Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 22 April 2020

israel - Ayman Haj Yahya

Ayman Haj Yahya

Jakarta, ICMES. Rezim Zionis Israel menuduh aktivis Palestina warga Israel Ayman Haj Yahya melakukan kegiatan mata-mata untuk kepentingan Iran.

Korps Garda  Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan negara republik Islam ini telah meningkatkan jangkauan rudal lautnya menjadi 700 kilometer tanpa bantuan dari negara lain.

Presiden Iran Hassan Rouhani dan Emir Qatar Syeikh Tamim bin Hamad al-Thani, membahas sepak terjang kedua negara dalam perang melawan pandemi virus corona (Covid-19) dan kerjasama antara keduanya dalam masalah ini.

Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah percakapan televon dengan sejawatnya di Turki, Recep Tayyip Erdogan, telah mengimbau Erdogan agar mengindahkan kedaulatan Suriah.

Berita selengkapnya:

Aktivis Arab Warga Israel Ini Dituduh Lakukan Mata-Mata untuk Kepentingan Iran

Rezim Zionis Israel menuduh aktivis Palestina warga Israel (Palestina pendudukan 1948) Ayman Haj Yahya melakukan kegiatan mata-mata untuk kepentingan Iran.

Haj Yahya dituduh demikian setelah ditangkap oleh agen keamanan internal Shin Bet dan polisi Israel pada 16 Maret 2020.

Haj Yahya adalah seorang pemimpin politik terkenal dan aktivis dalam komunitas Palestina di Israel, dan kini dituduh menjalin kontak dengan intelijen Iran untuk merekrut warga negara Arab di Israel.

Di pengadilan di pusat kota Lod pada Ahad lalu dia didakwa melakukan “pelanggaran serius keamanan” Israel.

Dia didakwa berkomuniasi dengan para agen Iran selama melakukan perjalanan ke Eropa dan dengan anggota kelompok Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) di Lebanon.

Haj Yahya semula adalah anggota senior partai politik Arab-nasionalis Balad yang memiliki tiga kursi di Knesset Israel dalam pemilu terbaru.

Balad adalah bagian dari aliansi Daftar Bersama, yang secara kolektif menempati 15 kursi sehingga menjadi partai politik terbesar ketiga di Israel.

Haj Yahya meninggalkan Balad pada 2014 karena sikap partai ini terhadang perang Suriah, dan kemudian mengadakan gerakan politik sendiri, yang mengadvokasi pemboikotan pemilu dan integrasi Palestina ke dalam sistem politik Israel.

Para pemimpin Arab menyebut tuduhan Israel terhadap Haj Yahya bermotifi politik. (aljazeera)

IRGC: Iran Tingkatkan Jangkauan Rudal Laut Tanpa Bantuan Asing

Korps Garda  Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan negara republik Islam ini telah meningkatkan jangkauan rudal lautnya menjadi 700 kilometer tanpa bantuan dari negara lain.

“Pernah pada suatu masa jangkauan terjauh rudal laut kami (di era rezim despotik Reza Syah Pahlevi – red.) tidaklah melebihi 45 km, itupun dicapai dengan bantuan dari penasihat militer Amerika,” ungkap Komandan Angkatan Laut (AL) IRGC Brigjen Alireza Tangsiri dalam sebuah wawancara, Senin (20/4/2020).

“Namun, kami telah mengembangkan rudal bawah permukaan dan permukaan-ke-permukaan dengan jangkauan 700 kilometer, yang seluruhnya dibuat oleh elit militer domestik,” lanjutya.

Tangsiri menyebut kekuatan asing, terutama AS, sebagai sumber keamaman di kawasan Timur Tengah.

“Di mana pun Amerika hadir, di situ ketidak amanan mengikuti, dan kita tahu dari mana saja (di dunia) di mana kehadiran orang Amerika telah menyebabkan keamanan.”

Tangsiri menyinggung insiden hadap-hadapan antara kapal AL IRGC dan kapal perang AS di Teluk Persia.

“Amerika dalam petualangan ini telah menghalangi jalan kapal kami, melanggar peraturan internasional dan bahkan enggan memberikan tanggapan radio, tapi lantas dihadapkan dengan gerakan kuat pasukan kami,” ujarnya.

Menurut  Komandan AL IRGC, keberadaan AS di Teluk Persia telah menyebabkan peningkatan besar jumlah insiden maritim.

“Sejak keberadaan Amerika di kawasan ini, 550 tanker minyak telah menjadi sasaran (dalam berbagai peristiwa serangan),  dan keamanan regional telah berkurang sebesar 55 persen. ”

AL AS Rabu pekan lalu mengklaim bahwa 11 kapal Iran berulang kali mendekati kapal militer AS dalam “pendekatan berbahaya dan melecehkan” di Teluk Persia.

