Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 24 Maret 2021

yaman yahya sareeJakarta, ICMES. Gerakan Ansarullah (Houthi) mengumumkan pihaknya telah menyerang sebuah bandara di selatan Arab Saudi dengan pesawat nirawak (drone), sehari setelah Kerajaan Saudi mengajukan usulan baru perdamaian yang mencakup gencatan senjata di seluruh wilayah Yaman.

Iran menyatakan bahwa kemenangan kelompok pejuang Ansarullah dalam perang di Yaman menyebabkan para penguasa Arab Saudi tertekan dan kebingungan.

Serangan roket dari kelompok tak dikenal menerjang posisi militer AS di provinsi Deir Ezzor, Suriah, sehari setelah kelompok-kelompok adat menggelar rapat akbar yang menyerukan perlawanan bersenjata terhadap AS dan Turki

Pasukan keamanan Irak dan pasukan relawan Al-Hashd Al-Shaabi menemukan gudang senjata terbesar kelompok teroris ISIS di provinsi Anbar, Irak barat, serta beberapa gudang bawah tanah besar lainnya di beberapa daerah di negara ini.

Berita Selengkapnya:

Ansarullah Gempur Bandara Saudi Sehari Setelah Riyadh Ajukan Usulan Damai

Juru bicara militer Yaman, Brigjen Yahya Saree, yang bersekutu dengan gerakan Ansarullah (Houthi) mengumumkan pihaknya telah menyerang sebuah bandara di selatan Arab Saudi dengan pesawat nirawak (drone), sehari setelah Kerajaan Saudi mengajukan usulan baru perdamaian yang mencakup gencatan senjata di seluruh wilayah Yaman.

“Dalam pembalasan yang sah dan wajar atas eskalasi agresi dan blokade yang menyeluruh terhadap negara kami, pasukan drone telah melancarkan serangan ke Bandara Internasional Abha dengan drone jenis Qasif K2 pada sore hari ini,” ungkap Saree di halaman Twitternya, Selasa (23/3).

Dia memastikan bahwa serangan itu tepat mengena sasaran yang diincar, dan bahwa serangan demikian akan terus dilakukan “selagi agresi dan blokade masih berlanjut”.

Belum ada konfirmasi dari pihak Saudi ataupun koalisi yang dipimpinnnya mengenai serangan drone dari Yaman tersebut.

Yahya Saree menambahkan bahwa pertahanan udara Yaman “berhasil menjatuhkan drone pengintai dan tempur jenis MQ-9 buatan AS yang terbang dan menjalankan misi agresi di angkasa Ma’rib pada sore hari ini”.

Dia menyebutkan bahwa drone itu ditembak jatuh dengan rudal memadai yang belum pernah diumumkan tipenya.

Seperti pernah diberitakan, Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al-Saud Senin lalu mengumumkan usulan damai baru Riyadh untuk mengakhiri perang di Yaman, yang mencakup “gencatan senjata di seluruh penjuru negara ini di bawah pengawasan PBB”.

Inisiatif Riyadh itu mendapat sambutan baik dari beberapa negara, termasuk AS, demikian pula pemerintahan presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi, namun diabaikan oleh Ansarullah dengan alasan bahwa usulan itu “tidak mengandung sesuatu yang baru”.

Ansarullah juga memperingatkan bahwa usulan damai hanya akan layak dipandang serius apabila unsur kemanusiaan seperti pembukaan bandara dan pelabuhan tidak dijadikan sebagai alat tawar. (raialyoum/alalam)

Iran: Ansarullah Yaman Menang, Penguasa Saudi Kebingungan

Asisten ketua parlemen Iran urusan internasional Hossein Amir Abdollahian menyatakan bahwa kemenangan kelompok pejuang Ansarullah dalam perang di Yaman menyebabkan para penguasa Arab Saudi tertekan dan kebingungan.

“Kelompok resistensi Yaman sekarang menang, dan para penguasa Saudi pun sangat kebingungan,” ungkap Abdollahian di Twitter, Selasa (23/3).

Menanggapi pernyataan Menteri Negara Saudi Urusan Luar Negeri Adel Al-Jubeir belum lama ini, Abdollahian juga menyebutkan bahwa agresi Amerika-Saudi terhadap Yaman sudah berlangsung enam tahun, namun kubu resistensi Yaman tetap solid, padahal Saudi dulu bersumbar akan menghabisi kelompok Houthi dalam tempo 15 hari.

“Perang bukanlah penyelesaian, mari melihat masa depan, jalan satu-satunya adalah solusi politik,” lanjutnya.

Sementara itu, Duta Besar Iran untuk Yaman di Sanaa, Hasan Erlo, menyebut usulan Saudi soal Yaman tidak bertujuan menghentikan perang, melainkan justru demi melangggengkan perang dan pendudukan terhadap Yaman.

“Inisiatif Saudi mengenai Yaman adalah agenda perang permanen, kontinyuitas pendudukan, dan kejahatan perang, bukan penghentian perang,” tulis Erlo, Selasa, di halaman Twitter-nya.

Dia menambahkan bahwa “inisiatif yang hakiki” harus mencakup “penghentian perang secara total, pencabutan blokade secara penuh, penghentian pendudukan oleh Saudi dan penarikan pasukan militernya,dan  tidak menyokong antek bayaran dan kaum takfiri dengan dana dan senjata.”

