Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 2 September 2020

migran afrika di saudiJakarta, ICMES. Laporan investigasi surat kabar The Sunday Telegraph yang berbasis di London, Inggris, menyatakan bahwa Kerajaan Arab Saudi menahan ratusan atau bahkan ribuan pendatang dari Afrika dalam kondisi jorok dan keji.

Komandan Pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Esmail Ghaani muncul dalam sebuah rekaman video baru yang tersiar Selasa (1/9/2020), menyusul tersebarnya rumor bahwa dia terbunuh dalam serangan Israel ke selatan Damaskus, ibu kota Suriah.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam kunjungannya ke Pelabuhan Beirut, ibu kota Libanon, mengakui kelompok pejuang Hizbullah sebagai bagian dari sistem politik dan terpilih secara demokratis di Libanon.

Berita selengkapnya:

Mengerikan, Foto dan Video Migran Afrika di Saudi “Terbiarkan Mati” di Pusat Penahanan Covid-19

migran afrika di saudi 2Laporan investigasi surat kabar The Sunday Telegraph yang berbasis di London, Inggris, menyatakan bahwa Kerajaan Arab Saudi menahan ratusan atau bahkan ribuan pendatang dari Afrika dalam kondisi jorok dan keji.

Situs The Telegraph pada 30 Agustus lalu menyebutkan dalam gambar grafis ponsel yang dikirim ke surat kabar itu oleh para pendatang yang ditahan di dalam pusat penahanan itu terlihat lusinan pria kurus berbaring tanpa baju dalam barisan yang rapat di kamar kecil dengan jendela berjeruji.

Pada satu foto tampak obyek seperti mayat terbungkus selimut ungu dan putih di tengah-tengah mereka. Mereka mengatakan itu adalah tubuh seorang pendatang yang meninggal karena sengatan panas dan yang lain-lain di mana mereka hampir tidak mendapatkan cukup makanan dan air untuk bertahan hidup.

Gambar lain memperlihatkan seorang remaja Afrika yang tergantung di jeruji jendela di dinding ubin bagian dalam. Kata teman-temannya, remaja itu bunuh diri akibat putus asa, dan banyak di antara mereka telah ditahan sejak April.

Beberapa pendatang menunjukkan bekas luka di punggung mereka, dan mengaku telah dipukuli oleh penjaga yang melontarkan pelecehan rasial pada mereka.

“Di dalam sini sangat mengerikan. Kami diperlakukan seperti binatang dan dipukuli setiap hari, ”kata Abebe, seorang pendatang dari Etiopia yang telah disekap di salah satu pusat penahanan selama lebih dari empat bulan.

“Jika saya melihat bahwa tidak ada jalan keluar, saya akan bunuh diri. Yang lainnya sudah, ”tambahnya melalui perantara yang bisa berkomunikasi melalui telepon selundupan.

“Satu-satunya kejahatan saya adalah meninggalkan negara saya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Tapi mereka memukuli kami dengan cambuk dan kabel listrik seolah-olah kami pembunuh. ”

Gambar dan kesaksian itu telah memicu kemarahan di kalangan aktivis hak asasi manusia, dan yang memiliki gaung sehubungan dengan gerakan protes global “Black Lives Matter”.

migran afrika di saudi 3

“Foto-foto yang muncul dari pusat-pusat penahanan di Arab Saudi selatan menunjukkan bahwa pihak berwenang di sana menjadikan para pendatang dari Tanduk Afrika dalam kondisi jorok, penuh sesak, dan tidak manusiawi tanpa memperhatikan keselamatan atau martabat mereka,” kata Adam Coogle, wakil direktur Human Rights Watch di Timur Tengah, setelah diperlihatkan gambar-gambar itu oleh The Sunday Telegraph.

“Pusat-pusat penahanan kumuh di selatan Arab Saudi jauh dari standar internasional. Untuk negara kaya seperti Arab Saudi, tidak ada alasan untuk menahan migran dalam kondisi yang menyedihkan seperti itu,”tambah Coogle.