AL IRGC membantah klaim itu, dan pada Ahad lalu merilis pernyataan yang menegaskan bahwa sumber utama kekacauan dan ketidakamanan di kawasan ini adalah kehadiran ilegal pasukan teroris AS, dan karena itu AL IRGC menyerukan lagi penarikan penuh semua pasukan AS dari Persia Teluk dan Timur Tengah secara umum. (presstv)

Presiden Iran dan Emir Qatar Bahas Kerjasama Perang Melawan Covid-19

Presiden Iran Hassan Rouhani dan Emir Qatar Syeikh Tamim bin Hamad al-Thani, membahas sepak terjang kedua negara dalam perang melawan pandemi virus corona (Covid-19) dan kerjasama antara keduanya dalam masalah ini.

Pembicaraan antara keduanya itu dilakukan dalam kontak telefon Selasa (21/4/2020), seperti dilaporkan kantor berita Qatar, Qana.

“Keduanya membahas hubungan bilateral serta jalan  penguatan dan pengembangannya di berbagai bidang, dan memaparkan upaya masing-masing dalam pemberantasan wabah corona serta berbagai aspek penguatan kerjasama keduanya di bidang ini,” lapor Qana.

Presiden Rouhani berterima kasih kepada Emir al-Thani atas bantuan medis yang telah diberikan Qatar kepada rakyat Iran selama pandemi global ini.

Keduanya juga membicarakan perkembangan aneka peristiwa regional dan internasional, terutama terkait dengan upaya pemeliharaan keamanan dan stabilitas regional.

Hingga Selasa malam Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 1.5 juta orang di berbagai penjuru dunia, termasuk 175,000 meninggal, dan lebih 685,000 sembuh, menurut website Wolrdmeter  yang memantau korban pandemi ini. (raialyoum)

Putin Imbau Erdogan Indahkan Prinsip Kedaulatan Suriah

Kantor pers Kremlin dalam sebuah pernyataannya, Selasa (21/4/2020), menyatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah percakapan televon dengan sejawatnya di Turki, Recep Tayyip Erdogan, telah membahas berbagai isu, termasuk Suriah dan wabah corona (Covid-19).

“Presiden Rusia dan Presiden Turki telah bertukar pikiran secara detail mengenai situasi Suriah, termasuk kemajuan signifikan dalam penerapan kesepakatan-kesepakatan terkait dengan zona de-eskalasi di Idlib, demikian pula protokol tambahan untuk MOU Sochi tanggal 17 September 2018, yang diadopsi di Moskow pada 5 Maret,” bunyi pernyataan itu.

Disebutkan pula bahwa dalam kontak telefon ini Putin juga menekankan keharusan patuh tanpa syarat kepada prinsip kedaulatan dan keutuhan teritorial Suriah.

“Kedua pihak juga membicarakan serangkaian isu terkait dengan penyebaran wabah virus corona novel… Kedua negara siap meningkatkan upaya-upaya kolektif dalam pemberantasan penularan, termasuk upaya melalui Kementerian Kesehatan dan pihak-pihak terkait,” lanjut Kremlin.

Kantor pers Kremlin juga menyatakan adanya kelanjutan koordinasi antara para pejabat kedua negara untuk menjamin kepulangan warga negara Rusia dan Turki ke negara masing-masing.

“Kedua presiden ini juga mendiskusikan proyek-proyek bersama di bidang energi nuklir,” imbuhnya.

Sehari sebelumnya, Erdogan menuduh pemerintah Suriah sedang memanfaatkan situasi wabah Covid-19 sebagai kesempatan untuk melanggar gencatan senjata dan meningkatkan serangan di Suriah barat laut yang dikuasai pemberontak.

Dia lantas menegaskan, “Turki tetap berkomitmen pada kesepakatan yang dicapai dengan Rusia dan tidak akan memberi jalan kepada agresi rezim (Suriah).”

“Jika rezim ini, yang telah melanggar gencatan senjata dan persyaratan lain dari perjanjian, berkelanjutan dengan cara ini maka akan membayar harga dengan kerugian besar,” ancamnya.

Erdogan menyatakan demikian menyusul adanya laporan-laporan mengenai terjadinya kontak senjata terbatas antara tentara Suriah dan pasukan pemberontak yang didukung Turki, meskipun gencatan senjata  secara umum tampak masih bertahan.

Putin dan Erdogan pada 5 Maret lalu mengadakan pertemuan di Moskow untuk membahas upaya penyelesaian kemelut Suriah, termasuk cara menemukan solusi bagi krisis yang terjadi di zona de-eskalasi di Idlib.

Pertemuan itu menghasilkan  perjanjian gencatan senjata yang disusul dengan dimulainya penerapan patroli bersama antara Rusia- Turki di jalur internasional M4 di Suriah (jalur Latakia-Aleppo) pada 15 Maret. (raialyoum/anadolu)