Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 28 Desember 2023

Jakarta, ICMES. Seorang mantan petinggi militer Israel menyatakan pemerintah Amerika Serikat (AS) tidak memberikan semua senjata yang diminta tentara Israel untuk memenangi perang yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.

Kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Lebanon   merilis video yang merekam serangan terbarunya yang menyasar kerumunan tentara pendudukan Israel di dekat barak  Shomera.

Menteri Pertahanan Yaman kubu Ansarullah yang berkuasa di Ibu Kota Sanaa, Mayor Jenderal Mohammed Al-Atifi, menegaskan negara ini memiliki sejumlah opsi strategis, yang tidak akan ragu untuk diambil kapan pun jika diperlukan.

Berita Selengkapnya:

Jenderal Israel: Gudang Senjata Kami Hampir Kosong

Seorang mantan petinggi militer Israel menyatakan pemerintah Amerika Serikat (AS) tidak memberikan semua senjata yang diminta tentara Israel untuk memenangi perang yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.

Mayjen (purn.) Itzhak Brik, mantan kepala komite pengaduan di tentara Israel, dalam wawancara dengan Channel 7, Rabu malam (27/12), menjelaskan bahwa pemerintahan Presiden Joe Biden tidak memberikan semua senjata yang diminta Tel Aviv, dan bahwa gudang senjata Israel hampir kosong.

Brik memastikan tentara Israel sangat bergantung pada AS, dan berlanjutnya perang di Gaza berarti pemerintahan Biden terus mengirim senjata ke Tel Aviv. Dia memperingatkan bahwa situasi militer akan jauh lebih rumit jika Israel memasuki perang multi-front atau regional.

 “Tentara Israel untuk pertama kalinya mengakui bahwa gerakan Hamas belum dikalahkan pada tahap perang ini, dan bahwa tentara akan mengubah strateginya atau bersiap untuk membuat perubahan strategis di Jalur Gaza,”  tuturnya.

Dia mengakui sulit menumpas Hamas dan “ini dapat dimengerti sejak lama”. (mm/alalam)

Dua Peluru Hizbullah Hamtam Kerumunan Tentara Israel

Kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Lebanon pada hari Rabu (27/12) merilis video yang merekam serangan terbarunya yang menyasar kerumunan tentara pendudukan Israel di dekat barak  Shomera sehari sebelumnya, dalam kelanjutan perangnya untuk mendukung rakyat dan para pejuang resistensi Palestina di Jalur Gaza.

Serangan itu dilakukan ketika Hizbullah sebagai kelanjutan operasinya terhadap situs-situs militer dan tempat-tempat konsentrasi pasukan Israel di sepanjang perbatasan Lebanon-Palestina pendudukan (Israel).

Dalam video bertanggal 12 Desember 2023 dan berdurasi 1 menit 26 detik itu disebutkan target tembakan peluru kendali Hizbullah dalam serangan kali ini adalah titik konsentrasi tentara Israel di dekat barak Shomera.

Di bagian awal video tampak bayang-bayang seorang tentara Israel yang seperti sedang memasuki  sebuah bangunan kecil, dan pejuang Hizbullah kemudian menembakkan peluru hingga beberapa detik kemudian bangunan itu meledak.

Tak lama kemudian muncul bayangan sejumlah tentara Israel yang datang ke lokasi untuk melakukan evakuasi, dan saat itu pejuang Hizbullah melesatkan peluru kedua hingga kemudian terjadi ledakan untuk kedua kalinya.

Sebelumnya di hari yang sama, Hizbullah mengaku telah membalas serangan tentara Israel yang menyasar rumah-rumah warga sipil di kota selatan Bint Jbeil. Hizbullah menembakkan 30 roket  Katyusha  ke arah  Kiryat Shmona di bagian utara Palestina pendudukan.

Media Israel mengakui terjadi kebocoran gas di permukiman tersebut akibat terkena serangan, menyusul peluncuran roket dan terdengar suara setidaknya 10 ledakan.

Pada hari Rabu Hizbullah melancarkan serangan gabungan , dengan menggunakan rudal dan artileri terhadap pasukan pendudukan  serta kendaraan mereka  di belakang posisi-posisi mereka di wilayah pertanian Shebaa. Hizbullah memastikan serangannya itu menewaskan dan atau melukai pasukan Zionis.

