Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 16 Desember 2020

parade hizbullahJakarta, ICMES. Surat kabar Israel Jerussalem Post (JP) memuat laporan baru mengenai “arsenal rudal besar” kelompok pejuang Hizbullah Libanon, yang selama ini paling ditakuti oleh Israel.

Rezim Zionis Israel berkemungkinan siap bekerjasama di bidang pertahanan rudal di masa mendatang dengan negara-negara Teluk Arab yang sama-sama merasa terancam oleh Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengutuk keras sanksi yang dijatuhkan AS terhadap sektor pertahanan Turki.

Sumber militer Yaman melaporkan bahwa pasukan Uni Emirat Arab (UEA) menyerang sebuah pangkalan militer milik pasukan loyalis presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi yang didukung Saudi.

 

Berita Selengkapnya:

Media Israel:  Kemampuan Hizbullah Melebihi  95% Tentara di Dunia

Surat kabar Israel Jerussalem Post (JP) memuat laporan baru mengenai “arsenal rudal besar” kelompok pejuang Hizbullah Libanon, yang selama ini paling ditakuti oleh Israel.

Seperti dikutip beberapa media Arab, Selasa (15/12),  JP dalam sebuah artikel analisisnya menyebutkan bahwa Hizbullah diperkirakan menyimpan 170,000 rudal dan roket, termasuk roket jarak pendek pendek dan rudal jarak jauh yang sebagian di antaranya mencapai lebih dari 300 kilometer, serta memiliki ratusan drone penyerang.

Menurut JP, hingga batas tertentu Hizbullah berhasil membuat amunisi berpemandu presisi ( precision-guided munition/PGM), dan sekarang memiliki beberapa rudal berpresisi yang memungkinkannya melancarkan serangan akurat ke sasaran-sasaran strategis tinggi di Israel dalam perang di masa mendatang.

JP menjelaskan, “Hizbullah dapat menembakkan hingga 4000 proyektil per hari, dibandingkan dengan total kurang dari 4000 roket yang ditembakkan selama konfrontasi 34 hari pada tahun 2006.

Artikel itu menilai bahwa dengan demikian kemampuan Hizbullah meluncurkan tembakan dari darat ke darat bahkan melebihi kemampuan 95 persen tentara di dunia.

JP menyebutkan bahwa dalam perang tahun 2006 di mana Hizbullah jauh tak sehebat sekarang sekitar 300.000 orang Israel mengungsi secara internal, dan sebanyak 55 orang Israel, 12 di antaranya tentara, tewas, ribuan luka-luka, dan banyak properti rusak parah. (raialyoum)

Israel Isyaratkan Kesiapan Pengadaan Pertahanan Rudal Bersama dengan Arab Teluk

Rezim Zionis Israel berkemungkinan siap bekerjasama di bidang pertahanan rudal di masa mendatang dengan negara-negara Teluk Arab yang sama-sama merasa terancam oleh Iran.

Hal tersebut dinyatakan oleh Moshe Patil, kepala organisasi pertahanan rudal Israel yang berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan, Selasa (16/12), namun sembari menyatakan bahwa sejauh ini belum tiba saatnya untuk menjalin perjanjian demikian, dan persetujuan Washington juga diperlukan jika sistem yang dikembangkan Israel menggunakan teknologi Amerika Serikat (AS).

“Hal demikian bisa terjadi, mungkin di masa depan,” kata Patel kepada wartawan, ketika ditanya apakah sebagian sistem Israel telah diperkenalkan kepada para mitra barunya di kawasan Teluk Persia atau dioperasikan bersama dengan sistem serupa di sana.

Dia menambahkan, “Secara teknik tentu banyak keuntungannya. Dimungkinkan untuk bertukar informasi demikian semisal sensor yang dapat digunakan di kedua negara karena kami memiliki musuh yang sama.”

