Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 15 Juli 2020

kebakaran kapal perang AS di San DiegoJakarta, ICMES. Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Ismael Qaani menyebut gejolak yang terjadi di  Amerika Serikat (AS) belakangan ini, termasuk insiden ledakan dan kebakaran di kapal perang Amerika Serikat (AS) di San Diego, sebagai hukuman Tuhan atas perbuatan keji pemerintah AS.

Angkatan Udara Pasukan Arab Suriah (SAA) menggempur posisi-posisi beberapa kelompok teroris di Suriah, menyusul peristiwa ledakan bom yang menyasar patroli militer gabungan Rusia-Turki di jalur internasional M4 yang menghubungkan Aleppo dengan Latakia.

Sejumlah pria bersenjata anggota kelompok “Mughawer Al-Thourah”, yang ditangkap oleh Pasukan Arab Suriah (SAA) di dekat Palmyra, Suriah, mengaku menerima pelatihan dari pasukan AS, dan mencari informasi mengenai mengenai pasukan Iran dan Rusia untuk dijadikan target serangan.

Besarnya manuver militer dan pengembangan operasi pendaratan yang dilakukan oleh pasukan Mesir belakangan ini dinilai menunjukkan keseriusan Kairo mempersiapkan operasi militer besar di Libya.

Berita selengkapnya:

Komandan Pasukan Quds IRGC Sebut Kebakaran di Kapal Perang AS Sebagai Hukuman Tuhan

Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Ismael Qaani menyebut gejolak yang terjadi di  Amerika Serikat (AS) belakangan ini, termasuk insiden ledakan dan kebakaran di kapal perang Amerika Serikat (AS) di San Diego, sebagai hukuman Tuhan atas perbuatan keji negara adidaya itu selama ini.

“Insiden ini merupakan ganjaran atas kejahatan kalian (AS), yang terjadi di tangan elemen kalian sendiri. Tuhan menggunakan tangan kalian sendiri untuk menghukum kalian,” ujar Qaani pada pertemuan para komandan senior Poros Resistensi, Selasa (14/7/2020).

Penerus Almarhum Jenderal Qasim Soleimani ini menilai aneka gejolak yang melanda AS belakangan ini, termasuk insiden kapal perang tersebut “merupakan hasil (langsung) dari tindakan, perilaku, dan kekejaman pemerintah AS.”

“Mereka telah menderita murka dan pembalasan ilahi karena mereka mencoba untuk menodai kalam ilahi dan menindas,”ungkap Jenderal Qaani.

Ditujukan kepada AS dan Israel, dia menegaskan, “Kalian masih mengalami hari-hari tenang, sementara kalian masih akan menghadapi hari-hari dan aneka peristiwa berat.”

Dia juga menyebut militer AS telah berubah menjadi kekuatan yang “lelah dan jompo”, dan peralatannya telah terdegradasi menjadi “besi tua”.

Dia kemudian mengimbau AS untuk tidak membuang waktu mencari-cari kambing hitam atau “menuduh pihak lain” atas apa yang terjadi pada kapal Angkatan Laut AS di pangkalan San Diego.

Kebakaran melanda kapal serbu amfibi Bonhomme Richard yang sedang berlabuh di pangkalan Angkatan Laut AS di San Diego, pada Ahad lalu. Kobaran api disertai setidaknya satu ledakan besar terjadi ketika kapal induk ringan sepanjang 255 meter itu merapat untuk menjalani jadwal perawatan.

Api berkobar selama berhari-hari, meski ratusan petugas pemadam kebakaran berjuang untuk memadamkannya. Peristiwa menjatuhkan puluhan korban luka pelaut dan warga sipil AS.

Penyebab ledakan misterius itu masih diselidiki, dan belum diketahui pula sumber kobaran api dan ledakan di kapal yang berusia 23 tahun tersebut. (amn/ap)

Patroli Rusia-Turki Diserang, AU Suriah Gempur Sejumlah Kelompok Teroris

Angkatan Udara Pasukan Arab Suriah (SAA) menggempur posisi-posisi beberapa kelompok teroris di Suriah, menyusul peristiwa ledakan bom yang menyasar patroli militer gabungan Rusia-Turki di jalur internasional M4 yang menghubungkan Aleppo dengan Latakia.

Sebuah kelompok yang menamakan dirinya “Brigade Khattab Cechnya” mengaku bertanggungjawab atas peledakan tersebut, Selasa (14/7/2020), sembari merilis gambar-gambar yang terkait dengan peristiwa peledakan tersebut.

Kelompok itu tidak dikenal di Suriah. Mereka mengaku tidak berafiliasi dengan kelompok lain manapun, dan nama itu mencuat sejak pertengahan Juni lalu, ketika mereka melancarkan  operasi serupa terhadap patroli Rusia-Turki di jalur yang sama.

Sejumlah tentara Rusia dan Turki terluka akibat serangan terbaru berupa peledakan bom yang dipasang di dalam kendaraan yang diparkir di dekat jalur M4 dekat kota Jericho, selatan Idlib.

