Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 22 Januari 2020

irak barham saleh di pesawatJakarta, ICMES. Brigade Hizbullah Irak mengancam akan mengusir Presiden Barham Salih dari Baghdad jika dia mengadakan pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump di sela-sela World Economic Forum di Davos, Swiss.

Petinggi Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) Khalil al-Hayya menyebut Iran sebagai negara yang tak pernah berhenti sama sekali dalam memberikan dukungan dana, senjata, dan keahlian kepada para pejuang Palestina.

Tiga orang Palestina gugur syahid akibat serangan pasukan Israel yang menyebut para korban itu berusaha menyusup ke wilayah Israel.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir melaporkan apa yang disebutnya terorisme Iran dan kelompok Ansarullah (Houthi) Yaman kepada parlemen Eropa.

Berita selengkapnya:

Hizbullah Irak Ancam Usir Presiden Salih dari Baghdad Jika Temui Trump

Brigade Hizbullah Irak mengancam akan mengusir Presiden Barham Salih dari Baghdad jika dia mengadakan pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump di sela-sela World Economic Forum di Davos, Swiss.

“Kami menekankan keharusan komitmen Barham Salih untuk tidak mengadakan pertemuan dengan si bodoh Trump dan sekelompok pembunuh yang menyertainya. Jika tidak mengindahkan keharusan ini maka akan ada sikap bagi orang-orang Irak terhadap dia (Salih) karena dia menyalahi kehendak rakyat dan mengabaikan darah suci yang telah ditumpahkan oleh gerombolan (Trump) itu, ” tegas Abu Ali al-Askari, seorang pejabat keamanan Brigade Hizbullah Irak di Twitter, Selasa (21/1/2020).

Dia lantas memperjelas ancamannya dengan menyatakan,”Ketika demikian itu maka kami tegaskan tidak ‘ahlan’ dan tidak pula ‘sahlan’, dan orang-orang merdeka di antara anak-anak kami akan mengusir dia (Salih) dari Baghdad.”

Belum ada laporan mengenai tanggapan kantor kepresidenan atau pemerintah Irak atas ancaman tersebut.

Sebelumnya di hari itu Presiden Salih bertolak menuju Swiss untuk mengikuti Forum Davos di tengah maraknya dugaan bahwa dia di sana akan mengadakan pertemuan dengan Trump.

Brigade Hizbullah adalah salah satu faksi dalam Hashd Shaabi, yaitu aliansi pasukan relawan Irak yang secara resmi berada di bawah komando panglima tertinggi angkatan bersenjata Irak, namun brigade itu menjalin hubungan erat dengan Iran serta mendapat pelatihan dari Iran.

Pada akhir Desember 2019 sebanyak 28 anggota Brigade Hizbullah tewas terkena serangan udara AS yang menarget posisi-posisi mereka di provinsi Anbar, Irak barat. AS menyerang mereka setelah menuduh mereka telah berulangkali menyerang pangkalan-pangkalan militer yang menampung pasukan AS di Irak, yang satu di antaranya menewaskan seorang kontraktor AS di dekat kota Kirkuk. (raialyoum/alalam)

Hamas Sebut Iran Tak Pernah Berhenti Dukung Perjuangan Palestina

Petinggi Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) Khalil al-Hayya menyebut Iran sebagai negara yang tak pernah berhenti sama sekali dalam memberikan dukungan dana, senjata, dan keahlian kepada para pejuang Palestina.

Seperti dilansir al-Alam, Selasa (21/1/2020), Al-Hayya menegaskan hubungan faksi pejuang Hamas dengan Iran tak pernah terputus dan tak pernah pula ada niatan untuk memutuskannya.

Menurutnya, hubungan Hamas dengan Iran hanya sempat terusik oleh beberapa perbedaan kebijakan politik, dan itupun kemudian berhasil diatasi oleh jerih payah jenderal legendaris Iran Qassem Soleimani yang gugur akibat serangan teror AS pada 3 Januari lalu.

Mengenai Mesir, dia memastikan Hamas tak dapat mengganti Mesir dengan negara lain dalam kemitraan untuk pengelolaan urusan nasional Palestina.

Dalam pertemuan dengan sejumlah wartawan di Gaza, al-Hayya menjelaskan bahwa Hamas bersepakat dengan Mesir dalam banyak persoalan dan kebijakan politik, dan hubungan antara keduanya berlandaskan berbagai kesefahaman yang baik.

Dia menyatakan bahwa Ketua Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh tak ragu-ragu berkunjung ke negara manapun yang bersedia menerima dan menyambut baik kunjungannya, karena Hamas berusaha memperbaiki hubungan dengan semua negara, dan berhasil.

Dia juga menyebutkan tak ada kaitan krisis gas yang disuplai dari Mesir ke Gaza dengan kunjungan Haniyeh ke Mesir. Dia beralasan bahwa kunjungan itu hanya karena faktor dan perhitungan perdagangan semata. (alalam)

Tiga Orang Palestina Gugur di Perbatasan Gaza-Israel

Tiga orang Palestina gugur syahid di kawasan sekitar pagar pembatas Jalur Gaza dengan Israel (Palestina pendudukan 1948) akibat serangan pasukan Israel yang menyebut para korban itu berusaha menyusup ke wilayah Israel.