Menurut The Daily Telegraph, kondisi di pusat penahanan Covid-19 di Saudi itu yang mengingatkan orang pada kamp-kamp perbudakan di Libya.

Surat kabar ini menemukan banyak migran yang dijadwalkan untuk dideportasi lima bulan lalu telah dibiarkan membusuk di pusat penahanan yang penuh penyakit. “Kami dibiarkan mati di sini,” kata seorang yang mengaku dikurung di sebuah ruangan seukuran ruang kelas sekolah dan tidak pernah keluar sejak Maret.

“Covid19? Siapa tahu ?, Ada banyak penyakit di sini. Semua orang sakit di sini; setiap orang memiliki sesuatu,” imbuhnya.

Gambar-gambar yang diselundupkan menunjukkan banyak di antara mereka yang ditahan menderita infeksi kulit, dan mengaku belum menerima perawatan medis.

“Kami makan sepotong kecil roti di siang hari dan nasi di malam hari. Hampir tidak ada air, dan toiletnya meluap. Itu tumpah ke tempat kita makan. Baunya, kita jadi terbiasa. Tapi ada lebih dari seratus orang di satu ruangan, dan panasnya mematikan kami, “kata pria muda Etiopia lainnya.

Sebuah klip video pendek yang diselundupkan ke luar menunjukkan beberapa ruangan tertutup kotoran yang meluap dari toilet-toilet jongkok. Seorang pria Etiopia terdengar berteriak: “Toiletnya mampet. Kami mencoba mengatasinya tapi tak dapat melakukannya. Jadi kami hidup dalam kotoran ini, kita tidur di dalamnya juga. ”

“Bagi (Saudi] atau bahkan Abiy, kami seolah semut. Saat kami mati, seakan seekor semut yang mati, tidak ada yang peduli atau memperhatikan, “tambah pria itu. Abiy yang dimaksud adalah Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed yang juga seorang pemenang Hadiah Nobel Perdamaian.

Para migran di masing-masing pusat mengatakan ada ratusan dari mereka di setiap kamar. Citra satelit menunjukkan ada beberapa bangunan di kedua pusat tersebut, yang berarti mungkin ada jauh lebih banyak migran di setiap pusat yang tidak dapat dihubungi.

Beberapa migran mengatakan mereka telah ditangkap dari rumah mereka di berbagai kota di Arab Saudi sebelum ditempatkan di kamp.  (thetelegraph)

Dikabarkan Terbunuh oleh Serangan Israel, Jenderal Iran Muncul di Rekaman Baru

Komandan Pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Esmail Ghaani muncul dalam sebuah rekaman video baru yang tersiar Selasa (1/9/2020), menyusul tersebarnya rumor bahwa dia terbunuh dalam serangan Israel ke selatan Damaskus, ibu kota Suriah.

Kantor berita Mehr milik Iran melaporkan bahwa Ghaani pada Selasa sore berkunjung ke rumah Hossein Pourjaafari, orang yang menemani Qassem Soleimani dalam peristiwa di mana jenderal legendaris Iran pendahulu Ghaani ini terbunuh oleh serangan udara Amerika Serikat di dekat Bandara Internasional Baghdad pada Januari 2020. Pourjaafari adalah ajudan Soleimani yang juga ikut terbunuh dalam serangan itu.

Dalam kunjungan ke rumah Pourjaafari, Jenderal Ghaani berkata, “Kita berdoa semoga Allah merahmati ruh Sang Syahid dan meninggikan derajatnya, serta memberi kita taufik dalam meneruskan jejaknya.”

Mehr memublikasi video Ghaani berasal dari Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran (IRIB) menyusul beredar laporan-laporan yang menyebutkan bahwa dia terbunuh oleh serangan udara Israel ke selatan Damaskus pada Senin malam (31/8/2020).

