Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 25 Mei 2022

Jakarta, ICMES. Untuk pertama kalinya, polisi Israel memasuki bangunan Kubah Al-Sakhrah di komplek Masjid Al-Aqsa dalam keadaan mencopot sepatu untuk pertama kalinya, dan polisi wanitanya pun bahkan mengenakan kerudung.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Mohammad Hossein Baqeri mengatakan bahwa pembunuhan perwira Korps Garda Rebolusi Islam (IRGC) Kolonel Hassan Sayyad Khodai menunjukkan kegagalan musuh melawan kekuatan Poros Resistensi.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan menegaskan kembali sikap Riyadh mengenai normalisasi hubungan dengan Israel.

Berita Selengkapnya:

Mendapat Ancaman dari Gaza, Polisi Israel Copot Sepatu di Komplek Masjid Al-Aqsa

Rezim Zionis Israel kali ini mulai tampak memetik pelajaran dari aneka peristiwa belakangan ini, dan memahami bahwa kubu resistensi Palestina sanggup melaksanakan ancamannya jika Israel menodai kesucian Masjid Al-Aqsa dan Quds.

Hal tersebut dinyatakan oleh media Rai Al-Youm, Selasa (25/5), terkait dengan beredarnya video polisi pria dan wanita Israel memasuki bangunan Kubah Al-Sakhrah di komplek Masjid Al-Aqsa dalam keadaan mencopot sepatu untuk pertama kalinya, dan polisi wanitanya pun bahkan mengenakan kerudung.

Setelah beberapa waktu lalu beredar video polisi Israel menarik bendera Israel dari para pemukim Zionis yang mengibarkannya di komplek Al-Aqsa kini beredar pula video polisi Israel mencopot sepatunya ketika masuk ke Kubah Al-Sakhrah.

Menurut Rai Al-Youm, pemandangan itu merupakan yang pertama kalinya dan memperlihat besarnya pengaruh perimbangan deterensi Palestina di mana para pejuang bangsa tertindas ini mengancam akan beraksi jika Rezim Zionis Israel menodai kesucian Masjid Al-Aqsa.

Dalam video itu polisi Israel mencopot sepatu dan polisi wanitanya pun mengenakan kerudung supaya masuknya mereka ke Kubah Al-Sakhrah tidak dianggap oleh para pejuang Palestina sebagai tantangan dan penodaan terhadap tempat yang disucikan oleh umat Islam.

Tak hanya itu, ancaman para pejuang Palestina tampaknya juga membuat Israel diam-diam menghubungi Hamas.

TV Israel channel 13 pada Selasa malam mengungkap bahwa Rezim Zionis telah melayangkan pesan kepada Hamas melalui Mesir dan Qatar, menyusul adanya ancaman dari kubu resistensi Palestina di Jalur Gaza bahwa mereka akan menyerang jika Rezim Zionis membiarkan warganya melakukan provokasi pada parade bendera yang rencananya akan digelar pada Ahad mendatang.

Or Heller, seorang analis untuk urusan militer di saluran tersebut mengutip pernyataan sumber di lembaga keamanan bahwa Israel mengirim pesan ke Hamas di Gaza  melalui intelijen Mesir  dan  Duta Besar Qatar untuk Gaza Muhammad Al-Emadi.

Disebutkan bahwa dalam pesan itu Israel mengaku tidak tertarik pada eskalasi dengan  Hamas, sebagaimana juga tidak akan melancarkan serangan militer terhadap Jalur Gaza sebagai reaksi ataupun sebagai sebuah inisiatif.

Pesan rahasia itu juga menekankan bahwa tak akan ada perubahan dalam pawai bendera Israel itu dan tidak pula mempengaruhi status quo di kota Quds.

Selain itu, Israel juga menjelaskan bahwa semua ini tidak berarti bahwa  Israel takut takut terhadap ancaman para pejuang Palestina. Sebaliknya, Israel siap secara militer menanggapi ancaman itu.

Israel memperingatkan Hamas untuk tidak membiarkan organisasi apapun semisal Jihad Islam menembakkan roket ke wilayah Israel, karena Israel tetap akan memandang Hamas yang berkuasa di Jalur Gaza bertanggung jawab atas penembakan itu.

Komando gabungan faksi-faksi resistensi Palestina pada Ahad lalu menegaskan janji mereka untuk berdiri kokoh di depan pawai bendera Israel yang dijadwalkan akan diselenggarakan pada 29 Mei, sementara Ismail Haniyeh mengingatkan bahwa kubu resistensi Palestina telah berhasil memperlebar zona serangannya hingga ke wilayah Israel (Palestina pendudukan 1948).( raialyoum)

Jenderal Iran: Pembunuhan Kolonel IRGC Tanda Kegagalan Musuh Menghadapi Poros Resistensi

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Mohammad Hossein Baqeri mengatakan bahwa pembunuhan perwira Korps Garda Rebolusi Islam (IRGC) Kolonel Hassan Sayyad Khodai menunjukkan kegagalan musuh melawan kekuatan Poros Resistensi.

