Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 5 Maret 2020

suriah bashar al-assadJakarta, ICMES. Presiden Suriah Bashar Assad menyatakan heran mengapa pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan di Turki sedemikian memusuhi pemerintahan Assad padahal Suriah tak pernah mengagresi Turki.

Pasukan Arab Suriah (SAA) kembali menguasai sejumlah desa di sekitar kota Saraqib, Rabu (4/3/2020). Demikian dinyatakan oleh sumber militer kepada RT milik Rusia.

Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, menyatakan pihaknya mendukung integritas dan kedaulatan Suriah, sembari memastikan Hamas sama sekali tidak terlibat dalam konfrontasi militer di Provinsi Idlib, Suriah.

35 teroris Suriah bayaran Turki dilaporkan tewas dan beberapa lainnya terluka dalam satu kali gempuran di Tripoli, Libya.

Berita selengkapnya:

Assad Tegaskan Suriah Tak Pernah Mengagresi Turki

Presiden Suriah Bashar Assad menyatakan heran mengapa pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan di Turki sedemikian memusuhi pemerintahan Assad padahal Suriah tak pernah mengagresi Turki.

Keheranan itu dikatakan Assad dalam wawancara dengan saluran Russia-24, Rabu (4/3/2020), saat ditanya ihwal pesannya kepada bangsa Turki.

“Tentu saja  kami katakan bahwa mereka (bangsa Turki) adalah saudara sendiri. Sekarang saya ingin bertanya kepada bangsa Turki; apa perkara kalian dengan Suriah? Apa perkaranya sehingga warga negara Turki layak mati karenanya? Apa agresi besar ataupun kecil yang pernah dilakukan Suriah terhadap Turki selama perang ataupun sebelum perang ini? Sama sekali tidak ada,” ungkap Assad.

Presiden Suriah menambahkan, “Ada hubungan pernikahan dan kekeluargaan, ada kepentingan (kolektif) sehari-hari antara Suriah dan Turki, di Turki ada kalangan-kalangan yang berasal dari Arab Suriah, dan di Suriahpun adalah kalangan-kalangan yang berasal dari Turki.”

Assad kemudian menegaskan bahwa perbauran itu ada sepanjang sejarah kedua negara, dan karena itu “tidak masuk akal jika terjadi pertikaian” antara Suriah dan Turki. (rt)

Tentara Suriah Kuasai lagi Beberapa Desa di Sekitar Kota Saraqib

Pasukan Arab Suriah (SAA) kembali menguasai sejumlah desa di sekitar kota Saraqib, Rabu (4/3/2020). Demikian dinyatakan oleh sumber militer kepada RT milik Rusia.

Sumber anonim itu menjelaskan bahwa sekelompok kawanan bersenjata menyerang beberapa posisi SAA di daerah Talbisah di bagian utara Provinsi Homs.

Kantor berita Suriah, SANA, melaporkan bahwa satuan-satuan SAA menghadang serangan kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Turki dari beberapa arah ke desa Tarnabah di barat Saraqib dan Athar Shansharah di kawasan Maarat al-Nouman di tenggara Provinsi Idlib.”

SANA menambahkan bahwa SAA menghadapi serangan itu “taktik akurat” dan menggempur para penyerang secara intensif hingga berhasil mematahkan serangan itu setelah menewaskan dan melukai beberapa orang di barisan kawanan bersenjata.

Bersamaan dengan ini, SAA melanjutkan operasi militer yang terfokus di daerah Safuhan di bagian selatan Provinsi Idlib. Mereka menggempur titik-titik konsentrasi dan jalur-jalur logistik kawanan bersenjata dengan serangan rudal berpresisi serta melanjutkan gerak majunya di daerah tersebut.

Kementerian Pertahanan Turki mengumumkan dua lagi tentara negara ini tewas dan enam lainnya terluka akibat serangan udara Suriah di barat laut Suriah. Dengan demikian, Turki secara resmi mencatat 39 tentaranya tewas dalam konfrontasi yang berlangsung dalam dua pekan terakhir di Suriah.

Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) melaporkan bahwa pesawat-pesawat nirawak dan unit artileri Turki melanjutkan serangannya ke posisi-posisi SAA di kota Saraqib dan sekitarnya di timur kota Idlib, Rabu.

