Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 26 September 2019

rouhani di pbbJakarta, ICMES. Presiden Iran Hassan Rouhani mendesak Arab Saudi agar menghentikan perangnya di Yaman, menyusul insiden serangan ke Aramco yang mendorong AS menuduh Iran bertanggungjawab atasnya.

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memberikan peringatan keras terhadap negara-negara yang belakangan ini melontarkan pernyataan-pernyataan bernada intimidasi terhadap Iran.

Arab Saudi menyatakan apresiasinya atas apa yang disebutnya “konsensus yang semakin bertambah” terkait tuduhan Saudi bahwa Iran berada di balik serangan terhadap kilang minyak Aramco milik Saudi.

Berita selengkapnya:

Rouhani di PBB: Keamanan Saudi Bergantung pada Penghentian Perang di Yaman

Presiden Iran Hassan Rouhani mendesak Arab Saudi agar menghentikan perangnya di Yaman, menyusul insiden serangan ke Aramco yang mendorong AS menuduh Iran bertanggungjawab atasnya.

“Keamanan Saudi akan terjamin dengan diakhirnya perang di Yaman, bukan dengan mengundang pihak-pihak asing,” ujarnya dalam pidato di rapat Majelis Umum PBB, Rabu (25/9/2019).

Dia mengajak negara-negara terdampak perkembangan situasi di Timteng bergabung dengan “Aliansi Harapan” untuk kerja sama mewujudkan keamanan energi, kebebasan pelayaran, dan aliran minyak.

“Prakarsa ini mencakup berbagai bidang, seperti kerja kolektif untuk mewujudkan keamanan energi, kebebasan pelayaran, dan aliran minyak dari dan ke Selat Hormuz dan seterusnya,” lanjut Rouhani.

Dia menjelaskan, “Aliansi ini bertumpu pada prinsip-prinsip penting, di mana yang terpenting di antara ialah prinsip non-agresi dan non-intervensi urusan internal satu sama lain.”

Dia juga menyebutkan keharusan adanya payung PBB untuk legalitas aliansi keamanan ini, sedangkan “pembentukan aliansi semacam itu oleh pihak asing tergolong campur tangan terhadap urusan kawasan (Teluk Persia)”.

Lebih lanjut dia mengungkapkan penolakannya terhadap perundingan Iran dengan AS selagi Washington masih menerapkan sanksi terhadap Teheran. Dia mengaku tidak mementingkan urusan mengambil “foto kenang-kenangan” dengan Presiden AS Donald Trump.

“Ingin saya umumkan bahwa respon kami terhadap perundingan di bawah sanksi ialah ‘tidak’,” tegas Rouhani.

Mengenai upaya para pemimpin Eropa untuk mempertemukan Rouhani dengan Trump demi meredakan ketegangan antara Iran dan AS, Rouhani menolak apa yang disebutnya kesempatan untuk pengambilan gambar dirinya dengan Trump yang “haus propaganda”.

“Pengambilan gambar akan menjadi tahapan terakhir, bukan tahapan awal perundingan,” imbuhnya.

Presiden Iran meragukan kejujuran AS soal perundingan dengan Iran, mengingat bahwa, menurutnya, para pejabat AS berbangga dengan dampak sanksi mereka terhadap Iran.

“Kami tidak bisa mempercayai ajakan perundingan oleh orang-orang yang merasa telah menerapkan sanksi tersengit dalam sejarah terhadap kehormatan dan pertumbuhan bangsa kami,” tegas Rouhani.

Dia menyoal, “Bagaimana mungkin seseorang dapat percaya kepada mereka ketika para pejabat AS menyambut baik pembunuhan terhadap sebuah bangsa yang besar dengan aksi bungkam, dan menekan kehidupan 83 juta orang Iran, terutama kaum perempuan dan anak-anak kecil. Bangsa Iran selamanya tidak akan pernah melupakan dan memaafkan kejahatan ini.” (raialyoum)

Komandan IRGC: Kekuatan Kami Melampaui Perbatasan Iran

Komandan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami memberikan peringatan keras terhadap negara-negara yang belakangan ini melontarkan pernyataan-pernyataan bernada intimidasi terhadap Iran.

