Rangkuman Berita Utama Timteng  Kamis 25 November 2021

Jakarta, ICMES. Kantor berita Rusia, TASS, mengutip pernyataan seorang petinggi militer Rusia, Rabu (24/11), bahwa tentara Suriah telah menghancurkan 10 dari 12 rudal yang ditembakkan oleh jet tempuyr F-16 Israel dalam serangan terbarunya ke wilayah Suriah.

Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Kenneth McKenzie menyebut Iran sudah “sangat dekat dengan pembuatan senjata nuklir”.

Pemimpin blok Sadr di Irak, Sayid Moqtada Sadr, mengaku tidak akan melibatkan blok politik lain jika pihaknya memerintah pasca pemilu Irak yang hasilnya masih dipertikaikan.

Pemerintah Austalia menetapkan kelompok pejuang Hizbullah Lebanon sebagai organisasi teroris, dan Hizbullah dan kelompok pejuang Ansarullah Yaman segera menanggapi penetapan tersebut.

Berita Selengkapnya:

Rusia: Suriah Hancurkan 10 dari 12 Rudal yang Ditembakkan Israel ke Homs

Kantor berita Rusia, TASS, mengutip pernyataan seorang petinggi militer Rusia, Rabu (24/11), bahwa tentara Suriah telah menghancurkan 10 dari 12 rudal yang ditembakkan oleh jet tempuyr F-16 Israel dalam serangan terbarunya ke wilayah Suriah.

Disebutkan bahwa petinggi militer Rusia bernama Vadim Kolet itu mengatakan bahwa tentara Suriah menangkis serangan itu dengan menggunakan sistem rudal Buk dan Pantsir buatan Rusia.

Dia menambahkan bahwa jet-jet tempur F-16 Israel telah melancarkan serangan ke provinsi Homs, Suriah, melalui zona udara Lebanon.

Lembaga Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) yang dekat dengan oposisi Suriah mengklaim serangan yang terjadi pada dini hari Rabu itu menjatuhkan empat korban tewas, dua di antaranya warga sipil dan dua lainnya tak jelas sipil atau militer, serta menyebabkan kerugian materi.

Kantor berita resmi Suriah, SANA, melaporkan bahwa serangan itu terjadi pada sekitar pukul 1.26 waktu setempat, dan dilancarkan oleh Israel dari arah timur laut Beirut, ibu kota Lebanon, dengan sasaran beberapa titik kawasan di Suriah tengah, namun sebagian besar rudal yang ditembakkan Israel berhasil dirontokkan oleh sistem pertahanan udara Suriah.  

Saluran 12 Israel melaporkan bahwa pada Rabu malam Suriah “secara keliru” telah menembakkan sebuah rudal anti pesawat udara, dan rudal itu melintas di angkasa Israel (Palestina pendudukan 1948) hingga  kemudian meledak di angkasa pantai Haifa.

Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menyebut serangan terbaru Israel ke Suriah itu sebagai “kejahatan dan premanisme baru yang berkelanjutan terhadap bangsa umat kami”.

Jubir Hamas Hazim Qasem mengatakan, “Logika intimidasi yang diterapkan oleh entitas Zionis (Israel) terhadap semua komponen umat harus dihadapi secara kompak demi membatasi perilaku agresi rezim pendudukan Itu.” (raialyoum)

AS Sebut Iran Sangat Dekat dengan Pembuatan Bom Nuklir

Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Kenneth McKenzie menyebut Iran sudah “sangat dekat dengan pembuatan senjata nuklir”.

Dikutip Rai Al-Youm, Rabu (24/11), McKenzie mengatakan hal itu kepada Majalah Time sembari menyatakan bahwa pasukan AS siap menjalankan opsi militer yang mungkin akan ditempuh jika perundingan Iran dengan negara-negara besar dunia mengenai perjanjian nuklir gagal. Perundingan itu akan dimulai lagi di Wina, Swiss, pada 29 November mendatang.

McKenzie juga mengatakan, “Presiden kami mengatakan bahwa mereka (Iran) tak akan pernah mendapatkan senjata nuklir. Para diplomat sekarang ada di depan untuk urusan ini, tapi Komando Pusat selalu memiliki sejumlah rencana yang dapat kami jalankan jika ada pengarahan kepada kami untuk demikian.”

Di sisi lain, Washington menyayangkan apa yang disebutnya tak ada kemajuan dalam pembicaraan antara Iran dan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), dan menilai pendirian Teheran dalam hal ini sebagai “pertanda buruk” menjelang kelanjutan perundingan Wina.

“Kami berterima kasih kepada Dirjen IAEA Rafael Grossi atas usahanya, dan kami kecewa bahwa Iran melewatkan kesempatan yang ditawarkan untuk bekerjasama,” kata juru bicara Kemlu AS kepada AFP.

Grossi sendiri mengatakan bahwa waktu hampir habis untuk upaya IAEA mengamankan akses ke pabrik komponen sentrifugal di Iran guna memasang kembali kamera pengawas.

Dia menambahkan bahwa IAEA dalam waktu dekat ini tidak dapat lagi memastikan apakah peralatan yang ada tidak dikonversi oleh Iran untuk membuat bom nuklir.

Grossi membuat pernyataan demikian sehari setelah kunjungannya ke Teheran yang menurutnya tidak mengarah pada kemajuan dalam sejumlah masalah, terutama soal akses ke pabrik di kompleks Tissa Karaj dua bulan setelah Iran berjanji untuk mengizinkannya.

