Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 24 Maret 2022

Jakarta, ICMES. Iran turut memajang senjata di pameran industri pertahanan Qatar, DIMDEX 21-23 Maret 2022, sebuah pemandangan yang mengejutkan dalam pameran yang juga menampilkan berbagai perusahaan dan jet tempur Amerika Serikat (AS).

Panglima pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami memperingatkan Rezim Zionis Israel untuk tidak bertindak lancang terhadap Iran, dan menegaskan bahwa Iran masih akan membalas darah martirnya.

Di tengah beredarnya kabar sejak beberapa waktu lalu bahwa perundingan nuklir Iran dengan sejumlah negara besar dunia, termasuk Amerika Serikat (AS) secara tidak langsung, di Wina akan segera mencapai kesepakatan final, Menlu Iran  Hossein Amir-Abdollahian menyatakan hal ini bergantung pada kesedian AS untuk bersikap realitis.

Surat kabar Israel Hayom melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Naftali Bennett telah berdiskusi dengan para pemimpin Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA) di Sharm el-Sheikh , Mesir, mengenai kemungkinan kembalinya Suriah ke Liga Arab, dan dampaknya terhadap Israel dan kawasan.

Berita Selengkapnya:

Mengejutkan, Iran Jajakan Senjata Buatannya di Ekspo Pertahanan Qatar

Iran turut memajang senjata di pameran industri pertahanan Qatar, DIMDEX 21-23 Maret 2022, sebuah pemandangan yang mengejutkan dalam pameran yang juga menampilkan berbagai perusahaan dan jet tempur Amerika Serikat (AS).

Associated Press (AP) melaporkan bahwa berada di sudut paling kiri dari pusat konvensi berkarpet, seorang komandan dari Kemhan Iran memasarkan rudal dan sistem senjata pertahanan udara mereka. Kementerian ini memproduksi senjata untuk militer Iran dan Kops Garda Revolusi Islam (IRGC).

Qatar adalah sekutu utama non-NATO AS  dan penyedia pangkalan militer terbesar AS di Timur Tengah, namun negara kecil di Teluk Persia ini juga menjaga hubungan baik dengan Iran, yang berbagi ladang gas terbesar di dunia.

Menurut AP, perwakilan Iran membagikan brosur dan  mempromosikan pesawat latih jet buatan mereka, helikopter dan hovercraft.

Sementara Reuters melaporkan bahwa beberapa orang berkerumun dalam pertemuan di stand Iran, yang menampilkan poster raksasa kapal cepat yang penuh dengan pasukan komando.

Kepala staf angkatan bersenjata Qatar, Mayor Jenderal Salem al-Nabet, mengunjungi paviliun Iran menjelang penutupan pameran. Dia meninjau pajangan produk-produk senjata mematikan dalam kotak kaca dan mendengarkan promosi penjualan tentang senapan mesin.

Sebuah bendera raksasa AS yang mewakili kontraktor militer AS General Atomics Aeronautical Systems terlihat tergantung tepat di samping stand Iran. Kantraktor ini memajang pesawat nirawak MQ-9B.

Anehnya, paviliun Iran tidak dapat ditemukan di peta pameran, dan ini mengingatkan orang pada sanksi AS terhadap Kemhan Iran .

Partisipasi Iran dalam pemeran ini cukup mengejutkan, mengingat bahwa negara-negara Arab Teluk lainnya khawatir terhadap AS kemungkinan menghapus nama IIRGC dari daftar hitam organisasi teroris sebagai bagian dari upaya pemulihan kesepakatan nuklir dengan Iran.

Dilaporkan bahwa AS sedang mempertimbangkan penghapusan IRGC daftar organisasi teroris dengan imbalan jaminan Iran untuk mengekang aktivitas pasukan khusus elit Iran ini. Ada sumber yang mengatakan hal ini merupakan salah satu isu terbaru yang dibahas dalam pembicaraan tidak langsung untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015. (ap/reuters)

Panas, Panglima IRGC: Iran Masih akan Membalas Israel, Dominasi AS akan Tamat

Panglima pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami memperingatkan Rezim Zionis Israel untuk tidak bertindak lancang terhadap Iran, dan menegaskan bahwa Iran masih akan membalas darah martirnya.

“Kami akan membalas gugurnya para syuhada kami, dan tak cukup dengan penyelenggaraan acara mengenang saja,” tegasnya dalam sebuah acara mengenang salah satu martir Iran di Khuzestan di barat daya Iran, Rabu (23/3).

Sembari memperingatkan Israel agar tidak membuat “perhitungan keliru”, Salami mengatakan, “Kami memperingatkan mereka agar berhenti bertindak keji, karena jika tidak maka celah-celah kecilpun yang selama ini terbuka depan mereka di dunia akan tertutup.”

Dia juga menandaskan, “Bisa saja musuh mengulangi kesalahannya, tapi kami katakan kepada mereka bahwa siapa yang tak memetik pelajaran dari aneka peristiwa maka akan dipaksa masuk ke kolam ujian untuk kesekian kalinya. Jika mereka ingin merasakan lagi pahitnya pembalasan maka silakan mengulangi kesalahan. Kami berjanji untuk tidak akan pernah membiarkan musuh mengancam keamanan bangsa Iran.”

