Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 10 Maret  2021

bin salman dan erdoganJakarta, ICMES. Turki secara resmi mengumumkan solidaritas, simpati dan keberpihakannya kepada Arab Saudi atas serangan pasukan Ansarullah (Houthi) terhadap Saudi.

Gubernur Ma’rib pendukung presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi, Sultan Al-Arada, menyatakan pihaknya keteteran dan hampir kalah dalam pertempuran sengit melawan tentara Yaman dan gerakan Ansarullah/Houthi.

Amerika Serikat (AS) akan mencari cara untuk meningkatkan dukungannya bagi pertahanan Arab Saudi di depan serangan Ansarullah.

Berita Selengkapnya:

Perang Yaman, Ketika Turki Antusias Memenuhi Permintaan Bantuan Militer Saudi

Turki secara resmi mengumumkan solidaritas, simpati dan keberpihakannya kepada Arab Saudi atas serangan pasukan Ansarullah (Houthi) terhadap Saudi.

Tanpa tedeng aling-aling, Kementerian Luar Negeri Turki dalam sebuah pernyataannya, menegaskan, “Turki berpihak kepada Saudi dan bangsanya atas serangan Houthi yang menyasar instalasi-instalasi minyak Saudi.”

Kementerian itu menambahkan, “Kami menyatakan prihatin atas serangan yang sudah menyasar ke berbagai wilayah Saudi belakangan ini, terutama yang menyasar Pelabuhan Ras Tanura dan instalasi Aramco di Dammam, Kerajaan Arab Saudi.”

Sikap resmi Turki ini tampaknya merupakan puncak dari kesefahaman di balik layar antara Turki dan Saudi menyusul permintaan Saudi kepada Turki untuk membantunya secara militer dalam perang Ma’rib di Yaman. Turki kemungkinan besar antusias merespon permintaan untuk ikut terlibat dalam perang di Ma’rib, terlebih karena Partai Reformasi Yaman yang berhalauan Ikhwanul Muslimin berpihak kepada Saudi.

Menurut beberapa laporan dari Suriah utara, Turki bergegas memenuhi permintaan Saudi itu dengan mempersiapkan militan bayarannya di Suriah untuk dikirim ke front-front tempur Yaman seperti yang pernah dilakukan Turki dalam perang di Libya dan Nagorno-Karabakh.

Dilaporkan bahwa intelijen Turki mulai mendata militan yang siap dikerahkan ke Yaman dengan iming-iming gaji yang sangat besar untuk mereka. Berbagai faksi dan kelompok militan di Idlib diseru untuk menyerahkan daftar nama anggota mereka untuk dikerahkan ke Yaman dan bertempur bersama kubu Saudi.

Ada pula informasi-informasi mengenai dimulainya kerjasama militer Turki-Saudi di Yaman di mana Ankara mendukung Riyadh dengan drone tipe Karayel. Berbagai sumber juga menyebutkan bahwa Turki sudah mulai mengangkut drone-drone tempur tipe Bayraktar ke Saudi, sebagai ganti dari terhentinya pasokan senjata ofensif Amerika Serikat (AS) setelah Presiden AS Joe Biden mengumumkan penghentian dukungannya kepada Perang Yaman dan menyerukan penghentian perang ini.

Di pihak lain, juru bicara militer Yaman kubu Sanaa yang bersekutu dengan Ansarullah, Brigjen Yahya Saree, Selasa (9/3), mengumumkan pihaknya telah menembak jatuh drone pengintai Karayel buatan Turki yang ada di tangan pasukan Saudi di angkasa daerah Al-Maraziq, provinsi Jawf, Yaman. Menurut Saree, drone itu tertembak ketika sedang menjalankan “misi agresif”.

Jika benar ada kerjasama militer Turki-Saudi Yaman serta ada permintaan Saudi kepada Turki untuk bantuan senjata dan pasukan militan bayaran dari Suriah, maka yang tanda besar yang membayang sekarang ialah berkenaan dengan tipe hubungan Saudi-Uni Emirat Arab (UEA) serta sikap Abu Dhabi terhadap aliansi baru Saudi-Turki, demikian pula tipe hubungan Saudi-Mesir yang belakangan ini melemah.

Pertanyaan berikutnya ialah bagaimana sikap Iran terhadap kerjasama militer Saudi-Turki, dan bagaimana pula interaksi AS nanti terkait dengan perkembangan ini. (raialyoum)

Gubernur Ma’rib Pro-Mansour Hadi Blak-blakan Akui Pihaknya Hampir Kalah Perang

Gubernur Ma’rib pendukung presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi, Sultan Al-Arada, menyatakan pihaknya keteteran dan hampir kalah dalam pertempuran sengit melawan tentara Yaman dan gerakan Ansarullah/Houthi (kubu Sanaa).

