Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 18 September 2019

drone yaman samad-3Jakarta, ICMES. Seorang pejabat AS mengatakan bahwa negaranya sudah memastikan bahwa serangan yang menerjang kilang minyak Saudi pada Sabtu lalu dilancarkan dari wilayah Iran dengan menggunakan rudal jelajah.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyebut AS sedang memungkiri realitas ketika enggan mengakui bahwa serangan yang menerjang fasilitas minyak Saudi berasal dari Yaman, bukan dari Iran.

Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayyid Ali Khamenei memastikan negaranya tidak akan terlibat dalam negosiasi dengan Amerika Serikat  “di level apa pun”.

Menteri Energi AS Rick Perry menyatakan negaranya tidak akan membekali Saudi teknologi nuklir kecuali jika Riyadh menyetujui pelaksanaan inspeksi secara mendadak dan mendalam oleh Badan Tenaga Atom Internasional.

Berita selengkapnya:

AS Mengaku Akan Buktikan Keterlibatan Iran Dalam Serangan ke Kilang Minyak Saudi

Seorang pejabat AS mengatakan bahwa negaranya sudah memastikan bahwa serangan yang menerjang kilang minyak Saudi pada Sabtu lalu dilancarkan dari wilayah Iran dengan menggunakan rudal jelajah.

Kepada AFP, Selasa (17/9/2019), pejabat yang meminta identitasnya dirahasiakan itu mengatakan bahwa AS kini sedang mempersiapkan dokumen untuk membuktikan klaim itu di depan masyarakat masyarakat dunia, terutama negara-negara Eropa, di sela sidang Majelis Umum PBB di New York pekan depan.

Sebelumnya, meskipun Ansarullah (Houthi) di Yaman mengaku bertanggungjawab atas serangan itu, Presiden AS Donald Trump menuding Iran berada di balik serangan itu, dan Iranpun membantahnya.

Surat kabar Wall Street Journal (WSJ) melaporkan bahwa Senin lalu para pejabat AS telah menyodorkan kepada Riyadh berbagai data intelijen yang menunjukkan bahwa serangan yang menerjang dua pabrik besar minyak Saudi itu dilancarkan dari Iran dengan menggunakan drone.

Serangan itu telah menyebabkan Saudi menurunkan volume produksinya sebanyak 5,7 juta barel, atau setara dengan 6 persen produksi dunia, sehingga menyebabkan kenaikan dratis harga minyak mentah.

WSJ mengutip keterangan sumber-sumber anonim bahwa AS meyakini Iran telah meluncurkan lebih dari 20 drone dan  sedikitnya 10 bom.

Namun demukian, lanjut WSJ, para pejabat Saudi menyatakan AS tidak mengajukan data yang memadai untuk kesimpulan bahwa serangan itu berasal dari Iran, tapi AS masih akan memberikan data tambahan dalam beberapa hari ke depan.

Trump menyatakan negaranya siap membantu Saudi, tapi masih harus menunggu kepastian mengenai pihak yang bertanggungjawab atas serangan itu.

“Kita tidak berusaha memasuki konflik, tapi terkadang Anda perlu melakukannya. Serangan itu besar sekali, tapi bisa jadi balasan atasnya jauh lebih besar,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Tentu, akan terlihat bagi banyak orang bahwa Iran adalah pelakunya.” (raialyoum)

Menlu Iran Sebut AS Pungkiri Realitas, Para Petinggi Militer AS Bungkam

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyebut AS sedang memungkiri realitas ketika enggan mengakui bahwa serangan yang menerjang fasilitas minyak Saudi berasal dari Yaman, bukan dari Iran.

“AS sedang mengingkari kenyataan ketika mengira bahwa orang-orang Yaman yang empat setengah tahun menjadi korban berbagai bentuk kejahatan perang tidak akan berbuat semampunya untuk melancarkan serangan balasan,” ungkap Zarif di halaman Twitternya, Selasa (17/9/2019).

Dia menambahkan bahwa AS seperti sedang mengalami kondisi blunder karena dana sebesar ratusan miliar Dolar ternyata tidak dapat mencegat serangan dari Yaman.

Para politisi AS terus menuduh Iran berada di balik serangan itu, namun para petinggi militer mereka masih memilih bungkam, dan Kementerian Pertahanan AS, Pentagon, pun sampai sekarang tidak merilis pernyataan resmi yang menuduh ataupun menyudutkan Iran.

Para petinggi dan pakar militer AS tampak berhati-hati sehingga enggan menebar pernyataan-pernyataan yang sulit dipertanggungjawabkan, padahal mereka mengetahui bahwa sistem radar AS di Teluk Persia setidaknya dapat melacak separuh perjalanan drone yang menyerang dua pabrik minyak Saudi di Abqaiq dan Khuraish, dan itu sudah cukup untuk mengetahui dari mana serangan itu berasal.

