Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 31 Januari 2019

forum ulama di damaskusJakarta, ICMES: Pertemuan “Forum Ulama” ke-14 yang melibatkan 500 ulama, cendikiawan, dan tokoh keagamaan Islam Sunni dan Syiah dari berbagai negara telah diselenggarakan di Damaskus, ibu kota Suriah.

Petinggi intelijen Amerika Serikat mengingatkan Israel agar tidak melakukan serangan terhadap Iran di wilayah Suriah karena dapat memancing serangan balasan “konvensional” dari Iran yang telah mengirim penasehat militer ke Suriah.

Kepala Staf Umum Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim bahwa Hizbullah sedang bekerja keras menyiapkan kondisi yang memungkinkan bagi serangan militer ke wilayah Israel.

Berita selengkapnya:

500 Ulama Sunni Dan Syiah Di Damaskus Tegaskan Pembangunan Peradaban Islam Moderat

Pertemuan “Forum Ulama” ke-14 yang melibatkan 500 ulama, cendikiawan, dan tokoh keagamaan Islam Sunni dan Syiah dari berbagai negara telah diselenggarakan di Damaskus, ibu kota Suriah, dengan tema “Peran Ulama  Dalam Penguatan Makna Kewarganegaraan dan Penjagaan Tanah Air”, Rabu (30/1/2019).

Pejabat bidang hubungan Arab dan regional kelompok pejuang Hizbullah Lebanon, Syeikh Hassan Izzuddin, mengatakan, “Sangat penting dalam konteks rekonstruksi bahwa kita tak boleh melupakan pengembalian karakter manusia yang menjadi dasar pembangunan negeri.”

Pertemuan ini diprakarsai oleh Kantor Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran di Suriah bekerjasama dengan Kementerian Wakaf Suriah dan Forum Pendekatan Antarmazhad Sedunia. Para pesert menegaskan keharusan alim ulama berperan dalam pembangunan peradaban Islam moderat.

Wakil Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran di Suriah Sayyid Abu Fadhl Thabathabai Ashkazri dalam pertemuan ini berseru, “Wahai alim ulama, Anda sekarang, sekarang dan bukan besok, hendaknya memainkan peranan historis untuk membangun peradaban Islam moderat dan nilai-nilai luhur kemanusiaan.”

Para peserta pertemuan sama-sama menegaskan bahwa faham terorisme dan takfiri Wahhabi tak memiliki tempat di dunia, dan bahwa pemerintah Arab Saudi selama ini tak pernah berbuat apapun kecuali pembunuhan dan penghancuran di Suriah, Irak, Afghanistan dan lain-lain di dunia.

Menteri Wakaf Suriah Mohammad Abdul Sattar al-Sayyid mengatakan, “Kami setia kepada apa yang telah ada. Kami selamanya tidak pernah melupakan bahwa Republik Islam Iran, terutama Imam Khamenei (Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran) – semoga Allah melindunginya- serta para pejuang Hizbullah dalam resistensi gagah berani Lebanon telah bersama kami di saat kami terdesak.”

Para peserta pertemuan menegaskan bahwa rakyat Suriah mendukung penuh para pemimpin mereka dalam perang melawan terorisme dan perlawanan terhadap intervensi asing, dan bahwa dukungan Iran dan Hizbullah kepada Suriah telah andil besar dalam kemenangan yang telah diraih Damaskus.

Mereka juga menyatakan bahwa setelah Kubu Resistensi berhasil mencetak kemenangan-kemenangan besar tiba saatnya sekarang penguatan makna negeri dan kewarganegaraan untuk membangunan peradaban Islam yang menopang kemenangan dan keteguhan rakyat. (alalam)

Intelijen AS Ingatkan Israel Soal Serangan Terhadap Iran Di Suriah

Petinggi intelijen Amerika Serikat (AS) mengingatkan Israel agar tidak melakukan serangan terhadap Iran di wilayah Suriah karena dapat memancing serangan balasan “konvensional” dari Iran yang telah mengirim penasehat militer ke Suriah.

Dalam pidatonya pada sidang Komite Pemilihan Senat AS untuk Intelijen di Washington, Selasa (29/1/2019), Direktur Intelijen Nasional AS, Dan Coats, mengatakan bahwa serangan udara Israel yang berkelanjutan terhadap Suriah akan meningkatkan risiko pembalasan Iran.

“Kami menilai bahwa Iran berupaya menghindari konflik bersenjata besar dengan Israel. Namun, serangan Israel yang mengakibatkan korban Iran meningkatkan kemungkinan pembalasan konvensional Iran terhadap Israel,” ujar Coats.

