Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 1 Juli 2020

aneksasi tepi barat palestinaJakarta, ICMES. Media resmi Israel mengungkap peta aneksasi negara Zionis ilegal ini terhadap beberapa wilayah Tepi Barat, yang bahkan lebih luas daripada peta yang dicanangkan Amerika Serikat (AS).

Komandan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami menegaskan negaranya selama ini telah mencetak banyak prestasi cemerlang di ranah peradaban, serta berhasil mengandaskan berbagai misi dan ambisi negara-negara imperialis musuhnya, dan selanjutnyapun masih dapat menimpakan kekalahan lebih besar pada mereka.

Rusia dan China menolak desakan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo dalam sidang Dewan Keamanan PBB agar dewan ini memperpanjang embargo senjata terhadap Iran.

Berita selengkapnya:

Peta Aneksasi Tepi Barat Lebih Luas dari Peta yang Dicanangkan AS

Media resmi Israel mengungkap peta aneksasi negara Zionis ilegal ini terhadap beberapa wilayah Tepi Barat, yang bahkan lebih luas daripada peta yang dicanangkan Amerika Serikat (AS).

Kanal resmi, Kan, milik Israel, Selasa (30/2020), menyebutkan bahwa Israel telah mengusulkan aneksasi daerah-daerah sekitar pemukiman Zionis, di samping sekira 20 permukiman yang tidak terlihat dalam peta aneksasi versi Amerika.

Peta Israel untuk aneksasi mencakup amandemen terhadap prakarsa AS yang dinamai “Kesepakatan Abad Ini”.

Menurut Kan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berusaha mempertahankan persentase 30 persen wilayah Tepi Barat yang disebutkan dalam prakarsa AS untuk aneksasi itu, dan membiarkan 70 persen sisanya untuk Palestina.

Dalam rangka ini, Netanyahu menawarkan kepada Palestina “kompensasi” berupa sebidang tanah di daerah bernama “Gurun Judean” di Tepi Barat.

Media itu menyebutkan bahwa peta versi Israel mempertahankan sebagian besar jalan seperti sedia kala.

Kan juga mengutip pernyataan sumber-sumber politik anonim Israel bahwa Netanyahu berusaha mencaplok dua permukiman yang bersignifikansi keagamaan, yaitu Beit El dekat Ramallah di bagian tengah Tepi Barat, dan Shilo  yang terletak di antara Ramallah dan Nablus.

Kan menyebut hal ini menunjukkan bahwa pemaksakan kedaulatan Israel atas wilayah-wilayah ini mewakili  “pentingnya Lobi Evangelis (yang mendukung Israel dan Donald Trump) di AS ”.

Netanyahu, Selasa, berjanji terus bekerja untuk implementasi rencana aneksasi dalam beberapa hari mendatang.

Menurut Kan, janji itu dia nyatakan pada akhir pertemuan dengan utusan khusus AS untuk Timur Tengah Avi Berkowitz dan duta besar AS untuk Israel David Friedman yang membahas masalah aneksasi. (raialyoum)

Komandan IRGC:  Perabadan Barat Gagal, Iran Siap Tampilkan Model Baru

Komandan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami menegaskan negaranya selama ini telah mencetak banyak prestasi cemerlang di ranah peradaban, serta berhasil mengandaskan berbagai misi dan ambisi negara-negara imperialis musuhnya, dan selanjutnyapun masih dapat menimpakan kekalahan lebih besar pada mereka.

“Kita telah mengalahkan kubu arogan dunia yang dipimpin Amerika Serikat (AS), dan kita juga dapat menimpakan kekalahan-kekalahan beruntun lebih lanjut pada mereka,” sumbar Salami dalam kata sambutannya pada acara pelantikan rektor baru Universitas Ilmu Kedokteran Baqiyatallah, Teheran, Selasa (30/6/2020).

Salami mengapresiasi sepak terjang tim medis Iran dalam penanggulangan wabah virus corona (Covid-19), yang menurutnya, telah mematahkan anggapan pihak musuh yang meremehkan ketahanan dan kemampuan bangsa Iran dalam melawan pandemi ini.

“Di saat musuh revolusi Islam dan bangsa Iran beranggapan bahwa kita akan menyerah di depan penyakit dan virus corona, tim dokter dan kesehatan (Iran) dengan perjuangan dan jerih payah mereka di puncak semangat pengorbanan justru mencetak prestasi cemerlang dan menghasilkan lembaran emas di Iran yang Islami,” pujinya.

