Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 10 Juni 2020

pasukan mesir ke libyaJakarta, ICMES. Sebuah video beredar di berbagai akun media sosial di Mesir, yang disebut-sebut sebagai rekaman pengerahan pasukan Mesir dalam jumlah besar ke arah perbatasan negara ini dengan Libya, negara jirannya yang dilanda perang saudara.

Penasihat Mufti Besar Mesir, Ibrahim Najm, menyerang Ikhwanul Muslimin (IM) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, karena melakukan apa yang disebut Najm sebagai upaya untuk mendistorsi dan memalsukan fakta.

Iran telah menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam penanganan pandemi COVID-19, karena semakin banyak pasien sembuh di negara ini, bahkan dibandingkan dengan negara-negara maju.

Sebuah media Iran mempublikasi foto mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran, Alm. Mayjen Qassem Soleimani, dan mantan wakil ketua pasukan relawan Irak Hashd Al-Sha’abi, Abu Mahdi Al-Mohandis, bersama seorang pria muda yang diyakini sebagai agen AS dan Israel yang telah memata-matai keduanya.

Berita selengkapnya:

Video: Mesir Kerahkan Pasukan ke Perbatasan Libya

Sebuah video beredar di berbagai akun media sosial di Mesir, yang disebut-sebut sebagai rekaman pengerahan pasukan Mesir dalam jumlah besar ke arah perbatasan negara ini dengan Libya, negara jirannya yang dilanda perang saudara.

Pada Ahad lalu (7/6/2020), beberapa akun media sosial di Mesir membagikan penggalan video disertai keterangan: “Tentara ke-3 di Mesir bergerak ke barat menuju perbatasan Libya.”

Setelah video itu menyebar, di Twitter  beredar tagar tentara Mesir hingga kemudian menjadi viral.

Video tersebut memperlihatkan apa yang diyakini sebagai konvoi Tentara ke-3 Mesir bergerak ke arah barat melalui Sidi Barani dengan sejumlah besar tank dan kendaraan lapis baja.

Keaslian video belum terkonfirmasi, dan belum ada komentar dari sumber resmi Mesir ihwal rekaman video tersebut. Namun, video itu beredar setelah Mesir mengumumkan inisiatifnya untuk “menyelesaikan krisis Libya”.

Libya dilanda perang saudara antara Pasukan Kesepakatan Nasional Libya (GNA) yang didukung Turki di satu pihak dan Tentara Nasional Libya (LNA) yang didukung Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), dan Rusia di pihak lain.

Banyak akun pendukung GNA menuduh militer Mesir berencana memasuki Libya untuk membantu LNA menahan gerak maju GNA dalam pertempuran.

GNA belakangan ini berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah barat laut Libya, termasuk sejumlah kota dan perbatasan administratif Tripoli. (rt/amn)

Lembaga Fatwa Mesir Kecam Erdogan dan Ikhwanul Muslimin

Penasihat Mufti Besar Mesir, Ibrahim Najm, menyerang Ikhwanul Muslimin (IM) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, karena melakukan apa yang disebut Najm sebagai upaya untuk mendistorsi dan memalsukan fakta.

Ibrahim Najm memperingatkan upaya IM menggadang-gadang sejarah dinasti Ottoman dan meggalang pencitraan Erdogan  sebagai khalifah dan penolong umat Islam, dan sebagai anak cucu para penakluk, “padahal dia jauh dari perkara ini.”

“Serangan IM dan media Turki terjadi setelah Lembahga Fatwa Mesir (Darul Ifta’) melalui indikasi global fatwa yang bernaung di bawah lembaga ini mengungkap penggunaan fatwa sebagai senjata untuk mengukuhkan tirani Erdogan di dalam negeri atas nama agama dan membenarkan ambisinya di luar negeri atas nama kekhalifahan yang ilusif,” lanjut Najm.

Dia juga menegaskan, “Media kelompok teroris di Mesir, yang sebagian besar melakukan siaran dari Turki dan Qatar, terus-menerus berusaha melancarkan serangan susul menyusul terhadap lembaga-lembaga negara Mesir, termasuk Darul Ifta’ , dengan mendistorsi dan memelesetkan pernyataan seperti yang dilakukan belakangan ini dengan melontarkan tuduhan palsu bahwa Darul Ifta’ menyebut Sultan Ottoman Muhammed al-Fatih sebagai penjajah, padahal pernyataan demikian tidak ada dalam statemen Darul Ifta’.” (rt)

Iran Mengaku Lebih Berhasil Tangani Covid-19 daripada Negara-Negara Maju

Iran telah menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam penanganan pandemi COVID-19, karena semakin banyak pasien sembuh di negara ini, bahkan dibandingkan dengan negara-negara maju.