“Negara-negara yang berteriak anti Iran hendaklah menyadari pernyataan-pernyataan mereka, karena Iran sanggup menciptakan kesulitan (bagi mereka),” tegas Salami, Rabu (25/9/2019), dua hari setelah sejumlah negara terkemuka Eropa menuduh Iran sebagai pelaku serangan terhadap pabrik minyak Arab Saudi.

“Musuh telah sampai tahap yang membuat mereka membayangkan bahwa segala peristiwa yang terjadi di kawasan adalah buatan kita… Musuh dan negara-negara yang berteriak anti-Iran hendaknya menyadari pernyataan-pernyataan mereka, karena kami dapat membuat problematika untuk mereka,” ungkap komandan IRGC.

Mengenai kekuatan Iran, Salami menegaskan, “Kekuatan kita sekarang melampaui perbatasan Iran… Musuh mengetahui jangkauan kekuatan kita di kawasan, namun tidak ingin mengakuinya.”

Secara terpisah, kepala administrasi operasi darat IRGC Brigjen Morteza Mirian menegaskan bahwa daya pertahanan Iran sedemikian besar sehingga musuhnya tidak dapat menebak apa yang akan dapat dilakukan Iran.

Mirian memastikan bahwa klaim-klaim para petinggi IRGC mengenai kekuatan militer Iran berlandaskan dasar yang kuat dan bertumpu pada pengalaman intensif sejak 40 silam dalam sepak terjang mereka “untuk menakutkan musuh”.

Dia menjelaskan bahwa kejutan adalah suatu keharusan dalam urusan militer, dan karena itu tidak diperlukan penjelasan detail mengenai kekuatan militer Iran.

Dia kemudian mengancam bahwa balasan Iran akan berkali lipat serangan terhadap Iran, dan “tak mungkin bagi musuh dapat menyerang kemudian kabur tanpa mendapat balasan.”(alalam)

Menlu Saudi Nyatakan Makin Banyak Pihak yang Mendukung Tuduhannya terhadap Iran

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir menyatakan apresiasinya atas apa yang disebutnya “konsensus yang semakin bertambah” terkait tuduhan Saudi bahwa Iran berada di balik serangan terhadap kilang minyak Aramco milik Saudi.

Al-Jubeir kepada wartawan di sela sidang Majelis Umum PBB di New York, AS, Rabu (25/9/2019) menyebutkan bahwa hasil penyelidikan awal yang dilakukan oleh Saudi menunjukkan bahwa senjata yang digunakan dalam serangan itu adalah “senjata-senjata Iran”, dan Saudipun berunding dengan negara-negara sekutunya.

“Saya kira ada konsensus bahwa perlakuan (serangan terhadap Aramco) itu tak dapat diterima,” ujarnya.

Menurutnya, penyelidikan yang dilakukan oleh Saudi “sangat cermat”, dan Riyadh akan mengajukan berbagai opsi.

“Kami akan memilih opsi-opsi yang tepat untuk mereaksi serangan-serangan terhadap Kerajaan (Saudi),” tegasnya.

Inggris, Prancis, dan Jerman belum lama ini membuat pernyataa bersama yang menegaskan dukungannya kepada klaim AS bahwa Iran bertanggungjawab atas serangan terhadap Aramco.

Iran membantah tuduhan itu, sementara kelompok Ansarullah di Yaman mengaku bertanggungjawab atas serangan ini.

Presiden Iran Hassan Rouhani dalam wawancara dengan Fox News Selasa lalu mengatakan bahwa intelijen AS mengalami kerancuan dalam masalah ini karena pada serpihan senjata itu terdapat lafal yang berkaitan dengan mazhab Syiah, yaitu mazhab yang dianut oleh mayoritas rakyat Iran.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebutkan alasan yang sama persis dengan alasan intelijen AS, yaitu bahwa tidak mungkin kelompok pejuang Ansarulllah (Houthi) di Yaman memiliki atau dapat membuat senjata dengan jarak tempuh sedemikian jauh.

Menanggapi alasan itu, Rouhani menegaskan, “Anda tidak mengetahui kekuatan mereka.” (raialyoum)