Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 5 Januari 2023

Jakarta, ICMES. Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menegaskan bahwa posisi Iran dalam isu gender adalah posisi menggugat dan ofensif, bukan defensif, di depan klaim-klaim hikpokrit Barat.

Kubu oposisi,  pemberontak, dan teroris bersenjata di Suriah kecewa dan gelisah menyusul santernya pemberitaan bahwa Ankara, yang selama ini getol mendukung mereka, belakangan malah memperlihatkan minatnya untuk menormalisasi hubungan dengan Damaskus.

Kepala Dewan Tinggi Politik Yaman atau kepala pemerintah Yaman kubu Sanaa, Mahdi Al-Mashat, dalam kunjungan ke kota Taiz dan Front Al-Barah menegaskan pihaknya sedang menantikan dimulainya lagi perang melawan Arab Saudi dan sekutunya.

Berita Selengkapnya:

Soal Isu Gender, Ayatullah Khamenei: Posisi Iran Ofensif terhadap Barat, Bukan Defensif

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menegaskan bahwa posisi Iran dalam isu gender adalah posisi menggugat dan ofensif, bukan defensif, di depan klaim-klaim hikpokrit Barat.

Dalam kata sambutannya pada pertemuan dengan ratusan aktivis dan cendikiawan wanita di berbagai bidang kebudayaan, sosial dan sains, Rabu (4/1), Ayatullah Khamenei bicara panjang lebar mengenai perspektif Islam yang “maju dan adil” dalam isu gender dan kemanusiaan, hukum dan kewajiban, tanggungjawab personal dan rumah tangga, serta peran dan kewajiban sosial. Dia balik menilai sikap Barat justru merugikan dan berkhianat terhadap kaum wanita.

“Wanita sebagai istri adalah manifestasi cinta dan pemberi ketenangan, dan sebagai ibu  adalah teladan dalam hidup. Tentu harus disebutkan bahwa pengelolaan rumah tangga tak berarti keberkutatan dalam rumah, melainkan berarti pengutamaan rumah tangga sembari tetap beraktivitas di berbagai bidang sosial,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, “Pendirian Republik Islam (Iran) terhadap klaim-klaim hipokrit Barat dalam isu wanita adalah menggugat dan ofensif, sebab Barat yang bermodernisasi dan budaya Barat yang dekaden memang bersalah dalam hal ini. Mereka melakukan kejahatan terhadap citra dan martabat wanita.”

Sembari menyebutkan beberapa ayat suci Al-Quran, Ayatullah Khamenei memandang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan secara kemanusiaan dan gender sudah menjadi ketetapan Islam.

“Dalam norma keislaman dan kemanusiaan, tak ada bedanya antara laki-laki dan perempuan,” ungkapnya.

Menurutnya, dalam perspektif Islam, hak dan kewajiban laki-laki dan wanita memang berbeda, tapi seimbang.

“Ada perbedaan watak antara perempuan dan laki-laki, dan ini berpengaruh pada tanggungjawab personal dalam rumah tangga dan masyarakat, dan tentu perempuan ataupun laki-laki tak boleh bertindak menyalahi watak ini,” tuturnya.

Pemimpin Besar Iran menilai kewajiban laki-laki dan perempuan di tengah masyarakat dan isu-isu sosial sebagai “kewajiban yang sama namun dengan peran dan format yang berbeda”.

“Kebalikan dari sistem kapitalisme Barat yang secara esensial maskulin, laki-laki dan perempuan menurut pandangan Islam sama-sama menempati posisi spektakuler dalam beberapa persoalan, dan mereka memiliki berbagai keistimewaan hukum, intelektual, teoritis dan praktis, tapi orang-orang Barat secara keliru malah mengalamatkan pada Islam pendekatan Barat yang secara esensial maskulin,” terang Ayatullah Khamenei.

Menyinggung landasan ideologis kapitalisme, yaitu “keutamaan modal atas manusia”, Ayatullah Khamenei mengatakan, “Menurut perspektif ini, setiap orang yang dapat menambah kekayaan maka kekayaan ini akan semakin memiliki nilai esensial baginya, dan tentu, bertolak dari karakteristik laki-laki dalam menghimpun modal, kapitalisme menjadi sistem yang berwatak kelaki-lakian.”

Menurut Ayatullah Khamenei, pandangan Barat terhadap kaum wanita di bidang keprofesian mengacu pada aspek birahi, dan ini merupakan pelanggaran substansial Barat terhadap wanita.

“Tujuan substansial kampanye kebebasan wanita di Barat ialah menggiring wanita keluar dari rumah-rumah ke tempat-tempat industri untuk mengeksploitasi mereka sebagai buruh murahan,” ungkapnya.

Mengenai hijab, Ayatullah Khamenei mengatakan, “Tak syak lagi, hijab merupakan keharusan syar’i yang mendapat penekanan, tapi keharusan yang ditekankan ini tak boleh sampai menjurus pada dakwaan bahwa orang yang tak sepenuhnya konsisten pada hijab adalah orang yang tak beragama dan memusuhi revolusi (Islam Iran).”

