Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 30 Mei 2019

hari al-quds internasionalJakarta, ICMES: Presiden Iran Hassan Rouhani menyerukan kepada rakyat Iran dan segenap umat Islam agar berpartisipasi dalam pawai akbar pada peringatan Hari al-Quds Internasional yang jatuh pada setiap hari Jumat terakhir bulan suci Ramadhan.

AS bahwa Iran “hampir pasti” berada di balik serangan sabotase terhadap empat kapal tanker minyak di dekat perairan UEA beberapa waktu lalu. Iran membantah keras tudingan ini.

Perdana Menteri Irak Adel Abdul-Mahdi menyadakan bahwa ada pihak-pihak musuh Iran maupun Amerika Serikat (AS)  yang menginginkan perang antara kedua negara, namun Iran bergerak untuk “mencabut sumbu krisis”.

Berita selengkapnya:

Presiden Iran Serukan Pawai Akbar Hari Al-Quds Internasional

Presiden Iran Hassan Rouhani menyerukan kepada rakyat Iran dan segenap umat Islam agar berpartisipasi dalam pawai akbar pada peringatan Hari al-Quds Internasional yang jatuh pada setiap hari Jumat terakhir bulan suci Ramadhan.

Dia mengatakan bahwa “Palestina dan al-Quds” adalah dua kata kunci muqawamah (resistensi) bagi segenap umar Islam, sedangkan “Israel” adalah kata kunci kubu agresor di segenap penjuru dunia.

Dalam statemen yang disiarkan di laman resmi kepresidenan Iran, Rabu (29/5/2019), disebutkan bahwa dalam rapat kabinetnya Presiden Iran menegaskan bahwa bangsa Iran sejak 40 tahun silam sampai sekarang tetap konsisten menyokong kaum tertindas dan melawan para agresor, dan karena itu Iran gigih membantu bangsa-bangsa lain yang tertindas, sebagaimana terlihat dalam dukungan Iran kepada bangsa Suriah, Palestina, Libanon, dan Yaman.

Rouhani mengatakan bahwa bangsa Palestina dan Yaman mengalami hari-hari sulit di bulan suci Ramadhan, namun kedua bangsa ini tetap teguh dan tak gentar melawan musuh sehingga terus berjuang dan berkorban hingga dapat menahan dan memukul mundur musuh.

“Dulu bangsa Palestina tak memiliki apa-apa selain batu dalam membela diri, tapi sekarang berkat jerih payah, pengorbanan, dan industri internalnya telah memiliki peralatan untuk bereaksi telak terhadap musuh atas apa yang mereka hadapi, dan rudalpun dapat mereka balas dengan rudal sehingga dalam jangka waktu 48 jam kaum Zionis terpaksa mundur setelah Kubah Besinya gagal menghadapi rudal-rudal Palestina,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Di depan bangsa-bangsa yang resisten dan altruis kita sekarang menyaksikan eskalasi kejahatan kekuatan-kekuatan besar, dan peningkatan pengiriman senjata canggih ke kawasan untuk digunakan membom bangsa tertindas di Yaman dan Palestina.”

Presiden Rouhani mengatakan bahwa prakarsa Amerika Serikat untuk penyelesaian krisis Palestina-Israle yang dinamai Deal of the Century (Kesepakatan Abad Ini) akan berubah menjadi  prakarsa “kekalahan abad ini” bagi para pendukungnya.

Rouhani juga menjelaskan, “Revolusi Islam dan Almarhum Imam Khomaini telah meninggalkan kepada kita banyak pelajaran serta membuat berbagai momen peringatan penting untuk berbakti kepada dunia Islam dan kaum merdeka dunia, termasuk Pekan Persatuan Islam dan Hari al-Quds Internasional, yang dihidupkan oleh bangsa-bangsa Muslim, terutama di Iran, Irak, dan Suriah.”

Menurut Presiden Iran, slogan Hari Al-Quds Internasional sangat penting karena “kita tidak akan pernah melupakan al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem) dan kaum tertindas sepanjang sejarah. Kita tidak akan menelantarkan mereka, dan tidak akan bungkam di depan kaum zalim.”

Hassan Rouhani kemudian menegaskan bahwa al-Quds adalah tanah suci bagi semua agama monoteis Islam, Kristen, dan Yahudi, dan umat tiga agama ini dahulu hidup berdamping secara rukun dan damai di sana. (alalam/raialyoum)

AS Tuding Iran Berada Di Balik Serangan Ke Kapal-Kapal Di Dekat Perairan UEA

Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) John Bolton dalam kunjungannya ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Rabu (29/5/2019), menyatakan bahwa Iran “hampir pasti” berada di balik serangan sabotase terhadap empat kapal tanker minyak di dekat perairan UEA beberapa waktu lalu. Iran membantah keras tudingan ini.

