Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 17 Juli 2019

perang twitter Zarif-Trumpakarta, ICMES: Iran menyatakan tidak akan ada orang yang aman di Teluk Persia jika sampai terjadi konfrontasi militer di kawasan ini, dan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) terlibat dalam perang ekonomi AS terhadap Iran.

Presiden AS Donald Trump mengaku tidak mengupayakan adanya “pengubahan rezim” di Iran, namun kembali menuding Teheran berusaha mengacaukan stabilitas Timteng dan menguasai senjata nuklir.

Iran menepis keras laporan bahwa negara republik Islam ini siap berunding dengan Barat mengenai proyek rudalnya, dan menekankan bahwa proyek pertahanan ini sama sekali tak dapat dinegosiasikan.

Hamas, menyatakan bahwa hubungannya masih terputus dengan Suriah, namun dengan Iran justru berada di kondisinya yang terbaik.

Berita selengkapnya:

Menlu Iran: Tak Ada Yang Aman di Kawasan Teluk Jika Terjadi Perang

Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menyatakan tidak akan ada orang yang aman di Teluk Persia jika sampai terjadi konfrontasi militer di kawasan ini, dan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) terlibat dalam perang ekonomi AS terhadap Iran.

Dalam wawancara dengan BBC yang disiarkan Selasa (16/7/2019) Zarif mengatakan bahwa Iran dan AS nyaris terlibat perang antara keduanya dalam situasi di mana  Presiden AS Donald Trump mengaku telah membatalkan rencana serangan ke beberapa posisi Iran pada 10 menit terakhir menyusul peristiwa penembak jatuhan drone pengintai AS oleh pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada 20 Juni lalu.

Menlu Iran menjelaskan bahwa Trump sudah mendapat peringatan sebelumnya bahwa Iran akan membela diri jika AS melancarkan serangan militer ke Iran.

Ditanya apakah Iran juga akan menyerang negara-negara sekutu AS di kawasan itu, terutama Saudi dan UEA, jika terjadi perang, Zarif menjawab, “Kami tidak akan membabi buta. AS sekarang menyulut perang ekonomi terhadap Iran, dan ada negara-negara yang memberikan bantuan logistik dan informasi. Ini berarti bahwa mereka berpartisipasi dalam perang ini.”

Dia menambahkan, “Saya kira tidak akan ada orang yang aman jika terjadi perang di kawasan ini. Tapi biarlah kita menghindari perang, dan tak perlu mengobarkannya.” (raialyoum)

Trump Mengaku Tak Berniat “Mengubah Rezim Iran”

Presiden AS Donald Trump mengaku tidak mengupayakan adanya “pengubahan rezim” di Iran, namun kembali menuding Teheran berusaha mengacaukan stabilitas Timteng dan menguasai senjata nuklir.

“Kami sama sekali tidak berusaha mengubah rezim (di Iran), kami tidak berusaha demikian sama sekali,” tegasnya, Selasa (16/7/2019), namun segera menambahkan, “Mereka (Iran) tak boleh memiliki senjata nuklir.”

Di hari yang sama, Wakil Pertama Presiden Iran Eshaq Jahangiri meminta negara-negara Eropa menekan AS agar menghentikan sanksinya terhadap Iran.

Dia mengingatkan bahwa kelestarian perjanjian nuklir Iran bergantung pada komitmen negara-negara Eropa kepada perjanjian ini.

“Negara-negara Uni Eropa harus menekan AS agar menghentikan sanksinya, bukan malah menekan Iran,” tegas Jahangiri.

Dia menekankan bahwa Iran sangat mudah untuk kembali mematuhi perjanjian nuklir itu seperti semula jika semua pihak yang terlibat perjanjian ini juga mematuhinya. (raialyoum)

Iran Bantah Bersedia Merundingkan Proyek Rudalnya

Iran menepis keras laporan bahwa negara republik Islam ini siap berunding dengan Barat mengenai proyek rudalnya, dan menekankan bahwa proyek pertahanan ini sama sekali tak dapat dinegosiasikan.

