Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 29 Desember 2022

Jakarta, ICMES. Menhan Turki Hulusi Akar dan Menhan Suriah Ali Mahmoud Abbas bertatap muka dalam rangka pertemuan mereka dengan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu di Moskow, ibu kota Rusia.

Faksi -faksi bersenjata Palestina di Gaza mengumumkan bahwa mereka melakukan latihan militer di dekat pagar pemisah Jalur Gaza –Israel (Palestina pendudukan 1948).

Menlu Iran Hossein Amir-Abdollahian menyatakan bahwa negosiasi nuklir Iran dengan sejumlah negara terkemuka dunia terancam gagal dan buyar jika Amerika Serikat (AS) dan para sekutunya masih saja bersikap “hipokrit”.

Berita Selengkapnya:

Setelah 11 Tahun, Menhan Suriah dan Menhan Turki Adakan Pertemuan di Moskow

Menhan Turki Hulusi Akar dan Menhan Suriah Ali Mahmoud Abbas bertatap muka dalam rangka pertemuan mereka dengan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu di Moskow, ibu kota Rusia, Rabu (28/12).

Peristiwa ini tercatat sebagai pertemuan resmi pertama tingkat menhan antara Ankara dan Damaskus sejak pecahnya konflik di Suriah pada tahun 2011.

Kemhan Rusia dalam sebuah pernyataan menyebutkan, “pembicaraan segi tiga itu berlangsung di Moskow antara menteri pertahanan Federasi Rusia, Republik Arab Suriah dan Republik Turki.”

Kemhan Rusia menyatakan bahwa pembicaraan antara Shoigu, Akar, dan Mahmoud Abbas menyorot “mekanisme penyelesaian krisis Suriah dan masalah pengungsi,” serta “upaya bersama memerangi kelompok-kelompok ekstremis. ”

Kemhan Rusia menambahkan bahwa semua pihak menilai dialog dalam bentuk yang telah diadakan itu konstruktif, dan menekan kebutuhan untuk melanjutkannya demi membangun stabilitas di Suriah.

Kantor Berita Arab Suriah, SANA, melaporkan bahwa dalam pembicaraan segi tiga itu mereka membahas solusi di Suriah, masalah pengungsi dan upaya pemberantasan terorisme, serta menekankan pentingnya melanjutkan dialog untuk menstabilkan situasi di kawasan.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Turki menyatakan pertemuan tersebut diadakan dalam “suasana positif”.

Pertemuan itu adalah yang pertama kalinya di tingkat menteri antara Turki dan Suriah sejak pecahnya krisis Suriah pada 2011, yang berdampak pada ketegangan hubungan antara Ankara dan Damaskus.

Para menteri luar negeri kedua negara telah mengadakan percakapan informal singkat di sela-sela KTT regional yang diadakan pada tahun 2021, dan Ankara sebelumnya telah mengakui adanya komunikasi di tingkat dinas intelijen.

Menurut media Turki, direktur dinas intelijen Turki, Hakan Fidan, hadir di Moskow pada Rabu.

Pertemuan antara Akar dan Abbas terjadi manakala Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan belakangan mengancam akan  melancarkan serangan militer terhadap kelompok Kurdi di Suriah utara.

Pekan lalu, Akar menyatakan bahwa Ankara melakukan kontak dengan Moskow untuk “membuka wilayah udara Suriah” bagi jet tempur Turki.

Pada awal 2011, Suriah dilanda pemberontakan dan terorisme, yang kemudian memanaskan hubungan antara negara ini dengan Turki karena  Ankara menentang keras pemerintahan Presiden Suriah Bashar Al-Assad dan mendukung oposisi Suriah.

Pemberontakan dan terorisme di Suriah telah menyebabkan kematian sekitar setengah juta orang, menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur dan sektor produktif, dan  menyebabkan jutaan orang mengungsi di dalam dan luar negeri.

Namun, Turki yang mengerahkan pasukannya di Suriah, belakangan mengubah sikapnya terhadap Damaskus di tengah upaya Turki memperkuat hubungannya dengan negara-negara Arab.

Erdogan yang pernah berulang kali menyebut Al-Assad sebagai “pembunuh”, bulan lalu menyatakan tak tertutup “kemungkinan” mengadakan pertemuan dengannya.  Pada pertengahan Desember lalu Erdogan menyebutkan bahwa pertemuan itu mungkin akan diadakan usai pertemuan di tingkat menteri pertahanan dan luar negeri. (raialyoum)

Faksi-Faksi Pejuang Palestina Adakan Latihan Militer, Ada Apa?

