Rangkuman Berita Utama Timteng  Kamis 21 Oktober 2021

Jakarta, ICMES. Pangkalan militer AS di kawasan Al-Tanf, Suriah, mendapat serangan dari bebarapa pesawat nirawak dari faksi-faksi pejuang di Suriah.

Para aktivis medsos Arab Saudi menyatakan bahwa serangan pasukan Yaman terhadap posisi-posisi militer di wilayah perbatasan Saudi-Yaman telah menewaskan sejumlah perwira dan prajurit Saudi.

Menteri Dalam Negeri Iran Ahmad Vahedi menyatakan negaranya tidak akan membiarkan “kekuatan-kekuatan makar” menimbulkan problema dalam hubungan antara Teheran dan Ankara.

Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan membahas masalah normalisasi hubungan Arab Saudi dengan Israel selama pertemuannya dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.

Berita Selengkapnya:

Pangkalan Militer AS di Suriah Digempur Beberapa Pesawat Nirawak

Pangkalan militer AS di kawasan Al-Tanf, Suriah, mendapat serangan dari bebarapa pesawat nirawak (drone), Rabu (20/10).

Kantor berita Suriah, SANA, melaporkan bahwa terjadi ledakan-ledakan keras di pangkalan Al-Tanf ketika mendapat serangan tersebut, dan bahwa seorang pejabat militer Pusat Komando AS (CENTCOM) mengkonfirmasi terjadinya serangan misil.

Serangan itu terjadi beberapa waktu setelah Pusat Komando Operasi Sekutu Suriah bersumpah akan melancarkan serangan “balasan sengit” atas agresi Israel belakangan ini terhadap Suriah.

Seorang pejabat militer CENTCOM mengatakan kepada Sky News Arabia bahwa Pangkalan Al-Tanf yang terletak di kawasan segi tiga perbatasan Suriah, Irak dan Yordania telah mendapat serangan misil namun tidak jatuh korban dari pihak pasukan AS.  

Pejabat itu menambahkan bahwa penyelidikan sedang dilakukan untuk mengetahui lebih jauh ihwal serangan tersebut, namun perkiraan awal menyebutkan bahwa serangan itu terkait dengan faksi-faksi yang berafiliasi dengan Iran.

Lembaga Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) melaporkan bahwa pada Rabu sore terjadi ledakan-ledakan di pangkalan militer Al-Tanf yang ditempati oleh “Koalisi Internasional” akibat serangan drone.

SOHR juga menyebutkan bahwa kelompok pemberontak Suriah Pasukan Komando Revolusi (RCA) yang didukung AS menerapkan siaga keamanan di kawasan seluas 55 kilometer persegi di dekat pangkalan itu menyusul serangan tersebut.  

Menurut beberapa sumber, sejauh ini belum jelas rincian mengenai serangan itu, siapa pelakunya maupun dampaknya terhadap Pangkalan Al-Tanf.

Sumber-sumber keamanan Irak yang terkait dengan Koalisi Internasional menyatakan sebanyak enam unit drone berbahan peledak telah menyerang pangkalan tersebut.

Beberapa sumber lain mengatakan kepada RT bahwa serangan itu dilancarkan dari wilayah Suriah, bukan wilayah Irak, dan bahwa Koalisi Internasional memiliki informasi mengenai serangan itu. (raialyoum/alalam)

Belasan Tentara Saudi, Termasuk 6 Perwira, Tewas Terkena Serangan Pasukan Yaman di Jizan

Para aktivis medsos Arab Saudi menyatakan bahwa serangan pasukan Yaman terhadap posisi-posisi militer di wilayah perbatasan Saudi-Yaman telah menewaskan sejumlah perwira dan prajurit Saudi.

Selain aktivis, pihak keluarga korban juga mengungkap hal itu di Twitter, Rabu (20/10), dengan menyebutkan bahwa sebanyak enam perwira dan 12 prajurit Saudi tewas dan 20 lainnya menderita luka-luka akibat serangan pasukan Yaman pada Rabu malam lalu terhadap pasukan Saudi di Jizan.

