Jakarta, ICMES. Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah menangkap sejumlah diplomat yang bekerja di kedutaan asing di Teheran, termasuk asisten duta besar Inggris, dengan tuduhan telah melakukan kegiatan spionase.

Amerika Serikat mengumumkan sanksi- sanksi baru terhadap Iran di tengah berlanjutnya upaya diplomatik untuk memulihkan kesepakatan nuklir tahun 2015 Iran dengan sejumlah negara terkemuka dunia.
Pasukan Zionis Israel telah menembak dan membunuh seorang pemuda Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat dalam konfrontasi yang dipicu oleh serangan militer Israel. Hamas menyampaikan lagi seruan kebangkitan menyusul pembunuhan tersebut.
Berita Selengkapnya:
Iran Ringkus Sejumlah Warga Negara Asing, Termasuk Diplomat Inggris, dengan Dakwan Spionase
Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah menangkap sejumlah diplomat yang bekerja di kedutaan asing di Teheran, termasuk asisten duta besar Inggris, dengan tuduhan telah melakukan kegiatan spionase.
TV pemerintah Iran pada Rabu (6/7) melaporkan bahwa penangkapan itu dilakukan ketika mereka hendak meninggalkan Iran dengan membawa sampel yang terkumpul.
TV Iran menayangkan rekaman asisten duta besar Inggris Giles Whitaker mengambil sampel tanah di kawasan terlarang saat berkunjung ke Iran tengah bersama keluarganya.
“Mata-mata ini mengambil sampel tanah di gurun tengah Iran di mana latihan rudal kedirgantaraan IRGC dilakukan,” lapor TV pemerintah.
“Whitaker diusir dari (daerah itu) setelah meminta maaf,” tambah laporan itu.
Salah satu dari mereka ditahan diidentifikasi oleh TV pemerintah sebagai suami atase budaya Austria di Iran. TV itu juga menayangkan gambar orang asing ketiga, yang diidentifikasi sebagai Maciej Walczak, seorang profesor universitas di Polandia yang berkunjung ke Iran sebagai turis.
Dalam tayangan itu terlihat Walczak dan tiga rekannya mengumpulkan sampel tanah dan batu di daerah lain setelah mengunjungi Iran dalam program pertukaran ilmiah. Pengumpulan sampel itu dilakukan bertepatan dengan uji coba rudal di provinsi Kerman selatan Iran.
Dalam video yang dirilis IRGC dan diambil dengan menggunakan kamera drone, Whitaker juga terlihat jelas mengambil sampel tanah.
Sumber-sumber Iran mengatakan bahwa area yang dimasuki Whitaker adalah kawasan terlarang dan di gerbangnyapun terpasang rambu dan peringatan larangan yang ditulis dalam bahasa Persia, Inggris, dan Prancis. Dengan demikian, Whitaker sengaja memasuki wilayah militer yang dia ketahui terlarang.
Sumber –sumber itu juga menyebutkan bahwa Whitaker ditangkap di bandara Teheran ketika akan meninggalkan Iran, karena sampel di bagasinya disita. Ini berarti bahwa pihak berwenang Iran tidak segera menahannya setelah dia direkam, melainkan menunggu sampai dia bepergian, dan memastikan bahwa sampel tanah, batu, dan air yang dia ambil akan dia bawa ke luar negeri.
Beberapa foto yang dimuat oleh media Iran memperlihatkan Whitaker digelandang oleh aparat dalam kondisi mata tertutup.
IRGC telah menangkap puluhan warga negara ganda dan orang asing dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar dengan tuduhan spionase dan terkait keamanan.
Kementerian Luar Negeri Inggris pada Rabu malam membantah laporan TV pemerintah Iran bahwa IRGC telah menahan asisten duta besar Inggris dan beberapa orang asing atas klaim mata-mata. Kementerian itu menyebut laporan itu “sepenuhnya salah”.
Iran kemungkinan akan mengusir asisten duta besar Inggris tersebut dan tidak menahannya karena kekebalan diplomatik yang dia miliki sesuai Konvensi Wina, sedangkan yang lain akan ditahan dan dirujuk ke pengadilan Iran, sebagaimana biasanya pada kasus-kasus serupa di Iran.
Inggris kemungkinan juga akan membalas dengan mengusir diplomat Iran.
Peristiwa ini dikhawatirkan akan berdampak buruk pada perundingan nuklir di Doha, karena Inggris adalah pihak dalam kelompok 5+1 yang sedang bernegosiasi dengan Iran. (alalam/raialyoum)
AS Terapkan Sanksi Baru terhadap Iran di Tengah Upaya Pemulihan Perjanjian Nuklir
Amerika Serikat (AS), Rabu (6/7), mengumumkan sanksi- sanksi baru terhadap Iran di tengah berlanjutnya upaya diplomatik untuk memulihkan kesepakatan nuklir tahun 2015 Iran dengan sejumlah negara terkemuka dunia.
