Jakarta, ICMES. Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menegaskan bahwa musuh-musuh bangsa Iran tak dapat mengalahkan bangsa ini dengan kekuatan, dan lantas menggunakan cara lain berupa penyesatan opini.

Sumber Sudan yang dekat dengan ususan negosiasi di negara ini mengatakan bahwa persiteruan telah membengkak dalam beberapa pekan terakhir antara panglima tentara Sudan, Letjen Abdel Fattah al-Burhan, dan panglima paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF), Letjen Muhammad Hamdan Dagalo, alias Hemedti.
Berita Selengkapnya:
Ayatullah Khamenei: Tak Bisa dengan Kekuatan, Musuh Gunakan Cara Penyesatan Opini
Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menegaskan bahwa musuh-musuh bangsa Iran tak dapat mengalahkan bangsa ini dengan kekuatan, dan lantas menggunakan cara lain berupa penyesatan opini.
“Bangsa Iran selama ini telah mengalahkan musuh, dan akan demikian pula selanjutnya,†ungkapnya, dalam khutbah shalat Idul Fitri yang diikuti oleh ribuan jemaah di Teheran, ibu kota Iran, Sabtu (22/23).
“Musuh mengerti bahwa mereka tidak akan dapat mencapai apa pun melalui kekuatan militer di masyarakat dan negara kita, dan hari ini mereka melakukan penyesatan,” lanjutnya.
Menyinggung pada kekalahan militer AS di Afghanistan dan Irak, dia mengatakan, “Musuh telah mengubah pola mereka setelah kekalahan ini, dan sekarang mereka melakukan konspirasi, intrik dan penghinaan terhadap bangsa ini untuk terus menjalankan konspirasi mereka. â€
Dia lantas menegaskan bahwa bangsa Iran “sekarang sudah waspada, dan telah menggagalkan musuh, dan senantiasa menggagalkannya.â€
Mengenai Palestina dia mengatakan bahwa meningkatnya resistensi terhadap Israel akan terus melemahkan rezim Zionis ini, apalagi rezim ini juga digerogoti oleh masalah internalnya sendiri.
“Semakin bertambah resistensi ini semakin lemah entitas Zionis, dan bertambah penderitaannya. Situasi sulit yang dialami entitas Zionis sekarang adalah hasil resistensi para pemuda Palestina,†ujarnya.
Ayatullah menekankan bahwa isu Palestina adalah isu terpenting Dunia Islam, dan bahwa Israel terus mengalami proses keruntuhannya secara bertahap.
“Proses keruntuhan yang bermula sejak beberapa tahun lalu ini sekarang berjalan lebih cepat, dan Dunia Islam harus memanfaatkan peluang besar ini,†tuturnya.
Dia juga mengingatkan bahwa isu Palestina bukanlah isu keislaman semata, melainkan juga isu kemanusiaan.
Salat Idul Fitri dilaksanakan di Teheran pada hari Sabtu setelah tiga tahun absen akibat pandemi Covid-19. (alalam)
Sumber: Ini Penyebab Konflik Al-Burhan VS Hamidti di Sudan
Sumber Sudan yang dekat dengan ususan negosiasi di negara ini mengatakan bahwa persiteruan telah membengkak dalam beberapa pekan terakhir antara panglima tentara Sudan, Letjen Abdel Fattah al-Burhan, dan panglima paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF), Letjen Muhammad Hamdan Dagalo, alias Hemedti.
Mengutip keterangan sumber, Situs berita Axios menyebutkan bahwa persiteruan itu mencapai tingkat yang mencegah mereka untuk saling menyapa atau bertukar percakapan, bahkan selama negosiasi.
Situs itu menyebutkan bahwa pertempuran pecah minggu lalu, setelah kedua pemimpin pasukan itu gagal mencapai kompromi.
Dia menyebutkan bahwa perselisihan terjadi terkait dengan poin akhir yang diperlukan untuk menyelesaikan kesepakatan untuk pengadaan kembali pemerintahan sipil.
Situs itu mengutip seorang pejabat senior AS dan sumber Sudan yang mengatakan bahwa perselisihan itu berpusat pada mekanisme rantai komando militer di negara itu di bawah kepemimpinan pemerintahan sipil.
Seorang pejabat AS menjelaskan bahwa Abdel Fattah al-Burhan ingin menjadi panglima militer tertinggi dan satu-satunya yang melapor langsung kepada pemerintah sipil, sementara komandan Pasukan Pendukung Cepat menuntut komunikasi dengan para pemimpin sipil melalui saluran komunikasi khusus, tanpa harus melewati komandan tentara.
Sejak 15 April lalu kontak senjata dan kekerasan skala besar terjadi antara tentara Sudan dan RSF di berbagai kawasan di Sudan, terutama di ibu kota, Khartoum. Pertempuran antara kedua pihak sejauh ini telah menjatuhkan ratusan korban tewas dan ribuan korban luka.
Dalam perkembangan terbaru, tentara Sudan, Sabtu (22/4), mengaku membantu mengevakuasi warga negara asing di Khartoum seminggu setelah konflik, meskipun pasukannya terus memerangi RSF.
Hal itu dinyatakan setelah Hamidti membuka bandara untuk evakuasi.
Kedua belah pihak sejauh ini gagal mematuhi gencatan senjata yang disepakati hampir setiap hari sejak pertempuran pecah pada 15 April, termasuk gencatan senjata tiga hari untuk memungkinkan warga mencapai daerah aman dan mengunjungi keluarga mereka selama liburan Idul Fitri. (mm/raialyoum)







