Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 2 Juli 2020

sistem rudal bavar 373 IranJakarta, ICMES. Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam akan memperlihatkan sistem payung rudal baru pada peringatan 40 tahun “Pertahanan Suci” (Perang Iran-Irak 1980-1988).

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa opsi ini “telah membusuk ditelan zaman sejak sekian tahun silam di meja presiden demi presiden AS.”

Tentara Nasional Libya terekam kamera amatir sedang mengerahkan beberapa rudal balistik ke kota strategis Sirte, ketika pasukan Pemerintah Kesepakatan Nasional yang didukung Turki terus menggalang kekuatan pasukannya di timur kota Misrata.

WHO memperingatkan bahwa kawasan Timur Tengah sedang berada di “ambang kritis” di tengah pelonggaran pembatasan terkait penanggulangan pandemi virus corona.

Berita selengkapnya:

Iran akan Ungkap Sistem Rudal Baru

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) akan memperlihatkan sistem payung rudal baru pada peringatan 40 tahun “Pertahanan Suci” (Perang Iran-Irak 1980-1988).

“IRGC akan mengungkap sistem rudal baru pada kesempatan peringatan 40 tahun perang delapan tahun yang dikobarkan oleh mendiang Presiden Irak Saddam Hussein terhadap Iran (21 September, dimulainya Pekan Pertahanan Suci),” kata Brigjen Bahman Karker selaku ketua panitia peringatan tersebut, Rabu (1/7/2020).

Dia menambahkan, “Bangsa kita telah mencetak prestasi besar di berbagai bidang sains dan pertahanan, seperti nanoteknologi, sel induk, teknologi nuklir, senjata canggih dan alat pertahanan, dan negara ini telah mencapai swasembada di bidang ini.”

Komandan militer Iran juga menyebutkan bahwa peringatan 40 tahun pertahanan suci akan berlangsung dengan partisipasi semua lembaga sipil dan militer, dan peringatan ini telah lama dipersiapkan sehingga bahkan akan diadakan sebanyak 3,889 acara di seluruh penjuru negeri republik Islam ini.

Iran telah memamerkan sejumlah senjata baru dalam beberapa minggu terakhir, termasuk rudal baru dan sistem radar. Senjata-senjata ini dibuat didalam negeri dan diserahkan kepada IRGC.  (alalam/fna)

Iran Sebut Opsi Militer AS Sudah Membusuk

Menanggapi pernyataan berbau ancaman utusan Amerika Serikat (AS) untuk urusan Iran, Brian Hook, mengenai opsi militer Washington terhadap Teheran, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa opsi ini “telah membusuk ditelan zaman sejak sekian tahun silam di meja presiden demi presiden AS.”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi mengatakan bahwa negaranya akan terus  melanjutkan proyek penguatan struktur pertahanannya selagi AS masih berbicara tentang opsi militer dan menunda penarikan mereka dari kawasan Timteng.

“Memperkuat infrastruktur pertahanan adalah salah satu hak nyata Iran untuk mempertahankan kepentingan nasionalnya,” tegas Mousavi, Rabu (1/7/2020).

Mousavi mengecam kunjungan Hook ke Timteng dan menyebutnya bertujuan “menebar perselisihan, dan pernyataannyapun tak bernilai, tak berdasar, dan tertolak.”

Dia juga mengatakan, “Beberapa negara di kawasan ini menggunakan senjata AS terhadap rakyat Yaman, Palestina, Irak dan Suriah.”

Sehari sebelumnya, Hook mengatakan kepada saluran TV 13 milik Israel bahwa AS sedang mempelajari kemungkinan menggunakan kekuatan militer terhadap Teheran untuk mencegahnya memperoleh senjata nuklir.

Sementara itu, Presiden Iran Hassan Rouhani, Rabu, menyebut AS kalah dalam sidang Dewan Keamanan PBB pada Selasa lalu ketika para pesertanya menyatakan dukungan  mereka kepada kesepakatan nuklir Iran tahun 2015.

Rouhani mengatakan bahwa AS gencar melancarkan tekanan ekonomi terhadap bangsa Iran, namun “dikalahkan secara politik oleh Iran.”