Dilaporkan bahwa sanksi-sanksi baru itu menyasar “jaringan individu dan entitas internasional” yang menurut Departemen Keuangan AS memfasilitasi penjualan produk minyak dan petrokimia Iran yang dikenai sanksi AS ke Asia Timur.
Sanksi itu diumumkan beberapa hari setelah diplomat Amerika dan Iran mengadakan putaran pembicaraan tidak langsung di Qatar untuk pemulihan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), perjanjian multilateral yang mengatur Iran agar mengurangi program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi terhadap ekonominya.
“Sementara AS berkomitmen untuk mencapai kesepakatan dengan Iran yang mencari pengembalian timbal balik untuk mematuhi JCPOA, kami akan terus menggunakan semua otoritas kami untuk menegakkan sanksi atas penjualan minyak bumi dan petrokimia Iran,†ungkap Brian Nelson, Wakil Menteri Keuangan untuk Terorisme dan Intelijen Keuangan AS.
Beberapa tindakan dikenakan pada sejumlah individu dan perusahaan yang berbasis di Iran, Uni Emirat Arab dan Hong Kong yang dituduh AS membantu dengan “pengiriman dan penjualan produk minyak dan petrokimia Iran senilai ratusan juta dolar dari perusahaan Iran ke Asia Timur”.
Sanksi tersebut akan membekukan aset perusahaan-perusahaan tersebut di AS, memutuskan mereka dari sistem keuangan AS dan melarang orang Amerika melakukan bisnis dengan mereka.
Departemen Luar Negeri AS juga mengeluarkan sanksi terkait Iran pada Rabu terhadap entitas yang berbasis di Iran, Vietnam, dan Singapura. (aljazeera)
Lagi, Pemuda Palestina Ditembak Mati oleh Pasukan Zionis di Tepi Barat, Hamas Geram
Pasukan Zionis Israel telah menembak dan membunuh seorang pemuda Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat dalam konfrontasi yang dipicu oleh serangan militer Israel.
Kementerian kesehatan Palestina mengidentifikasi korban sebagai Rafiq Riyad Ghannam, dan menyatakan bahwa dia terbunuh oleh tembakan pasukan Zionis di kota Jabaa, selatan Jenin, pada dini hari Rabu (6/7).
Kantor berita resmi Palestina Wafa melaporkan bahwa Ghannam berusia 20 tahun.
Ghannam ditangkap oleh pasukan Israel setelah terluka, dan gugur tak lama kemudian dalam tahanan. Jenazahnya belum diserahkan kepada keluarganya oleh militer Israel.
Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, menyatakan belasungkawa atas kejadian ini, dan menyerukan kepada penduduk Jenin untuk terus bangkit melawan Israel.
“Jenin sedang menjadi teladan dalam jihad, pengorbanan dan perlawanan gagah berani terhadap agresi, serbuan dan aksi barbar rezim pendudukan, dan terus menorehkan catatan sejarah resistensi dengan darah para pahlawan yang gugur,†seru Hamas dalam sebuah pernyataannya.
Hamas menambahkan, “Kami bertakziah kepada keluarga Syahid Ghannam dan para pecintanya, sekaligus menyerukan kepada orang-orang kami dan para pejuang kami di semua kota Tepi Barat untuk terus meningkatkan resistensi dan konfrontasi melawan musuh, melanjutkan jejak Jenin dengan semua kamp dan daerahnya yang teguh bertahan, dan menggagalkan rencana-rencana agresif rezim pendudukan, sampai kita raih kebebasan dan kepulangan kita dalam waktu dekat.â€
Konfrontasi pecah pada Rabu pagi setelah pasukan Israel menyerbu Jabaa.
Tentara Israel melakukan operasi penyerbuan dan penangkapan hampir setiap hari ke kota-kota Palestina di Tepi Barat, dan sering mengakibatkan warga Palestina terluka atau bahkan terbunuh.
Pasukan Israel menangkap sedikitnya 42 warga Palestina pada Rabu malam, termasuk 30 orang dari kota Silwad dekat Ramallah.
Tentara Israel mengintensifkan serangan di daerah Jenin selama beberapa bulan terakhir.
Setidaknya 50 warga Palestina terbunuh sejak akhir Maret lalu di Israel dan wilayah Palestina oleh pasukan Israel, termasuk jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh, yang terbunuh pada 11 Mei ketika dia sedang meliput kerusuhan di kamp pengungsi Jenin.
19 orang juga tewas di Israel dalam serangan oleh orang-orang Palestina selama periode yang sama. (alalam/aljazeera)







