Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 30 April 2020

ledakan di afrin suriahJakarta, ICMES. Puluhan orang tewas akibat ledakan truk tanki berisi bahan peledak di kota Afrin, Suriah, dan korban diperkirakan masih akan bertambah.

Iran mengaku telah merintis terapi plasma di dunia dengan melakukan sejumlah besar tes terapi plasma pada pasien-pasien infeksi virus corona (COVID-19) di Iran.

Amerika Serikat masih mengirim pesawat kargo dan ratusan truk yang memuat senjata dan peralatan militer ke Suriah.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump tekad Turki melanjutkan solidaritasnya sebagai mitra terpercaya dan kuat AS.

Berita selengkapnya:

Inna Lillahi, 40-an Orang Tewas Akibat Ledakan Bom Mobil di Suriah

Puluhan orang tewas akibat ledakan truk tanki berisi bahan peledak di kota Afrin, Suriah, dan korban diperkirakan masih akan bertambah.

Aljazeera, Rabu (29/4/2020), melaporkan bahwa sedikitnya 46 warga sipil tewas, 11 di antaranya anak kecil, dan 50 orang lainnya terluka dalam insiden yang terjadi di wilayah utara Suriah yang dikendalikan oleh pasukan Turki sejak lebih dari dua tahun lalu.

Kementerian Pertahanan Turki menyebut ledakan itu sebagai serangan milisi Kurdi Suriah Unit Perlindungan Rakyat (YPG).

Ledakan terjadi di sebuah pasar pada hari Selasa lalu dan tercatat sebagai salah satu peristiwa paling mematikan di kawasan yang dikendalikan oleh militan yang didukung Turki.

Ankara sering menyalahkan YPG atas serangan seperti itu, sementara YPG menyatakan tidak menyerang warga sipil.

“Musuh kemanusiaan PKK/YPG sekali lagi menyerang warga sipil tak berdosa di Afrin,” tuding kementerian Pertahanan Turki di Twitter.

Rami Abdul Rahman, kepala Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris, melaporkan sedikitnya 46 orang tewas, termasuk minimal enam militan Suriah pro-Turki, dan 50 lainnya terluka dengan kondisi beberapa di antaranya kritis sehingga jumlah korban tewas berkemungkinan meningkat. (aljazeera)

Iran Mengaku Jadi Perintis Terapi Plasma Darah dalam Perawatan Pasien COVID-19

Iran mengaku telah merintis terapi plasma di dunia dengan melakukan sejumlah besar tes terapi plasma pada pasien-pasien infeksi virus corona (COVID-19) di Iran.

“Jumlah terbesar studi tentang terapi plasma telah dilakukan di Iran. Fase pertama penelitian dilakukan pada hampir 60 pasien dan kami telah menerima informasi tentang 150 pasien lain. Protokol terapi plasma terbesar di dunia mungkin telah dilakukan di Iran, ” ungkap Wakil Menteri Kesehatan Iran untuk Perawatan Qassem Jan Babayee kepada wartawan melalui konferensi video, Rabu (29/4/2020).

Dia mencatat terapi plasma di negaranya telah memperlihatkan hasil yang baik dalam perawatan pasien COVID-19.

“Ini adalah salah satu metode berbiaya murah,” tuturnya.

“Negara kita selalu berada di antara negara-negara perintis di dunia dalam donor darah,” imbuhnya

Sehari sebelumnya, Ketua Komite Ilmiah Virus Corona di Iran Mostafa Ghanei mengatakan bahwa hasil awal tes plasma untuk terapi pasien  COVID-19 telah positif, dan jika sudah terbit izin untuk ekspor tes ELISA maka negara-negara lain juga akan dapat menggunakan tes ini.

Pekan lalu Direktur Pelaksana Organisasi Transfusi Darah Iran Peiman Eshqi menyebutkan adanya rencana memulai sebuah proyek pengumpulan plasma darah sukarelawan yang telah pulih dari infeksi COVID-19 untuk disuntikkan ke tubuh pasien yang masih berjuang melawan penyakit mematikan ini.

“Proyek ini akan dimulai secara bersamaan di 14 provinsi pada 20 April. Orang-orang yang telah dirawat setidaknya satu bulan lalu akan berpartisipasi dalam proyek ini,” terang Eshqi.

Menurutnya, donasi plasma dan kemitraan dalam proyek ini sepenuhnya sukarela, dan relawan akan didatangi oleh dokter untuk menjalani beberapa tes pendahuluan.