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu IRGC mengempur apa yang disebutnya sarang intelijen Israel di kota Erbil, Kurdistan Irak, dengan selusin rudal. Beberapa sumber menyebutkan bahwa serangan ini menewaskan dan melukai sejumlah perwira intelijen Israel.

Jenderal Salami menambahkan, “Abad baru dan geografi baru adalah geografi terbitnya Islam, perkembangan Muslim lebih banyak, dan pengembalian tanah-tanah Islam yang diduduki oleh para agresor non-Mulimin, terutama AS dan Zionis.”

Dia menyinggung pengakuan AS belakangan ini bahwa sanksi dan embargo justru membuat Iran dan IRGC semakin kuat dan ofensif.

“Ketika musuh melihat suatu keutamaan (Iran) maka ketahuilah bahwa keutamaan ini puluhan kali lipat lebih besar dari apa yang mereka gambarkan. Berakhirnya (dominasi) AS dan peradaban Barat sudah bermula sejak beberapa tahun silam, dan sekarang berjalan lebih cepat,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, “Kami tak mengemis kepada Barat ataupun Timur, sebab Muslimin sudah semakin kuat, dan bendera resistensipun berkibar… Ke manapun memandang di dunia, kita melihat jejak kejahatan kekuatan-kekuatan keji. Kita bertahun-tahun menyaksikan mereka mengobarkan perang, mengusir bangsa, membom bangsa-bangsa dengan bom nuklir, dan kitapun juga akan melihat tamatnya riwayat mereka.” (alalam)

Tekankan “Garis Merah”, Menlu Iran di Suriah: Pemulihan Perjanjian Nuklir Bergantung pada Sikap Realistis AS

Di tengah beredarnya kabar sejak beberapa waktu lalu bahwa perundingan nuklir Iran dengan sejumlah negara besar dunia, termasuk Amerika Serikat (AS) secara tidak langsung, di Wina akan segera mencapai kesepakatan final, Menlu Iran  Hossein Amir-Abdollahian menyatakan hal ini bergantung pada kesedian AS untuk bersikap realitis.

Dia mengatakan demikian usai pertemuan dengan sejawatnya dari Suriah, Faisal Mekdad, di Damaskus Rabu (23/3).

Dia mengaku bahwa bersama Mekdad dia telah membicarakan berbagai isu, termasuk perkembangan pembicaraan Wina mengenai perjanjian nuklir yang lazim disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

“Jika pihak Amerika bertindak realistis maka kami siap menyelesaikan kesepakatan dalam waktu dekat di hadapan para menteri luar negeri negara-negara anggota Komisi Gabungan JCPOA,” kata Amir-Abdollahian.

Perundingan di Wina dimulai hampir setahun yang lalu dengan tujuan menekan AS agar kembali mematuhi JCPOA. Di masa kepresidenan Donald Trump, AS keluar secara sepihak dari JCPOA pada 2018 dan kemudian memberlakukan kembali sanksi yang telah dicabut oleh perjanjian ini.

Joe Biden yang menggantikan Trump berbalik arah dan mengaku berminat mengembalikan negaranya kepada JCPOA, namun dalam pembicaraa di Wina dia masih enggan memenuhi tuntutan Iran agar AS memberikan jaminan bahwa negara arogan ini tidak akan keluar lagi dari JCPOA.

 â€œKami telah secara eksplisit menyatakan kepada pihak Amerika bahwa kami tidak akan meninggalkan garis merah kami,” kata Amir-Abdollahian.

Namun, dia juga tampak optimis dan mengatakan, “Kami percaya bahwa hari ini, lebih dari sebelumnya, kami semakin dekat untuk mencapai dan menyelesaikan kesepakatan di Wina.”

Dia juga mengatakan, “Kami menawarkan usulan terakhir kami ke AS melalui koordinator UE untuk mencapai titik pasti tentang perjanjian.” (alalam)

Media Israel UngkapBennet di Mesir Bahas Perubahan Sikap Arab terhadap Presiden Suriah

Surat kabar Israel Hayom melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Naftali Bennett telah berdiskusi dengan para pemimpin Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA) di Sharm el-Sheikh , Mesir, mengenai kemungkinan kembalinya Suriah ke Liga Arab, dan dampaknya terhadap Israel dan kawasan.

Surat kabar itu menyebutkan bahwa Israel menganggap Bashar al-Assad “tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin yang sah” untuk Suriah, dan bahwa “kepentingan pertama Israel adalah penarikan pasukan Iran dari Suriah, dan hubungan istimewa antara Israel dan UEA dapat mendorong aktifitas yang terkoordinasi dalam masalah ini.”

Senin lalu Bennett mengadakan pembicaraan segi tiga dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan di Mesir.

Juru bicara resmi Kepresidenan  Mesir mengatakan, “Pertemuan tersebut membahas dampak perkembangan global, terutama yang berkaitan dengan energi, stabilitas pasar, dan ketahanan pangan, serta bertukar visi dan pandangan mengenai perkembangan terbaru  sejumlah masalah internasional dan regional.” (raialyoum)