SOHR menambahkan bahwa jet-jet tempur Rusia juga melancarkan serangannya ke beberapa lokasi di sekitar Saraqib dan Sarmin.

Pertempuran itu berlanjut sehari menjelang pertemuan yang dijadwalkan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Moskow pada hari ini, Kamis, untuk meredakan situasi di Idlib. (rt/raialyoum)

Haniyeh Nyatakan Hamas Tidak Terlibat dalam Pergerakan Militer Idlib

Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, menyatakan pihaknya mendukung integritas dan kedaulatan Suriah, sembari memastikan Hamas sama sekali tidak terlibat dalam konfrontasi militer di Provinsi Idlib, Suriah.

Dalam konferensi pers di markas kantor berita Rossiya Segodnya, Moskow, ibu kota Rusia, Rabu (4/3/2020), dia mengatakan tak ada petempur Hamas di Suriah karena memang tidak terlibat dalam urusan Surian.

“Kami ada di Suriah selama 10 tahun, dan sejarah ini tak mungkin kami lupakan. Tak ada kebijakan politik ataupun keputusan gerakan Hamas untuk terlibat dalam masalah Suriah. Hamas keluar dari Suriah dan tak ada ekor yang tertinggal di Suriah. Saya menepis sepenuhnya keberadaan petempur atau syuhada Hamas di Idlib, ataupun pra-Idlib, atau dalam revolusi Suriah,” tegas Haniyeh yang mengadakan kunjungan ke Rusia.

Dia kemudian menekankan dukungan Hamas kepada integritas Suriah dan pemerintah Damaskus dalam menjalankan kedaulatannya di semua wilayah Suriah. Dia juga berharap “Suriah dapat kembali menjalankan peranan secara normal di kawasan.” (rt)

“35 Teroris Suriah Bayaran Erdogan Tewas di Libya”

Juru bicara Tentara Nasional Libya (Libyan National Army/LNA) pimpinan Halifa Khaftar, Mayjen Ahmed al-Mismari, menyatakan sebanyak 35 “teroris Suriah bayaran Erogan (Presiden Turki)” tewas dan beberapa lainnya terluka dalam satu kali gempuran LNA di kawasan Salahuddin di Tripoli, ibu kota Libya.

Seperti dilaporkan portal berita Libya 24, al-Mismari dalam konferensi pers, Rabu (4/3/2020), menyatakan bahwa milisi-milisi yang berkuasa di Tripoli, ibu kota Libya, telah melarikan kekayaan ke luar negeri, sementara rakyat Libya mengalami kesulitan di bidang keuangan.

Dia juga menyatakan bahwa LNA telah menembak jatuh 6 unit drone yang digunakan oleh pasukan Pemerintahan Kesepakatan Nasional (Government of National Accord/GNA) dalam beberapa hari terakhir.

“Artileri GNA mengancam ketentraman hidup di kawasan Qasr bin Ghashir di selatan Tripoli,” imbuhnya,

Dia menyebutkan bahwa kontak senjata antara LNA dan GNA berlangsung di kawasan al-Hadbah, dan seorang gembong teroris al-Qaida asal Mesir yang memiliki julukan Abu al-Yaqdhan sekarang berada di Tripoli.

Menurut al-Mismari, utusan PBB untuk Libya Ghassan Salame masuk ke negara ini melalui “pintu yang salah dan terjerumus ke dalam jurang”.

Senin lalu Salame menyatakan permohonan dirinya untuk mundur dari jabatan itu kepada Sekjen PBB Antonio Guterres dengan alasan kondisi kesehatannya tidak mendukungnya untuk melanjutkan upaya mediasi PBB dalam konflik Libya.

Salame saat menjalankan misinya telah mencanangkan tiga proses militer, ekonomi, dan politik yang mempertemukan kedua pihak yang berkonflik di Libya dan dengan dukungan internasional sesuai keputusan konferensi di Berlin, Jerman, pada 19 Januari lalu. Namun, pertemuan untuk proses militer di Jenewa, Swiss, pada bulan lalu tidak membuahkan hasil signifikan. (mraialyoum)