Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 22 Februari 2024

Jakarta, ICMES. Berbagai negara dunia mengecam tindakan Amerika Serikat (AS) kembali memveto resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengenai Perang Gaza.

Direktur Kamar Penyelenggara Pariwisata  Israel, Yossi Fattal, mengatakan negaranya kini terisolasi seperti Korea Utara.

Imam Besar Al-Azhar  Syeikh Ahmed Al Tayyeb dalam pertemuan dengan dengan mantan perdana menteri Libanon Fouad Siniora di Kairo, Rabu (21/2) menyatakan prihatin karena khalayak dunia seakan sudah terbiasa menyaksikan genosida orang Palestina oleh Israel di Jalur Gaza.

Berita selengkapnya:

Dunia Ramai-Ramai Mengecam Veto AS terhadap Resolusi Gencatan Senjata di Gaza

Berbagai negara dunia mengecam tindakan Amerika Serikat (AS) kembali memveto resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengenai Perang Gaza.

Draft resolusi itu diajukan oleh Aljazair  dan menyerukan gencatan senjata kemanusiaan segera di Gaza dan pembebasan tahanan “tanpa syarat”.  Sebanyak 13 dari total 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB  mendukung resolusi tersebut, sementara Inggris abstain.

Veto AS tersebut, yang merupakan ketiga kalinya terhadap resolusi terkait dengan Perang Gaza, menuai kritik dari banyak negara termasuk Iran, Tiongkok, Rusia, Arab Saudi, dan bahkan sekutu dekat AS, Prancis, dan Slovenia.

Iran

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengatakan “bencana diplomatik abad ini” telah terjadi dan AS  tetap bertanggung jawab atas kampanye biadab Israel di Gaza sejak awal Oktober.

“Veto yang terus dilakukan oleh pemerintah AS jelas menimbulkan pertanggungjawaban bagi Gedung Putih atas rezim Israel yang terus menerus melakukan genosida di Gaza dan kejahatan perang di Tepi Barat, Palestina. Dunia harus meminta pertanggungjawaban AS,” tulis menteri Iran dalam sebuah postingan di X, Rabu (21/2).

Senada dengan ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanani, mengatakan, “Langkah AS ini kembali membuktikan kepada dunia bahwa AS bukan hanya bukan bagian dari solusi krisis dan bencana kemanusiaan di Gaza, namun juga merupakan faktor terpenting dalam kelanjutan krisis dan penyebab perluasannya ke kawasan. “

Tiongkok

Tiongkok memperingatkan bahwa veto itu mendorong perang di Gaza ke dalam situasi yang “bahkan lebih berbahaya”.

“Tiongkok memberikan suara mendukung rancangan resolusi tersebut. AS sekali lagi memvetonya sendirian, sehingga mendorong situasi di Gaza ke dalam situasi yang lebih berbahaya, di mana semua pihak yang berkepentingan  telah menyatakan kekecewaan dan ketidakpuasan mereka,”   kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning di Beijing, Rabu. Dia menambahkan bahwa penghentian agresi Israel di Jalur Gaza merupakan “kewajiban moral”.

Rusia

Duta Besar Rusia untuk PBB Vasily Nebenzia mengatakan veto AS menandai “halaman hitam lain dalam sejarah Dewan Keamanan.”

Menurutnya, AS sedang berusaha mengulur waktu agar Israel dapat menyelesaikan “rencana tidak manusiawinya” terhadap Gaza, yaitu mengusir warga Palestina dari wilayah tersebut dan “membersihkan” -nya secara total.

Perancis

 Utusan Perancis untuk PBB Nicolas de Riviere menyatakan penyesalannya bahwa resolusi tersebut “tidak dapat diadopsi, mengingat situasi bencana” di Gaza.

De Riviere menekankan bahwa Perancis, yang menyetujui resolusi tersebut, akan terus berupaya agar semua tawanan dibebaskan dan agar gencatan senjata “segera dilaksanakan”.

Aljazair

Amar Bendjama, utusan Aljazair untuk PBB, mengatakan DK PBB “sekali lagi gagal”, dan memperingatkan bahwa tindakan tersebut dapat menimbulkan konsekuensi besar bagi kawasan Timteng secara keseluruhan.

