Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 5 November 2020

rouhani dan trumpJakarta, ICMES. Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan bahwa yang penting bagi Iran bukanlah siapa yang akan menjadi presiden AS selanjutnya, melainkan kepatuhan AS kepada undang-undang (UU) dan konvensi internasional serta penghormatan kepada bangsa Iran.

Pemerintah Irak menegaskan sikapnya mengenai hubungan Negeri 1001 Malam ini dengan Israel, dan menyerukan kepada para politisi agar menjaga perasaan bangsa Palestina.

Pasukan keamanan Mesir menangkap dai kondang Syeikh Mustafa Al-Adawi, menyusul ceramah panasnya mengenai kasus penistaan Nabi Muhammad saw di Prancis.

Saluran resmi  Kan milik Israel melaporkan bahwa seorang pejabat militer “terkemuka” Yordania telah dibawa ke rumah sakit Israel di kota Quds (Yerussalem) untuk segera mendapat perawatan medis setelah terinfeksi Covid-19.

.Berita Selengkapnya:

Rouhani: Tak Penting Siapa Presiden AS Selanjutnya

Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan bahwa yang penting bagi Iran bukanlah siapa yang akan menjadi presiden AS selanjutnya, melainkan kepatuhan AS kepada undang-undang (UU) dan konvensi internasional serta penghormatan kepada bangsa Iran.

“Pemilu terbaru di AS mengandung beberapa pelajaran dari berbagai aspek, yang tak ingin kami mendalaminya sekarang…. Tidak penting bagi kami partai dan orang yang menang dalam pemilu AS, yang penting adalah metode dan kebijakan yang akan diambil oleh pemerintahnya yang akan datang. AS hendaknya kembali kepada UU dan semua kesepakatan internasional dan multilateral serta penghormatan kepada bangsa Iran. Kami ingin penghormatan menggantikan sanksi,” ungkap Rouhani, Rabu (4/11/2020).

“Jika AS menyudahi sanksi, menghormati bangsa Iran, menyudahi ancaman, dan berusaha menerapkan komitmen, alih-alih melanggar perjanjian dan pelanggaran UU, maka kondisi akan berbeda,” lanjutnya.

Presiden Iran mengatakan, “Kami membuat perencanaan dengan asumsi bahwa AS tidak akan kembali kepada moral dan jalan yang benar. Jika AS memetik pelajaran dan memahami bahwa semua tekanan  yang dilakukannya selama tiga tahun terakhir ini tidaklah berhasil, dan bahwa mereka harus menempuh jalan lain maka itulah sebaiknya, sedangkan jika tidak demikian maka keputusan kami adalah berasumsikan mekanisme pengelolaan negara dalam situasi sulit.”

Rouhani juga mengecam penistaan Nabi Muhammad saw di Prancis sekaligus tindakan kriminal yang berdalih membela Islam semisal serangan ke tempat peribadatan dan sekolah.

“Dalam beberapa hari ini kita melihat peristiwa-peristiwa aneh semisal serangan ke sekolah atau universitas dengan anggapan demi membela Islam dan Nabi Besar saw. Mereka semua berdusta, mereka bukan pembela Nabi saw,” kecamnya.

Dia juga menegaskan, “Mereka yang salah berbicara mengenai Nabi saw itu tidaklah mengerti sirah dan akhlak Rasul saw. Keinginan membunuh atau menyerang tempat peribadatan atau universitas berlawanan dengan sirah Rasul saw.” (alalam)

Baghdad Tegaskan Konstitusi Irak Larang Normalisasi Hubungan dengan Israel

Pemerintah Irak menegaskan sikapnya mengenai hubungan Negeri 1001 Malam ini dengan Israel, dan menyerukan kepada para politisi agar menjaga perasaan bangsa Palestina.

Jubir Perdana Menteri Irak Amhed Mulla Talal dalam wawancara televisi, Rabu (4/11/2020), mengatakan, “Undang-undang Irak, sesuai konstitusi yang telah disepakati, melarang normalisasi hubungan dengan Israel. Apa yang telah terjadi berupa penandatangan perjanjian damai Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Sudan dengan Israel adalah urusan internal negara-negara itu, dan mereka lebih mengetahui kondisi politik dan hubungan luar negeri mereka sendiri.”

Talal menambahkan bahwa di Irak bisa jadi ada partai atau faksi politik yang memiliki pendirian yang berbeda dan melakukan gerakan-gerakan tertentu yang tak diungkap, namun “itu tidak akan mengubah proses bangsa dan pemerintah negara ini secara umum, yang menyatakan dukungannya kepada Palestina dan status Al-Quds sebagai ibu kotanya.”

