Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 1 April 2020

Covid-19Jakarta, ICMES. Arab Saudi meminta umat Islam bersabar menunggu sampai ada kejelasan lebih lanjut tentang pandemi virus corona (Covid-19) sebelum berencana menunaikan ibadah haji tahun ini.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi mencemooh slogan ‘America first’ (Amerika pertama) presiden AS Donald Trump dan menyebutnya telah membawa rakyat AS kepada kondisi mengenaskan.

Sistem Pertahanan udara Suriah dilaporkan telah mencegat beberapa rudal Israel yang ditembakkan ke sasaran di bagian tengah Suriah, negara yang dilanda perang sejak tahun 2011.

Para  mahasiswa Iran melayangkan surat kepada UNESCO berisi desakan agar lembaga dunia ini menempuh langkah tepat waktu untuk mencabut sanksi AS terhadap rakyat Iran yang sedang terdera pandemi corona.

Berita selengkapnya:

Soal Ibadah Haji, Saudi Minta Umat Tunggu Perkembangan Situasi Wabah Covid-19

Arab Saudi meminta umat Islam bersabar menunggu sampai ada kejelasan lebih lanjut tentang pandemi virus corona (Covid-19) sebelum berencana menunaikan ibadah haji tahun ini, demikian dikatakan oleh Menteri Saudi urusan Haji dan Umrah Mohammed Saleh Benten di TV pemerintah Selasa (31/3/2020).

Awal bulan ini, Saudi menangguhkan ibadah umrah demi mencegah penyebaran Covid-19 ke kota-kota paling suci Islam, suatu tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya sehingga meningkatkan ketidakpastian mengenai penyelenggaraan ibadah haji.

Sekitar 2,5 juta jemaah dari seluruh dunia biasanya datang ke kota suci Mekah al-Mukarromah dan Madinah al-Munawaroh untuk menunaikan manasik haji selama seminggu, yang dijadwalkan akan dimulai pada akhir Juli mendatang.

Kegiatan ibadah ini juga merupakan sumber pendapatan yang signifikan bagi kerajaan Saudi.

“Arab Saudi sepenuhnya siap melayani jemaah haji dan pumrah,” ujar menteri keturunan Banten, Indonesia, itu kepada televisi Al-Ekhbariya yang dikelola pemerintah.

“Tapi pada keadaan saat ini, ketika kita berbicara tentang pandemi global, Kerajaan tertarik untuk melindungi kesehatan umat Muslim dan warga negara. Karena itu kami telah meminta saudara-saudara Muslim kami di semua negara untuk menunggu sebelum melakukan kontrak haji hingga situasinya jelas,” lanjutnya.

Selain menunda umrah, Saudi juga telah menghentikan semua penerbangan penumpang internasional tanpa batas waktu. Pekan lalu negara ini juga memblokir keluar dan masuk ke beberapa kota, termasuk Mekah dan Madinah.

Haji dan umrah merupakan bisnis besar bagi Saudi dan menjadi tulang punggung rencana pengembangan jumlah jemaah dalam agenda reformasi ekonomi ambisius Putra Mahkota Mohamed bin Salman.

Pembatalan ibadah haji akan menjadi hal yang belum pernah terjadi sebelumnya di zaman modern, sedangkan pembatasan kedatangan jemaah dari kawasan berisiko tinggi sudah pernah terjadi sebelumnya, termasuk dalam beberapa tahun terakhir selama wabah virus Ebola.

Sejauh ini Saudi telah melaporkan lebih dari 1.500 kasus Covid-19 dengan 10 kematian, sementara secara global tercatat lebih dari 825.000 orang telah terinfeksi virus ini dengan lebih dari 40.000 kematian. (aljazeera)

Jumlah Pasien COVID-19 Membludak di AS, Iran Salahkan Trump

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi mencemooh slogan ‘America first’ (Amerika pertama) presiden AS Donald Trump dan menyebutnya telah membawa rakyat AS kepada kondisi mengenaskan.

” Pemerintah AS menempatkan kesehatan Iran dalam bahaya melalui terorisme ekonomi dan medis, melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kinerjanya yang lemah dalam memerangi virus corona di AS. Karena itu mereka tak layak mengomentari langkah-langkah Iran dalam memerangi COVID-19,” ujar Mousavi, Selasa (31/3/2020), saat menanggapi pernyataan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Morgan Ortagus mengenai wabah yang sama di Iran.

