Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 7 Januari 2021

para pemimpin GCCJakarta, ICMES. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran merilis pernyataan yang mengecam deklarasi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Dewan Kerjasama Teluk (GCC), dan membantah tuduhan terhadap Iran yang disebutkan dalam deklarasi itu.

Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan negaranya menyambut baik jika  presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden bersedia melakukan tindakan apapun untuk “mengkompensasi kesalahan di masa lalu”.

Menteri Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran, Brigjen Amir Hatami, dalam surat yang ditujukan kepada para menteri pertahanan lebih dari 60 negara menegaskan bahwa ada “bukti tak terbantahkan” bahwa Israel terlibat dalam pembunuhan ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh.

Bidang kearsipan militer Israel untuk pertama kalinya mengungkap informasi dan video dampak serangan mantan diktator Irak mendiang Saddam Hussein terhadap Israel dengan rudal Scud dalam Perang Teluk II pada 30 tahun silam.

Berita Selengkapnya:

Iran Kecam Deklarasi KTT Dewan Kerjasama Teluk di Saudi

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran merilis pernyataan yang mengecam deklarasi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Dewan Kerjasama Teluk (GCC), dan membantah tuduhan terhadap Iran yang disebutkan dalam deklarasi itu.

“Tuduhan-tuduhan di dalamnya adalah pengulangan, tak berdasar, dan muncul akibat tekanan politik Saudi terhadap dewan ini… Sebagian negara GCC bersikeras menempuh jalan keliru, bersikukuh memburuk-burukkan Iran, bukannya merevisi pandangan mereka terhadap isu-isu regional pasca rekonsialisi Teluk, ” ungkap kementerian itu, Rabu (6/1).

Kemenlu Iran menambahkan, “Kami mengecam keras dukungan jelas sebagian negara GCC kepada terorisme ekonomi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran, dan menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap prinsip kerukunan bertetangga.”

Kementerian ini menyatakan harapannya kepada GCC agar “memperhatikan realitas regional, alih-alih mengeluarkan pernyataan hasil salinan yang menjurus pada kelanjutan proses sabotase saat ini, dan mengarahkan pendekatannya ke arah dialog dan kerjasama regional, alih-alih membentuk aliansi-aliansi aksial.”

Kemenlu Iran menegaskan bahwa “kebijakan regional rezim Saudi dan pendekatan destruktifnya terhadap Republik Islam Iran dan negara-negara lain menyebabkan hilangnya sebagian besar kekayaan negara-negara tetangga, dan mengubah kawasan menjadi gudang senjata bagi perusahaan-perusahaan Barat.”

Kementerian ini juga menuding “rezim Saudi mempromosikan kebencian dan kekerasan di kawasan, dengan menjadikan GCC dan pertemuan-pertemuannya sebagai sandera dan memaksakan pandangan destruktifnya.”

Iran menegaskan bahwa “kebijakan irasional” beberapa negara di kawasan cenderung menghancurkan peluang kerjasama yang telah disediakan Iran dalam beberapa tahun terakhir untuk membangun keamanan dan stabilitas di kawasan di saat Rezim Zionis Israel terus menebar kejahatan terhadap Palestina.

Kementerian itu juga menekankan bahwa Iran “tidak akan membiarkan negara-negara GCC mencampuri program nuklir dan misil Iran serta masalah militer dan pertahanannya.”

GCC menggelar KTT ke-41 di kawasan Al-Ula, Saudi, Selasa (5/1). KTT ini juga dihadiri oleh Emir Qatar sehingga menandai rekonsialisi Qatar dengan Saudi setelah tiga tahun bermusuhan. Pada kesempatan ini Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman mengangkat isu bahaya Iran bagi negara-negara Arab Teluk. (raialyoum)

Rouhani Desak Biden Mengkompensasi Kesalahan AS di Masa Lalu

Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan negaranya menyambut baik jika  presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden bersedia melakukan tindakan apapun untuk “mengkompensasi kesalahan di masa lalu” dan mengembalikan Washington kepada kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 dengan kepatuhan penuh.

“Kami akan menyambut baik setiap langkah oleh pihak lain (AS) untuk menyerah pada aturan hukum,” ujarnya dalam rapat kabinetnya, Rabu (6/1).