Kepada saluran berita TV Al-Jazeera, Selasa (9/3), Al-Arada bahkan blak-blakan menyatakan pihaknya menderita “kehilangan 18,000 ribu kombatan dan puluhan ribu korban luka” dalam satu tahun terakhir, dan bahwa sekarang kubu Sanaa telah mengepung Ma’rib dari tiga penjuru.

Dia mencatat jumlah korban tewas di pihak kubu Mansour Hadi mencapai 18,000 orang, sedangkan korban lukanya berkisar 40,000-50,000 orang, atau total korban luka dan tewas 68,000 orang.

Al-Arada menjelaskan bahwa seandainya jet- jet tempur koalisi yang dipimpin Arab Saudi tak beraksi maka keadaan sekarang sudah jauh berbeda. Menurutnya, aksi serangan udara koalisi dalam pertempuran di Ma’rib sejauh ini sedikit banyak masih menunjang pertahanan kubu Mansour Hadi setelah kubu Sanaa berada di atas angin.

Namun dia juga menyebutkan “penarikan pasukan Saudi dari Ma’rib sebagaimana penarikan sistem pertahanan udara Uni Emirat Arab dari sana”.

Al-Arada mengakui kehebatan dan keunggulan kubu Sanaa sembari menyebutkan bahwa mereka menggempur kota Ma’rib dari tiga penjuru utama serta mengerahkan rudal dan pasukan pesawat nirawaknya setelah koalisi menarik sistem pertahanan udaranya.

Dia berharap segera diadakan perjanjian untuk meredakan gejolak perang di Ma’rib di mana kedua pihak sama-sama mengerahkan segenap kemampuannya dalam pertempuran.

Para aktivis menilai bongkar-bongkaran Al-Arada kepada Al-Jazeera itu tak ubahnya dengan pembelotan dari kubu Mansour Hadi yang didukung koalisi setelah dia melihat realitas terkini di lapangan di mana dia merasa cepat atau lambat akan menerima kenyataan Ma’rib yang strategis dan kaya minyak akan jatuh ke tangan kubu Sanaa.

Al-Arada berbuat demikian juga setelah kubu Sanaa berulang kali menyerukan kepada semua orang di Ma’rib dan lain-lain yang selama ini bersekutu dengan koalisi agar “kembali ke pangkuan Yaman karena jika tidak maka resikonya adalah kematian”, sebab kubu Sanaa bersumpah untuk bertempur membebaskan Yaman dari “cengkraman asing dan kawanan teroris”. (alalam/almasirah)

Babak Belur Digempur Yaman, Pertahanan Saudi akan Diperkuat oleh AS

Amerika Serikat (AS) akan mencari cara untuk meningkatkan dukungannya bagi pertahanan Arab Saudi di depan serangan “pemberontak Houthi (Ansarullah – red.)” Demikian dikatakan juru bicara Gedung Putih Jen Psaki dalam jumpa pers, Senin (8/3).

“Kami memahami bahwa mereka (Saudi) menghadapi ancaman keamanan sebenarnya dari Yaman dan lainnya di kawasan”, kata Psaki.

Dia menambahkan, “Sebagai bagian dari proses antarlembaga kami, kami akan mencari cara untuk meningkatkan dukungan bagi kemampuan Arab Saudi mempertahankan wilayahnya dari ancaman.”

Psaki menyatakan AS khawatir terhadap meningkatnya serangan yang dilakukan oleh Ansarullah yang,  menurutnya, selama ini mengaku serius mengharapkan perdamaian.

“Serangan itu tidak bisa diterima dan berbahaya”, tandasnya.

Psaki memastikan negaranya terus bekerjasama erat dengan pemerintah Saudi terkait dengan ancaman yang sering dihadapi negara kerajaan itu dari serangan sedemikian rupa.

“Kami terus khawatir dengan frekuensi serangan Houthi di Arab Saudi. Meningkatnya serangan seperti ini bukanlah tindakan kelompok yang serius tentang perdamaian,” tegasnya.

Koalisi yang dipimpin Saudi mengaku berhasil mencegat sebagian besar drone dan rudal Ansarullah yang melesat ke arah target masing-masing pada pada Ahad lalu, dan tidak ada korban maupun kerugian properti akibat serangan itu.

Dilaporkan bahwa target-target ialah tempat penyimpanan minyak di Ras Tanura, situs kilang dan fasilitas pemuatan minyak lepas pantai terbesar di dunia, dan kompleks perumahan di Dhahran yang digunakan oleh perusahaan raksasa minyak Saudi Aramco. (reuters)