Dia menambahkan, “Triliunan dolar yang telah dikeluarkan untuk intervensi di Timur Tengah seharusnya dihabiskan untuk infrastruktur kesehatan masyarakat AS agar tidak melihat kesengsaraan petugas medis mengenakan kantong sampah dan pasien COVID-19 berada dalam keputus-asaan.”

AS belakangan ini tercatat memiliki jumlah pasien COVID-19 terbanyak di dunia dan warga Negeri Paman Sam ini berada dalam situasi kritis. Namun demikian, para diplomat AS malah berkomentar nyinyir tentang langkah-langkah Iran dalam memerangi wabah yang sama di Iran.

Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah AS telah mengakui adanya pengeluaran setidaknya $ 9 triliun untuk mencampuri urusan internal negara-negara Timur Tengah sehingga kawasan ini rawan dan tak stabil. (fna)

Pertahanan Udara Suriah Rontokkan Rudal Israel di Angkasa Homs

Sistem Pertahanan udara Suriah dilaporkan telah mencegat beberapa rudal Israel yang ditembakkan ke sasaran di bagian tengah Suriah, negara yang dilanda perang sejak tahun 2011.

“Pertahanan udara menembak jatuh sejumlah rudal sebelum mencapai targetnya,” lapor kantor berita resmi Suriah, SANA tanpa mengidentifikasi target tersebut di provinsi Homs pada Selasa malam (30/3/2020).

SANA mengutip keterangan sumber militer bahwa rudal itu ditembakkan oleh Angkatan Udara Rezim Zionis Israel dari zona udara Lebanon.

Belum ada laporan mengenai dampak dan akibat serangan udara Israel ke Suriah tersebut.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, pemantau perang yang berbasis di Inggris, menyebutkan targetnya adalah pangkalan udara yang ditempati oleh pasukan Iran.

Sejak dimulainya konflik Suriah pada 2011, Israel telah melancarkan ratusan serangan ke Suriah dengan target pasukan pemerintah serta pasukan Iran dan kelompok pejuang Hizbullah dari Libanon.

Namun demikian, Israel jarang Israel bertanggung jawab atas serangan tersebut. (aljazeera)

Para Mahasiswa Iran Desak UNESCO Bantu Hentikan Sanksi AS terhadap Iran

Sekelompok mahasiswa Iran melayangkan surat kepada Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO), Senin (30/3/2020), berisi desakan agar lembaga dunia ini menempuh langkah tepat waktu untuk mencabut sanksi AS terhadap rakyat Iran yang sedang terdera pandemi corona (Covid-19) dengan segala dampaknya.

“Kita sekarang sedang menyaksikan penyebaran virus berbahaya  COVID-19 , dan Kolera dan TBC muncul kembali di pikiran negara yang terserang virus ini,” bunyi surat yang ditujukan kepada Dirjen UNESCO itu.

Para mahsiswa Iran menyebutkan bahwa virus misterius itu telah mengganggu persepsi dan menimbulkan inferioritas masyarakat dan pemerintah di berbagai negara, dan telah jatuh banyak korban manusia di seluruh dunia, termasuk Asia, Eropa dan bahkan Amerika Serikat.

Negar-negara itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka, namun virus ini telah menebar frustasi dan menghilangkan banyak nyawa, mengacaukan keuangan, pendidikan, budaya, sosial, dan ekonomi, serta menimbulkan gangguan psikologis.

Seperti negara-negara lain, lanjut surat itu, Iran mengalami insiden tragis ini, namun sanksi kejam AS ala Abad Pertengahan terhadap Iran yang menargetkan sistem kesehatan dan ekonomi sangat menyulitkan upaya pasien Covid-19 mendapat obat-obatan dan produk lain yang mereka butuhkan.

Para mahasiswa Iran meminta supaya masalah kemanusiaan tidak dikaitkan dengan kompetisi dan rivalitas politik.

“Sanksi kejam AS terhadap Iran seharusnya tidak memicu bencana kemanusiaan akibat virus corona, yang akan terus menutup pusat-pusat pendidikan dan kebudayaan, dan kerusakan dan biayanya tidaklah kurang dari biaya ekonomi dan politik karena ini bukan saatnya untuk balas dendam politik,” pesan mereka.

Sementara itu, berabagai kelompok akademisi, peneliti, dan pemimpin LSM AS telah menandatangani sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada para pemimpin negara P4 +1 (Inggris, Prancis, Jerman, Tiongkok, dan Rusia) serta anggota parlemen AS. Surat itu menyerukan kepada mereka agar mencabut sanksi yang menghalangi perang Iran melawan Covid-19. (fna)