Jubir Badan Tenaga Atom Iran Behruz Kamalvandi mengatakan bahwa Teheran dan IAEA telah mencapai kesepakatan umum mengenai mekanisme penindak lanjutan tema-tema yang menjadi perhatian bersama, dan bersepakat melanjutkan perundingan untuk penyempurnaan kerangka dan rincian kelanjutan kerjasama antara keduanya.

Menurut Kamalvandi, dalam kunjungan Grossi ke Iran telah dilakukan pembicaraan dalam “suasana konstruktif”.

“Grossi di Dewan Gubernur mengatakan bahwa perundingan di Teheran belum selesai, dan dalam kurun waktu ini kita tak dapat menyembuhkan dan menyimpulkan semua urusan,” lanjutnya.

Kamalvandi juga mengatakan bahwa telah diputuskan untuk melanjutkan perundingan sampai didapat hasil yang sempurna. (raialyoum/alalam)

Moqtada Sadr Mengaku Tak akan Melibatkan Blok Politik lain dalam Pemerintahan Irak

Pemimpin blok Sadr di Irak, Sayid Moqtada Sadr, mengaku tidak akan melibatkan blok politik lain jika pihaknya memerintah pasca pemilu Irak yang hasilnya masih dipertikaikan.

“Satu-satunya solusi untuk menyelamatkan Irak ialah saya membentuk pemerintahan, sedangkan pihak yang kalah menjadi oposisi, atau sebaliknya. Satu-satunya solusi untuk menyelamatkan Irak ialah pembentukan pemerintahan mayoritas, saya tidak akan berpartisipasi dalam pemerintahan koalisi atau pemerintahan konsensus, menjadi oposisi lebih baik bagi kami,” ungkap Sadr dalam sebuah wawancara televisi, Rabu (24/11).

Sadr yang bloknya meraih suara terbanyak dalam pemilu parlemen menyerukan kepada semua pihak untuk menjamin bahwa Irak tidak mengekor pada pihak luar negeri manapun.

“Keputusan kita adalah Irak, dan tak menerima perintah sama sekali dari luar perbatasan,”tegasnya.

Blok Sadr meraih 70 dari total 329 kursi parlemen, namun berbagai kubu lain memrotes hasil pemilu dan mengklaim telah terjadi manipulasi besar-besar. Mereka terus melakukan aksi protes dan mengancam akan terus mengangkat masalah ini.

Di sisi lain, meskipun blok Sadr unggul 30 kursi atas blok pesainya, namun masih perlu menggalang posisi mayoritas dua pertiga untuk dapat meloloskan kandidatnya ke jabatan perdana menteri. (alalam)

Australia Tetapkan Hizbullah sebagai Organisasi Teroris, ini Tanggapan Hizbullah dan Ansarullah

Pemerintah Austalia menetapkan kelompok pejuang Hizbullah Lebanon sebagai organisasi teroris, dan Hizbullah dan kelompok pejuang Ansarullah Yaman segera menanggapi penetapan tersebut.

Menteri Dalam Negeri Australia Karen Andrews, Rabu (24/11), mengklaim bahwa Hizbullah yang didukung Iran “terus mengancam untuk melakukan serangan teror dan memberikan dukungan kepada organisasi teroris” serta menimbulkan ancaman “nyata” bagi Australia.

Amerika Serikat (AS) dan Israel telah mengklasifikasikan Hizbullah sebagai organisasi teroris selama bertahun-tahun, sementara negara-negara lain hanya memasukkan sayap militer Hizbullah ke dalam daftar organisasi teroris mereka dan mempertahankan sayap politiknya tetap berada di luar kerangka sanksi mereka demi menghindari kerumitan hubungan mereka dengan otoritas Lebanon.

Hizbullah memiliki banyak wakil di parlemen Lebanon dan memainkan peran penting dalam percaturan dan kebijakan politik negara ini.  Hizbullah juga memiliki persenjataan militer yang besar, termasuk rudal presisi, serta mendapat dukungan penuh dari Iran.

Peran Hizbullah, musuh bebuyutan Israel dan sekutu Damaskus, melampaui wilayah teritorial Lebanon sehingga bahkan disebut-sebut sebagai pemain kunci di Suriah, Irak dan bahkan Yaman. Sebagian orang menyebut Hizbullah perpanjangan tangan Teheran dalam perluasan pengaruh Iran di Timur Tengah.

Hizbullah mengecam keputusan Australia tersebut dan menganggapnya sebagai “kepatuhan yang hina pada dikte AS dan Zionisme serta keterlibatan secara membuta dalam pelayanan kepada kepentingan dan kebijakan Israel yang bertumpu pada terorisme, pembunuhan dan genosida”.

Dalam sebuah pernyataannya, Hizbullah menegaskan, “Keputusan itu maupun keputusan-keputusan serupa sebelumnya tak akan pernah mempengaruhi pendirian Hizbullah dan haknya membela negara dan bangsanya serta menyokong gerakan-gerakan resistensi anti pendudukan dan agresi Zionis.”

Kelompok pejuang Ansarullah di Yaman juga mengutuk keputusan Australia itu dan menyebutnya sebagai “bagian dari langkah keji” yang ditujukan untuk melayani Israel dalam penistaan terhadap hak bangsa Palestina.

Ansarullah juga menyerukan penolakan bangsa-bangsa Arab dan Muslim terhadap terorisasi Hizbullah oleh Australia. (raialyoum/alalam)