Dia kemudian menyinggung apa yang dinilainya sebagai kelemahan sistem kesehatan di banyak negara maju Eropa dalam penanggulangan pandemi mematikan ini.

Dia mengatakan, “Negara-negara yang mengaku maju dan memimpin bidang-bidang sains, teknologi, dan kedokteran justru ambruk sistem kesehatannya di tengah situasi pandemi corona, dan tidak efektif di ranah kedokteran, sementara para mujahidin kelompok kesehatan di negara kita telah berbuat melebihi komitmen kedokteran mereka, dan dengan itu mereka telah mencetak berbagai prestasi berharga untuk kita.”

Dia menambahkan, “Kita sekarang bekerja membangun kebangkitan peradaban Islam modern… Kita ingin mempersembahkan model-model baru di masa sekarang di mana peradaban-peradaban yang bertumpu pada ideologi liberalisme gagal memberikan model yang prestisius bagi kesejaheraan umat manusia.”

Komandan IRGC memastikan Iran sekarang telah berhasil meraih prestasi di bidang sains dan teknologi modern, dan tak akan mengenal kata jenih di jalan ini demi membangun sebuah komunitas masyarakat yang kuat. (alalam)

Rusia dan China di DK PBB Tolak Keingingan AS Perpanjang Embargo Senjata terhadap Iran

Rusia dan China menolak desakan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo dalam sidang Dewan Keamanan PBB agar dewan ini memperpanjang embargo senjata terhadap Iran.

Dalam sidang pada hari Selasa (30/6/2020) itu Rusia memperingatkan resiko terjadinya “eskalasi di luar kendali”, sementara China menyoal hak Washington mengaktifkan kembali embargo tersebut.

AS bersikeras memperpanjang embargo anti-Iran yang akan berakhir pada 18 Oktober mendatang tersebut, dan mengisyaratkan keinginannya menggunakan klausul hukum dalam resolusi yang memungkinkan revitalisasi sanksi PBB anti-Iran.

Rusia dan China menentang perpanjangan embargo senjata lima tahun yang diberlakukan berdasarkan perjanjian nuklir Teheran dengan sejumlah negara besar dunia, termasuk AS di masa kepresidenan Barack Obama.

Melalui video konferensi Pompeo mengatakan bahwa berakhirnya embargo itu memungkinkan Iran mengirim senjata yang lebih canggih kepada sekutu regionalnya semisal Hamas di Jalur Gaza dan Hizbullah di Lebanon.

Dia  menambahkan bahwa “Iran akan menjadi pedang yang kokoh bagi stabilitas ekonomi di Timur Tengah, yang akan mengancam negara-negara seperti Rusia dan China yang bergantung pada stabilitas harga energi.”

Menteri Luar Negeri AS mengklaim Iran bisa menjadi “pedagang senjata jahat” jika embargo dicabut, dan berpotensi menjual senjata ke negara-negara di luar kawasan Timteng seperti Venezuela ketika Trump berusaha menggulingkan presiden negara ini, Nicolas Maduro.

“Iran melanggar embargo senjata bahkan sebelum masa jabatannya berakhir,” katanya.

Penolakan Rusia dan China

Desakan AS tersebut mendapat penolakan sengit dari Rusia. Wakil Tetap Rusia untuk PBB Vasily Nebenzya menegaskan negaranya “tak dapat menerima” upaya AS “melegalkan kebijakan tekanan maksimum” melalui PBB “yang pada akhirnya akan menghadapkan kita pada eskalasi di luar kendali.”

Senada dengan ini, Duta Besar China untuk PBB, Zhang Jun,  dalam sidang itu menyoal hak AS dan menegaskan embargo senjata itu harus dicabut tepat waktu sesuai keputusan dalam perjanjian nuklir Iran tahun 2015.

“AS, dengan menarik diri dari perjanjian nuklir ini tidak lagi menjadi mitra di dalamnya, dan tidak lagi berhak mengaktifkan sanksi di Dewan Keamanan,” ujar Jun.

Dukungan Sekutu AS

Inggris dan para sekutu AS lain mendukung desakan AS tersebut sembari menyatakan bahwa duduk problema utamanya terletak pada masalah proyek nullir Iran.

Iran sendiri melalui menteri luar negerinya, Mohammad Javad Zarif, di hadapan sidang itu menegaskan bahwa penghentian embargo senjata tersebut merupakan syarat utama kelangsungan perjanjian nuklir tahun 2015.

Dia memperingatkan bahwa dua masalah ini “tak dapat dipisahkan satu sama lain”. (raialyoum/alalam)