“Komunitas internasional harus menanggapi seruan untuk mengakhiri pembunuhan warga Palestina dengan menyerukan gencatan senjata segera. Semua pihak yang menghalangi seruan tersebut harus meninjau kembali kebijakan dan perhitungan mereka karena keputusan yang salah saat ini akan berdampak buruk pada kawasan dan dunia kita di masa depan. Dampaknya adalah kekerasan dan instabilitas,” kata Bendjama.

Qatar

Duta Besar Qatar untuk PBB Alya Ahmed Saif Al Thani mengaku prihatin kegagalan DK PBB  mengadopsi resolusi yang dirancang Aljazair, dan berjanji untuk terus memfasilitasi upaya untuk mencapai gencatan senjata di Gaza.

Arab Saudi

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan “penyesalan” atas veto tersebut dan menekankan “perlunya reformasi Dewan Keamanan untuk melaksanakan tanggung jawabnya dalam menjaga perdamaian dan keamanan dengan kredibilitas dan tanpa standar ganda.”

Norwegia

Misi Norwegia untuk PBB menyatakan “menyesalkan” bahwa dewan tersebut tidak dapat mengadopsi resolusi mengenai gencatan senjata kemanusiaan segera.

“Sangat penting untuk mengakhiri kengerian di Gaza,” tambahnya.

Kuba

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel Bermudez juga mengecam AS dan mengatakan bahwa veto tersebut membuat Washington terlibat dalam kejahatan Israel terhadap warga Palestina.

“AS baru saja memveto lagi resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera di Gaza dan diakhirinya pemindahan paksa penduduk Palestina,” kata Bermudez dalam sebuah postingan di media sosial.

“Mereka adalah kaki tangan genosida Israel terhadap Palestina,” pungkasnya.

Israel Terisolasi

Direktur Kamar Penyelenggara Pariwisata  Israel, Yossi Fattal, mengatakan negaranya kini terisolasi seperti Korea Utara.

Menurutnya, puluhan perusahaan enggan terbang ke Israel sejak pecah perang di Jalur Gaza.

 “Sebelum krisis, ada 250 perusahaan penerbangan yang beroperasi di Israel, dan sekarang hanya 45 perusahaan yang beroperasi,” katanya dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Israel Maariv  pada Rabu malam

Dia menambahkan: “Israel saat ini benar-benar terisolasi dari dunia. 80 persen penerbangan saat ini dioperasikan oleh pesawat dari Israel milik perusahaan El Al (Israel).”

Israel telah membunuh lebih dari 29.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan melukai sekitar 70.000 lainnya di Gaza sejak rezim Zionis tersebut melancarkan serangan gencar yang didukung AS pada 7 Oktober 2023.  (presstv/raialyoum)

Imam Besar Al-Azhar Prihatin Orang Dapat Menyantap Makanan Sembari Menonton Genosida di Gaza

Imam Besar Al-Azhar  Syeikh Ahmed Al Tayyeb dalam pertemuan dengan dengan mantan perdana menteri Libanon Fouad Siniora di Kairo, Rabu (21/2) menyatakan prihatin karena khalayak dunia seakan sudah terbiasa menyaksikan genosida orang Palestina oleh Israel di Jalur Gaza.

Al-Tayyeb mengaku sangat sedih atas berlanjutnya situasi saat ini di Gaza di tengah kebungkaman khalayak dunia yang menurutnya tidak manusiawi dan tak dapat dibenarkan .

“Apa yang paling menyakitkan adalah normalisasi dan pembiasaan yang kita lihat dalam adegan pembunuhan para syuhada, termasuk anak-anak, wanita, lansia, dan pemuda yang tidak bersalah, dan pemboman terhadap pengungsi, rumah sakit, dan mobil ambulan, tempat penampungan dan kamp,” katanya,

Dia menambahkan, “Sebagian orang bahkan mengikuti berita agresi berdarah ini dan menonton klip pemboman dan pembunuhan sambil menyantap makanan sehari-hari mereka di depan layar televisi, sebuah perilaku yang menunjukkan bahwa banyak di antara kita yang sudah kehilangan kesadaran akan penderitaan rakyat Palestina, dan acuh tak acuh terhadap darah orang tak berdosa yang mengalir seperti air terjun.” (raialyoum)