Hizbullah juga menggempur situs  Khirbet Ma’ar” Israel dan posisi artileri di sana dengan rudal  Burkan , selain menggasak pasukan pendudukan yang ditempatkan di sekitarnya hingga jatuh beberapa korban.

Lebih lanjut, Hizbullah  membom situs Hadab Al-Bustan, dan posisi komando baru tentara Israel di sekitar situs Ras Al-Naqoura, selain tenda  pasukan khusus Israel  di selatan situs Al-Dhahira, dengan peluru kendali hingga menyebabkan sejumlah tentara Israel tewas dan terluka.

Sementara itu, di hari yang sama para pejuang resistensi Islam  Irak mengaku telah menyerang sebuah sasaran penting di pemukiman  Iliad  di bagian selatan Palestina pendudukan dengan senjata yang sesuai.

Mereka menegaskan bahwa operasi tersebut dilakukan sebagai kelanjutan dari pendekatan perlawanan terhadap pendudukan, untuk mendukung penduduk dan para pejuang Gaza, dan sebagai respons terhadap kejahatan Israel di Gaza.

 Dalam pernyataannya, mereka juga  mengaku  akan terus “menyerang benteng musuh.”

Selain itu, pada dini hari Rabu, para pejuang Irak juga menggempur markas spionase yang berafiliasi dengan Israel di dekat Erbil. (almayadeen)

Pasukan Yaman:  Umumkan Kesiapan Tingginya untuk Berkonfrontasi Melawan AS

Menteri Pertahanan Yaman kubu Ansarullah yang berkuasa di Ibu Kota Sanaa, Mayor Jenderal Mohammed Al-Atifi, menegaskan negara ini memiliki sejumlah opsi strategis, yang tidak akan ragu untuk diambil kapan pun jika diperlukan.

Dalam pertemuan luar biasa Angkatan Bersenjata dan badan-badan keamanan di pemerintahan Sanaa, Rabu (27/12), Al-Atifi mengumumkan “kesiapan Angkatan Bersenjata Yaman untuk memberikan pukulan yang telak dan menyakitkan  kepada musuh, jika kejahatan dan blokade mereka  terhadap rakyat Palestina terus berlanjut, atau jika mereka berpikir untuk mengusik keamanan dan kedaulatan Republik Yaman.”

Dia menekankan bahwa sikap Yaman, yang menyerukan penghentian kejahatan genosida dan blokade terhadap rakyat tertindas Palestina, merupakan pendirian berbasis keagamaan dan moral yang juga sesuai dengan semua hukum kemanusiaan dan internasional.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri di pemerintahan Sanaa, Mayjen Abdul Karim Al-Houthi, menyatakan bahwa seluruh pasukan keamanan berada dalam keadaan siaga umum, kesiapan tinggi, dan siap sepenuhnya untuk menjalankan tugasnya dalam kerja sama  dan koordinasi dengan Angkatan Bersenjata untuk melaksanakan arahan pemimpin revolusi Sayid Abdul-Malik Al-Houthi.

Para pemimpin pasukan bersenjata dan keamanan Yaman di Sanaa memperingatkan AS dan para sekutunya ihwal konsekuensi militerisasi Laut Merah, Laut Arab, dan Teluk Aden. Mereka menyatakan aksi AS dan sekutunya untuk mengacaukan keamanan pelayaran internasional tak lain ada demi melayani kepentingan Israel.

Mereka juga memperlihatkan kesiapan tempur berbagai satuan dan organisasi militer darat, laut, udara serta pasukan pertahanan udara, rudal dan keamanan pada tahap krusial dan determinan.

Saluran Fox News di hari yang sama melaporkan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah kapal perang AS menembak jatuh rudal balistik selama pertempuran, dan bahwa hal ini terjadi tiga kali di Yaman pada hari Selasa.

Majalah elektronik  Responsible Statecraft menerbitkan laporan yang membahas tentang serangan dari Yaman di Laut Merah. Majalah ini menyebutkan bahwa orang-orang Yaman “ahli dalam peperangan asimetris, dan sebagian besar telah mencapai tujuan mereka”.

“Salah satu tujuannya adalah untuk memberikan kerugian pada Israel dan sekutunya, dan untuk menunjukkan pengaruh regional mereka,” tulisnya.

Hal ini terjadi setelah AS dan sejumlah negara Barat dan regional mengumumkan pembentukan koalisi maritim dengan tujuan mencegah serangan Yaman terhadap kapal-kapal Israel yang menuju ke wilayah pendudukan Palestina. (almayadeen)