Disebutkan bahwa  video itu merupakan rekaman baru di mana Ghaani terlihat sedang bersiap menunaikan shalat Maghrib ketika sedang berkunjung ke rumah Pourjaafari.

Mantan Komandan Pasukan Quds IRGC Qassem Soleimani terbunuh bersama wakil ketua pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, serta beberapa orang lain yang menyertai keduanya, akibat serangan udara AS pada tanggal 3 Januari 2020.

Iran menyebut serangan itu sebagai aksi teror, dan pada dini hari Rabu 8 Januari 2020 IRGC membalas serangan AS itu dengan menghantamkan belasan rudal balistiknya ke dua pangkalan militer AS di Irak, termasuk Lanud Ain Assad yang ditempati oleh sekira 1500 tentara AS.

IRGC pada klaim awalnya menyatakan serangannya itu menewaskan 80 tentara AS dan pada klaim berikutnya seorang petingginya, Brigjen Ali Balali pada 19 Fabruari menyatakan korban tewas tentara AS di Ain Assad mencapai 120 orang.

Di pihak lain, Presiden AS Donald Trump semula mengklaim serangan balasan Iran itu tidak menjatuhkan korban tewas maupun luka, namun belakangan Pentagon beberapa kali mengumumkan pertambahan demi pertambahan jumlah korban cedera, di mana yang terakhir diantaranya, yaitu pada tanggal 10 Februari 2020, menyebutkan jumlah lebih dari 100 orang.

Sejauh ini Iran telah beberapa kali menegaskan bahwa pihaknya masih akan membalas serangan yang menewaskan jenderal legendarisnya itu. (raialyoum)

Macron: Hizbullah Bagian Dari Sistem Politik Libanon dan Terpilih Secara Demokratis

Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam kunjungannya ke Pelabuhan Beirut, ibu kota Libanon, mengakui kelompok pejuang Hizbullah sebagai bagian dari sistem politik dan terpilih secara demokratis di Libanon.

Dalam kunjungan itu Macron juga mengaku akan menggunakan pengaruhnya untuk pemerintahan baru Libanon dan penerapan kewenangan di negara yang baru tertimpa bencana akibat ledakan dahsyat di pelabuhan tersebut, yang menewaskan ratusan orang dan melukai ribuan ainnya, pada 4 Agustus 2020.

Namun, dia juga mengingatkan bahwa dana yang dijanjikan Paris tidak akan pernah cair selagi reformasi politik di Libanon belum dijalankan.

“Saya tidak akan pernah melepaskan uang yang dijanjikan ke Lebanon pada konferensi Paris 2018 kecuali reformasi diterapkan,” katanya.

Selanjutnya, Macron berkunjung ke Istana Baabda di Beirut dan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Michel Aoun, yang juga dihadiri oleh ketua parlemen Nabih Berri.

Macron menyatakan dukungan Prancis untuk Lebanon, dan menekankan bahwa Lebanon akan mampu mengatasi krisis yang dialaminya.

Macron di halaman Twitter-nya memosting cuitan berbahasa Arab yang menyebutkan bahwa nilai-nilai kebebasan, dialog, dan kerukunan hidup berdampingan telah tertanam di Lebanon.

“Kebebasan, dialog, dan hidup berdampingan: ini adalah nilai-nilai yang mengakar kuat di Lebanon, negara yang kekuatannya berasal dari sejarah seratus tahun Negara Lebanon Raya,” bunyi cuitan itu.

“Lebanon akan dapat pulih dari krisis yang dialaminya. Izinkan saya memberitahu Anda atas nama Prancis bahwa kami akan selalu mendukung rakyat Lebanon,” imbuhnya.

Macron tiba di Libanon pada hari Senin (31/8/2020) dalam kunjungan resmi selama dua hari bersamaan dengan peringatan satu abad pertama proklamasi negara Libanon Raya. (alalam)