Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 21 Agustus 2019

suriah bashar al-assadJakarta, ICMES: Presiden Suriah Bashar Assad dalam pertemuannya dengan anggota parlemen Rusia Dmitry Sablin di Damaskus memastikan telah terjadi perubahan positif di Suriah, baik di bidang militer maupun politik.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan pihaknya telah memberitahu pemerintah Turki bahwa serangan kelompok ekstremis Hayat Tahrir Al-Sham di provinsi Idlib, Suriah, akan direaksi telak oleh  tentara Rusia yang ada di sana.

Militer Iran mengatakan bahwa pembebasan kapal supertanker minyak Iran “Adrian Darya 1” yang sempat disita oleh marinir Inggris di Selat Gibraltar sejak satu bulan lalu membuktikan kekuatan Republik Islam di kancah internasional.

Berita selengkapnya:

Assad: Terjadi Perkembangan Positif di Bidang Militer dan Politik di Suriah

Presiden Suriah Bashar Assad dalam pertemuannya dengan anggota parlemen Rusia Dmitry Sablin di Damaskus memastikan telah terjadi perubahan positif di Suriah, baik di bidang militer maupun politik.

“Perubahan positif dalam situasi militer dan politik telah terjadi di Suriah. Tentara Suriah bergerak maju menuju kota strategis Khan Sheykhoun, dan ada pasukan Rusia di dekarnya, sementara kawanan bersenjata kabur menuju Turki,” ungkap Assad.

Sablin datang ke Suriah dalam rangka kunjungan selama beberapa hari. Dia dijadwalkan meninjau kapal-kapal perang Rusia di kawasan lepas pantai Suriah dan mengadakan pertemuan dengan Assad.

Tentara Suriah melancarkan operasi militer besar-besaran sejak lebih dari satu bulan lalu untuk memulihkan kekuasaannya di Idlib. Sejauh ini mereka berhasil menguasai beberapa daerah strategis, termasuk Ral Al-Malah dan al-Jabin di bagian utara provinsi Hama yang memungkinkannya untuk bersiap menguasai daerah al-Hubait dan Kfar Ain di bagian selatan provinsi Idlib.

Kantor berita Suriah, SANA, melaporkan bahwa satuan-satuan Pasukan Arab Suriah (SAA) terus melanjutkan operasi militernya menuju lokasi-lokasi penyebaran para anggota kelompok teroris Jabhat al-Nusra dan kelompok-kelompok lain yang bersekutu dengannya di provinsi Idlib.

SAA memperluas kekuasaannya di kota Khan Sheykhoun di bagian selatan provinsi Idlib setelah menggempur kawanan teroris dan menimpakan banyak kerugian pada mereka.

Di pihak lain, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyerukan kepada pemerintah Suriah agar “tidak bermain api”, menyusul serangan udara tentara Suriah terhadap konvoi militer Turki yang bergerak menuju Idlib, Suriah utara.

“Rezim ini (Suriah) hendaknya tidak bermain api. Kami akan melakukan segala yang diperlukan untuk menjamin keamanan militer kami dan titik-titik pemantauan yang dikhususkan untuk kami, tapi kami berharap masalah ini tidak sampai ke sana,” ujar Cavusoglu kepada wartawan, Selasa (20/8/2019), tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.  (railayoum)

Rusia Peringatkan Turki Soal Kelompok Teroris di Idlib

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan pihaknya telah memberitahu pemerintah Turki bahwa serangan kelompok ekstremis Hayat Tahrir Al-Sham di provinsi Idlib, Suriah, akan direaksi telak oleh  tentara Rusia yang ada di sana.

Sembari menyebut kelompok itu sebagai kawanan teroris, Lavrov mengatakan, “Kami telah menjelaskan bahwa jika mereka melakukan serangan dari zona ini, mereka akan sangat parah tertindas. Sepanjang tahun ini, provokasi ini belum berhenti.”

Dia menambahkan bahwa dalam semua kasus, Turki telah diperingatkan bahwa Rusia ” akan merespons, dan praktik ini tidak dapat berhenti, karena perjanjian tentang Idlib tidak memberikan perpanjangan rezim gencatan senjata kepada teroris”.