Bantahan itu dinyatakan dalam sebuah statemen yang dirilis perwakilan Iran untuk PBB di New York, AS, Selasa (16/7/2019).

“Kami membantah kesimpulan kantor berita Associated Press (AP) atas pernyataan Menlu Iran Mohammad Jjavad Zarif dalam wawancara dengan BBC,” bunyi statemen itu.

Statemen itu mengutip pernyataan Zarif bahwa “jika AS hendak berbicara mengenai rudal maka harus memulainya dengan menghentikan penjualan senjata yang juga mencakup rudal ke negara-negara kawasan.”

Menurut statemen itu, pernyataan Zarif itulah yang ditafsirkan oleh AP sebagai kesediaan Iran merundingkan proyek pertahanannya.

“Rudal Iran sama sekali tak dapat dirundingkan dengan siapapun, negara manapun, dan kapanpun,” lanjut statemen itu.

Statemen itu kemudian mengimbau AP agar lebih cermat memahami ungkapan-ungkapan presumptif, dan mengingatkan bahwa membuat kesimpulan keliru untuk suatu teks dan keterangan yang sangat jelas hanya akan menurunkan reputasi media itu di mata publik.

Berdasarkan kesimpulan AP itulah Menlu AS Mike Pompeo dalam sebuah rapat pemerintah AS, Selasa, mengatakan, “Untuk pertama kalinya, Iran menyatakan siap berunding mengenai program rudalnya.”

Kesimpulan itu pula yang membuat Presiden AS Donald Trump mengklaim telah “dicapai kemajuan” dalam isu Iran. (alalam)

Hamas Nyatakan Hubungan Dengan Suriah Belum Terjalin, Tapi Dengan Iran Sangat Baik

Kepala bidang hubungan internasional Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas), Mousa Abu Marzook, menyatakan bahwa hubungan salah satu faksi militan Palestina ini sekarang masih terputus dengan Suriah, belum terjalin lagi sejak krisis pemberontakan dan terorisme di Suriah, namun hubungannya dengan Iran justru berada di kondisinya yang terbaik selama ini.

“Tak ada perkembangan dalam hubungan (Hamas) dengan Suriah. Ada banyak isu di media dari banyak pembicara, bahkan termasuk dari dalam gerakan ini sendiri, atau dari dalam rezim Suriah, atau dari lingkungan keduanya, atau dari para pengamat, tapi segala sesuatunya masih seperti semula, gerakan ini tidak eksis di Suriah, sebagaimana tak ada hubungan dengan Suriah sampai sekarang,” terang Abu Marzook kepada kantor berita Sputnik milik Rusia, Selasa (26/7/2019).

Mengenai hubungan Hamas dengan Iran dia memastikan berada dalam kondisinya yang “terbaik.”

“Ada hubungan kuat dengan Republik Islam (Iran) dan sama sekali belum pernah terputus pada periode kapanpun, namun dalam keadaan tarik menarik, dan sekarang berada dalam bentuknya yang terbaik,” tutur Abu Marzook yang sedang berkunjung ke Moskow atas undangan Kementerian Luar Negeri Rusia.

Sejak sekira sebulan lalu berkembang isu mengenai pemulihan hubungan antara Hamas dan Damaskus hingga kemudian Damaskus membantahnya.

Hubungan Hamas dengan pemerintah Suriah semula sangat baik dan memiliki markas di Damaskus, namun terputus dan harus keluar dari Suriah setelah Hamas berpihak kepada kelompok-kelompok oposisi dan pemberontak Suriah.

Pekan lalu tokoh senior Hamas, Mahmoud al-Zahar, memuji Presiden Suriah Bashar al-Assad dan mengharapkan pemulihan hubungan dengan Damaskus.

“Adalah bagian dari kemaslahatan kubu resistensi adanya hubungan baik dengan semua negara yang memusuhi Israel serta memiliki pendirian yang jelas dan tegas terhadap rezim pendudukan (Israel) semisal Suriah, Libanon, dan Iran,” ujarnya. (rt/raialyoum)