Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 1 September 2021

tanker minyak iranJakarta, ICMES. Pemerintah dan rakyat Libanon sedang menanti kedatangan kapal-kapal tanker minyak kloter pertama Iran untuk mengatasi krisis bahan bakar Libanon di tengah kesiapan Iran dan Hizbullah menghadapi skenario buruk dari AS dan Israel.

Angkatan Bersenjata Iran berhasil menguji coba sistem rudal atau sistem pertahanan udara “Mersad-16” yang dikembangkan di dalam negeri.

Iran berencana melakukan putaran keempat perundingannya dengan Arab Saudi di Irak usai terbentuknya kabinet baru Iran.

Sebuah sumber papan atas gerakan Taliban mengungkap nama beberapa  pemimpin kelompok ini yang akan memegang beberapa posisi penting dalam pemerintahan Taliban yang akan segera terbentuk.

Berita Selengkapnya:

Tegang, Kapal Tanker Iran Dekati Pantai Libanon, Iran dan Hizbullah Siapkan Skenario Buruk

Pemerintah dan rakyat Libanon sedang menanti kedatangan kapal-kapal tanker minyak kloter pertama Iran untuk mengatasi krisis bahan bakar Libanon. Mereka menantikannya dengan harap-harap cemas karena minyak itu datang di tengah ancaman AS dan Israel untuk menyerang kapal itu karena mengabaikan sanksi dan blokade dua negara antagonis tersebut.

Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah kepada sekutunya, Iran, telah meminta pengiriman bensin dan solar ke Libanon secepatnya setelah sebagian besar genset di rumah sakit berhenti beroperasi dan banyak toko roti tutup akibat kelangkaan bahan bakar. Kondisi yang sama juga terjadi sarana transportasi.

Untuk pertama kalinya, Iran menjajal mengirim tiga kapal tanker minyak setelah ada permintaan segera dari Libanon, dan diperkirakan akan tiba paling lambat pada hari Jumat atau Sabtu mendatang.

Hizbullah membentuk sebuah perusahaan khusus untuk impor minyak Iran dan mensupervisi distribusinya ke semua pihak di Libanon tanpa diskrimasi sektarian, ras dan daerah demi mengecilkan kesan bisnis semata serta menghindari desas-dasus politik yang dapat menjadi dalih bagi AS dan Israel untuk melancarkan agresi.

Kemlu Iran dalam sebuah pertanyaan resmi Senin lalu menegaskan, “Pengiriman minyak ke Libanon ini merupakan keputusan berdaulat di mana AS tak punya kapasitas untuk menghalangi perdagangan yang sah antarnegara.”

Anggota Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran Abol Fazl Amouni memperingatkan, “ Kesalahan apapun dari para Zionis dan lain-lain akan mendapat respon bersama dari Iran dan Libanon.”

Pemred media online Rai Al-Youm, Abdel Bari Atwan, dalam editorialnya, Selasa (31/8), menyebutkan bahwa sebuah pusat komando operasi gabungan Hizbullah dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran memantau masalah pengiriman kapal tanker tersebut serta membuat perencanaan untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk, termasuk serangan Israel dan atau AS terhadap kapal itu di Laut Tengah.

Atwan juga menyebutkan bahwa sejauh ini ada dua dugaan yang berkembang terkait tiga kapal tanker tersebut. Pertama, muatan minyak tiga kapal itu diturunkan di pelabuhan Beirut atau Sidon, Libanon. Kedua, minyak itu diturunkan di Pelabuhan Nablus, Suriah, dan dari situ kemudian dibawa ke Libanon dengan menggunakan truk-truk tangki.

Penurunan minyak di pelabuhan Suriah sudah pernah dilakukan Iran ketika negara republik Islam ini mendobrak blokade Barat dan Israel terhadap Suriah untuk membantu meringankan krisis bahan bakar Suriah. (raialyoum)

Iran Sukses Ujicoba Sistem Rudal Mersad-16

Angkatan Bersenjata Iran berhasil menguji coba sistem rudal atau sistem pertahanan udara “Mersad-16” yang dikembangkan di dalam negeri, Selasa (31/8).

Wakil Kepala Operasi Pasukan Pertahanan Udara Angkatan Darat Iran Brigjen Amir Mohammad Khoshghalb mengatakan bahwa sistem rudal yang sukses diujicoba di Iran tengah itu sepenuhnya dikembangkan di Iran serta memanfaatkan teknologi terbaru untuk menghadapi peperangan elektronik sekaligus mencegat banyak target.

Dia menambahkan bahwa Mersad-16 bergabung dengan sistem terintegrasi anti-pesawat untuk pertama kalinya, dan itu digunakan oleh Pusat Komando dan Kontrol Hazrat Valiasr untuk menemukan, mengidentifikasi, dan menghancurkan target.