Saat menyampaikan ucapan belasungkawa atas gugurnya  Khodai kepada Pemimpin Besar Iran Ayatullah Seyid Ali Khamenei serta keluarga berduka cita dan rakyat Iran, Selasa (24/5), Baqeri menegaskan bahwa pembunuhan itu tak akan dibiarkan berlalu begitu saja tanpa pembalasan.

Sembari memuji perjuangan Khodai  membela revolusi Islam serta kemapanan, martabat dan keamanan Iran, Baqeri menilai pembunuhan itu memperlihatkan absurditas pihak-pihak yang mengaku peduli HAM serta kesia-siaan musuh dalam berupaya menutupi ketidak berdayaan mereka di hadapan Poros Resistensi.

Seperti diketahui, Kol. Sayyad Khodai dibunuh oleh dua pengendara motor tak dikenal yang menembaknya sebanyak lima kali sebelum melarikan diri dari tempat kejadian pada Ahad lalu.

Dia diserang ketika hendak turun dari mobil di depan rumahnya di lingkungan timurTeheran, ibukota Iran. Tiga peluru mengena kepalanya dan dua peluru lain menerjang tangannya.

Presiden Seyed Ebrahim Raisi Senin lalu mengatakan bahwa “arogansi global” berada di balik serangan teror ini, dan bersumpah bahwa akan ada “pembalasan yang pasti” atas tumpahnya darah para syuhada.

Dia meminta otoritas kehakiman Iran untuk serius menindaklanjuti pembunuhan itu.

Panglima IRGC sendiri, Brigjen Hossein Salami, Selasa kemarin menegaskan bahwa pasukan elit Iran ini akan membalas darah anggotanya yang terbunuh. (fna)

Menlu Saudi Tegaskan lagi  Sikap Negaranya Soal Normalisasi Hubungan dengan Israel

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan menegaskan kembali sikap Riyadh mengenai normalisasi hubungan dengan Israel.

Di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Selasa (24/5), dia mengatakan tak ada perubahan sikap Saudi meski belakangan ini ada laporan media yang menyebutkan ebaliknya.

“Saya sudah membahas itu beberapa kali di masa lalu dan tidak ada yang berubah dalam cara kami memandang subyek ini. Saya pikir kita selalu melihat normalisasi sebagai hasil akhir, tapi hasil akhir dari sebuah jalan,” ujar Faisal pada panel Davos bertema “Arsitektur Keamanan Baru di Timur Tengah.”

“Kami selalu membayangkan bahwa akan ada normalisasi penuh dengan Israel, dan saya telah mengatakan sebelumnya bahwa normalisasi penuh antara kami dan Israel, antara kawasan dan Israel, akan membawa manfaat besar. Kita tidak akan dapat memetik manfaat itu kecuali kita menyelesaikan masalah Palestina,” tambahnya dalam menanggapi laporan media belakangan ini mengenai adanya kesepakatan yang melibatkan Mesir dan Israel dengan mediasi AS

Faisal menjelaskan, “Arab Saudi adalah pihak yang meluncurkan Inisiatif Perdamaian Arab (pada KTT Arab di Beirut pada tahun 2002) dan (inisiatif) ini akan mengantarkan kepada normalisasi penuh antara Israel dan kawasan.”

Inisiatif tersebut mengusulkan normalisasi antara Arab dan Israel dengan syarat Israel menarik Israel diri dari wilayah Arab yang diduduki sejak tahun 1967 dan menerima pembentukan negara Palestina merdeka dengan Quds (Yerusalem) Timur sebagai ibukotanya, dan solusi yang adil untuk masalah pengungsi.

“Kami tidak akan bisa (normalisasi) selama masalah Palestina tidak diselesaikan,” tegas Faisal.

Dia juga mengatakan, “Prioritas sekarang adalah untuk mendorong proses perdamaian antara Palestina dan Israel ke depan, dan ini pasti akan menguntungkan kawasan, Israel dan Palestina.”

Negosiasi damai antara pihak Palestina dan Israel telah ditangguhkan sejak April 2014 akibat penolakan Israel untuk menghentikan pemukiman dan membebaskan tahanan lama, dan penolakannya terhadap solusi dua negara (Palestina dan Israel).

Situs berita Amerika Axios, Selasa, melaporkan bahwa pemerintahan Presiden AS Joe Biden sedang melakukan mediasi untuk menyelesaikan langkah pertama menuju normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel.

Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman ketika menjawab pertanyaan majalah The Atlantic pada 3 Maret lalu mengatakan bahwa negaranya tidak memandang Israel sebagai “musuh, melainkan sebagai sekutu potensial” dalam banyak kepentingan.

Dia menambahkan, “Tapi beberapa masalah harus diselesaikan sebelum mencapai itu. Kami berharap masalah antara Israel dan Palestina akan diselesaikan.”

Pada tahun 2020, Israel menandatangani perjanjian untuk menormalisasi hubungan dengan empat negara Arab, yaitu UEA, Bahrain, Maroko, dan Sudan.

Di antara 22 negara Arab, empat negara tersebut serta Mesir dan Yordania telah menjalin hubungan resmi dan terbuka dengan Israel. (alarabiya/raialyoum)