Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 25 Maret 2021

drone MQ9 ReaperJakarta, ICMES. Seorang anggota kelompok teroris ISIS menyerahkan diri kepada pasukan Irak setelah tiga tahun menghabis waktunya dengan bersembunyi di pegunungan.

Tokoh gerakan Ansarullah (Houth) yang juga anggota Dewan Tinggi Politik Yaman Mohammad Ali Al-Houthi menyatakan pihaknya di Sanaa, ibu kota Yaman, belum menerima secara resmi usulan damai dari pemerintah Arab Saudi.

Untuk pertama kalinya di dunia Arab, sebuah negara Arab enggan menyetujui resolusi Dewan HAM PBB yang berkedudukan di Jenewa, Swiss, karena berisi kecaman terhadap aksi-aksi Rezim Zionis Israel di wilayah pendudukan Palestina.

Gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman, Rabu (24/3), memublikasi video penembak jatuhan drone MQ-9 Reaper buatan AS oleh unit pertahanan udara tentara Yaman dan para pejuang Lijan Shaabiya yang berafiliasi dengan Ansarullah di angkasa provinsi Ma’rib pada satu hari sebelumnya.

Berita Selengkapnya:

Penembak Jatuhan Drone MQ9 Buatan AS di Yaman

Gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman, Rabu (24/3), memublikasi video penembak jatuhan drone MQ-9 Reaper buatan AS oleh unit pertahanan udara tentara Yaman dan para pejuang Lijan Shaabiya yang berafiliasi dengan Ansarullah di angkasa provinsi Ma’rib pada satu hari sebelumnya.

Dilaporkan bahwa pesawat nirawak itu tertembak ketika sedang diterbangkan oleh pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi untuk menjalankan misi agresi terhadap tentara Yaman dan pasukan Ansarullah di Ma’rib.

Video itu memperlihatkan detik-detik sejak pesawat canggih tersebut dipantau hingga meledak menjadi serpihan setelah diterjang rudal darat-ke-udara di angkasa distrik Sirwah.

Peristiwa ini tercatat sebagai yang ketiga kalinya drone canggih jenis MQ-9 tertembak jatuh di Yaman. Peristiwa pertama terjadi di provinsi Hudaydah pada tanggal 7 Juni 2019, sedangkan yang kedua di provinsi Dhamar pada 20 Juli 2019.

Pesawat nirawak jenis ini pula yang pernah menyerang dan mengugurkan jenderal tersohor Iran,  Qasem Soleimani, dan tokoh pejuang Irak Abu Mahdi Al-Muhandis, dalam serangan militer AS di dekat Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari 2020.

MQ-9 Reaper seharga US$ 11,5 juta ini memiliki bentuk yang menyerupai pesawat tempur dan dibuat oleh General Atomics Aeronautical Systems, perusahaan AS yang khusus memproduksi pesawat tanpa awak dan radar militer.

Drone yang dikembangkan sejak tahun 2001 ini dilengkapi kamera yang pada jarak 3,2 kilometer dapat melihat objek semisal mobil sampai ke pelat nomornya.  Pesawat nirawak ini berbobot bersih 2.223 kg, sedangkan jika membawa senjata rudal menjadi 4.760 kg.

MQ-9 Reaper berkecepatan jelajah maksimal 482 km per jam, mampu terbang lebih dari 40 jam sejauh 3000 km. Untuk misi pengintaian, ia dapat terbang hingga ketinggian 50 ribu kaki selama 42 jam, sedangkan jika membawa senjata penuh maka hanya dapat beroperasi selama sekira 14 jam. (almasirah)

Ansarullah Mengaku Tak Menerima Usulan Damai dari Saudi.

Tokoh gerakan Ansarullah (Houth) yang juga anggota Dewan Tinggi Politik Yaman Mohammad Ali Al-Houthi menyatakan pihaknya di Sanaa, ibu kota Yaman, belum menerima secara resmi usulan damai dari pemerintah Arab Saudi.

Kepada Sputnik milik Rusia, Rabu (24/3), Ali Al-Houthi menyebut prakarsa damai Saudi itu hanya mengemuka di media, padahal kalau memang serius Saudi seharusnya menyampaikan prakarsa itu terlebih dahulu kepada Sanaa.

“Prakarsa itu tidak dinyatakan secara resmi kepada Yaman, ini menunjukkan bahwa Saudi tak serius untuk menghentikan serangan dan agresinya ke Yaman. Sebelum mengumumkan prakarsa itu, Saudi semestinya mengirimnya kepada pemerintah Yaman (kubu Sanaa) dan menunggu respon, bukan semata berdimensi media,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Kami mendukung gencatan senjata, penghentian agresi, dan pencabutan blokade, yang bukan sebatas berdimensi media, melainkan sikap yang operasional.”

Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan al-Saud Senin malam lalu mengumumkan usulannya untuk meredakan perang Yaman, menerapkan gencatan senjata serta pengoperasian kembali Bandara Sanaa dan Pelabuhan Hudaydah secara terbatas.

Saudi mengajukan syarat bahwa kubu Sanaa harus menyetujui Pemerintahan Keselamatan Nasional di mana Ansarullah merupakan bagian darinya.

Invasi militer Saudi dan sekutunya ke Yaman sudah memasuki tahun ketujuh, dan menurut PBB, Riyadh telah mempersulit lima perundingan yang pernah dilakukan oleh pihak-pihak Yaman di Kuwait, Oman, dan Yordania.

Selama enam tahun terakhir, Saudi memblokade Bandara Sanaa dan bahkan kerap melancarkan serangan udara terhadapnya. Padahal dalam Perjanjian Stockholm tahun 2018 koalisi yang dipimpin Saudi berjanji mengurangi blokadenya terhadap bandara itu untuk penerbangan misi kemanusiaan. Janji itu sampai sekarang tak kunjung dipenuhi oleh koalisi.

Sementara itu, ketua delegasi perunding Sanaa dan juru bicara Ansarullah Mohammad Abdul Salam menegaskan bahwa pengiriman bahan pangan dan bahan bakar merupakan masalah kemanusiaan sehingga tak relevan untuk dinegosiasikan.

“Pengiriman produk minyak, bahan pangan, kebutuhan medis, dan kebutuhan pokok lain adalah hak kemanusiaan dan legal bagi bangsa Yaman, kami tidak menerima menegosiasikannya dengan persyaratan militer dan politik apapun,” ungkap Abdul Salam di halaman Twitternya. (alalam)

Keterlaluan, Bahrain Tolak Resolusi Kecaman PBB terhadap Israel

Untuk pertama kalinya di dunia Arab, sebuah negara Arab enggan menyetujui resolusi Dewan HAM PBB yang berkedudukan di Jenewa, Swiss, karena berisi kecaman terhadap aksi-aksi Rezim Zionis Israel di wilayah pendudukan Palestina.

Al-Mayadeen, Rabu (24/3), melaporkan bahwa wakil Bahrain di dewan itu menghindar dengan cara meninggalkan ruang sidang pemungutan suara untuk draf resolusi tersebut.

Dalam resolusi itu Dewan HAM PBB meminta Komisaris Tinggi PBB untuk Ham (OHCHR) membuat laporan mengenai pelanggaran HAM di wilayah pendudukan Palestina. Resolusi bernada keras terhadap Israel itu juga menyerukan embargo senjata terhadap Israel, dan lolos dengan dukungan 32-6.

Resolusi itu “menyerukan kepada negara-negara anggota PBB berhenti mentransfer senjata , yang berisiko jelas bahwa senjata demikian dapat digunakan untuk melakukan atau memfasilitasi pelanggaran serius atau pelanggaran hukum hak asasi manusia internasional atau pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional”.

Sikap Bahrain itu tak pelak membangkitkan kemarahan orang-orang Palestina, terlebih karena banyak negara Eropa bahkan memberikan suara mendukung resolusi tersebut.

Dengan ulah demikian, Bahrain tercatat sebagai negara Arab pertama yang melakukan aksi walk out dari sidang yang mendukung hak Palestina, dan sidang itu ternyata menghasilkan 32 suara dukungan dari total 47 negara anggota.

Para anggota delegasi Bahrain dalam dewan itu enggan berkomentar kepada wartawan Al-Mayadeen ihwal penolakannya terhadap resolusi tersebut.

Bersama Uni Emirat Arab, Bahrain telah menandatangani perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel di Gedung Putih, AS, pada 15 September 2020. (almayadeen)

Anggota ISIS Menyerah Setelah 3 Tahun Bersembunyi di Gunung

Seorang anggota kelompok teroris ISIS menyerahkan diri kepada pasukan Irak setelah tiga tahun menghabis waktunya dengan bersembunyi di pegunungan.

Dalam sebuah video yang dipublikasi pada hari Rabu (24/3) terkait peristiwa tersebut tampak seorang pria dilaporkan sebagai anggota ISIS di sebuah tanah terbuka mengangkat tangannya di hadapan beberapa pasukan Irak.

Adegan dramatis itu terjadi di daerah Gunung Makhmur di Pegunungan Makhul, provinsi Salahuddin (Saladin), Irak utara.

Juru bicara Komandan Umum Angkatan Bersenjata Irak Yahya Rasool menyatakan bahwa pria itu bernama Hisan Abdullah Hilal “yang sudah tiga tahun tak meninggalkan Gunung Makhmur.”

Dia juga menyebutkan beberapa anggota dan pentolan ISIS, termasuk seorang amirnya di daerah tersebut bernama Taher alias Abu Jarnas dan satu petinggi keamanannya, Abu Thabit, tewas dalam operasi Pasukan Kontra-Terorisme Irak. (rt)