Dia juga menyuarakan keprihatinan tentang apa yang disebutnya “lintasan jangka panjang pengaruh Iran di kawasan, dan risiko konflik akan meningkat.”

Coats kemudian mengklaim bahwa Iran berusaha memiliki “pangkalan militer permanen” di Suriah dan bisa jadi bermaksud mempertahankan jaringan “pejuang” di sana meskipun ada serangan udara Israel.

Pejabat AS itu menyampaikan pandangan Komunitas Intelijen AS kepada Komite Kongres sebagai bagian dari Penilaian Ancaman Sedunia tahunan.

Teheran telah memberikan bantuan penasihat militer kepada tentara Suriah atas permintaan pemerintah Damaskus. Iran berulangkali menyatakan tidak memiliki pasukan yang beroperasi dan pangkalan militer di sana.

Militer Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Suriah terhadap apa yang disebutnya target Iran, sementara Teheran tidak mengkonfirmasi klaim tersebut.

Israel – yang telah mendukung perang kelompok-kelompok teroris terhadap pemerintah Damaskus – memandang penasehat Iran di Suriah sebagai ancaman, dan secara terbuka berjanji untuk menyerang mereka sampai mereka meninggalkan Suriah.

Awal bulan ini, Komandan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Ali Jafari menanggapi ancaman Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap para penasehat militer Iran di Suriah. Dia bersumpah bahwa Iran akan melindungi misi penasehat militernya terhadap “tindakan konyol” dan agresi Rezim Zionis Israel.

Israel mengaku bahwa pada bulan Mei 2018 telah melancarkan apa yang disebutnya serangan udara tersengit di Suriah dalam beberapa dekade terakhir. Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, dalam serangan itu Israel telah menggunakan 28 pesawat tempur dan menembakkan 70 rudal. Damaskus dan Moskow mengatakan bahwa tentara Suriah berhasil menembak jatuh lebih dari separuh dari puluhan rudal tersebut.

Rezim Tel Aviv saat itu juga mengklaim bahwa serangannya merupakan tanggapan terhadap serangan 20 roket yang ditembakkan dari Suriah ke pos-pos militer Israel di Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah diduduki Israel. (albawaba/thejerussalempost)

Militer Israel: Hizbullah Mengembangkan Jalan Untuk Menyerang Israel

Kepala Staf Umum Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Jenderal Aviv Kochavi mengklaim bahwa Hizbullah sedang bekerja keras menyiapkan kondisi yang memungkinkan bagi serangan militer ke wilayah Israel (Palestina pendudukan 1948).

Dalam pidatonya pada upacara peringatan tahunan tentara Israel yang terbunuh akibat  kecelakaan helikopter pada tahun 1997, Rabu (30/1/2019), Kochavi mengatakan Hizbullah berusaha untuk “memperoleh senjata berpresisi dan mengembangkan jalan untuk serangan ke Israel.”

Dia menambahkan bahwa sepak terjang Hizbullah itu bertujuan melukai warga sipil dengan roket dan granat berpeluncur roket yang “melanggar perjanjian internasional, norma perang, dan nilai-nilai kemanusiaan.”

Kochavi bersumpah bahwa pasukan Israel akan terus bertindak melawan posisi Hizbullah dan Iran di perbatasan utara, menggagalkan “plot teroris” di Tepi Barat, dan membela warga selatan dari “organisasi teroris” di Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai.

Kepala Staf Umum IDF melontarkan pernyataan demikian setelah Pemimpin Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah  pada 26 Januari lalu muncul setelah lebih dari dua bulan menghilang dan diisukan sakit keras oleh Israel. Saat muncul dalam wawancara eksklusif dengan saluran al-Mayadeen itu Nasrallah bersumbar bahwa pasukannya akan menyerbu wilayah Israel jika terjadi perang baru.

“Bagian dari rencana kami adalah memasuki Galilea dan kami mampu melakukannya. Kami memiliki kemampuan untuk melakukannya sejak sekian tahun lalu, dan menjadi lebih mudah setelah pengalaman kami di Suriah,” sumbar Nasrallah.

Pemimpin berserban hitam sebagai tanda keturunan Nabi Muhammad saw ini menekankan bahwa Hizbullah yang dicatat oleh Amerika Serikat dan Israel sebagai organisasi teroris memiliki “rudal berpresisi dan cukup untuk menghadapi setiap perang di masa depan dan mencapai target yang diincarnya.” (raialyoum)