“Ada pihak-pihak politik yang mengarahkan publiknya agar menerima normalisasi hubungan dengan Israel, dan mereka berafiliasi dengan faksi politik besar, dan ini dengan sendirinya merefleksikan perselisihan antarkomponen pemerintah,” imbuhnya.

Amhed Mulla Talal kemudian menyerukan kepada para pemimpin faksi supaya “memberi pelajaran tegas” kepada para wakil partai agar tidak mengarahkan pemerintah kepada normalisasi hubungan dengan Israel. (alalam)

Buntut Kontroversi Macron, Seorang Dai Kondang Mesir  Beraliran Wahhabi Ditangkap

Pasukan keamanan Mesir menangkap dai kondang Syeikh Mustafa Al-Adawi, menyusul ceramah panasnya mengenai kasus penistaan Nabi Muhammad saw di Prancis.

Ribuan pengikut Syekh yang beraliran Salafi/Wahhabi menunjukkan kesedihan yang mendalam setelah mengumumkan penangkapannya saat berada di rumahnya pada dini hari Rabu (4/11/2020). Diduga bahwa dia ditangkap lantaran ceramahnya yang banyak menghujat orang-orang disebutnya kafir.

Dalam ceramah yang rekaman videonya diposting di halaman Facebook resminya, Al-Adawi menyoal bagaimana mungkin orang yang terlibat praktik riba dan mengikuti kebiasaan orang kafir akan tersinggung oleh penistaan terhadap Nabi Muhammad saw.

“Bagaimana kita berduka atas penistaan terhadap Rasul kita yang mulia, bagaimana kita mengikuti orang-orang yang menistakan Rasul yang mulia, sementara mereka mendirikan bank-bank riba, dan karena itu mereka lantas menyeru orang-orang untuk mengikuti mereka dalam riba, mengikuti mereka dalam memperhias diri,  dan mengikuti mereka dalam mode baru yang berasal dari mereka?” cecarnya.

Dai yang beberapa video ceramahnya telah disubtitle bahasa Indonesia dan diunggah di Youtube tersebut menambahkan, “Betapa tak masuk akal, orang kafir yang menghalangi (orang lain) dari jalan Allah, dan memperolok Rasulullah mendatangi kita dengan sampah pakaian, makanan dan minuman, dan kitapun menirunya dalam pakaian, makanan, dan minumannya.”

Sembari menghujat “orang kafir” dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Al-Adawy lantas menyerukan supaya masyarakat meninggalkan tradisi “negara-negara kafir” serta menggali dan mengikuti sunnah Rasul.

“Kita sebagai Muslimin harus berpegangan pada petunjuk Rasul kita, Muhammad, mencamkan dalam-dalam kitab suci Tuhan kita, melihat apa gerangan yang dikehendaki Tuhan kita kepada kita untuk kita mengikutinya, tidak mengikuti jejak orang-orang yang lalai itu, tidak mengikuti kebiasaan, tradisi, dan keyakinan-keyakinan bobrok yang masuk kepada kita dari negara-negara kafir. Celakalah orang-orang kafir di manapun mereka berada…. Celakalah presiden kafir, presiden kafir Prancis yang menentang Allah dan Rasul-Nya, celakah dia, celakalah dia, celakalah dia, ” hujat Al-Adawy. (raialyoum)

Media Israel: Petinggi Militer Yordania Dilarikan ke Rumah Sakit Israel karena Positif Covid-19

Saluran resmi  Kan milik Israel melaporkan bahwa seorang pejabat militer “terkemuka” Yordania telah dibawa ke rumah sakit Israel di kota Quds (Yerussalem) untuk segera mendapat perawatan medis setelah terinfeksi Covid-19.

Media itu menambahkan bahwa pejabat militer Yordania itu dalam kondisi kritis sehingga dilarikan dengan helikopter militer ke rumah sakit Hadassah Ein Karem, dan kemudian dirawat di unit perawatan intensif.

Tanpa menyebutkan nama, Kan mengabarakan bahwa pejabat itu adalah petinggi bidang medis angkatan bersenjata Yordania.

Belum ada komentar segera dari pemerintah Yordania mengenai laporan tersebut.

Pada Ahad lalu militer Yordania mengumumkan bahwa Direktur Jenderal Layanan Medis Kerajaan, Adel Al-Wadneh, terinfeksi Covid-19.

Yordania terikat perjanjian damai dengan Israel sejak tahun 1994, dan merupakan satu dari empat negara Arab yang menjalin perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel.  Tiga negara lainnya adalah Uni Emirat Arab dan Bahrain yang menjalin perjanjian normalisasi pada tahun 2020, dan Mesir pada tahun 1979. (raialyoum)