Dalam konferensi pers yang diadakan usai mengadakan pembicaraan dengan sejawatnya dari Ghana, Shirley Ayorkor Botchwey, Selasa (20/8/2019), Lavrov menjelaskan, “Situasi yang berkembang telah muncul karena fakta bahwa para ekstrimis tidak menghentikan upaya mereka untuk menyerang dari sana (daerah-daerah Idlib yang dikendalikan oleh para militan dan oposisi), menargetkan yang terletak di wilayah lain di Republik Arab Suriah. Militer kami tentu saja mempertahankan kontak yang konstan. Hari-hari ini, mereka mendiskusikan situasi saat ini.”

Lavrov menekankan bahwa Rusia memantau situasi di Idlib dengan cermat.

Hal ini dinyatakan Lavrov setelah Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu sehari sebelumnya mengatakan bahwa Turki melakukan kontak dengan Rusia terkait serangan Angkatan Udara Suriah terhadap konvoi militer Turki di Idlib.

Kementerian Luar Negeri Suriah sehari sebelumnya mengatakan bahwa kendaraan lapis baja Turki telah melintasi perbatasan Suriah dan bergerak menuju kubu pemberontak di Khan Sheikhoun, provinsi Idlib.

Kementerian Pertahanan Turki kemudian menuduh Angkatan Udara Suriah telah menyerang konvoi militer Turki, sembari menyebutkan bahwa tiga warga sipil tewas dan 12 lainnya menderita luka-luka akibat serangan ini. (almasdarnews/raialyoum)

Pembebasan Kapal Tanker Minyak Iran oleh Inggris Buktikan Kekuatan Iran di Kancah Internasional

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Mohammad Baqeri mengatakan bahwa pembebasan kapal supertanker minyak Iran “Adrian Darya 1” yang sempat disita oleh marinir Inggris di Selat Gibraltar sejak satu bulan lalu membuktikan kekuatan Republik Islam di kancah internasional.

“Penembakan pesawat mata-mata AS yang mengganggu dan penyitaan tanker minyak Inggris yang melanggar dan akhirnya pelepasan tanker negara kita di Gibraltar, membuktikan fakta bahwa Revolusi Islam terus melanjutkan langkahnya untuk mencapai tujuan-tujuannya yang tinggi,” ujarnya, sebagaimana dikutip Press TV, Selasa  (19/8/2019).

Seperti diketahui, pasukan elit Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), pada bulan Juni lalu menembak jatuh pesawat nirawak (drone) pengintai Global Hawk milik AS di angkasa provinsi Hormozgan, Iran selatan.

Dalam sebuah pernyataannya saat itu IRGC menyatakan bahwa drone berharga ratusan juta Dolar jenis Global Hawk itu ditembak jatuh oleh Pasukan Dirgantara IRGC di dekat wilayah Kouh-e Mobarak setelah melanggar zona udara Iran.

Beberapa minggu kemudian, pada 19 Juli, IRGC juga secara resmi menyita tanker Stena Impero berbendera Inggris berbobot 30.000 ton yang bertabrakan dengan kapal nelayan Iran dan mengabaikan panggilan marabahaya berulang.

Pada 4 Juli, marinir Inggris secara sewenang-wenang menyita kapal Adrian Darya 1, yang saat itu bernama Grace 1, dan muatannya berupa 2,1 juta barel minyak di Selat Gibraltar dengan dalih bahwa kapal supertanker itu membawa minyak mentah ke Suriah sehingga pengiriman minyak kesana dinilai melanggar sanksi unilateral Uni Eropa terhadap Suriah.

Iran membantah klaim Inggris tersebut serta mengecam dan menyebut penyitaan  itu sebagai  aksi “pembajakan.”

Pemerintah Gibraltar Ahad lalu menyatakan pihaknya telah menolak permintaan Washington untuk menahan supertanker Adrian Darya 1 yang membawa minyak Iran. (presstv)