Media Rusia di provinsi Idlib melaporkan bahwa beberapa jet tempur Suriah melakukan delapan serangan udara yang menyasar berbagai posisi sejumlah kelompok teroris di Idlib, termasuk Jabhat Al-Nusra, Partai Islam Turkestani, dan Jemaah Albania, bersamaan dengan serangan artileri dan roket ke arah Jabal al-Zawiyah dan al-Arbain di bagian selatan provinsi Idlib.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa serangan udara itu dilancarkan setelah pesawat-pesawat pengintai Rusia memantau dan mendata target-target serangan berupa peralatan tempur dan markas-markas kawanan bersenjata.

Menurut sumber-sumber tersebut, serangan itu menyebabkan lebih dari 30 teroris tewas dan luka. (raialyoum)

Kawanan Bersenjata Ini Mengaku Dilatih AS untuk Cari Informasi Menarget Pasukan Iran di Suriah

Sejumlah pria bersenjata anggota kelompok “Mughawer Al-Thourah”, yang ditangkap oleh Pasukan Arab Suriah (SAA) di dekat Palmyra, Suriah, mengaku menerima pelatihan dari pasukan AS, dan mencari informasi mengenai mengenai pasukan Iran dan Rusia untuk dijadikan target serangan.

Dilaporkan sebelumnya bahwa tiga pria bersenjata ditangkap dan dipindahkan ke kota Palmyra setelah kelompok mereka terjebak di ladang ranjau.

Sejumlah militan yang ditahan itu mengaku telah dikirim untuk suatu misi yang antara lain menghimpun informasi tentang pasukan Rusia dan Iran di Suriah.

“Kami diajari cara menangani semua jenis senjata oleh pelatih Amerika. Semua senjata itu buatan Amerika. Saya melihat pelatih Amerika datang untuk pelatihan, tapi proses pelatihan dilakukan oleh warga Suriah. Orang-orang Amerika sendiri mengawasi dari jauh,… Pelatihan itu sulit, dan saya melanjutkan selama dua atau tiga jam, tidak kurang,” ungkap Abdullah Al-Mishwat, salah satu militan yang ditahan Pasukan Arab Suriah (SAA), seperti dikutip Al-Masdar, Selasa (14/7/2020).

Dia juga menyebutkan bahwa kelompoknya telah dilatih mengoperasikan senjata buatan AS, tapi dikirim untuk menjalankan misi dengan membawa senjata buatan Rusia.

Mughawer Al-Thourah adalah kelompok terbaru yang berafiliasi dengan Pasukan Kebebasan Suriah (FSA) yang didukung langsung oleh AS.

Mereka saat ini mengendalikan wilayah gurun di Zona Al-Tanf yang memungkinkan AS mempertahankan kehadirannya di lokasi yang tak jauh dari posisi pasukan yang didukung Iran di Palmyra. (amn)

Pakar: Pasukan Mesir Mulai Persiapkan Operasi Militer Besar di Libya

Besarnya manuver militer dan pengembangan operasi pendaratan yang dilakukan oleh pasukan Mesir belakangan ini dinilai menunjukkan keseriusan Kairo mempersiapkan operasi militer besar di Libya.

Parlemen Libya wilayah timur Senin lalu (13/7/2020), mengumumkan pemberian izinnya kepada pasukan Mesir untuk campur tangan dalam konflik Libya.

“Pasukan Mesir berhak untuk campur tangan untuk melindungi keamanan nasional Libya dan Mesir jika mereka melihat ancaman yang akan segera terjadi pada keamanan kedua negara,” ungkap parlemen itu dalam sebuah statemennya.

Mengomentari statemen ini, Pakar militer Mesir, Jenderal Mahfouz Marzouq, Selasa (14/7/2020), kepada kantor berita Rusia RIA Novosti menyebutkan tiga poin penting yang membuatnya menilai militer Mesir serius mempertimbangkan intervensi dalam konflik Libya.

“Pertama, Presiden Mesir Abdel-Fattah El-Sisi mengumumkan pada akhir Juni bahwa negaranya siap membantu suku-suku Libya dalam memerangi campur tangan asing dengan melatih dan mempersenjatai mereka,” terangnya, sembari menyebut kota Sirte dan Al-Jafra sebagai “garis merah” di mata El-Sisi untuk pasukan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang didukung Turki.

Marzouq  melanjutkan, “Kedua, mungkin saja bahwa jika keputusan ini diambil maka akan menjadi pembenaran politik untuk intervensi Angkatan Bersenjata Mesir di Libya.”

Untuk poin ketiga, dia mengatakan,”Sifat dan ukuran latihan militer Mesir serta jenis senjatanya menunjukkan bahwa Mesir telah memulai persiapan strategis untuk operasi militer besar.”

Dia menambahkan bahwa latihan militer itu mencakup pengembangan pendaratan laut dan udara, yang selain dapat digunakan sebagai bagian dari pertahanan, juga  dapat digunakan sebagai bagian dari operasi ofensif untuk memindahkan pasukan jarak jauh dan mendaratkan mereka di pantai dan di daerah di bawah kendali pasukan lawan.

Pekan lalu pasukan Mesir menggelar latihan militer bersandi ” Decisive 2020″ di wilayah perbatasan Mesir-Libya dengan melibatkan semua cabang angkatan bersenjatanya. (amn)