Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 27 Juni 2019

kushner di konferensi bahrain2Jakarta, ICMES: Pada sesi penutupan lokakarya ekonomi Bahrain, Jared Kushner, penasehat senior Presiden AS menyebut para pemimpin Palestina gagal membantu bangsanya.

Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menyatakan bahwa prakarsa AS untuk perdamaian Palestina-Israel yang dinamai “Perjanjian Abad Ini” merupakan “penghinaan terhadap kecerdasan kami” dan “terpisah sepenuhnya dari realitas”.

Sebuah aksi epik telah ditunjukkan oleh penduduk Bahrain saat menanggapi tindakan provokatif seorang wartawan Israel di depan pintu gedung Jami’iyyah Bahrain Anti-Normalisasi Hubungan Dengan Zionis.

Masyarakat Aljazair menolak mentah-mentah partisipasi dalam lokakarya Bahrain dan memandangnya sebagai pelelangan Palestina secara terbuka, dengan rencana keji AS.

Berita selengkapnya:

Penutupan Konferensi Bahrain, Kushner Sebut Para Pemimpin Palestina Gagal

Konferensi atau lokakarya ekonomi yang disponsori AS di Manama, Bahrain, untuk mempromosikan prakarsa Washington untuk perdamaian Palestina-Israel, “Perjanjian Abad Ini”,  berakhir Rabu malam waktu setempat (26/6/2019).

Pada sesi penutupan pertemuan itu, Jared Kushner, menantu dan penasehat senior Presiden AS Donald Trump, menyebut para pemimpin Palestina gagal membantu bangsanya, sembari menyatakan “pintu masih terbuka bagi mereka” untuk bergabung dengan prakarsa damai AS yang sejauh ini masih belum jelas kandungan politiknya.

“Jika mereka hendak memperbaiki kehidupan bangsanya maka kami telah meletakkan orientasi kerja besar di mana mereka dapat terlibat di dalamnya dan berusaha merealisasikannya,” ujar Kushner.

Orang-orang Palestina memboikot lokakarya itu sembari menegaskan bahwa aspek ekonomi tidaklah relevan untuk dibicarakan sebelum ada solusi politik bagi substansi persoalan.

Kushner menambahkan bahwa pemerintah AS akan tetap “optimis” dan “kami membiarkan pintu terbuka sepanjang waktu.”

Dalam rencananya, AS mencanangkan penggalangan investasi senilai lebih dari $ 50 miliar untuk kepentingan orang-orang Palestina, menyediakan sejuta lapangan kerja untuk mereka, dan meningkatkan pendapatan domestik bruto mereka dalam proses pelaksanaan yang berjangka waktu 10 tahun.

Para pemimpin Palestina menyorot Kushner dengan tatapan penuh curiga terutama karena dia terikat tali kekerabatan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu maupun dengan Presiden Trump yang telah melakukan berbagai dukungan kepada Israel dalam bentuk-bentuk yang menyalahi konvensi internasional.

Kushner mengatakan, “Apa yang dilakukan oleh para pemimpin (Palestina) itu ialah menyalahkan Israel dan pihak-pihak lain atas semua persoalan bangsanya. Padahal faktanya, tema kolektifnya ialah bahwa semua ini dapat diwujudkan jika pemerintah berminat melaksanakan reformasi ini.”

Di total 22 negara Arab tidak ada yang menjalin hubungan diplomatik sepenuhnya dengan Israel kecuali Yordania dan Mesir. Dua negara ini serta Maroko mengikuti lokakarya itu dengan mengirim delegasi kementerian keuangan masing-masing.

Di AS sendiri tak semua kalangan optimis pada mediasi AS untuk perdamaian Palestina-Israel. Pusat Kajian Soufan (The Soufan Center/TSC) yang bermarkas di New York, AS, meragukan kemampuan Washington melakukan mediasi secara fair setelah Trump melakukan beberapat tindakan yang berpihak pada Israel, termasuk keputusan menghentikan pendanaan Badan Bantuan dan Pekerja PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA).

Mengenai lokarkarya Bahrain, TST menyatakan, “Bagi siapapun yang mengamati situasi dari dekat, lokarkarya di Manama akan terlihat membuang-buang waktu.” (raialyoum)

PLO Sebut Prakarsa AS Lecehkan Kecerdasan Palestina

Anggota Dewan Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina Hanan Ashrawi dalam sebuah jumpa pers di Ramallah, Tepi Barat, Rabu(26/6/2019), menyatakan bahwa prakarsa AS untuk perdamaian Palestina-Israel yang dinamai “Perjanjian Abad Ini” merupakan “penghinaan terhadap kecerdasan kami” dan “terpisah sepenuhnya dari realitas”.

Hal ini dilontarkan Ashrawi saat menanggapi lokakarya ekonomi yang disponsori AS di Manama, Bahrain, untuk mempromosikan prakarsa Washington tersebut, pada 25-26 Juni 2019.

Ashrawi mengatakan, “Perdamaian ekonomi yang telah berulangkali diajukan dan gagal diwujudkan karena tak berinteraksi dengan komponen perdamaian yang sejati sekarang diajukan lagi, dan susun ulang untuk kesekian kalinya.”