Peristiwa tersebut diungkap oleh militer Israel dalam sebuah pernyataan yang dirilisnya, Selasa (21/1/2020).

“Tiga orang Palestina itu berusaha menyusup ke sisi Israel dengan menerobos pagar pembatas di selatan Gaza, dan telah melempar granat ke arah pasukan Israel di kawasan itu,” bunyi pernyataan tersebut.

Juru bicara militer Israel Avichai Adraee merilis sebuah video yang disebutnya sebagai rekaman lokasi pelemparan granat tersebut.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Majelis Nasional Keluarga Syuhada Palestina Mohammad Sbehat melaporkan bahwa pada tahun 2019 sebanyak 149 orang Palestina gugur syahid akibat serangan pasukan Israel. (alalam)

Menlu Saudi Laporkan “Terorisme” Iran dan Ansarullah Yaman Kepada Parlemen Eropa

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir melaporkan apa yang disebutnya terorisme Iran dan kelompok Ansarullah (Houthi) Yaman kepada parlemen Eropa.

Seperti diberita Rai al-Youm, Selasa (21/1/2020), dalam pernyataan di depan Komisi Hubungan Luar Negeri Parlemen Eropa, Al-Jubeir mengklaim bahwa Arab Saudi “tidak memulai perang di Yaman, melainkan orang-orang Houthi-lah yang melakukannya.”

Dia menambahkan, “Saudi telah mengajukan dana US$  14 miliar untuk pertumbuhan Yaman, sedangkan Houthi telah melepaskan 300 rudal dan 100 pesawat nirawak ke wilayah Saudi.”

Al-Jubeir kemudian menyudutkan Iran dengan menyatakan, “Di Irak, Libanon, dan Iran sendiri orang-orang berunjuk rasa anti kebijakan rezim Teheran.”

Dia mengklaim, “Kerajaan (Saudi) memerangi terorisme untuk menumpasnya, sedangkan Iran adalah negara terbesar yang mensponspori terorisme di dunia… Kerjaan ini akan terus bekerja memerangi terorisme demi menumpasnya, dan sudah lama memburu setiap orang yang menyebarkan ekstremisme dan terorisme.”

Menteri Luar Negeri Saudi juga menuding Qatar sebagai negara yang mensponsori terorisme dengan menyatakan bahwa Saudi mengharapkan Qatar “mengubah perilaku dan dukungannya kepada terorisme”.

“Qatar memberikan banyak dana kepada kelompok-kelompok teroris, mencampuri urusan Kerajaan Saudi, menganjurkan kebencian, dan kami berharap Qatar mengubah perilakunya dan bertindak sebagai sebuah negara,” tuding Al-Jubeir.

Dia menegaskan, “Berhentilah mengajari kami, berhentilah berurusan dengan kami… Kami memiliki sistem pengadilan. Sistem pengadilan independen, dan kami tidak mengizinkan siapa pun mempertanyakan bagaimana sistem pengadilan kami beroperasi dengan segala hormat.”

Dia melanjutkan, “Kami adalah negara berdaulat; kami bukan republik pisang, dan kami akan menghormati keputusan terhadap sistem pengadilan kami.”

Dia lantas memuji apa yang disebutnya peranan penting yang dimainkan Eropa di bidang ekonomi dan militer di kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, Al-Jubeir mengadakan pembicaraan dengan Kepala Misi Uni Eropa untuk Hubungan dengan Semenanjung Arab, Hannah Newman, masalah regional dan internasional yang menjadi perhatian bersama. Kedua membahas berbagai isu regional dan global yang menjadi perhatian kedua belah pihak.

Website Middle East Eye, saat memberitakan pernyataan Al-Jubeir itu menyebut Arab Saudi sebagai monarki absolut di mana para bangsawan senior hampir sepenuhnya mengendalikan semua cabang negara serta kekuatan untuk mengampuni tersangka kejahatan serius.

Sistem hukum kerajaan itu menghadapi kecaman hebat dari khalayak dunia pada akhir tahun lalu karena membebaskan asisten Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dari jerat hukum kasus pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi.

Terkait kasus yang menggemparkan dunia itu pengasilan Saudi telah menjatuhkan hukuman mati pada lima orang atas keterlibatan dalam pembunuhan tersebut.

Khashoggi yang bekerja sebagai kolumnis Washington Post dan Middle East Eye telah dibunuh dan dimutilasi oleh agen pemerintah Saudi di konsulat kerajaan ini di Istanbul, Turki, pada Oktober 2018.

Demi membebaskan Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman dari dugaan terlibat dalam kejahatan sadis itu, Riyadh menyatakan bahwa pembunuhan itu merupakan hasil dari operasi ilegal yang terjadi tanpa sepengetahuan Mohamed bin Salman dan pejabat tinggi lainnya. (raialyoum/middleeasteye)