Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 2 Mei 2019

iran dan GCCJakarta, ICMES: Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam memperingatkan bahwa jika terjadi perang di kawasan Teluk Persia maka semua negara regional akan terkena dampaknya.

Iran mengaku berharap dapat menjalin hubungan baik dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain, sembari menegaskan kembali dukungannya kepada Qatar dalam krisis hubungan negara ini tiga negara Arab jirannya itu.

Qatar mendesak Iran dan Amerika Serikat untuk memulai dialog demi menemukan “solusi berkelanjutan” bagi persoalan antara keduanya.

Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman dilaporkan telah menawarkan kepada Ketua Otorita Palestina Mahmoud Abbas dana sebesar US$ 10 miliar jika Abbas bersedia menerima prakarsa AS untuk penyelesaian krisis Palestina-Israel.

Berita selengkapnya:

IRGC Ingatkan Bahwa Semua Negara Teluk Akan Terdampak Jika Terjadi Perang

Komandan Markas Besar Khatamul Anbiya’ pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigjen Gholam Ali Rashid memperingatkan bahwa jika terjadi perang di kawasan Teluk Persia maka semua negara regional akan menanggung dampaknya.

“Kami berharap negara-negara kawasan ini tidak menyesuaikan diri dengan kepentingan AS dan rezim penjajah Israel, yang hanya bertujan membangkitkan perpecahan dan perang di kawasan, sebab resikonya akan ditanggung oleh semua bangsa regional,” ungkapnya dalam kata sambutan pada Forum ke-12 Para Komandan Unit-Unit Utama dan Independen Angkatan Bersenjata Iran, Rabu (1/5/2019).

Dia menekankan lagi, “Kita memiliki kepentingan bersama dengan negara-negara jiran untuk keamanan, stabilitas, dan pertumbuhan. Kami berharap mereka bersedia menghentikan perilaku yang harmonis dengan interes AS dan rezim perampas (Israel), yang hanya bertujuan membangkitkan perselisihan dan perang di kawasan, karena resikonya akan ditanggungkan semua bangsa dan merugikan kehidupan bersama di kawasan.”

Dia juga menegaskan, “Kita percaya kepada kerukunan hidup dengan para jiran, kita berusaha demi ini, dan dengan kebijaksanaan dan manajemen kita berharap konspirasi AS dan rezim Zionis yang bertujuan membangkitkan perang di kawasan itu gagal, karena jika tidak demikian maka kawasan ini akan terjebak pada aneka peristiwa krusial yang urusan dan waktunya tak akan bisa ditebak.”

Sembari menyinggung pengalaman perang pertahanan Iran selama delapan tahun (1980-1988) melawan invasi militer rezim diktator Irak Saddam Hossein, Gholam Ali Rashid memastikan bahwa Iran kuat bukan untuk menyerang siapapun, melainkan semata demi mempertahankan eksistensi dan kepentingan bangsanya untuk tetap dapat hidup secara bebas dan bermartabat.

“Kami tidak menyambut perang karena tentu hanya akan menguntungkan AS dan entitas Zionis, tapi kami adalah para jago perang. Kami hadang setiap agresor dan akan mengalahkannya, dengan izin Allah. Kami ingatkan bahwa resiko perang akan ditanggung bukan hanya oleh bangsa kami,” tegasnya.

Dia kemudian memastikan bahwa Angkatan Bersenjata Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sekarang dalam kondisi lebih siap dan siaga untuk membela kepentingan, kebebasan, dan kehormatan bangsa Iran. (alalam)

Iran Nyatakan Ingin Jalin Hubungan Baik Dengan Saudi, UEA, Dan Bahrain

Republik Islam Iran mengaku berharap dapat memiliki hubungan baik dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain, sembari menegaskan kembali dukungannya kepada Qatar dalam krisis hubungan negara ini tiga negara Arab jirannya itu.

“Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan Qatar, Kuwait dan Oman, dan kami berharap juga memiliki hubungan yang sama dengan Arab Saudi, UEA dan Bahrain,” ungkap Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Jawad Zarif di sela-sela forum Dialog Kerja Sama Asia (Asia Cooperation Dialogue/ ACD) di Doha, ibu kota Qatar, Rabu (1/5/2019).

Saudi dan UEA menuduh Iran membantu kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) di Yaman dan mengacaukan kawasan Timur Tengah dengan mendukung “organisasi teroris” dan mencampuri urusan internal negara-negara regional.

Di Manama, otoritas Bahrain menuding Teheran melatih elemen-elemen untuk membangkitkan kerusuhan di banyak wilayah yang mayoritas  penduduknya bermazhab Syiah, namun Teheran membantah keras tuduhan itu.

Hubungan antara Arab Saudi dan Iran telah terputus sejak Januari 2016, setelah eksekusi ulama Syiah Saudi Syeikh Nimr al-Nimr oleh otoritas Saudi memicu demonstrasi anti Saudi di Iran.

