Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 29 April 2021

saudi mohammad bin salmanJakarta, ICMES. Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman (MBS) menyatakan bahwa negaranya berkeinginan menjalin hubungan baik dengan Iran  namun ada beberapa kendala yang masih diupayakan penyelesaiannya oleh Saudi dan beberapa mitranya.

Gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman menanggapi pernyataan Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman (MBS) mengenai Yaman.

Juru bicara militer Yaman yang bersekutu dengan Ansarullah (Houthi) Brigjen Yahya Saree menyatakan pihaknya kembali melancarkan serangan ke pangkalan udara militer di kota Khamis Mushait di bagian selatan Arab Saudi.

Wakil Tetap Rusia untuk Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) yang bermarkas di Wina, Swiss, Mikhail Ulyanov mengaku optimis akan tercapai kesepakatan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) sebelum 21 Mei.

Berita Selengkapnya:

Bin Salman: Kami Ingin Menjalin Hubungan Baik dan Istimewa dengan Iran

Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman (MBS) menyatakan bahwa negaranya berkeinginan menjalin hubungan baik dengan Iran  namun ada beberapa kendala yang masih diupayakan penyelesaiannya oleh Saudi dan beberapa mitranya.

Dalam wawancara yang disiarkan oleh berbagai media resmi Saudi, Selasa malam (27/4), ketika ditanya apakah ada upaya untuk menyelesaikan masalah antara kedua negara MBS mengatakan, “Pada akhirnya Iran adalah negara jiran, kami angin memiliki hubungan baik dan istimewa dengannya.”

Dia menambahkan, “Kami tidak ingin kondisi Iran sulit. Sebaliknya, kami ingin Iran berkembang di mana kami memiliki kepentingan dan iapun memiliki kepentingan di Saudi untuk mendorong dunia dan kawasan kepada perkembangan.”

MBS lantas mengeluhkan beberapa hal yang disebutnya sebagai perilaku negatif Iran.

“Problematika kami ialah perilaku negatif Iran, baik melalui proyek nuklirnya maupun dukungannya kepada milisi-milisi asing di luar hukum di sejumlah negara regional, atau program nuklir balistiknya,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, “Kami sekarang bekerja bersama dengan para mitra kami di dunia untuk mewujudkan solusi bagi problema ini, kami berharap dapat melampauinya, dan hubungan kami  menjadi baik, positif, dan bermanfaat bagi semua.”

Beberapa waktu lalu seorang pejabat senior Iran dan dua sumber lain di kawasan Teluk Persia dikabarkan telah memberitahu bahwa para pejabat Iran dan Saudi telah mengadakan perundingan langsung pada bulan ini dalam upaya meredakan ketegangan antara kedua negara di tengah upaya AS untuk mengaktifkan kembali perjanjian nuklir Iran dan menyudahi perang di Yaman.

Disebutkan bahwa seorang pejabat Iran dan sumber lain mengatakan bahwa pertemuan antara Iran dan Saudi telah diadakan di Irak pada 7 April namun tidak menghasilkan jalan keluar dari kebuntuan.

Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Iran pada Januari 2016 setelah kedutaan besarnya di Teheran diserbu oleh demonstran yang mengecam eksekusi seorang ulama Syiah Saudi oleh otoritas negara ini. (raialyoum)

Ansarullah Tanggapi Pernyataan Bin Salman tentang Yaman

Gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman menanggapi pernyataan Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman (MBS) mengenai Yaman.

Abdul Malik Al-Ajri, anggota tim perundingan pemerintahan Keselamatan Nasional Yaman yang berafiliasi dengan Ansarullah, di halaman Twitter-nya, Selasa malam (27/4), menyatakan;

“Mohammad bin Salman mengatakan bahwa tak ada satupun negara menerima keberadaan milisi bersenjata di perbatasannya. Ini perkataan yang bagus.  Tapi (demikian pula) sebaliknya, tak ada satupun negara menerima keberadaan militer asing di wilayahnya,” cuit Al-Ajri.

Dia menambahkan, “Sedangkan mengenai perbatasan, diatur oleh perjanjian yang ditandatangani oleh kedua negara. Perimbangan ini merupakan peluang yang paling relevan untuk membangun perdamaian dengan Kerajaan (Saudi) dan menciptakan stabilitas di Yaman.”

