Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 18 Maret 2020

corona di iran3Jakarta, ICMES. Kepala Komisi Ilmiah Iran yang bernaung di bawah Komite Nasional Pemberantasan Virus Corona (Covid-19), áMustafa Qaneiy, mengumumkan bahwa para peneliti Iran berhasil mengkombinasikan obat untuk penyembuhan kerusakan paru-paru ápasien infeksi virus ini.

AS semakin didesak agar menjelaskan proses kemunculan virus corona (Covid-19) setelah jubir Kemlu China Zhao Lijian di Twitter mengisyaratkan bahwa tentara AS bisa jadi telah membawa virus itu ke kota Wuhan, China.

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Khamenei mengeluarkan fatwa yang mewajibkan kepatuhan kepada ketetapan Badan Nasional Pemberantasan Virus Corona (Covid-19) Iran.

Berita selengkapnya:

Iran Temukan Obat Kerusakan Paru Dampak Virus Corona

Kepala Komisi Ilmiah Iran yang bernaung di bawah Komite Nasional Pemberantasan Virus Corona (Covid-19), áMustafa Qaneiy, mengumumkan bahwa para peneliti Iran berhasil mengkombinasikan obat untuk penyembuhan kerusakan paru-paru ápasien infeksi virus ini.

Dalam keterangan persnya, Selasa (17/3/2020), dia menjelaskan obat ini mengandung tiga jenis obat-obatan, dan bekerja untuk mengurangi periode opname pasien corona menjadi hanya empat hari.

Qaneiy a menyebutkan bahwa obat kombinasi ini tidak bertentangan dengan metode perawatan pasien versi Departemen Kesehatan, dan telah diuji pada dua kelompok dan hasilnya akan diajukan kepada para peneliti di negara-negara lain.

Pejabat di Departemen Kesehatan Iran menyinggung bahwa hasil pemeriksaan khusus Covid-19 menunjukkan bahwa pasien yang menjalani pengobatan ini memperoleh hasil yang baik di mana 40% pasien pengguna senyawa obat ini tak sampai empat hari sudah dapat meninggalkan rumah sakit.

Mustafa Qaneiy juga mengingatkan apa yang telah dicapai Iran ini adalah obat terapeutik untuk kerusakan pada sistem pernapasan, dan bukan obat anti-virus itu sendiri.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Kesehatan, Pengobatan dan Pendidikan Kedokteran Iran, Kyanosh Jahanpur, mengumumkan bahwa kasus infeksi virus corona di negara ini pada Selasa siang berjumlah 16.169.169 dengan 988 kematian, dan kesembuhan 5.889 orang.

AS Dicecar Soal Laboratorium Fort Detrick

Sementara itu, desakan kian menguat di China agar AS menjelaskan proses kemunculan virus corona (Covid-19) setelah jubir Kemlu China Zhao Lijian di Twitter mengisyaratkan bahwa tentara AS bisa jadi telah membawa virus itu ke kota Wuhan, China.

Pada ahli di China mendesak Gedung Putih menjelaskan ihwal penutupan laboratorium penelitian mikroba dan virologi yang bernaung di bawah Komando Medis Angkatan Bersenjata AS (U.S. Army Medical Command/MEDCOM) di kota Fort Detrick , Maryland, AS, pada akhir tahun lalu.

Website Global Times milik China mengutip pernyataan para ahli negara ini mengenai artikel yang diterbitkan oleh “New York Times”, pada tanggal 5 Agustus lalu, dengan judul “Penghentian Penelitian Bakteri Mematikan di Laboratorium Militer karena Masalah Keamanan.ö Artikel ini menyebutkan bahwa á”kekhawatiran pemerintah mengenai keamanan” di laboratorium itu telah menyebabkan penghentian penelitian yang melibatkan mikroba berbahaya semisal virus Ebola.