Ketakutan terhadap Iran menjadi faktor di balik kesepakatan 15 September yang ditengahi oleh AS  untuk menormalisasi hubungan diplomatik Israel dengan UEA dan Bahrain. Arab Saudi sejauh ini belum menjalin hubungan bilateral secara resmi dengan Israel namun gigih mendorong proses normalisasi hubungan tersebut.

Seorang pejabat senior Israel pernah mengatakan kepada Reuters bahwa sebelum negosiasi yang mengarah pada normalisasi hubungan dengan UEA dan Bahrain tidak akan ada koordinasi dengan negara-negara Teluk mengenai pertahanan rudal.

Patel mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan apa yang disebutnya sebagai kesuksesan ujicoba sistem pertahanan rudal multi-level Israel, yang dapat mencapai target terbang di berbagai ketinggian dan dapat mengejar lagi target yang semula terlewat.

Dia menyebutkan bahwa levelnya yang terendah terdiri dari Iron Dome untuk mencegat rudal jarak pendek, yang juga telah menembak jatuh rudal jelajah dan drone.

Israel mengoperasikan Iron Dome bersama dengan sistem David’s Sling untuk mencegat rudal jarak menengah, serta sistem Arrow, yang juga mampu menembak jatuh rudal balistik di luar angkasa. (railayoum)

Iran Kutuk Sanksi AS terhadap Turki

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengutuk keras sanksi yang dijatuhkan AS terhadap sektor pertahanan Turki.

“Kecanduan AS terhadap sanksi dan penghinaan terhadap hukum internasional kembali terlihat secara penuh,” kecam Zarif di halaman Twitter-nya, Selasa (15/12).

Zarif menambahkan, “Kami sangat mengutuk sanksi AS belakangan ini terhadap Turki, dan mendukung rakyat dan pemerintahnya.”

Sehari sebelumnya, Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru yang menyasar badan pengadaan pertahanan Turki, yang dikenal sebagai Presidensi Industri Pertahanan, serta para pejabat seniornya, termasuk presidennya.

Sanksi itu diumumkan satu setengah tahun setelah Turki memperoleh sistem pertahanan rudal S-400 dari, yang disebut Washington sebagai pelanggaran terhadap undang-undang sanksi AS. (mehrnews)

UEA Serang Pasukan Pro-Saudi di Yaman

Sumber militer Yaman melaporkan bahwa pasukan Uni Emirat Arab (UEA) menyerang sebuah pangkalan militer milik pasukan loyalis presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi yang didukung Saudi.

Media online Al-Khaleej, Selasa (15/12), melaporkan pasukan UEA menargetkan pangkalan militer loyalis Hadi di Provinsi Shabwah di bagian tenggara Yaman.

Sumber Yaman menjelaskan bahwa pasukan UEA yang ditempatkan di sekitar fasilitas gas Belhaf di Shabwah menembakkan mortir ke pangkalan militer loyalis Hadi.

Sebelumnya, Mukhtar al-Rahbi, penasihat presiden Yaman yang mengundurkan diri pemerintahan Mansour Hadi, mengatakan bahwa pendudukan UEA di Yaman harus dihentikan, dan bahwa gubernur Shabwah telah berulang kali menekankan keharusan pasukan UEA menarik diri dari fasilitas gas Belhaf.

Pasukan loyalis Hadi dan pesaingnya yang didukung UEA tergabung dalam pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi gerakan Ansarullah yang menguasai Sanaa, ibu kota Yaman. Namun keduanya terlibat persaingan hebat sehingga sering terjadi konfrontasi sengit antara keduanya.

Sejak tahun 2014 Yaman dilanda konflik antara Ansarullah dan pasukan loyalis Hadi. Konflik ini membesar setelah pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer membela Mansour Hadi sejak Maret 2015.

Sejak intervensi itulah korban jiwa dan luka dalam jumlah besar berjatuhan, jutaan orang mengungsi, dan lebih dari sepertiga penduduknya membutuhkan bantuan internasional. (mehrnews)