Faksi -faksi bersenjata Palestina di Gaza mengumumkan bahwa mereka melakukan latihan militer di dekat pagar pemisah Jalur Gaza –Israel (Palestina pendudukan 1948), Rabu (28/12.)

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Pusat Komando Gabungan Faksi-Faksi Pejuang Palestina menyebutkan bahwa manuver bersandi “Rukn Al-Shadeed 3” itu digelar di dekat pagar pemisah di Jalur Gaza utara, dengan partisipasi “sekelompok elit pejuang dengan menggunakan senjata ringan dan sedang.”

Diungkapkan pula bahwa manuver yang tidak diumumkan sebelumnya itu “bertujuan mengukur kecepatan respons pasukan resistensi terhadap keadaan darurat apa pun dan menguji kesiapan para pejuang untuk memobilisasi dan menghadapi agresi.”

Dijelaskan bahwa manuver tersebut “adalah puncak dari periode pelatihan lanjutan bersama untuk para elit pejuang dari faksi-faksi resistensi, yang mencakup berbagai skenario taktis, terutama serangan di belakang garis musuh (Israel), di mana sejumlah tentara ditangkap. “

Menurut pernyataan tersebut, aksi lapangan bersama  itu dilakukan di lokasi militer pertama yang mencakup semua faksi yang berafiliasi dengan pusat komando bersama, yang pembentukannya diumumkan beberapa tahun lalu di Jalur Gaza.

Pernyataan itu menyimpulkan bahwa manuver tersebut “mengungkapkan sejauh mana keyakinan perlawanan akan perlunya menyatukan semua upaya dalam menghadapi musuh, berdiri menghadapi tantangan yang menimpa kesucian dan perjuangan Palestina, dan menyatukan semua front untuk memerangi rezim pendudukan. “

Pusat komando gabungan di Gaza itu mencakup sayap militer Hamas, Brigade Ezzeddin al-Qassam,  yang telah menguasai Jalur Gaza sejak 2007, dan sayap militer Jihad Islam, Brigade al-Quds, serta beberapa kelompok bersenjata lainnya.

Pelaksanaan manuver tersebut dilakukan sehari menjelang pemungutan suara di parlemen Israel Knesset untuk pemerintah baru Israel yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu dan akan mencakup koalisi partai sayap kanan yang dikenal keras serta anti-Palestina dan Arab. (raialyoum)

Menlu Iran: Perundingan Nuklir akan Buyar jika AS dan Sekutunya Masih Hipokrit

Menlu Iran Hossein Amir-Abdollahian menyatakan bahwa negosiasi nuklir Iran dengan sejumlah negara terkemuka dunia terancam gagal dan buyar jika Amerika Serikat (AS) dan para sekutunya masih saja bersikap “hipokrit”.

“Jendela negosiasi yang dibuka hari ini tidak akan tetap terbuka besok, jika AS dan lainnya tidak menghentikan kemunafikan,” ungkap Amir-Abdollahian dalam kunjungannya ke Oman, Rabu (28/12).

Dia menyebutkan bahwa Kesultanan Oman telah menjadi mediator utama sejak awal negosiasi.

Sebelumnya, Menlu Iran menyatakan bahwa jendela untuk perjanjian terbuka dari pihak Iran, “tapi tidak selamanya”, dan bahwa pertemuannya dengan pejabat kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell, di sela-sela pertemuan KTT Bagdad-2 di Amman, ibu kota Yordania, telah menghasilkan kesepakatan untuk mengambil langkah terakhir dari kesepakatan nuklir.

Komisi Keamanan Nasional di parlemen Iran, Rabu, membantah niat Teheran membuat konsesi apapun dalam negosiasi nuklir, dan menyebut “persepsi Eropa tentang negosiasi nuklir tidak akurat”.

Mengenai perjanjian nuklir tahun 2015 yang lazim disebut JCPOA (Rencana Aksi Bersama Komprehensif) komisi itu menyatakan, “Kebangkitan JCPOA dapat dicapai oleh Teheran, tapi hasilnya bergantung pada pragmatisme pihak lain.”

Komisi itu menambahkan, “Pihak AS-lah yang menarik diri dari perjanjian nuklir itu, kemudian menyatakan kesediaannya untuk kembali ke perjanjian itu lagi, dan syarat kembalinya AS telah menjadi fokus negosiasi sejak satu setengah tahun yang lalu.”

Beberapa hari lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, menegaskan bahwa AS menunjukkan sikap yang kontradiktif terkait negosiasi nuklir, dan belum mengambil langkah positif untuk mengakhirinya. Dia juga menekankan urgensi kelanjutan negosiasi hingga kesepakatan final tercapai. (alalam)