Dia juga menegaskan negaranya siap bekerjasama dengan kelompok 4 + 1 jika mereka menjalankan komitmennya kepada perjanjian nuklir Iran, sebagaimana juga siap bereaksi sengit jika AS mencoba menyerang perjanjian nuklir itu secara politis. (alalam/amn)

Video:  Hadapi GNA yang Didukung Turki, LNA di Libya Kerahkan Rudal Balistik

Tentara Nasional Libya (LNA) terekam kamera amatir sedang mengerahkan beberapa rudal balistik ke kota strategis Sirte, ketika pasukan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang didukung Turki terus menggalang kekuatan pasukannya di timur kota Misrata.

Dilaporkan bahwa LNA mengerahkan rudal-rudal SCUD-B mereka ke Sirte untuk melindungi kota ini dari serangan GNA yang akan terjadi di bagian tengah-utara Libya.

Dalam video yang dibagikan di media sosial terlihat beberapa truk LNA mengangkut rudal ke Sirte untuk memperkuat pertahanan kota ini dan menangkal serangan yang direncanakan oleh GNA.

LNA bersumpah tidak akan menyerahkan Sirte, meskipun Turki menuntut agar LNA menyerahkannya.

Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi beberapa waktu lalu memperingatkan GNA dan Turki bahwa jika Sirte dan Al-Jafra jatuh maka Kairo memiliki “legitimasi internasional” untuk melakukan intervensi di Libya.

Sejak itu, militer Mesir memantau perkembangan situasi di sekitar Sirte untuk mengantisipasi kemungkinan jatuhnya kota ini ke pasukan yang didukung Turki.

Libya sejak tahun 2014 diwarnai perang kekuasaan GNA yang dipimpin Fayez al-Sarraj dan berbasis di Tripoli dan didukung Turki di satu pihak, dan LNA yang dipimpin Marsekal Lapangan Khalifa Haftar dan berbasis di wilayah timur Libya yang didukung Uni Emirat Arab, Mesir dan Rusia di pihak lain.

Pada April lalu LNA melancarkan serangan untuk merebut Tripoli dari GNA, namun terpukul mundur dari sebagian besar Libya barat setelah Turki meningkatkan dukungan militernya kepada FNA.

Perkembangan ini mendorong Mesir untuk mengisyaratkan kemungkinannya terlibat langsung dalam konflik Libya, dan kemudian Turki menanggapinya dengan pernyataan tak akan mundur dari dukungannya kepada GNA meskipun Mesir terlibat langsung. (amn)

WHO: Timteng Berada di Ambang Krisis Corona

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa kawasan Timur Tengah sedang berada di “ambang kritis” di tengah pelonggaran pembatasan terkait penanggulangan pandemi virus corona (Covid-19), yang mengakibatkan terjadinya lonjakan kasus infeksi di kawasan ini.

WHO mengkonfirmasi adanya lebih dari satu juta kasus inveksi Covid-19 di 22 negara di  kawasan Mediterania Timur dan sekitarnya, mulai dari Maroko hingga Pakistan.

“Kita berada di ambang kritis di kawasan kita,” kata ketua WHO di Timur Tengah Ahmed al-Mandhari dalam konferensi pers online, Rabu (1/7/2020).

Menurut WHO, lebih dari 80 persen dari jumlah total kasus kematian di kawasan itu dilaporkan terjadi di lima negara: Mesir, Iran, Irak, Pakistan dan Arab Saudi.

“Jumlah kasus yang dilaporkan pada bulan Juni saja lebih tinggi dari jumlah total kasus yang dilaporkan selama empat bulan sejak kasus yang dilaporkan pertama kali di kawasan ini pada tanggal 29 Januari,” ungkapnya.

Meski mengakui peningkatan jumlah kasus terjadi karena adanya eskalasi pengujian, Al-Mandhari juga mengaitkannya dengan faktor pelonggaran pembatasan dalam beberapa pekan terakhir.

Dia mengimbau masyarakat “berhati-hati dan waspada” serta mematuhi protokol yang direkomendasikan oleh otoritas kesehatan ketika lockdown dan jam malam dilonggarkan.

“Pengurangan lockdown tidak berarti pengurangan respon atau pengurangan tanggung jawab sosial,” katanya.

Dia juga memperingatkan risiko peningkatan jumlah kasus ketika ruang publik dibuka lagi, “bahkan di negara-negara yang situasinya sekarang tampak mulai stabil.”

Al-Mandhari menyerukan solidaritas global dalam menghadapi pandemi ini, dan mendesak semua negara untuk “memperkuat” sistem penjagaan kesehatan mereka. (aljazeera)