Menurutnya,  sistem pertahanan udara baru ini antara lain memiliki mobilitas dan kelincahan tinggi serta dapat menghadapi target kecepatan tinggi yang terbang di ketinggian rendah semisal rudal jelajah.

Khoshghalb menyebutkan bahwa sistem ini dapat mengidentifikasi target yang berperang di ketinggian mana pun secara real time dan mengirimkan data terkait ke pusat komando sehingga pusat tersebut dapat memberi sinyal keterlibatan.

Dia juga mengatakan bahwa varian sistem yang dioptimalkan itu akan diluncurkan dalam waktu dekat.

Sebelumnya, Angkatan Bersenjata Iran mengumumkan bahwa dalam waktu dekat ini akan memamerkan sistem rudal lain buatan Iran bernama “Bavar 373”, yang setara atau bahkan lebih baik daripada Sistem S-400 buatan Rusia.

Komandan Markas Pertahanan Udara Iran Khatamul Anbiya Brigjen Qader Rahimzadeh saat meninjau berbagai sistem rudal di kawasan Bandar Abbas dan pulau-pulau di Teluk Persia mengatakan, “Berkat anugerah Allah, para prajurit pemberani pertahanan udara bersiaga penuh dengan menjalankan misi serius mereka dalam melindungi angkasa Republik Islam Iran dan dengan kesiapan yang tinggi.”

Dia menambahkan, “Melalui pemantauan sepenuhnya terhadap semua pergerakan udara di kawasan, pasukan yang membidangi pertahanan udara siap menghadapi segala ancaman potensial.” (irna/tasnim/raialyoum)

Iran akan Rencanakan Putaran Baru Perundingan dengan Saudi

Iran berencana melakukan putaran keempat perundingannya dengan Arab Saudi di Irak usai terbentuknya kabinet baru Iran. Demikian dikutip oleh kantor berita mahasiswa Iran, ISNA, dari Dubes Iran untuk Irak di Baghdad, Iraj Masjedi.

Hubungan diplomatik antara Iran dan Saudi terputus sejak tahun 2016 manakala keduanya juga terlibat perang proksi di Yaman, Suriah dan lain-lain.

Pada Mei lalu Iran untuk pertama kalinya mengkonfirmasi perundingannya dengan Saudi sembari menegaskan bahwa Teheran akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyelesaikan berbagai perkara yang diperselisihkan oleh kedua negara.

Rencana perundingan putaran baru ISNA beberapa hari setelah pertemuan puncak regional yang diselenggarakan di Baghdad, ibu kota Irak, untuk menurunkan tensi ketegangan antarnegara jiran Irak.

“Kami telah mengadakan tiga putaran perundingan dengan pihak Saudi, dan putaran keempat akan diadakan setelah terbentuknya kabinet baru Iran,” ungkap Masjedi kepada ISNA, Selasa (31/8).

Sementara itu, Menlu Iran Hossein Amir-Abdollahian mengaku telah berdiskusi dengan Wakil Perdana Menteri Uni Emirat Arab (UEA) Mohammed bin Rashid Al-Maktoum mengenai perbaikan hubungan antara kedua negara di sela-sela pertemuan puncak Baghdad.

“Dalam pembicaraan ini kami telah membicarakan iktikad positif dan keinginan para pemimpin kedua negara untuk penguatan hubungan. Bekerjasama dengan para jiran merupakan prioritas pemerintah (baru Iran),” ungkapnya.

Hubungan Iran dengan UEA mengeruh setelah sejumlah negara Arab Teluk yang bersekutu dengan AS, termasuk UEA, mengadakan normalisasi hubungan dengan Rezim Zionis Israel pada tahun lalu. (raialyoum)

Taliban Angkat Mendagri, Menlu dan Menhan Afghanistan

Sebuah sumber papan atas gerakan Taliban mengungkap nama beberapa  pemimpin kelompok ini yang akan memegang beberapa posisi penting dalam pemerintahan Taliban yang akan segera terbentuk.

Dikutip Ria Novosti milik Rusia, Selasa (31/8), sumber anonim itu mengatakan bahwa Taliban telah mengangkat Mulla Abdul Ghani Baradar Akhund sebagai menteri luar negeri, Mulla Yaqub Akhund, putra pendiri Taliban, sebagai menteri pertahanan, dan Khalifa Haqqani, putra salah seorang tokoh Taliban Jalaluddin Haqqani, sebagai menteri dalam negeri.

Sumber itu menambahkan, “Pembicaraan khusus pembentukan kabinet sudah selesai, dan hasilnya akan segera diumumkan.”

Sebelumnya, seorang anggota senior komisi militer Taliban mengatakan kepada Ria Novosti bahwa Taliban akan mengumumkan susunan kabinet barunya pada 3 September mendatang. (tasnim)