Rangkuman Berita Utama Timteng  Senin 11 Oktober 2021

Jakarta, ICMES. Wakil Presiden dan Ketua Badan Tenaga Atom Iran Mohammad Islami menyatakan negaranya memiliki cadangan uranium yang diperkaya dengan kemurnian 20% sebanyak lebih dari 120 kilogram.

Perdana Menteri Rezim Zionis Israel Naftali Bennett memberitahu Kanselir Jerman Angela Merkel bahwa masalah nuklir Iran adalah masalah antara hidup dan mati bagi Israel, sembari menyebutkan bahwa di bidang energi terbarukan ini  Iran jutsru telah membuat lompatan besar dalam pengayaan uranium.

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian menyebut Rezim Zionis Israel terkurung dalam penjara besar sehingga tak akan dapat menyebar di kawasan.

Sumber-sumber pemberitaan dari pihak presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi di media sosial menyatakan bahwa pangkalan militer Al-Khashinah di selatan kota kota Ma’rib telah jatuh ke tangan pasukan Ansarullah (Houthi).

Berita Selengkapnya:

Iran Mengaku Sudah Punya Cadangan Uranium yang Diperkaya 20% Sebanyak 120 kg

Wakil Presiden dan Ketua Badan Tenaga Atom Iran Mohammad Islami menyatakan negaranya memiliki cadangan uranium yang diperkaya dengan kemurnian 20% sebanyak lebih dari 120 kilogram.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi Iran pada Sabtu malam (9/10) mula-mula dia memastikan bahwa aktivitas nuklir damai Iran bertujuan damai dan tidak keluar dari ketentuan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

“Teknologi nuklir, dari segi perannya bagi kesejahteraan umum, ekonomi dan kesehatan masyarakat merupakan salah satu perkara yang sangat menentukan, memudahkan dan mempercepat kemajuan di semua bidang,” ungkapnya.

Tapi, lanjut Islami, musuh-musuh Iran berusaha mencegah negara ini memiliki faktor kunci ini dan membatasi para majasiswa Iran di bidang-bidang teknologi nuklir.

“Bidang-bidang antariksa, nuklir, teknologi informasi, teknologi nano dan bioteknologi tergolong hal-hal yang berlevel tinggi untuk keberdayaan, dan meraih kemampuan sains dan teknologi ini berarti meraih kemampuan ekonomi dan militer, yang praktis memudahkan kemajuan, menjadi penopangnya, dan mewujudkan kekuatan bagi bangsa,” terangnya.

Dia menambahkan, “Namun, kaum arogan dunia sama sekali tak menghendaki tersedianya kesempatan demikian di negara seperti Iran, tak menghendaki para kader sains dan muda kami bekerja dan berkegiatan di bidang teknologi tanpa batas ini, dan karena itu kaum arogan hari demi hari berusaha membatasi kami di bidang-bidang ini.”

Dia lantas menyebutkan bahwa kaum arogan (negara-negara Barat) sengaja berperilaku demikian demi melestarikan supremasi mereka di bidang sains dan teknologi, namun Iran tetap bertekad untuk terus menapakkan kakinya di bidang nuklir bertujuan damai, dan sejauh ini Iran telah memiliki cadangan uranium yang diperkaya 20% sebanyak lebih dari 120 kilogram.

“Kita telah melampaui 120 kilogram, kita punya jumlah yang lebih besar dari ini,” katanya.

Dia menambahkan, “Bangsa kita tahu persis bahwa mereka (negara-negara Barat) berkewajiban menyuplai kami dengan bahan  bakar uranium yang diperkaya 20% untuk digunakan di reaktor Teheran, tapi mereka tak melakukannya. Jika rekan-rekan kami tidak melakukan sesuatu dalam masalah ini, jelas bahwa kita akan menghadapi kelangkaan bahan bakar nuklir untuk reaktor Teheran.” (alalam/raialyoum)

PM Israel: Iran Membuat Lompatan Besar dalam Pengayaan Uranium

Perdana Menteri Rezim Zionis Israel Naftali Bennett memberitahu Kanselir Jerman Angela Merkel bahwa masalah nuklir Iran adalah masalah antara hidup dan mati bagi Israel, sembari menyebutkan bahwa di bidang energi terbarukan ini  Iran jutsru telah membuat lompatan besar dalam pengayaan uranium.

Dalam pernyataan pada sebuah seremoni pemerintahan Israel yang dihadiri oleh Merkel pada Sabtu malam (9/10), Bennett antara lain menyinggung perjanjian nuklir Iran, Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

Dikutip Rai Al-Youm, Ahad (10/9), dia menyebutkan bahwa dalam tiga tahun terakhir Teheran telah membuat “lompatan besar ke depan, dan kemampuannya dalam pengayaan uranium sudah mencapai peringkatnya yang terjauh”.

Dia mengklaim Iran berusaha mengulur-ulur waktu demi memiliki senjata nuklir, sementara “keamanan Israel merupakan bagian dari kepentingan nasional Jerman”.

