Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 10 Agustus 2022

Jakarta, ICMES. Rusia telah meluncurkan satelit pengintai Iran yang, menurut media Amerika Serikat (AS), dapat digunakan oleh Moskow untuk mendukung serangannya di Ukraina, namun spekulasi ini dibantah oleh Teheran.

Pasukan Zionis Israel menyerang sebuah rumah di kota Nablus, Tepi Barat, hingga menewaskan tiga orang Palestina, termasuk seorang komandan senior militan.

Sebuah surat kabar Turki yang dekat dengan lingkaran kekuasaan negara ini melaporkan berdasarkan keterangan sumbernya bahwa presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan sejawatnya di Suriah, Bashar al-Assad, berkemungkinan akan melakukan percakapan telepon atas saran Presiden Rusia Vladimir Putin.

Berita Selengkapnya:

Rusia Orbitkan Satelit “Khayyam” Iran, akan Dimanfaatkan untuk Perang Ukraina?

Rusia telah meluncurkan satelit pengintai Iran yang, menurut media Amerika Serikat (AS), dapat digunakan oleh Moskow untuk mendukung serangannya di Ukraina, namun spekulasi ini dibantah oleh Teheran.

Roket Soyuz Rusia, Selasa (9/8), membawa satelit Iran “Khayyam” dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan pada pukul 5:52 GMT atau 11.52 WIB, menurut siaran badan antariksa Rusia Roscosmos.

Menurut Badan Antariksa Iran (ISA), satelit Khayyam ditujukan untuk pemantauan perbatasan negara, peningkatan produktivitas di bidang pertanian, dan pemantauan sumber daya air dan manajemen bahaya alam.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan usai peluncuran satelit tersebut, kepala Badan Antariksa Rusia, Yury Borisov, menyambut baik apa yang disebutnya sebagai “langkah penting dalam kerjasama bilateral Rusia-Iran yang membuka jalan bagi proyek-proyek baru dan lebih besar.”

Menteri Komunikasi Iran Eisa Zarepour menyebut pengorbitan satelit  berbobot 600 kg itu sebagai peristiwa “bersejarah” dan “titik balik untuk awal kerjasama baru di bidang luar angkasa antara kedua negara.”

AS mencurigai program luar angkasa Iran itu lebih bertujuan militer daripada komersial, namun Iran menyebutnya bertujuan sipil dan militer serta tidak menyalahi perjanjian internasional apapun, termasuk perjanjian nuklir 2015 antara Iran dan sejumlah negara terkemuka dunia, yang lazim disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), dan yang ditinggal oleh AS pada tahun 2018.

Hanya saja, kali ini otoritas Iran terpaksa membantah tuduhan ataupun spekulasi jenis lain, setelah surat kabar AS Washington Post melaporkan bahwa Rusia “berniat untuk menggunakan satelit itu selama beberapa bulan” dalam serangannya ke Ukraina sebelum menyerahkannya kepada Iran.

ISA Ahad lalu dalam sebuah pernyataan mengkonfirmasi bahwa satelit  Khayyam  adalah milik Iran, dan  bahwa “semua perintah yang terkait dengan kontrol dan pengoperasian satelit ini akan dikeluarkan sejak hari pertama dan segera setelah diluncurkan oleh para ahli Iran di pangkalan antariksa Kementerian Komunikasi dan Informatika.”

ISA menekankan bahwa “pengiriman perintah dan penerimaan informasi dari satelit ini akan dilakukan sesuai dengan algoritma terenkripsi, dan bahwa negara ketiga tidak memiliki akses ke informasi ini, dan dengan demikian tidak benar beberapa rumor yang tersiar bahwa gambar satelit ini digunakan untuk tujuan militer negara lain.”

Jerusalem Post melaporkan keprihatinan para pemimpin Zionis atas peluncuran satelit Iran tersebut.  Surat kabar Israel itu menyebutkan bahwa para pejabat Zionis telah menyatakan keprihatinan mereka atas peluncuran satelit buatan Iran tersebut dan atas minimnya reaksi signifikan dari AS terkait misteri proses peluncurannya.

 Pada Oktober 2005, Rusia meluncurkan satelit Iran pertama, “Sina-1”, dari Kosmodrom Plesetsk di barat laut Rusia.

Peluncuran satelit Khayyam dilakukan setelah kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Iran pada 19 Juli lalu, di mana dia menemui Presiden Ebrahim Raisi dan Pemimpin Besar Ayatullah Ali Khamenei, yang menyerukan penguatan “kerja sama jangka panjang” antara kedua negara.

Pada Juni 2021, Putin membantah laporan pers AS bahwa Rusia  berniat menyediakan sistem satelit canggih untuk Iran guna peningkatan kemampuan spionase negara republik Islam ini.