Dalam wawancara panjang lebar yang disiarkan oleh berbagai media resmi Saudi pada Selasa malam (27/4) MBS mengajak Ansarullah duduk bersama di meja perundingan, namun sembari mengatakan, “Saudi ataupun negara manapun tidak akan memperkenankan keberadaan milisi di dekat perbatasannya.”

Dia juga mengatakan, “Tak syak lagi bahwa Houthi menjalin hubungan erat dengan Iran, dan apa yang mereka lakukan di Yaman adalah kudeta ilegal.”

Dua bulan lalu, yaitu di akhir-akhir tahun keenam agresi militer Saudi dan sekutunya di Yaman, Riyadh mengajukan usulan yang disebutnya bertujuan mewujudkan perdamaian di Yaman.

Di pihak lain, Ansarullah menyebut usulan itu tidak realistis dan hanya mengulang apa yang menjadi ambisi agresor. Ansarullah menegaskan bahwa penghentian agresi dan blokade terhadap Yaman adala h langkah awal yang harus ditempuh untuk pengadaan gencatan senjata di negara jiran Saudi ini.

Saudi berbicara soal perdamaian setelah  gagal mencapai semua tujuannya dalam memerangi Ansarullah sejak Maret  2015. Karena itu, Ansarullah menilai Saudi masih bermaksud meraih tujuan yang sama, tapi melalui usulan yang hendak ia paksakan setelah sepak terjangnya melalui cara militer sia-sia. (fna)

Ansarullah Lanjutkan Serangannya ke Wilayah Saudi

Juru bicara militer Yaman yang bersekutu dengan Ansarullah (Houthi) Brigjen Yahya Saree menyatakan pihaknya kembali melancarkan serangan ke pangkalan udara militer di kota Khamis Mushait di bagian selatan Arab Saudi.

“Pasukan drone baru saja melancarkan operasi serangan terhadap Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait dengan drone jenis Qasif K2, dan tepat mengena sasarannya,” ungkap Saree di Twitter, Rabu (28/4).

Di pihak lain, Saudi sebelumnya mengaku sistem pertahanan udaranya telah mencegat dan menghancurkan satu drone yang dilesatkan ke wilayah Saudi.

Koalisi militer pimpinan Saudi melakukan intervensi di Yaman sejak Maret 2015 untuk memerangi Ansarullah setelah kelompok yang didukung Iran ini berhasil menggerakkan unjuk rasa akbar rakyat Yaman yang berujung tergulingnya pemerintahan Abd Rabbuh Mansour Hadi yang didukung Saudi dan jatuhnya Sanaa, ibu kota Yaman, ke tangan Ansarullah dan sekutunya.

Meski sudah lebih dari enam tahun diperangi  oleh pasukan koalisi yang dipimpin Saudi, Ansarullah tetap menguasai sebagian besar Yaman utara, melanjutkan serangannya ke Arab Saud  bersamaan dengan gerak maju operasi militernya untuk merebut kota dan provinsi Ma’rib yang kaya minyak, sementara Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengupayakan kesepakatan gencatan senjata. (raialyoum)

Rusia: Tak Ada “JCPOA Plus” dalam Perundingan Nuklir Iran

Wakil Tetap Rusia untuk Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) yang bermarkas di Wina, Swiss, Mikhail Ulyanov mengaku optimis akan tercapai kesepakatan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) sebelum 21 Mei.

Di akhir pertemuan Komisi Bersama JCPOA antara Iran dan Kelompok 4 + 1  (Inggris, Prancis, Rusia, dan China plus Jerman) yang diadakan di Grand Hotel, Wina, Selasa (27/4), Ulyanov menyatakan optimismenya itu, namun sembari menyebutkan bahwa itu hanyalah pandangan pribadinya.

Dia lantas mengatakan bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam JCPOA bersepakat bahwa tidak akan ada “JCPOA Plus”, yang merupakan salah satu kendala utama bagi pencapaian kesepakatan untuk menghidupkan kembali JCPOA.

Iran sendiri telah bersumpah menolak negosiasi yang berlarut-larut dan akan meninggalkan perundingan jika pihak lain dinilainya mengulur waktu, kurang serius, dan bermaksud menambahkan masalah lain pada pembicaraan untuk pemulihan JCPOA.

Menurut Wakil Tetap Rusia untuk IAEA, ide JCPOA Plus pertama kali dilontarkan oleh Amerika Serikat dengan tujuan membatasi program misil Iran. Ulyanov lantas menyebut ide itu tidak realistis dan sia-sia. (mna)