Eshqi mengatakan bahwa terapi plasma telah menunjukkan hasil yang baik di sejumlah besar negara yang telah terlibat dalam perang melawan  COVID-19 dan merawat pasien yang terinfeksi virus ini.

Awal bulan ini seorang pejabat senior medis Iran mengatakan bahwa program terapi plasma yang dijalankan di Iran sejak Maret telah menunjukkan hasil 50% lebih baik daripada metode lain yang digunakan untuk mengobati pasien COVID-19. (fna)

AS Masih Pasok Senjata dan Peralatan Militer ke Suriah

Amerika Serikat (AS) masih mengirim pesawat kargo dan ratusan truk yang memuat senjata dan peralatan militer ke Suriah.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di London, Rabu (29/4/2020), melaporkan bahwa pasukan AS telah mengirim 300 truk bersama dengan beberapa pesawat kargo yang memuat senjata dan peralatan militer ke wilayah timur dan timur laut Suriah.

Menurut SOHR, senjata yang dimuat dengan pesawat kargo itu dikirim ke pangkalan AS di Qamishli, Qasrak, dan ladang minyak al-Omar di provinsi Deir Ezzur, dan sebanyak 300 truk yang membawa peralatan militer juga tiba di Tal al-Baidar, provinsi Hasaka.

Selasa lalu SOHR melaporkan bahwa 70 truk milik pasukan AS tiba di pangkalan Tal Baidar dan Qasrak di timur laut Suriah dari jalur al-Walid pada hari Senin.

Media Al-Alam melaporkan bahwa truk-truk itu membawa senjata dan peralatan logistik untuk militan Kurdi yang menamakan dirinya Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

Dalam beberapa bulan terakhir, AS telah mengirim truk bermuatan militer dan peralatan logistik ke Hasaka sebagai bagian dari plotnya untuk menguasai cadangan minyak dan menjarah sumber daya alam Suriah.

Awal bulan ini kantor berita Suriah, SANA, melaporkan bahwa konvoi yang terdiri dari sedikitnya 35 truk yang mengangkut balok semen dan pasokan logistik telah menyeberang ke wilayah Suriah melalui pintu perbatasan ilegal al-Walid.

Pada akhir Oktober 2019 AS mengurungkan keputusan sebelumnya untuk menarik semua tentaranya dari wilayah timur Suriah, dan mengumumkan pengerahan sekitar 500 tentara ke ladang minyak yang dikontrol oleh militan Kurdi Suriah. (fna)

Kirim Bantuan ke AS, Erdogan Sebut Turki Sekutu Kuat dan Terpercaya AS

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tekad Turki melanjutkan solidaritasnya sebagai mitra terpercaya dan kuat AS.

Hal itu dinyatakan Erdogan dalam suratnya kepada Trump yang dilayangkan bersama dengan pengiriman bantuan medis Turki ke AS untuk penanggulangan wabah Covid-19 yang terus menggila di AS.  Bantuan itu antara lain berupa pakaian pelindung dan masker.

“Saya berharap bantuan sederhana ini akan mendukung perjuangan Anda melawan epidemi ini dan menyembuhkan warga Anda yang terinfeksi corona… Yakinlah bahwa Turki akan melanjutkan semua bentuk solidaritasnya sebagai mitra AS  yang terpercaya dan kuat,” ungkap Erdogan dalam surat yang dirilis Kantor Istana Presiden di Ankara, Rabu (29/4/2020).

Presiden Turki juga menyatakan, “Perkembangan terakhir di wilayah kami menunjukkan pentingnya melanjutkan aliansi dan kerjasama Turki-AS sekuat mungkin… Saya percaya bahwa kita akan bergerak kuat menuju masa depan di bidang kesehatan masyarakat berkat pelajaran yang telah kita petik dari penanggulangan krisis ini dan dari kemampuan yang telah kita kembangkan.”

Kongres AS pernah mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap Turki  karena membeli sistem pertahanan S-400 dari Rusia, tapi pandemi Covid-19 menunda rencana pengaktifkan sistem tersebut karena Ankara sedang berfokus pada upaya penanggulangan wabah ini.

Menyinggung ancaman itu, Erdogan menyatakan, “Saya berharap bahwa di masa mendatang, dengan semangat solidaritas yang telah kami perlihatkan selama pandemi ini, media Kongres dan AS akan lebih memahami pentingnya hubungan kita, ” harap Erdogan.

Hubungan Turki dengan AS memburuk dalam beberapa tahun terakhir akibat perselisihan kedua negara mengenai kondisi di Suriah, terutama terkait dengan dukungan AS kepada milisi Kurdi Suriah yang sangat dimusuhi Turki. (raialyoum/reuters)