Erlo juga menekankan bahwa dialog politik Yaman harus dilakukan oleh kelompok-kelompok Yaman sendiri tanpa sedikitpun campur tangan asing.

Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan Al-Saud mengumumkan prakarsa damai baru Riyadh demi apa yang disebutnya “mengakhiri perang di Yaman”, dan mencakup “gencatan senjata di seluruh penjuru negara ini di bawah pengawasan PBB”.

Pada Selasa malam Penjabat Menteri Penerangan Saudi Majid bin Abdullah Al-Qasabi menegaskan hak Saudi membela diri di depan “serangan milisi Houthi yang didukung Iran”. Dia juga menuding Teheran sebagai penyebab “berlarutnya krisis Yaman karena menyokong penyelundupan rudal dan senjata”. (alalam/raialyoum)

Pangkalan Militer AS di Suriah Terserang Roket, Beberapa Tentara Terluka, Masyarakat Adat Serukan Perlawanan

Serangan roket dari kelompok tak dikenal menerjang posisi militer Amerika Serikat (AS) di provinsi Deir Ezzor, Suriah, Selasa (23/3/).

Beberapa roket telah menerjang pangkalan militer AS di kilang gas Conico di sisi utara provinsi Deir Ezzor, Suriah timur, menyebakan sejumlah tentara AS menderita luka.

Sejauh ini belum ada pihak yang menyatakan bertanggungjawab atas serangan tersebut.

Bagian utara Suriah dikendalikan oleh milisi Kurdi yang didukung oleh pasukan AS. AS bahkan menduduki kawasan itu dengan mengirim pasukan dan perlengkapan militer, terutama di daerah-daerah yang berladang minyak dan gas.

Pada tahun 2017, milisi Kurdi Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) menguasai kilang gas tersebut setelah memenangi pertempuran melawan kelompok teroris ISIS. Kilang itu disebut-sebut sebagai salah satu penghasil gas terbesar di kawasan, namun karena khawatir diserang pasukan Turki ataupun tentara Suriah, AS mendudukinya sembari mengibarkan benderanya di sana.

Website Al-Ain yang berbasis di Suriah menyebut pangkalan militer AS di kawasan kilang gas Conico sebagai yang terbesar di Suriah.

Pemerintah Suriah mengutuk dan menyebut keberadaan militer AS di bagian timur laut dan timur Suriah sebagai ilegal dan bermotif pendudukan. Damaskus berulangkali mendesak Washington berhenti menyokong kawasan teroris dan separatis di Suriah, dan menghentikan pendudukannya terhadap sebagian wilayah Suriah.

Sementara itu, kelompok-kelompok adat Suriah di provinsi Deir Ezzor Senin lalu mengadakan rapat akbar untuk menandai dukungan mereka kepada tentara dan pemerintah Suriah serta menyerukan perlawanan bersenjata terhadap pasukan pendudukan AS dan Turki di Suriah.

Dalam rapat itu mereka membuat pernyataan sikap nasionalisme mereka sembari memperingatkan bahaya upaya AS memecah belah Suriah.

Mereka menegaskan bahwa perlawanan bersenjata merupakan satu-satunya jalan untuk mengusir pasukan pendudukan AS dan Turki serta para antek bersenjata keduanya dari wilayah Suriah.

Atas dasar itu, mereka juga memastikan kesiapan mereka memberikan dukungan senjata dan logistik kepada kelompok-kelompok suku yang ada di wilayah yang diduduki AS dan Turki agar mereka melawan keduanya. (almayadeen)

Pasukan Relawan Irak Ungkap Gedung Senjata Terbesar ISIS di Anbar

Pasukan keamanan Irak dan pasukan relawan Al-Hashd Al-Shaabi (Unit Mobilisasi Umum)  menemukan gudang senjata terbesar kelompok teroris ISIS di provinsi Anbar, Irak barat, serta beberapa gudang bawah tanah besar lainnya di beberapa daerah di negara ini.

Al-Hashd Al-Shaabi dalam sebuah sebuah pernyataannya, Selasa (23/3), mengumumkan bahwa Brigade ke-27 pasukan ini telah menemukan sejumlah besar senjata milik ISIS di timur provinsi Al-Anbar, dan bahwa gudang tersebut merupakan salah satu gudang senjata ISIS terbesar di Irak.

Dilaporkan bahwa di provinsi Al-Anbar Irak terdapat banyak bahan peledak yang ditinggalkan oleh ISIS, dan beberapa di antaranya meledak karena panas atau berbagai faktor lain, yang menyebabkan beberapa warga sipil tewas dan luka.

Untuk memastikan keamanan daerah-daerah di sana dan demi mencegah insiden yang tidak diinginkan, pasukan keamanan Irak setiap bulan menyisir tempat-tempat yang diduga bertebar bahan peledak dan di sana mereka menemukan bahan-bahan berbahaya itu dalam jumlah besar.

Dalam beberapa hari terakhir, Angkatan Bersenjata Irak juga menemukan bahan peledak dan senjata dalam operasi di berbagai wilayah Negeri 1001 Malam ini. (mna)