Ditujukan kepada pemerintahan AS mendatang, Rouhani mengatakan, “Jika Anda memenuhi semua komitmen Anda, kami juga akan kembali mematuhi secara penuh komitmen kami; jika tidak, kami tidak akan pernah menyerah (pada tekanan Anda). ”

Pada 8 Mei 2018, Presiden AS Donald Trump secara sepihak mengeluarkan negaranya dari perjanjian nuklir Iran, JCPOA, dan mengumumkan penerapan kembali sanksi nuklir terhadap Iran sehingga praktis melanggar komitmen Washington kepada JCPOA. Meski demikian, Trump gagal mendesak Iran untuk merundingkan kesepakatan baru.

Tindakan Trump itu mengundang kecaman luas dari dalam dan luar negeri AS.  Menanggapi tindakan itu serta kegagalan Eropa melindungi perdagangan dengan Teheran, Iran secara bertahap mulai mengurangi komitmennya kepada JCPOA setelah memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang tersisa dalam kesepakatan itu untuk mengkompensasi kerugian yang diderita Iran akibat tindakan Trump.

Dalam langkah terbarunya, Iran memulai proses pengayaan uranium hingga kemurnian 20 persen di fasilitas nuklir Ferdow awal pekan ini, namun sembari menyatakan bahwa tindakan ini dapat diurungkan jika semua pihak bersedia mengimplementasikan secara penuh komitmen mereka kepada JCPOA. (mna)

Menhan Iran: Ada “Bukti Tak Terbantahkan” Keterlibatan Israel dalam Pembunuhan Fakhrizadeh

Menteri Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran, Brigjen Amir Hatami, dalam surat yang ditujukan kepada para menteri pertahanan lebih dari 60 negara menegaskan bahwa ada “bukti tak terbantahkan” bahwa Israel terlibat dalam pembunuhan ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh.

Tanpa memberikan rincian, dalam surat itu Hatami menyebutkan: “Ada bukti kuat bahwa entitas Zionis terlibat dalam pembunuhan ini.”

Dia menyerukan kepada masyarakat internasional untuk “mengutuk tindakan ilegal, kriminal dan tidak manusiawi ini”.

“Mengabaikan kejahatan ini menyebabkan terulangnya kembali dan ketidakamanan di dunia,” lanjutnya sembari menekankan bahwa Iran berhak melakukan pembalasan, seperti dilansir IRNA, Rabu (6/1).

Ilmuwan nuklir Iran Fakhrizadeh terbunuh dalam serangan terhadap konvoi mobilnya pada November 2020, dan Iran segera menuduh Amerika Serikat dan Israel ada balik serangan teror tersebut. (raialyoum)

Setelah 30 Tahun, Israel Ungkap Jumlah Korban Tewas Serangan Rudal Scud Saddam Hossein

Bidang kearsipan militer Israel untuk pertama kalinya mengungkap informasi dan video dampak serangan mantan diktator Irak mendiang Saddam Hussein terhadap Israel dengan rudal Scud dalam Perang Teluk II pada 30 tahun silam.

Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth, Rabu (6/1), menerbitkan laporan arsip tentara Israel yang menyebutkan bahwa kewaspadaan Israel pada saat itu terfokus pada kemungkinan penggunaan senjata kimia oleh Saddam dalam serangan tersebut.

Dilaporkan bahwa dari tanggal 18 Januari hingga 25 Februari 1991 tak kurang dari 43 rudal jatuh ke Israel dalam 19 serangan yang diluncurkan dari Irak barat.

Tel Aviv di bagian tengah Israel (Palestina pendudukan 1948) adalah kawasan yang paling menjadi sasaran rudal Irak pada saat itu, yaitu dihantam 26 rudal, sedangkan kota Haifa di bagian utara dihantam 8 rudal, permukiman Shimron di bagian utara wilayah pendudukan Tepi Barat 4 rudal, dan wilayah Negev 5 rudal.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa serangan itu di Israel melukai 229 orang dan menewaskan 14 orang. Selain itu, sebanyak 222 orang Israel menyuntik diri dengan atropin, obat yang berguna dalam kasus-kasus menghirup gas beracun, dan 530 orang mengalami trauma.

Arsip itu dipublikasi di tengah eskalasi ketegangan negara Zionis ilegal tersebut dengan Republik Islam Iran. (raialyoum)