Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 20 Februari 2020

eskalasi di idlibJakarta, ICMES. Turki mengancam akan segera memulai operasi militer terhadap Pasukan Arab Suriah (SAA) di Provinsi Idlib, dan Rusiapun segera mengirim sinyal peringatan.

Benjamin Netanyahu yang masa jabatannya sebagai perdana menteri Israel tak lama lagi akan berakhir mengaku enggan mengungkap jumlah “kunjungan rahasia” -nya ke negara-negara Arab.

Berita selengkapnya:

Turki Ancam Segera Serang Tentara Suriah, Rusia Beri Peringatan

Turki mengancam akan segera memulai operasi militer terhadap Pasukan Arab Suriah (SAA) di Provinsi Idlib, dan Rusiapun segera mengirim sinyal peringatan.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan bahwa pembicaraan Ankara dengan Moskow dalam dua minggu terakhir gagal membuahkan “hasil yang kita inginkan”.

Dia lantas †memperingatkan bahwa Turki mungkin akan melancarkan operasi militer di Suriah kecuali jika Damaskus menarik pasukannya sebelum akhir bulan Februari ini.

“Operasi di Idlib sudah dekat. Kami telah memulai penghitungan mundur, ini adalah peringatan terakhir kami,Ē kata Erdogan dalam pidato televisi, Rabu (19/2020).

Dia menyeru pasukan Suriah mundur menjauhi posisi-posisi militer Turki di Idlib, yang didirikan berdasarkan perjanjian 2018 dengan Rusia untuk mencegah serangan SAA.

Kremlin segera menanggapi ancaman Erdogan dengan memperingatkan bahwa operasi militer Turki terhadap SAA akan menjadi “skenario terburuk.”

Bersamaan pengerahan pasukan Turki ke Idlib dalam beberapa pekan terakhir, Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar kepada wartawan di Ankara mengatakan, “Tidak mungkin bagi kami menarik diri dari pos-pos† pantau kami… Jika pos-pos itu mendapat serangan dalam bentuk apapun maka kami akan memberikan balasan setimpal.Ē

Sementara itu, utusan PBB untuk Suriah Geir O. Pedersen di Dewan Keamanan PBB memperingatkan “bahaya eskalasi segera” di Suriah barat laut, menyusul pernyataan terbaru Turki dan Rusia.

“Saya tidak dapat berbicara tentang kemajuan apa pun untuk mengakhiri kekerasan di barat laut (Suriah) atau untuk menghidupkan kembali proses politik,” katanya dalam rapat bulanan Dewan Keamanan mengenai Suriah, Rabu.

Dia menyebutkan bahwa Moskow dan Ankara belum mencapai “kesepakatan apa pun” meski telah dilakukan pembicaraan intensif †antara keduanya, dan pernyataan terbaru mereka “mengesankan bahaya eskalasi segeraĒ. (raialyoum)

Netanyahu Mengaku Tak Dapat Mengungkap Jumlah Kunjungan Rahasianya ke Negara-Negara Arab

Benjamin Netanyahu yang masa jabatannya sebagai perdana menteri Israel tak lama lagi akan berakhir mengaku enggan mengungkap jumlah “kunjungan rahasia” -nya ke negara-negara Arab.

Pengakuan itu dia nyatakan dalam wawancaranya dengan saluran TV Hala dengan ditujukan kepada publik Arab di dalam Garis Hijau (Arab tahun 1948), menurut surat kabar Israel Hayom, Rabu (19/2/2020).

Netanyahu, pemimpin partai Likud (kanan), sejak beberapa lama telah mengintensifkan pembicaraannya mengenai peningkatan upaya normalisasi hubungan rahasia Israel dengan negara-negara Arab, yang tidak disebut namanya, menjelang pemilihan parlemen awal pada 2 Maret mendatang.

“Seandainya salah satu dari mereka (negara-negara Arab) memberi tahu saya 10 tahun yang lalu bahwa kita akan mencapai situasi di mana kita akan memiliki hubungan permanen dengan semua negara Arab, kecuali satu atau dua, niscaya saya akan mengatakan kepadanya bahwa ini hanyalah mimpi di siang bolong, tapi ini ternyata sekarang menjadi kenyataan,Ē ujar Netanyahu.

Kecuali Mesir dan Yordania, yang terikat oleh dua perjanjian damai dengan Israel, belum ada negara Arab lain yang memiliki hubungan resmi dengan Israel.

Netanyahu menambahkan kepada pewancaranya, “Saya tidak bisa memberi tahu Anda berapa kali saya sudah mengunjungi negara-negara Arab. Tapi percayalah jumlahnya banyak dan meningkat.”

Dia menambahkan bahwa normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab meningkat secara signifikan “tidak hanya karena ada ancaman bersama, yang direpresentasikan di Iran, melainkan juga karena hasrat negara-negara Arab kepada teknologi dan pertanian Israel.”

Dia mengklaim bahwa jalan Arab sudah lebih menerima normalisasi hubungan mereka dengan Israel. (mraialyoum)