Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 24 Desember 2020

hamasJakarta, ICMES. Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menegaskan kembali bahwa normalisasi hubungan dengan Rezim Zionis Israel merupakan pengkhianatan terhadap Palestina dan Umat Islam.

Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani menyerukan dialog negara-negara Teluk Arab Persia dengan Republik Islam Iran.

Para petinggi keamanan nasional Amerika Serikat menyiapkan beberapa opsi yang akan diajukan kepada Presiden Donald Trump untuk mencegah serangan terhadap pasukan dan para diplomat AS di Irak.

Berita Selengkapnya:

Hamas Peringatkan Negara-Negara Arab dan Islam Soal Normalisasi Hubungan dengan Israel

Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menegaskan kembali bahwa normalisasi hubungan dengan Rezim Zionis Israel merupakan pengkhianatan terhadap Palestina dan Umat Islam.

Dalam pesannya kepada para pemimpin lebih dari 30 negara Arab dan Islam, Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, Rabu (23/12), menyebut normalisasi hubungan beberapa negara Arab dengan Israel rezim Zionis sebagai tikaman ke punggung bangsa Palestina dan umat Islam.

Haniyeh menegaskan, “Normalisasi hubungan dengan rezim Israel merupakan kesalahan dan perilaku yang merugikan kepentingan umat Islam dan membahayakan masalah Palestina.”

Dia juga menyatakan bahwa perjuangan Palestina dihadapkan pada tantangan besar yang mengarah terhadapnya.

Hamas mengaku prihatin dan bahkan “muak” terhadap penandatanganan normalisasi hubungan yang disponsori oleh Amerika Serikat (AS) antara negara-negara Arab di satu pihak dan Israel di pihak lain,.

Pemimpin faksi besar pejuang Palestina yang berbasis di Gaza itu juga mengaku terkejut dan prihatin atas pembatalan draf resolusi Palestina Liga Arab yang mengutuk normalisasi ini.

Seperti diketahui, akibat tekanan AS, beberapa negara Arab yang dimulai dari Uni Emirat Arab, dan kemudian Bahrain, Sudan, dan yang terbaru Maroko, menjalin hubungan diplomatik dengan Israel meski mendapat kecaman keras dari Palestina. (mn)

Qatar Serukan Dialog Negara-Negara Arab Teluk dengan Iran

Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani menyerukan dialog negara-negara Teluk Arab Persia dengan Republik Islam Iran.

Dalam konferensi pers bersama dengan sejawatnya dari Rusia Sergey Lavrov di Moskow, Rabu (23/12, Al-Thani menekankan bahwa Doha mendukung dialog antara Arab Teluk Persia dan Iran demi mengatasi pertikaian.

Dia meenyebutkan bahwa Qatar menyambut baik inisiatif apa pun yang akan berkontribusi bagi perdamaian dan stabilitas kawasan.

Al-Thani yang berkunjung ke Rusia untuk mengadakan pembicaraan politik menyatakan bahwa dalam pertemuannya dengan Lavrov pada hari itu juga telah dibahas gagasan “pembentukan keamanan kolektif”.

Kedua pihak membahas berbagai persoalan yang terkait dengan upaya stabilisasi situasi regional Teluk Persia melalui koordinasi langkah-langkah praktis tertentu oleh negara-negara kawasan dengan tujuan memperkuat rasa saling percaya dan menciptakan kondisi yang mendukung upaya dialog dan meredakan ketegangan. (mn)

AS Siapkan Opsi Untuk Lindungi Pasukan dan Diplomatnya di Irak dari “Serangan Iran”

Seorang pejabat senior pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa para pejabat senior keamanan nasional negara ini dalam rapat yang berlangsung pada hari Rabu (23/12) telah menyetujui beberapa opsi yang akan diajukan kepada Presiden Donald Trump untuk mencegah serangan terhadap pasukan dan para diplomat AS di Irak.

Pertemuan itu digelar menyusul apa yang mereka klaim bahwa telah terjadi serangan pada 20 Desember lalu terhadap pasukan dan Kedutaan Besar AS di Zona Hijau Baghdad.

Pejabat yang enggan disebutkan namanya itu mengatakan bahwa pada Ahad lalu telah terjadi serangan yang membidik Kedutaan Besar AS di Zona Hijau Baghdad sehingga sedikitnya delapan roket mendarat di kawasan yang dijaga ekstra ketat tersebut.

Menurutnya, para pejabat tinggi yang terdiri atas Penjabat Menteri Pertahanan Chris Miller, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Penasihat Keamanan Nasional Robert O’Brien telah membahas situasi tersebut dalam pertemuan di Gedung Putih.

Tanpa menyebutkan kandungan opsi tersebut, termasuk mengenai kemungkinan tindakan militer, pejabat anonim itu menambahkan bahwa “berbagai opsi” akan segera diajukan kepada Presiden Trump.

Dia mengatakan bahwa setiap opsi itu “dirancang untuk non-eskalasi dan demi mencegah serangan lebih lanjut.”

Setelah pertemuan tersebut, Trump di Twitter – tanpa menyebutkan bukti apa pun – mengklaim bahwa rudal yang digunakan dalam serangan pada hari Ahad itu berasal dari Iran. Dia juga mengatakan, “Kami mendengar pembicaraan-pembicaraan mengenai serangan-serangan lain terhadap orang Amerika di Irak.”

“Saya memberi tahu Iran bahwa jika satu saja orang Amerika terbunuh maka saya akan menganggap mereka bertanggung jawab. Mereka harus memikirkannya,” ancam Trump.

Pejabat anonim AS lainnya mengklaim bahwa dalam serangan itu sebanyak 21 roket telah ditembakkan, beberapa di antaranya menghantam gedung, namun tidak ada orang Amerika yang menjadi korban.

Para pejabat AS menyalahkan kelompok-kelompok relawan pejuang Irak yang didukung Iran atas serangan roket yang terjadi berulang kali terhadap fasilitas AS di Irak, termasuk di dekat kedutaan besar di Baghdad.

Namun demikian, tak ada satupun kelompok yang didukung Iran mengaku bertanggung jawab atas serangan yang terjadi belakangan ini, sementara Teheran membantah dan mengutuk tudingan yang dialamatkan kepada Iran. Teheran menegaskan bahwa Iran menentang serangan terhadap misi diplomatik di manapun. (raialyoum/mn)