Institut Penelitian Penyakit Menular Angkatan Bersenjata AS (US Army Medical Research Institute of Infectious Diseases/USAMRIID) di Fort Detrick saat itu mengumumkan bahwa penutupan itu kemungkinan akan berlangsung selama berbulan-bulan, dan memastikan tidak ada ancaman bagi kesehatan masyarakat, tidak ada infeksi pada staf, dan tidak ada kebocoran bahan berbahaya ke luar laboratorium.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) saat itu mengumumkan pihaknya memerintahkan penghentian penelitian di Fort Detrick karena pusat ini ôtidak memiliki sistem yang memadai untuk pemurnian air limbahö dari laboratoriumnya secara lebih aman.

CDC tidak memberikan banyak informasi tentang keputusan itu dengan dalih faktor ôkeamanan nasional”.

Lembaga ini mempelajari kuman dan racun yang dapat digunakan untuk mengancam tentara atau kesehatan masyarakat, menyelidiki wabah penyakit, dan melakukan proyek penelitian untuk lembaga pemerintah, universitas, dan perusahaan obat.

Para aktivis AS menerbitkan petisi di website Gedung Putih berupa permintaan klarifikasi mengenai alasan sebenarnya penutupan Fort Detrick, apakah ini terkait dengan Covid-19, dan apakah pihak berwenang AS menutupi kematian akibat virus ini dan menempatkannya pada kategori kematian akibat influenza.

Dalam konteks ini pula, para ahli China kembali mengangkat artikel penelitian yang diterbitkan oleh website jurnal ilmiah Nature pada tahun 2015, yang menyebutkan bahwa sekelompok ilmuwan telah bekerjasama dengan tentara AS menyalin sejenis virus korona.

Artikel itu menjelaskan bahwa setelah kemunculan virus SARS (2002-2003) dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS), para ilmuwan diberitahu tentang risiko penularan lintas spesies yang mengarah pada penularan penyakit dan wabah di antara manusia.

Jadi, mereka mempelajari kelompok besar kelelawar di Cina, yang kemudian diketahui sebagai inkubator virus korona terbesar, tetapi mereka tidak dapat menularkannya ke manusia, karena mereka tidak memiliki “mahkota” khusus untuk dapat mengikat sel-sel ACE2 manusia. Tapi penelitian yang sedang berlangsung menunjukkan bahwa kelelawar Horseshoe membawa sejenis virus corona SARS yang dapat menular ke manusia, dan kemudian disebut virus SHC014-CoV.

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih besar tentang virus ini, para ilmuwan menyalin wadah virus eksternal dengan mahkota di atasnya, dan memvaksinkannya pada tikus percobaan. Hasilnya menunjukkan bahwa virus ini memang mampu mengikat sel-sel ACE2 manusia, dan mereproduksi secara khusus dalam sel-sel sistem pernapasan manusia.

Artikel áini menyebutkan bahwa beberapa bahan, sampel, dan peralatan laboratorium yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari USAMRIID, dan menyatakan bahwa belum ada bukti bahwa virus yang diujikan pada tikus itu sama dengan virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19, yang kini sedang mewabah. (alalam/raialyoum)

Ayatullah Khamenei Fatwakan Wajib Patuhi Ketentuan Badan Pemberantasan Virus Corona

Pemimpin Besar Iran yang juga merupakan seorang ulama panutan (marjaĺ) mengeluarkan fatwa yang mewajibkan kepatuhan kepada ketetapan Badan Nasional Pemberantasan Virus Corona (Covid-19) Iran, dan tidak membolehkan bepergian jauh tanpa alasan yang mendesak, demi menekan penyebaran virus mematikan ini.

Mengenai bepergian jauh (safar) di tengah wabah virus ini dan tatacara shalat dalam bepergian non-darurat itu, Ayatullah Khamenei ditanya: ôKetika para pejabat yang mulia melarang masyarakat bepergian jauh dalam situasi sekarang dan di saat terjadi penyebaran corona, apakah bepergian itu tergolong bepergian yang bersifat maksiat, dan jika demikian apakah (rokaat) shalatnya harus sempurna?ö

Ayatullah Khamenei menjawab: ôJika para petugas nasional dan Kementerian Kesehatan melarang bepergian jauh tanpa alasan mendesak dan non-darurat maka tidaklah perlu bepergian demikian, bepergian demikian tidak akan pernah diperbolehkan, dan shalat dalam keadaan bepergian demikian adalah sempurna (rokaatnya).ö (alalam)

 

á