“Mujur, tingkat fatalitas virus corona di Iran kurang daripada banyak negara maju dan AS,” ungkap Ehsan Mostafavi, anggota komite epidemiologi virus corona dan direktur departemen Epidemiologi dan Biostatistik Institut Pasteur, Iran, Selasa (9/6/2020).

Dia menjelaskan bahwa populasi Iran yang muda merupakan salah satu faktor positif yang menunjang optimalitas penanganan pandemi ini dan berbagai penyakit lain, mengingat bahwa setengah dari total penduduk negara republik Islam ini berusia di bawah 30 tahun.

Pejabat medis Iran itu juga menyebutkan jerih payah efektif staf medis juga menjadi kunci keberhasilan negara ini menekan angka kematian akibat serangan Covid-19.

Menurut Mostafavi, sebanyak 150 laboratorium di Iran telah melakukan tes Covid-19 bersama dengan sepertiga dari jumlah total laboratorium swasta manakala sebanyak 15 juta orang di negara ini bisa saja terinfeksi virus tersebut tanpa gejala apa pun.

Sementara itu, seorang pejabat Iran mengumumkan bahwa perusahaan medis Iran berencana mengekspor berbagai produk untuk penananganan pandemi mematikan itu ke pelbagai negara.

“Langkah-langkah efektif telah diambil untuk mengurangi ekspor produk-produk (terkait dengan penanganan) virus corona  dari perusahaan-perusahaan domestik ke negara-negara lain,” kata Kepala Pusat Interaksi Internasional Wakil Presiden untuk Urusan Sains dan Teknologi, Mehdi Qalenoyee.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran Sima Sadat Lari, Selasa, mengumumkan bahwa dalam 24 jam terakhir ditemukan sebanyak 2.095 kasus baru infeksi Covid-19, 74 pasien meninggal dunia, dan 901 pasien baru dirawat di rumah sakit.

Lari mencatat bahwa jumlah total pasien Covid-19  di negara ini bertambah menjadi 175.927 orang, 2.639 di antaranya kritis, sementara jumlah pasien yang sembuh di antaranya mencapai 138.457 orang.

Dia juga mengatakan bahwa sebanyak 1.128.601 tes Covid-19 telah dilakukan di Iran untuk mendiagnosis pasien yang diduga terinfeksi virus ini. (afn)

Ini Dia Foto Agen Dinas Rahasia AS yang Memata-Matai Qassem Soleimani

Sebuah media Iran mempublikasi foto mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran, Alm. Mayjen Qassem Soleimani, dan mantan wakil ketua pasukan relawan Irak Hashd Al-Sha’abi, Abu Mahdi Al-Mohandis, bersama seorang pria muda yang diyakini sebagai agen AS dan Israel yang telah memata-matai keduanya.

“Orang di belakang Soleimani dan Mohandis adalah Mahmoud Mousavi Majd, yang telah divonis hukuman mati karena telah memberikan informasi tentang keberadaan dan pergerakan komandan Pasukan Quds,” bunyi keterangan untuk foto itu dari kantor berita tersebut.

Pusat Media Otoritas Pengadilan Iran lantas memberikan klarifikasi dengan menyebutkan bahwa semua tahap peradilan berkas agen Mossad dan CIA itu dilakukan sebelum pembunuhan Qassem Soleimani.

“Hukuman mati pertama terhadap Mahmoud Mousavi Majd dikeluarkan pada 25 Agustus 2019,” lanjutnya.

Direktur Kantor Berita Mazan, yang berafiliasi dengan pengadilan itu, mengatakan, “Mata-mata itu di penjara ketika terjadi pembunuhan Qassem Soleimani, dan bukan dia yang memberikan informasi tentang kedatangan Soleimani dan Abu Mahdi al-Mohandis di Bandara Baghdad… “

Seperti diketahui, Soleimani dan Al-Mohandis terbunuh oleh serangan nirawak AS di dekat Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari 2020.

Juru bicara pengadilan Iran, Ghulam Hussein Ismaili, mengatakan bahwa Mahmoud Ismaili Majd telah memberikan informasi mengenai keberadaan Soleimani kepada Israel dan AS.

Dia menjelaskan bahwa Majd bekerja di Pasukan Quds dan mentransfer informasi tentang lokasi Qassem Soleimani.

“Mahmoud Ismaili Majd memberikan informasi keamanan tentang angkatan bersenjata Iran dan tempat-tempat tinggal serta perjalanan Qassem Soleimani dengan imbalan uang.”

Ismaili memastikan bahwa hukuman mati telah dijatuhkan dan akan segera dilaksanakan. (amn)