Dia kemudian menyebutkan bahwa layanan Republik Islam Iran kepada kaum wanita sangat signifikan dan tak mungkin terlupakan.

Dia mengatakan, “Sebelum revolusi, hanya ada sedikit wanita cendikiawan, ilmuwan dan peneliti, namun revolusi menyebabkan pertumbuhan ilmuwan dan akademikus wanita, sampai-sampai jumlah mahasiswi  terkadang melebihi jumlah mahasiswa dalam beberapa tahun, dan  sejumlah besar perempuan bekerja di berbagai cabang sains dan teknologi.”

Mengenai gerakan anti-hijab yang sempat heboh selama beberapa waktu di Iran belum lama ini, dia menyoal, “Siapa yang melakukan upaya-upaya itu dan menebar seruan demikian? Kaum perempuan sendirilah yang bangkit melawan (gerakan itu). Para kontra-hijab berharap orang-orang perempuan yang tak sempurna dalam mengenakan hijab bersedia melepas hijab secara total, tapi orang-orang perempuan ini tak sudi bertindak demikian, dan malah menampar mulut para penyeru pencampakan hijab.” (alalam)

Ankara Ingin Normalisasi Hubungan dengan Damaskus, Pemberontak Suriah Ketar-Ketir

Kubu oposisi,  pemberontak, dan teroris bersenjata di Suriah kecewa dan gelisah menyusul santernya pemberitaan bahwa Ankara, yang selama ini getol mendukung mereka, belakangan malah memperlihatkan minatnya untuk menormalisasi hubungan dengan Damaskus.

Kubu itu mendesak Turki agar menegaskan kembali dukungannya kepada tujuan mereka menyusul pembicaraan tingkat tertinggi antara Ankara dan Damaskus selama Suriah dilanda perang sejak tahun 2011.

Menurut seorang pejabat Turki,Menhan Turki dan Suriah bertemu di Moskow pada 28 Desember dengan topik pembicaraan mengenai migrasi dan militan Kurdi berdasarkan perbatasan Suriah-Turki. Hal ini tak pelak membangkitkan kecewa dan kegelisahan kubu oposisi Suriah.

Kepala Hayat Tahrir al-Sham , yang semula bernama Jabhat al-Nusra, cabang Al-Qaeda di Suriah dan turut getol memerangi pemerintah Suriah, dalam sebuah video yang dirilis pada hari Senin lalu menyebut  pembicaraan antara Suriah, Rusia dan Turki sebagai “penyimpangan yang berbahaya”.

Ahrar al-Sham, kelompok teroris lain, menyatakan bahwa meskipun dapat “memahami situasi sekutu Turki kami”, mereka bahkan “tidak dapat berpikir untuk berdamai” dengan pemerintah Suriah.

Ankara berusaha meyakinkan oposisi dengan pernyataan Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar bahwa Turki tidak akan mengambil langkah apa pun yang akan menimbulkan masalah bagi mereka.

“Seharusnya mereka tidak mengambil sikap berbeda dengan mengandalkan provokasi atau berita bohong,” kata Akar, Rabu (4/1).

Sehari sebelumnya, Koalisi Nasional Suriah, sebuah organisasi payung oposisi, menemui Menlu Turki Mevlut Cavusoglu, dan dia pun lantas meyakinkan bahwa Turki akan terus mendukung “institusi oposisi Suriah dan warga Suriah di daerah yang dikuasai oposisi”, menurut keterangan kepala pemerintah sementara oposisi yang didukung Turki, Abdurrahman Mustafa. (aljazeera)

Al-Mashat: Sanaa Menunggu Perang Dimulai lagi, Kapanpun

Kepala Dewan Tinggi Politik Yaman atau kepala pemerintah Yaman kubu Sanaa, Mahdi Al-Mashat, dalam kunjungan ke kota Taiz dan Front Al-Barah, Rabu (4/1), menegaskan pihaknya sedang menantikan dimulainya lagi perang melawan Arab Saudi dan sekutunya.

Dia memuji peran penduduk provinsi Taiz dalam menjaga berbagai front dan dalam berjuang melawan agresi AS, Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

“Menghadapi agresi, memperkuat sisi militer, dan menyuplai front masih menjadi prioritas kami. Kami harus waspada dan siap. Kami menunggu perang kembali kapan saja, dan kami siap untuk itu,” tandasnya.

Al-Mashat menekankan bahwa keteguhan dan kesabaran para pejuang di garis depan sedang menorehkan sejarah dan prospek cerah Yaman dan bangsanya yang  pantang menerima penghinaan, penistaan, invasi dan pendudukan.

Dia menunjukkan bahwa bangsa Yaman tertolong oleh kesabaran, ketabahan, kebanggaan, dedikasi, dan pengorbanan mereka dalam menghadapi tantangan, terutama agresi dan blokade. (alalam)