Kegiatan luar angkasa Iran sering mendapat kecaman dari negara-negara Barat karena mereka khawatir Teheran akan meningkatkan keahliannya di bidang rudal balistik dengan meluncurkan satelit ke luar angkasa.

Iran telah meluncurkan sendiri dari wilayahnya beberapa satelit, termasuk satelit militer Noor 2 milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Maret 2022. (raialyoum)

Serang Nablus, Pasukan Zionis Bunuh Komandan Brigade Al-Aqsa dan Dua Orang Palestina Lain

Pasukan Zionis Israel menyerang sebuah rumah di kota Nablus, Tepi Barat, Selasa (9/8), hingga menewaskan tiga orang Palestina, termasuk seorang komandan senior militan.

Tembakan terdengar di seluruh kota sepanjang hari dan Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan petugas medis merawat 69 orang yang menderita luka tembak di seluruh wilayah Nablus, dan sedikitnya empat orang berada dalam kondisi kritis.

Sumber medis mengatakan bahwa pasukan Zionis meledakkan sebuah rumah di kota tua kota Tepi Barat itu.

Serangan itu terjadi dua hari setelah Israel dan para pejuang Palestina Gaza menyetujui gencatan senjata untuk meredakan konfrontasi yang berlangsung tiga hari antara Israel dan Jihad Islam Palestina (PIJ) serta beberapa faksi pejuang Gaza lainnya.

Kementerian Kesehatan Palestina mengkonfirmasi kematian tiga warga Palestina dalam serangan terbaru di Nablus.

Militer Israel menyatakan, “Teroris Ibrahim Al Nabulsi dan beberapa teroris lain tewas di kota Nablus.”

Al Nabulsi adalah komandan salah satu kelompok militan utama Tepi Barat, yang dikenal sebagai Brigade Syuhada Al Aqsa, yang beroperasi di bawah partai Fatah yang berkuasa. Tentara Israel menyatakan Nabulsi diduga telah melakukan beberapa serangan penembakan terhadap warga sipil dan tentara Israel.

“Tentara Israel dan pasukan khusus mengepung rumah seorang buronan di Nablus. Terjadi baku tembak,” kata militer dalam pernyataan sebelumnya.

Di beberapa kawasan lain Nablus, pasukan Israel juga melakukan kekerasan dan warga Palestinapun melempari mereka dengan batu.

Sementara itu, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres melalui jubirnya,  Stephane Dujarric, di Markas Besar Permanen PBB di New York, AS, Selasa, menyerukan ketenangan dan penyelidikan setelah pembunuhan tiga warga Palestina oleh tentara Israel di kota Nablus. (raialyoum)

Erdogan dan Assad Dikabarkan akan Adakan Pembicaraan Telefon atas Usulan Putin

Sebuah surat kabar Turki yang dekat dengan lingkaran kekuasaan negara ini melaporkan berdasarkan keterangan sumbernya bahwa presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan sejawatnya di Suriah, Bashar al-Assad, berkemungkinan akan melakukan percakapan telepon atas saran Presiden Rusia Vladimir Putin.

Berdasarkan keterangan sumber informasinya, surat kabar Turki menyebutkan: “Seperti diketahui, Presiden Erdogan, yang baru-baru ini mengunjungi Sochi, bertukar pendapat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang Suriah. Menanggapi pertanyaan wartawan dalam perjalanan pulang, Erdogan mengatakan bahwa meskipun ada organisasi teroris di perbatasan dengan Suriah, Putin mengusulkan kepadanya bahwa jika Erdogan lebih mengutamakan penyelesaian masalah ini dengan pemerintah Suriah (Presiden Bashar al-Assad) maka itu akan lebih akurat. “

Dikutip RT, Selasa (9/8), surat kabar yang dikenal dekat dengan pemerintah itu menuliskan bahwa presiden Rusia menyerukan pertemuan untuk mengadakan diskusi antara pihak Turki dan Suriah.

Namun, sumber itu menambahkan bahwa pihak Ankara menilai “terlalu dini” untuk mengadakan pertemuan ini, tapi tidak mengesampingkan bahwa pembicaraan telepon akan dilakukan antara Erdogan dan Assad.

Menurut surat kabar itu, satu negara Teluk dan satu lagi negara Muslim Afrika sedang menengahi antara Ankara dan Damaskus.

Surat kabar Turki juga menyebutkan bahwa dalam konteks negosiasi antara Turki dan Suriah, pekerjaan sedang dilakukan untuk membentuk komite bersama antara Ankara-Damaskus, yang terdiri dari para ahli yang mengenal kawasan dengan baik, karena ketegangan regional, terutama di Suriah utara, berdampak pada kedua negara, seluruh kawasan dan bahkan dunia.

Surat kabar itu merekomendasikan peluncuran operasi militer gabungan (Turki, Rusia, Iran dan Suriah) untuk menindak milisi Kurdi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di Suriah utara. (raialyoum)