Bolton mengatakan demikian manakala Arab Saudi pada Kamis dan Jumat (30-31/5/2019) akan menjadi tuan rumah tiga pertemuan puncak Arab, Teluk Persia, dan negara-negara Islam untuk membahas perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah, terutama ihwal eskalasi ketegangan antara Iran dan AS.

“Di Washington tak seorangpun ragu mengenai siapa yang bertanggungjawab. Siapa, menurut Anda? Apakah orang dari Nepal?” ujarnya, seperti dikutip Reuters.

Dia melanjutkan, “Kami sangat prihatin atas tindakan Qasem Soleimani (komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran) menggunakan kaum militan Syiah di Irak untuk menyerang pasukan kami di sana.”

Dia mengatakan, “Kami berunding dengan para sekutu kami di kawasan untuk bereaksi terhadap kegiatan Iran dan para proksinya di Teluk.”

John Bolton juga bersumbar bahwa AS akan bereaksi keras terhadap segala bentuk ancaman dari Iran dan para proksinya di kawasan.

Di pihak lain, Iran menepis keras tudingan AS tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi menegaskan bahwa kasus peledakan pada kapal-kapal di dekat pelabuhan Fujairah itu tak dapat diterima, konyol, dan berpangkal dari agenda politik tim-B (John Bolton, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman).

Dalam statemen yang dirilis di laman resmi Kementerian Luar Negeri Iran, Mousavi menyatakan, “Tidaklah mengherankan anggapan-anggapan yang menggelikan itu… Bolton dan semua orang yang menabuh genderang perang dan kekacauan di kawasan hendaknya mengetahui bahwa Iran dengan strategi kesabarannya dan kesiapan pertahanannya akan menggagalkan tujuan-tujuan kotor musuh untuk menciptakan kekacauan yang parah di kawasan.”

UEA sendiri belum menuding pihak manapun terkait dengan insiden yang disebutnya serangan “sabotase” itu, namun melakukan penyelidikan yang melibatkan Arab Saudi, Norwegia, Perancis, dan AS.

Insiden itu terjadi di tengah eskalasi ketegangan antar AS dan Iran dan telah menyebabkan kerusakan pada dua kapal tanker Saudi, satu kapal tanker Norwegia, dan satu kapal UEA. Iran yang telah berulangkali mengancam akan menutup Selat Hormuz mengutus serangan serangan itu dan menyatakan bahwa peristiwa di Laut Oman itu memprihatinkan.” (raialyoum)

PM Irak: Iran Tidak Menghendaki Perang Dengan AS

Perdana Menteri Irak Adel Abdul-Mahdi menyadakan bahwa ada pihak-pihak musuh Iran maupun Amerika Serikat (AS)  yang menginginkan perang antara kedua negara, namun Iran bergerak untuk “mencabut sumbu krisis”.

“Negara-negara di dunia menyambut baik upaya untuk menyelesaikan krisis antara Washington dan Teheran,” katanya kepada wartawan di Baghdad, ibu kota Irak, sebagaimana dikutip Rai al-Youm Rabu (29/5/2019).

Perdana Menteri Abdul-Mahdi menjelaskan, “Dalam kunjungan Menteri Luar Negeri Iran ke Baghdad baru-baru ini, kami membahas banyak hal terkait dengan eskalasi saat ini antara Teheran dan Washington untuk menemukan solusinya, dan kami mendengar dari pihak Iran pesan-pesan meyakinkan bahwa mereka tidak ingin perang, tetapi pada saat yang sama menolak segala kebijakan untuk melumpuhkan dan menyudutkan Iran, dan Irak memainkan peranan penting dalam masalah ini.”

Dia menambahkan, “Kami tidak bermaksud menengahi antara Tehera dan Washington, tapi kami memainkan peranan positif dengan semua pihak, dan semua menyambut baik dan memotivasi peran ini.”

Seperti diketahui, kawasan Teluk Persia belakangan diwarnai ketegangan antara AS dan Iran. Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz yang dilewati oleh 40 persen pasokan minyak dunia, setelah Washington memperketat sanksi terhadap Iran, khususnya di sektor perminyakan.

AS telah menerahkan pasukan militer ke kawasan itu meskipun Presiden AS Donald Trump juga mengaku  tidak ingin berperang dengan Iran, sebagaimana Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayyid Ali Khamenei juga menyatakan keengganan negaranya berperang dengan AS. (raialyoum)