Israel menentang keras pemulihan JCPOA yang diteken Iran bersama AS, Inggris, Perancis, Rusia, China dan Jerman pada tahun 2015, tapi AS di bawah kepresidenan Donald Trump keluar dari perjanjian itu secara sepihak pada tahun 2018. Belakangan, penurut Trump, Joe Biden, menyatakan ingin memulihkan perjanjian tersebut. (raialyoum)

Menlu Iran Sebut Israel Terkurung dalam Penjara Besar

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian menyebut Rezim Zionis Israel terkurung dalam penjara besar sehingga tak akan dapat menyebar di kawasan.

“Rezim Zionis telah menerima pesan dari Poros Resistensi, mereka tak akan dapat menyebar di kawasan, mereka terkurung dalam penjara besar bernama tanah pendudukan,” ungkapnya dalam wawancara dengan saluran Al-Manar milik Hizbullah Lebanon, seperti dikutip Al-Alam, Ahad (10/10).

Dia juga menyinggung keberadaan AS di kawasan dengan mengatakan, “AS merasa bahwa kelanjutan dari keberadaannya di kawasan tak akan menguntungkannya, dan tentu saja mereka berusaha mempertahankan keberadaan militernya dalam skala kecil, tapi keberadaan sedemikian rupapun bagi AS yang besar di kawasan juga akan berakhir.”

Mengenai Afghanistan, Abdollahian memastikan Teheran terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak di Afghanistan, dan mendukung pemerintahan Afghanistan yang menampung semua elemen bangsa negara ini.

Sedangkan mengenai konflik negaranya dengan Arab Saudi dia mengatakan bahwa Saudilah yang memutus hubungannya dengan Iran.

Menyinggung ketegangan antara Iran dan Azerbaijan belakangan ini, Menteri Luar Negeri Iran menegaskan Teheran tak akan pernah membiarkan keberadaan apa yang disebutnya para teroris di sekitar perbatasan Iran.

“Pesan kami adalah perdamaian dan persahabatan, pesan kami ialah jangan sampai tersedia kesempatan bagi para teroris untuk eksis di wilayah perbatasan kami,” ungkapnya.

Dia menambahkan, “Telah kami katakan kepada Azerbaijan bahwa teroris ada di negara kalian, dan keberadaan para Zionis juga tak bermaslahat bagi keamanan kawasan Kaukasus, tapi para pejabat Azerbaijan berjanji kepada kami untuk mengusir mereka dari kawasan.” (alalam)

Pasukan Ansarullah Rebut Sebuah Pangkalan Militer di Ma’rib

Sumber-sumber pemberitaan dari pihak presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi di media sosial menyatakan bahwa pangkalan militer Al-Khashinah di selatan kota kota Ma’rib telah jatuh ke tangan pasukan Ansarullah (Houthi).

Al-Khabar al-Yamani, Ahad (10/10), melaporkan bahwa, Faris Al-Humairi, jurnalis dan aktivis Yaman, di halaman Twitternya telah mengutip pernyataan sumber-sumber lokal bahwa pangkalan strategis di daerah Al-Joubah, Provinsi Ma’rib, itu telah jatuh ke tangan Ansarullah, dan bahwa jet tempur Saudi telah melancarkan beberapa kali serangan ke pangkalan ini.

Bersamaan dengan ini, terjadi perpecahan di tengah aliansi Saudi di Ma’rib di mana mereka saling tuding berkhianat.  Tentang ini, situs News Yemen milik Tareq Saleh, kemenakan mantan presiden mendiang Abdullah Saleh, mengutip pernyataan sumber-sumber intelijen pemerintahan Hadi bahwa sebagian pasukan Partai Reformasi (Al-Islah) diam-diam membelot ke Ansarullah sehingga di medan-medan pertempuran malah melepaskan tembakan ke arah milisi yang bersekutu dengan Saudi sendiri.  Karena itu, beberapa komandan dari pasukan partai tersebut ditangkap dan dimintai keterangan.

Seorang narasumber yang dekat dengan Shaghir bin Aziz, kepala staf umum pasukan Hadi, dalam wawancara dengan situs berita tersebut melemparkan kesalahan kepada Partai Reformasi dan mengatakan bahwa pusat komando operasi Ma’rib ada di tangan orang-orang “ikhwan” (Partai Reformasi) sehingga pusat itu harus dibersihkan dari mereka.

Di pihak lain, sumber-sumber yang pro Partai Reformasi menyebut pemerintahan Hadi tak becus di bidang logistik dan pengiriman perlengkapan sehingga daerah demi daerah jatuh ke tangan Ansarullah.

Sementara itu, sebuah bom mobil meledak dan menimbulkan guncangan hebat di kota Aden, Yaman selatan, Ahad.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa bom itu ditujukan kepada konvoi mobil para pejabat setempat dan mengincar Ahmad Lamlas, gubernur yang berafiliasi dengan pemerintahan Hadi, dan Menteri Pertanian Salim Al-Saqtari, namun keduanya selamat.

AFP melaporkan bahwa lima orang tewas dan 11 lainnya luka-luka akibat ledakan tersebut. Perdana Menteri Mouin Abdul Malik Said segera menginstruksikan penyelidikan. (fna)