Ziyad Benjamin, jurnalis AS dan reporter Al-Araby di Twitter menyebutkan, “Para perwira dan prajurit Saudi berjatuhan dalam penembakan rudal Ansarullah yang menyasar Pasukan Jizan di Saudi selatan”.

Dia juga menyebutkan bahwa sebanyak enam perwira dan 12 prajurit Saudi tewas dan 20 lainnya luka-luka.

Sementara pihak keluarga korban menyatakan bahwa Kapten Abdullah bin Alyan bin Mutrib al-Sulaimi al-Harbi terbunuh di perbatasan selatan, tanpa memberikan penjelasan lebih jauh.

Para aktivis Saudi menyebut para korban tewas itu sebagai “syuhada”, sementara pihak resmi Saudi maupun pihak Yaman belum memberikan keterangan resmi tentang ini. (alalam)

Dikunjungan Pejabat Turki, Iran Nyatakan Tak Biarkan Pihak Lain Merusak Hubungannya dengan Turki

Menteri Dalam Negeri Iran Ahmad Vahedi menyatakan negaranya tidak akan membiarkan “kekuatan-kekuatan makar” menimbulkan problema dalam hubungan antara Teheran dan Ankara.

Hal tersebut dinyatakan Vahedi dalam jumpa pers bersama sejawatnya dari Turki, Süleyman Soylu, yang berkunjung ke Teheran, Rabu (20/10).

Dia menambahkan bahwa era baru hubungan bilateral Iran-Turki akan dimulai dalam bentuk yang menunjang kepentingan kedua negara.

“Iran dan Turki sama-sama memperlihatkan hasrat kepada pengembangan hubungan strategis, dan sekarang kami memiliki kesempatan yang baik untuk memperkuat hubungan bilateral,” ujar Vahedi.

Dia juga menyebutkan bahwa pertemuan yang “sangat bermanfaat” telah diselenggarakan bersama sejawatnya dari Turki, dan di situ keduanya telah membahas jalur-jalur kerjasama di berbagai bidang kontra-terorisme, keamanan perbatasan, dan pencegahan penyelundupan narkoba dan senjata.

Selain itu, lanjutnya, kedua pihak juga telah membahas “peran destruktif Israel dan AS di kawasan” dan perkembangan situasi di Afghanistan. (raialyoum)

Penasehat Keamanan AS dan Putra Mahkota Saudi Bahas Normalisasi Hubungan dengan Israel

Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan membahas masalah normalisasi hubungan Arab Saudi dengan Israel selama pertemuannya dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS).

Dikutip kantor berita Bloomberg, situs berita Axios mengutip keterangan tiga sumber AS dan Saudi yang memiliki informasi tentang itu mengatakan bahwa MBS tidak memberikan penolakan tegas terhadap dorongan AS untuk normalisasi hubungan Saudi dengan Israel.

Menurut sumber-sumber itu, pihak Saudi menilai masalah normalisasi itu masih memerlukan  waktu, dan memberikan kepada Jake Sullivan daftar langkah-langkah yang perlu ditempuh terlebih dahulu.

Axios menyebutkan bahwa beberapa pembicaraan antara kedua pihak meliputi upaya perbaikan hubungan AS-Saudi, dan bahwa Sullivan dan MBS juga membahas perkembangan situasi Perang Yaman.

Di pihak lain, mengenai isu terakhir ini, anggota Dewan Tinggi Politik Yaman yang berafiliasi dengan gerakan Ansarullah (Houthi), Mohammad Ali Al-Khouthi, menegaskan persyaratan untuk penyelesaian krisis Yaman.

“Dengan orang yang memiliki keputusan dari dalam negeri dan menolak dikte asing, kami siap berdialog di bawah atap kedaulatan nasional yang independen,” cuitnya di Twitter, Rabu (20/10).

Para pengamat menyebutkan bahwa pernyataan Al-Houthi ini memberikan kesempatan bagi pihak-pihak lain untuk meninggalkan pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi demi penyelesaian krisis Yaman melalui semua elemen Yaman sendiri. (raialyoum/alalam)