Ashrawi mengecam lokakarya itu antara lain karena di dalamnya “sama sekali tidak menyebutkan kata ‘pendudukan’.”

Hubungan AS dengan otoritas Palestina memburuk sejak Presiden AS Donald Trump mengakui Quds (Yerussalem) sebagai ibu kota Israel dan kemudian memindah Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Quds.

Warga Palestina di berbagai kota dan daerah Tepi Barat dan Jalur Gaza telah menggelar unjuk rasa anti lokakarya Bahrain selama pertemuan ini berlangsung pada 25-26 Juli 2019. (raialyoum)

Jurnalis Israel Bertindak Provokatif Ini, Ini Reaksi Epik Penduduk Bahrain

Bahrain, meskipun rezimnya berkompromi dengan Israel demi menuruti kehendak AS, namun penduduknya justru sangat loyal kepada Palestina dan pantang tunduk kepada agenda Israel dan AS.

Dalam hal ini, sebuah aksi epik telah ditunjukkan oleh penduduk Bahrain saat menanggapi tindakan provokatif seorang wartawan Israel di depan pintu gedung Jami’iyyah Bahrain Anti-Normalisasi Hubungan Dengan Zionis.

Di depan kamera amatir, sejumlah pria Bahrain melakukan aksi “penyucian najis” dari tempat berdirinya seorang wartawan Israel ketika dia melakukan aksi selfie atau swafoto provokatif.

Dengan sebuah tagar berbahasa Arab yang berarti “Bahrain menolak normalisasi”, sebuah rekaman video amatir yang merekam reaksi penduduk Bahrain telah tersebar melalui media sosial Twitter. Dalam penggalan video yang hanya berdurasi 34 detik itu terlihat tiga orang pria melakukan aksi “pembersihan dan penyucian” teras gedung  Jami’iyyah Bahrain Anti-Normalisasi Hubungan Dengan Zionis, yang sebelumnya telah dijadikan sebagai tempat swafoto wartawan Israel sembari menunjukkan paspor Israel-nya.

Mereka menyapu dan mengepel  bagian teras dan paving di depan pintu tersebut. Sembari mengepel paving, satu pria lanjut usia di antaranya mengatakan, “Kami sedang membersihkan dan menyucikan tempat ini dari sesuatu yang paling najis.”

Dilaporkan bahwa selain aksi yang dilakukan oleh beberapa pria tersebut, penduduk Bahrain juga ramai-ramai mengibarkan bendera Palestina di sisi bendera negara mereka untuk menandai penolakan terhadap lokakarya ekonomi yang disponsori AS di Bahrain.

Para aktivis media sosial Bahrain menyatakan bahwa wartawan Israel tersebut telah memublikasikan aksi selfienya di gedung itu jelas dimaksudkan untuk meremehkan dan memperolok rakyat Bahrain terkait dengan isu Palestina.

Menurut mereka, tindakan wartawan itu merupakan provokasi di depan sensibilitas rakyat Bahrain, dan karena itu rakyat negara ini menuntut tindakan tegas terhadap aksi itu.

Sementara itu, channel Kana milik Israel menyebutkan bahwa Salman bin Ahmad al-Khalifah, penasehat media Raja Bahrain, telah mengadakan jamuan makan malam untuk puluhan wartawan Israel yang datang ke negara ini untuk meliput lokakarya ekonomi, meskipun kedua negara tidak terikat hubungan diplomatik. (raialyoum)

Aljazair, Arab Paling Vokal Terhadap Lokakarya Bahrain

Aljazair tergolong negara Arab yang paling avokal menolak lokakarya Bahrain. Tentang ini, jurnalis Harian al-Khabar di Aljazair, Mohammmad Alal, di halaman Twitter-nya menuliskan, “Aljazair menolak mentah-mentah partisipasi dalam pertemuan di Manama yang kini melelangkan Palestina secara terbuka, dengan rencana keji AS, dan sayangnya justru diberi pencitraan dan didanai oleh orang-orang Arab sendiri.”

Dia mengecam keras kebijakan negara-negara Arab peserta lokakarya Manama dan mengaku heran mengapa mereka tak bersikap dalam masalah ini.

Alal melanjutkan dengan menyoal, “Mana mereka yang suka merapal nama Palestina sembari mengenakan keffiyeh di berbagai festival internasional itu? Mana ucapan penolakan kalian sekarang terhadap penghinaan oleh rencana yang, sayang sekali, datang justru dengan partisipasi negara-negara Arab kalian dan dengan dana yang dijarah dari kalian itu?’”

Aktivis politik Aljazair Yusouf Khababah yang melontarkan kecaman yang tak kalah pedasnya dengan menyebut para peserta lokarkaya Bahrain sebagai para pengkhianat.

Di halaman Facebook-nya dia menulis, “Kepada pedang-pedang pengkhianat dalam lokarkaya perdagangan di Manama ketahuilah bahwa Palestina telah membongkar kemunafikan kalian, dan Palestina akan tetap menjulang di depan muka para emir dan raja pengkhianat.”

Anggota parlemen Aljazair dari partai Keadilan dan Pembangunan, Lakhdar bin Khalaf, menegaskan, “Palestina tak akan terjual dengan Dirham maupun Dolar. Jatuhlah konferensi Bahrain!” (raialyoum)