Pabrik minyak di Abqaiq terletak di wilayah timur Saudi dekat Bahrain dan Qatar sehingga tidak jauh dari Armada V AS di Bahrain yang dilengkapi radar-radar canggih, dan dekat pula dengan Lanud Al-Udaid, Qatar, yang juga dibekali sistem radar tercanggih dalam industri militer AS.

Radar-radar itu semestinya sanggup memantau rudal dan drone yang datang dari Iran maupun Irak. Jika  radar-radar tidak dapat memantaunya maka ini jelas aib besar dan sangat memalukan bagi industri militer AS, apalagi radar-radar itu bahkan diarahkan secara khusus ke Iran.

Kebungkaman para petinggi militer AS menandakan bahwa mereka diam-diam mengakui bahwa serangan itu berasal dari Yaman namun dengan drone buatan Iran yang kemungkinan dapat mengecoh pantauan radar AS yang tersebar di kawasan.

Iran memiliki berbagai jenis drone canggih semisal Mohajir, Raad, dan Karrar, yang berjarak tempuh jauh serta dapat membawa bom ataupun melancarkan serangan kamikaze terhadap sasaran-sasaran diam.  Iran sudah beberapa kali memperlihatkan rekaman video kesanggupan drone-nya melayang di atas kapal-kapal induk AS tanpa terpantau radar AS. (raialyoum)

Pemimpin Besar Iran Pastikan Tak Ada Perundingan dengan AS

Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayyid Ali Khamenei memastikan negaranya tidak akan terlibat dalam negosiasi dengan Amerika Serikat  (AS) “di level apa pun”.

Dalam pidatonya di Teheran,Selasa (17/9/2019), dia menjelaskan bahwa  berunding dengan AS pada situasi sekarang tak ubahnya dengan menyerah kepada “tekanan maksimum” Washington terhadap Teheran.

“Bernegosiasi akan berarti Washington memaksakan tuntutannya terhadap Teheran. Ini juga akan menjadi manifestasi dari kemenangan kampanye tekanan maksimum Amerika,” ungkapnya.

Dia mengatakan bahwa semua pejabat Iran, “termasuk presiden”, sepakat menolak pembicaraan dengan AS, baik dalam bentuk bilateral maupun multilateral.

Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa dialog Iran-AS hanya akan mungkin dilakukan jika AS kembali ke kesepakatan nuklir 2015 yang ditinggalkannya sejak tahun lalu.

“Jika AS menarik kembali kata-katanya, bertobat dan kembali ke perjanjian nuklir yang telah dilanggar, maka ia dapat mengambil bagian dalam sesi penandatangan lain untuk kesepakatan, dan mengadakan pembicaraan dengan Iran … Jika tidak, maka tidak ada pembicaraan di tingkat mana pun yang akan diadakan antara otoritas Iran dan Amerika, baik di New York maupun di tempat lain,” terangnya. (presstv)

AS Ungkap Syarat Pembekalan Saudi dengan Teknologi Nuklir

Menteri Energi AS Rick Perry menyatakan negaranya tidak akan membekali Saudi teknologi nuklir kecuali jika Riyadh menyetujui pelaksanaan inspeksi secara mendadak dan mendalam oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IEAE).

Saudi diharuskan mengadopsi Protokol Tambahan IAEA, yaitu seperangkat aturan pemantauan yang diikuti oleh lebih dari 100 negara dan membuat tim pengawas dapat leluasa mengakses situs-situs nuklir potensial.

“Kami telah mengirimi mereka surat berisi persyaratan yang akan dimiliki AS, tentu saja sesuai dengan apa yang diharapkan IAEA dari sudut pandang protokol tambahan,” kata Perry dalam sebuah briefing di Wina, Austria, Selasa (17/9/2019).

Dia yang menghadiri pertemuan tahunan IAEA minggu ini di Wina menambahkan, “Protokol tambahan adalah apa yang akan diperlukan, bukan hanya karena itulah yang dibutuhkan IAEA tetapi karena itulah yang dibutuhkan Kongres. Ini bukan hanya pemerintahan Trump yang memutuskan secara sepihak.”

Arab Saudi berencana untuk meluncurkan tender bernilai miliaran Dolar AS pada tahun 2020 untuk membangun dua reaktor tenaga nuklir pertama, di mana perusahaan-perusahaan AS, Rusia, Korea Selatan, Cina dan Perancis terlibat dalam pembicaraan awal.

Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman pekan lalu mengatakan bahwa Arab Saudi ingin memperkaya uranium untuk program energi nuklirnya, sebuah proses yang juga bisa menghasilkan material fisil untuk bom nuklir. (raialyoum/bloomberg)