Jakarta, ICMES. Amerika Serikat (AS) mengaku telah melancarkan serangan udara terhadap fasilitas infrastruktur yang digunakan oleh kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Suriah timur.

Pemerintah Iran mengaku telah menerima dari koordinator Eropa tanggapan pemerintah Amerika Serikat (AS) atas catatan Iran untuk penyelesaian masalah yang tersisa dalam negosiasi pemulihan perjanjian nuklir 2015, yang lazim disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).
Berita Selengkapnya:
AS Serang Pasukan yang “Terkait dengan Iran†di Suriah, Ini Tanggapan Teheran
Amerika Serikat (AS) mengaku telah melancarkan serangan udara terhadap fasilitas infrastruktur yang digunakan oleh kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Suriah timur.
Komando Pusat militer AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa serangan itu dilancarkan atas perintah Presiden Joe Biden terhadap sasaran yang terletak di Provinsi Deir Az Zor, Suriah.
“Serangan hari ini diperlukan untuk melindungi dan membela personel AS,” kata Juru Bicara CENTCOM Kolonel Joe Buccino, Rabu (24/8).
Dia menambahkan bahwa serangan itu merupakan balasan atas serangan drone terhadap pasukan AS pada 15 Agustus lalu. Drone itu diduga diluncurkan oleh milisi pro- Iran terhadap target Garnisun al-Tanf yang digunakan oleh pasukan AS.
CENTCOM menyebut bahwa dalam serangan drone itu “tidak ada korban dan tidak ada kerusakan”.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), lembaga pemantau perang yang berafiliasi dengan oposisi Suriah, menyatakan serangan balasan AS itu menyasar Kamp Ayash yang dikelola oleh Fatimiyoun, kelompok militan yang anggotanya sebagian besar berasal dari Afghanistan dan didukung Iran.
Menurut SOHR, serangan itu menewaskan sedikitnya enam militan Suriah dan asing.
Di pihak lain, juru bicara kementerian luar negeri Nasser Kanani, dalam sebuah pernyataan singkat nya, mengutuk “aksi teroris†AS terhadap kelompok-kelompok pejuang di Suriah.
Tanpa menyebutkan nama, dia membantah klaim bahwa kelompok-kelompok pejuang itu berafiliasi dengan Iran.
“Serangan terbaru tentara AS terhadap terhadap bangsa Suriah ini merupakan serangan teror terhadap kelompok-kelompok rakyat dan para pejuang anti-pendudukan,†kata Kanani, beberapa jam setelah CENTCOM membuat pernyataan.
Dia menambahkan, “Kehadiran militer AS yang berkelanjutan di beberapa bagian tanah Suriah bertentangan dengan hukum internasional dan merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan negara ini.â€
Kanani mendesak AS meninggalkan Suriah, berhenti “menjarah†minyak dan biji-bijiannya, dan menyudahi dalih perang melawan terorisme untuk tetap bercokol di Suriah.
Deir Az Zor adalah provinsi strategis yang berbatasan dengan Irak dan memiliki ladang minyak.
Kelompok milisi yang didukung Iran dan pasukan Suriah mengendalikan daerah itu dan pernah menjadi sasaran serangan jet tempur Israel dalam serangan sebelumnya.
Pasukan AS memasuki Suriah pada tahun 2015 dengan dalih demi memerangi kelompok teroris ISIS.
Sementara itu, channel Telegram Sabereen News melaporkan pada Rabu malam bahwa pangkalan militer AS di ladang minyak Al-Omar Square di timur Suriah menjadi sasaran serangan lima misil.
Menurut media ini, suara keras dari beberapa ledakan telah mengguncang pangkalan AS di ladang minyak Al Omar yang terletak di garis perbatasan antara Suriah dan Irak.
Beberapa sumber berita mengatakan bahwa setelah serangan itu, pangkalan Angkatan Darat AS juga menjadi sasaran di ladang gas Conoco di provinsi Deir Ez-Zur Suriah. (raialyoum/aljazeera/mna)
Iran Pelajari Tanggapan AS Soal Pemulihan Perjanjian Nuklir
Pemerintah Iran mengaku telah menerima dari koordinator Eropa tanggapan pemerintah Amerika Serikat (AS) atas catatan Iran untuk penyelesaian masalah yang tersisa dalam negosiasi pemulihan perjanjian nuklir 2015, yang lazim disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).
Juru bicara resmi Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, saat mengumumkan hal tersebut, Rabu (24/8), menyatakan Teheran mulai meninjau dan mengkaji tanggapan AS, dan akan mengumumkan pandangannya kepada koordinator Eropa setelah menyelesaikan kajian.
Sebelumnya, Koordinator Komunikasi Strategis di Dewan Keamanan Nasional AS, John Kirby, mengumumkan bahwa Washington menilai keputusan Iran untuk membuat “beberapa konsesi†sebagai langkah positif dalam negosiasi pemulihan JCPOA.
“Iran telah membuat beberapa konsesi, yang memungkinkan kami mencapai titik ini dalam negosiasi di mana kami berada sekarang,†kata Kirby.
Dia menambahkan, “Sekarang kami lebih dekat daripada dua minggu lalu, karena Iran telah memutuskan untuk membuat beberapa konsesi, ini adalah langkah maju yang positif, tetapi saya ingin menambahkan bahwa masih ada celah, dan kami belum mencapai tujuan. â€
Dia kembali mendengungkan tuduhan bahwa Iran berusaha meraih senjata nuklir.
“Adalah kepentingan keamanan nasional AS untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Iran yang bersenjata nuklir menimbulkan ancaman yang lebih besar bagi pasukan AS dan teman-teman dan sekutu di kawasan itu,†ujarnya.
Dia menambahkan, “ Tidak ada masalah di Timur Tengah yang mudah diselesaikan ketika Iran dipersenjatai dengan senjata nuklir. Inilah mengapa kami sangat fokus pada hasil diplomatik dari negosiasi untuk kembali ke JCPOA.â€
Dia menekankan bahwa terlepas dari apakah kesepakatan nuklir dipulihkan atau tidak, Washington akan terus “menghadapi perilaku jahat Iran di kawasan.”
Mantan Perdana Menteri Rezim Zionis Israel Benjamin Netanyahu mengecam perjanjian nuklir antara Teheran dan Washington, dan menyebutnya “memberi Iran mesin sentrifugal yang kekuatannya 20 kali lebih besar dari yang ia miliki sekarangâ€.
Dia mengklaim, “Perjanjian nuklir dengan Iran ini jauh lebih buruk daripada perjanjian sebelumnya, buruk karena membayar uang untuk teror dan agresi Iran di seluruh kawasan.”
JCPOA ditinggal secara sepihak oleh AS pada tahun 2018. Negara-negara yang tersisa dalam perjanjian ini, yaitu Prancis, Jerman, Inggris, Cina, dan Rusia kini sedang menunggu tanggapan Iran atas tanggapan AS, untuk mengakhiri pembicaraan berbulan-bulan, dan mengumumkan kesepakatan nuklir baru, atau mungkin putaran negosiasi lainnya. (alalam/aljazeera/raialyoum)







