Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 31 Desember 2020

iran Esmail QaaniJakarta, ICMES. Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigjen Esmail Qaani melontarkan kecaman tajam terhadap Arab Saudi dengan menyebutnya ada dalam injakan kaki Amerika Serikat (AS).

Pemimpin dan mantan menteri luar negeri Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas), Mahmoud al-Zahar, mengaku pernah menerima dana sebesar US$ 22 juta dari Alm. Letjen Qassem Soleimani, mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.

Kedatangan pesawat yang membawa para anggota kabinet pemerintahan baru Yaman dari kubu pro-Arab Saudi ke kota Aden disambut ledakan besar yang menjatuhkan banyak korban ratusan korban jiwa dan luka.

Berita Selengkapnya:

Komandan Pasukan Quds IRGC Kecam Saudi dan Janjikan Pembalasan Darah Jenderal Soleimani

Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigjen Esmail Qaani melontarkan kecaman tajam terhadap Arab Saudi dengan menyebutnya ada dalam injakan kaki Amerika Serikat (AS).

“Saudi hidup di bawah injakan penghinaan akibat tabiat dan hubungannya dengan AS,” ujar Qaani dalam sebuah rapat tertutup parlemen Majelis Permusyawaratan Islam di Teheran, Rabu (30/12).

Di sisi lain, Qaani menekankan “keharusan pembalasan” atas pembunuhan pendahulunya, Letjen Qassem Soleimani, dan mengatakan bahwa “keluarnya pasukan AS dari kawasan sudah dekat”.

Rapat parlemen Iran membahas perkembangan situasi terbaru regional Teluk Persia pada momen peringatan haul pertama Jenderal Soleimani yang terbunuh oleh serangan pasukan AS di Baghdad, ibu kota Irak, pada 3 Januari 2020.

Anggota parlemen Ahmad Ali Baeighi mengatakan bahwa dalam rapat itu Qaani mengajukan sebuah laporan mengenai perkembangan situasi regional serta “organisasi-organisasi Poros Resistensi di kawasan”.

Dia mengutip pernyataan Qaani bahwa “mengingat tindakan-tindakan yang tertera dalam agenda Poros Resistensi maka mundurnya pasukan AS di kawasan sudah dekat”.

Ebrahim Rezaei, anggota Komisi Keamanan parlemen, mengutip pernyataan Qaani bahwa “tulang musuh sudah remuk” dan bahwa “pasukan AS harus keluar dari Irak dan kawasan”. (mm/raialyoum)

Petinggi Hamas Mengaku Pernah Menerima  Dana 22 Juta Dolar dari Jenderal Soleimani

Pemimpin dan mantan menteri luar negeri Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas), Mahmoud al-Zahar, mengaku pernah menerima dana sebesar US$ 22 juta dari Alm. Letjen Qassem Soleimani, mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.

Pengakuan itu dia sebutkan dalam sebuah rekaman video yang diunggah belakangan ini oleh aktivis di Twitter.

“Pertemuan pertama dengan martir Qassem Soleimani, setelah saya mengambil alih Kementerian Luar Negeri pada tahun 2006, dan saya pergi ke beberapa negara, termasuk Iran,” kata Al-Zahar.

Dia menambahkan bahwa presiden Iran saat itu, Mahmoud Ahmadinejad, memintanya menghubungi Soleimani setelah Hamas mengajukan beberapa permohonan kepada Teheran.

“Dalam pertemuan itu kami sampaikan kepadanya bahwa masalah utama adalah gaji pegawai, situasi sosial, dan bantuan yang harus diberikan kepada masyarakat ketika blokade dilakukan terhadap kami setelah kami sukses dalam pemilu.”

Dalam rekaman video wawancara itu Al-Zahar juga menjelaskan bahwa permohonan itu segera mendapat respon langsung dari Soleimani, dan satu hari kemudian Al-Zahar mendapat dana sebesar  US$ 22 juta.

“Kesepakatannya semula lebih besar dari itu, tapi kami sembilan orang tak sanggup membawa lebih besar dari itu… Jadi, kesan pertama saya tentang pria ini ialah bahwa dia adalah sosok yang jujur,” ungkap Al-Zahar. (raialyoum)

Ledakan Besar Guncang Bandara Aden, Korban Tewas dan Luka Ratusan Orang

Kedatangan pesawat yang membawa para anggota kabinet pemerintahan baru Yaman dari kubu pro-Arab Saudi ke kota Aden disambut ledakan besar yang menjatuhkan banyak korban ratusan korban jiwa dan luka.

Dilaporkan bahwa sedikitnya 25 orang tewas dan 110 lainnya luka-luka akibat ledakan yang diduga  sebagai serangan tersebut.

Belum jelas penyebab ledakan tersebut, dan tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atasnya. Meski serangan tampaknya ditujukan terhadap para pejabat pemerintahan itu namun  tak seorangpun yang keluar dari pesawat itu terluka.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa ledakan berasal dari serangan roket dan drone.

Beberapa jam setelah serangan itu terjadi ledakan kedua di sekitar istana kepresidenan Maasheq, Aden, sehingga para anggota kabinet, termasuk Perdana Menteri Maeen Abdulmalik, serta duta besar Saudi untuk Yaman, dilarikan ke tempat yang lebih aman.

Ledakan kedua juga tidak jelas penyebabnya, dan tak sampai menjatuhkan korban.  Abdulmalik mengutuk serangan bandara sebagai tindakan “pengkhianat” dan “pengecut”.

Seorang koresponden AFP di Bandara Aden mengaku mendengar dua ledakan ketika para anggota kabinet itu keluar dari pesawat.

Televisi pemerintah Saudi, Ekhbaria, memperlihatkan beberapa kendaraan yang hancur dan kaca yang pecah. Asap putih membubung dari tempat kejadian.

Menteri Informasi Moammar Al-Eryani menyalahkan kubu Ansarullah (Houthi), namun kelompok yang didukung Iran ini membantahnya. Ansarullah justru memastikan peristiwa berdarah itu disebabkan oleh pertikaian yang masih sengit antara kubu pro-Saudi dan kubu pro-UEA.

Pemerintahan itu dilantik oleh presiden pelarian Abd Rabbu Mansour Hadi pada 18 Desember, sebagai bagian dari kesepakatan pembagian kekuasaan yang ditengahi oleh Arab Saudi pada 2019.

Dipimpin oleh Perdana Menteri Abdulmalik, pemerintahan baru itu mewakili wilayah utara dan selatan Yaman dengan jumlah anggota yang sama untuk setiap wilayah.

Pembentukannya adalah hasil dari kompromi antara separatis yang didukung UEA di Dewan Transisi Selatan dan loyalis Hadi yang didukung Saudi. (aljazeera/raialyoum/rta)