Maliki, keputusan itu bertolak dari hasrat para pemimpin koalisi untuk melanjutkan upaya penyelesaian krisis Yaman dan penerapan perjanjian Stockholm, termasuk mengenai pertukaran tawanan, serta upaya memudahkan penguraian berbagai titik perselisihan terkait pertukaran tawanan yang notabene masalah kemanusiaan.

Al-Maliki juga menyebutkan bahwa keputusan juga merupakan kelanjutan dari upaya pasukan koalisi untuk memperbaiki kondisi kemanusiaan, terutama terkait dengan kesehatan rakyat negara ini.

Belum ada tanggapan dari para petinggi Ansarullah yang berkuasa di Sanaa atas klaim al-Maliki tersebut.

Departemen Kesehatan Yaman di Sanaa beberapa waktu lalu mencatat sebanyak 320,000 orang tak dapat berobat ke luar negeri akibat penutupan Bandara Sanaa.

Pasukan koalisi mengumumkan keputusannya itu setelah belakangan ini tersiar berbagai laporan mengenai upaya Riyadh berunding dengan Ansarullah guna mengakhiri perang Yaman.

Menteri Luar Negeri Oman Yusuf bin Alawi Ahad lalu menyatakan bahwa Saudi dan Ansarullah terlibat perundingan serius untuk mengakhiri perang di Yaman.

Seorang petinggi Ansarullah dalam wawancara dengan kantor berita Turki, Anatolia, mengatakan bahwa perundingan itu dimulai sejak fasilitas minyak Aramco milik Saudi terkena serangan rudal dan drone Yaman. (rt/fars)

Pasukan Relawan Irak Nyatakan Siap Terdepan Berperang Melawan Israel

Harakah al-Nujaba, salah satu elemen utama pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi, menyatakan siap berada di barisan terdepan jika terjadi perang melawan Rezim Zionis Israel.

Juru bicara Harakah al-Nujaba, Nasr al-Shamri, Selasa (26/11/2019), menegaskan bahwa perlawanan terhadap Israel merupakan kewajiban religi.

“Sesuai kewajiban keagamaan dan prinsip-prinsip kami, kami tidak melihat apapun di depan kecuali perlawanan terhadap Israel. Kami tentu akan berpartisipasi dengan faksi-faksi muqawamah (resistensi), terutama Hizbullah Libanon, dalam segala perang melawan entitas Zionis,” tegas al-Shamri.

Dia melanjutkan, “Jika terjadi perang antara Hizbullah dan Suriah di satu pihak dan Israel di pihak lain maka kami akan berada di barisan terdepan para mujahidin yang berjuang menghadapi Israel demi pengembalian hak bangsa-bangsa Arab dan Islam, dan kami bangga dengan ini.”

Juru bicara Harakah al-Nujaba menyebut kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sebagai organisasi teroris yang dibuat oleh AS melalui kerjasamanya dengan Arab Saudi dan sejumlah negara Arab Teluk Persia lainnya.

“AS tidaklah serius memerangi produknya sendiri, sehingga malah menggunakan sel-sel geng teroris ini sebagai alat tekan untuk mencegah pulihnya stabilitas di Irak,” ujarnya.

Mengenai Turki, al-Shamri mengatakan bahwa intervensi militer negara pimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan itu di bagian timur laut Suriah “melanggar undang-undang internasional dan kedaulatan Suriah”.

Dia juga mengatakan, “Bangsa Suriah dan para sekutunya telah mempersembahkan darah yang mahal demi membela kedaulatan ini, dan karena itu kami meminta Turki segera keluar dari wilayah Suriah.” (railayoum)

Israel Mengaku Mendapat Serangan Lima Roket dari Jalur Gaza

Beberapa media Israel melaporkan bahwa lima roket telah ditembakkan dari Jalur Gaza ke arah kota dan permukiman Zionis Israel di sekitar Jalur Gaza, Selasa (26/11/2019).

Media Israel menambahkan bahwa rudal-rudal itu jatuh di sekitar kota Sderot dan daerah yang berdekatan dengan perbatasan utara dan timur Jalur Gaza, dan menyebabkan satu warga Palestina panik dan trauma.

Menurut media ini, sistem pertahanan udara Kubah Besi milik Israel hanya dapat mencegat dua roket di antaranya.

Namun demikian, juru bicara militer Israel tanpa memberikan keterangan rinci mengaku telah memantau penembakan dua roket dari Gaza, yang satu di antaranya tercegat oleh Kubah Besi.

Sebelumnya, berbagai faksi pejuang Palestina ramai-ramai  menyalahkan Israel terkait dengan gugurnya seorang tawanan Palestina. (alalam)