Kawasan Teluk juga dilanda krisis diplomatik lain sejak dua tahun lalu setelah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir memboikot Qatar yang mereka tuding mensponsori kelompok-kelompok ekstremis di Timteng, dan Doha pun menepis tudingan ini.  Empat negara Arab itu juga mengecam kedekatan hubungan Qatar dengan Iran.

Teheran mendukung Doha dalam krisis ini sehingga menyuplai Qatar dengan kebutuhan pokok dan membantunya di bidang transportasi, setelah Saudi dan sekutunya itu mencegah Qatar melintasi zona udara mereka dan memberlakukan blokade ekonomi terhadap Qatar.

Javad Zarif mengatakan bahwa negaranya mengharapkan solusi untuk krisis ini.

“Kami menentang tekanan terhadap Qatar, dan kami masih percaya bahwa tekanan ini bertentangan dengan hukum internasional,” ungkapnya. (raialyoum)

Qatar Serukan Dialog Antara Iran-AS

Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammad bin Abdul Rahman Al-Thani, mendesak Iran dan Amerika Serikat (AS) untuk memulai dialog demi menemukan “solusi berkelanjutan” bagi persoalan antara keduanya.

Pada konferensi pers di akhir pertemuan para menteri Dialog Kerja Sama Asia (Asia Cooperation Dialogue/ACD) di Doha, Rabu malam (1/5/2019), Al-Thani menyatakan bahwa kawasan Teluk Persia sudah “tak sanggup menanggung lebih banyak lagi krisis dan eskalasi.”

Ketegangan antara Teheran dan Washington meningkat sejak pada tahun lalu AS menyatakan keluar dari kesepakatan nuklir Iran yang diteken pada tahun 2015 dan kemudian kembali menerapkan sanksi terhadap Iran.

Menteri Luar Negeri Qatar menambahkan bahwa krisis Teluk “merupakan penghalang bagi kerja sama dan komunikasi di tingkat regional”, dan Doha “tetap pada posisinya; terbuka untuk semua dan siap untuk dialog dan diskusi dengan itikad baik.”

Al-Thani mengaku berharap semua pihak dalam krisis ini bersedia kembali kepada “kebijaksanaan” dan bersedia membicarakan keberatan masing-masing di meja dialog untuk kemudian dicarikan solusinya.

Dia menyayangkan pemberlakuan kembali sanksi AS terhadap Iran, dan menilainya tidak akan berdampak positif pada negara-negara yang memanfaatkan minyak Iran.

“Qatar tidak percaya bahwa sanksi sepihak akan membuahkan hasil positif untuk menyelesaikan krisis, dan solusi mereka haruslah melalui dialog,” imbaunya.

Dia menambahkan, “Kami dalam pemerintahan Qatar memandang sanksi sepihak ini tidak akan membuahkan hasil positif untuk menyelesaikan krisis. Sebaliknya, kami memandang krisis harus diselesaikan melalui dialog,” tuturnya.  (raialyoum)

Bin Salman Tawarkan 10 Miliar Dolar Kepada Ketua Otoritas Palestina Agar Menerima Prakarsa AS

Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman (MbS) dilaporkan telah menawarkan kepada Ketua Otorita Palestina Mahmoud Abbas dana sebesar US$ 10 miliar jika Abbas bersedia menerima prakarsa kontroversial Deal of the Century yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump untuk penyelesaian konflik Palestin-Israel.

Harian Lebanon al-Akhbar, Selasa (30/4/2019), melaporkan bahwa Abbas menolak tawaran itu sembari menegaskan bahwa mendukung prakarsa itu tak ubahnya dengan “akhir dari kehidupan politiknya.”

Al-Akhbar mengutip laporan diplomatik yang bocor berdasarkan percakapan antara dua politisi Arab, dan mencatat bahwa laporan –yang ditulis oleh utusan Yordania untuk Ramallah, Khaled al-Shawabkeh – itu didasarkan pada briefing dengan sejumlah pejabat Palestina.

Menurut koran berbahasa Arab ini, MbS telah memberi tahu Abbas tentang isi proposal AS itu dalam kunjungan Abbas ke Saudi pada Desember 2017, dan bertanya kepadanya berapa anggaran tahunan delegasinya.

Abbas menjawab, “Saya bukanlah  seorang pangeran untuk memiliki rombonganku sendiri,” jawab Abbas.

MbS bertanya lagi, “Berapa banyak uang yang dibutuhkan Otoritas Palestina, para menterinya dan karyawannya?”

Abbas mengatakan bahwa Palestina membutuhkan $ 1 miliar per tahun, dan MbS pun mengatakan, “Saya akan memberi Anda US$ 10 miliar selama 10 tahun jika Anda menerima Deal of the Century.” Namun, Abbas menolaknya dengan alasan bahwa jika dia melakukannya maka itu akan “berarti akhir dari kehidupan politik saya.” (presstv)