Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 19 Maret 2020

iran ali shamkhaniJakarta, ICMES. Kontroversi seputar misteri di balik wabah virus corona (Covid-19) kian memanas antara AS dan China di tengah gerakan masif dunia untuk mengendalikan dan segera menanggulangi wabah ini, dan Iranpun kembali angkat bicara dengan mendesak AS agar bertanggungjawab.

Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan bahwa negaranya belum selesai membalas AS atas darah komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Jenderal Qasem Soleimani.

Angkatan bersenjata Yaman yang bersekutu dengan gerakan Ansarullah (Houthi) menyatakan bahwa pada tahap selanjutnya mereka memprioritaskan penangkapan para pemimpin “pasukan bayaran” atau prajurit dan perwira pasukan asing koalisi Arab Saudi- Uni Emirat Arab. Dalam rangka ini, mereka mengumumkan sayembara.

Berita selengkapnya:

Kontroversi AS-China Seputar Wabah Corona Memanas, Iran Kecam AS

Kontroversi seputar misteri di balik wabah virus corona (Covid-19) kian memanas antara AS dan China di tengah gerakan masif dunia untuk mengendalikan dan segera menanggulangi wabah ini, dan Iranpun kembali angkat bicara dengan mendesak AS agar bertanggungjawab kepada khalayak dunia.

Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran Ali Shamkhani menegaskan bahwa  para pejabat Washington lebih baik merespon desakan internasional mengenai peranan  AS di balik pandemi virus corona daripada melontarkan “tudingan palsu” kepada China dan Iran.

“Main tuding adalah kebiasaan AS untuk cuci tangan. Para pejabat AS harus merespon tuntutan internasional ihwal peranan AS dalam produksi dan penyebaran virus corona serta kontinyuitas kejahatannya terhadap bangsa Iran melalui sanksi ekonomi, alih-alih melontarkan tuduhan-tuduhan palsu kepada China dan Iran,” tulis Shamkhani di halaman Twitter pribadinya, Rabu (18/3/2020).

Sementara itu, China mengancam akan menempuh tindakan lebih lanjut terhadap AS jika Washington masih melanjutkan tekanannya terhadap China.

“Semua opsi ada di atas meja,” ancam jubir Kemlu China, Zhao Lijian, dalam siaran persnya, Rabu, ketika mengomentari keputusan Beijing mencabut kredensial pers dari tiga kelompok jurnalis  media AS, yaitu The New York Times, The Wall Street Journal dan The Washington Post.

Keputusan itu sendiri membuat sedikitnya 13 jurnalis AS harus segera mengembalikan kartu pers paling lambat 10 hari kepada Kementerian Luar Negeri China, lalu angkat kaki dari China, atau tidak lagi beraktivitas sebagai jurnalis ketika berada di Negeri Tirai Bambu ini, termasuk Hong Kong dan Makau.

“Kami berpegang teguh pada sikap yang jelas dan tegas, dan menuntut agar tekanan terhadap media China dihentikan,” tandas Lijian. (alalam/raialyoum)

Rouhani Pastikan Balasan Iran atas Darah Jenderal Soleimani Belum Selesai

Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan bahwa negaranya belum selesai membalas AS atas darah komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Jenderal Qasem Soleimani, yang ditewas diserang drone AS di Baghdad pada awal-awal Januari lalu.

Rouhani menyebutkan bahwa Iran telah menang dari segi hukum di Pengadilan Internasional sebagai langkah pertamanya dalam melawan kejahatan AS, dan di saat yang sama juga dapat berdiri solid menghadang konspirasi negara arogan itu.

“AS telah membunuh komandan besar kami, tapi kami tidak membiarkannya tanpa balasan, dan masih akan membalas,” tegasnya dalam jumpa pers usai rapat pemerintah, Rabu (18/3/2020).

Dia menjelaskan bahwa pasukan Iran telah menggempur pangkalan militer besar Ain Assad yang ditempati pasukan AS di Irak.

“Saya tak dapat membayangkan orang-orang AS dapat melupakannya, sebab ini merupakan pertama kalinya mereka menerima balasan telak dan cepat atas aksi serangan keliru mereka,”ujarnya.

Dia menambahkan bahwa Janderal Soleimani terbukti sebagai figur legendaris yang sangat dicintai banyak orang sehingga prosesi pemakamannya berubah menjadi lautan manusia, dan di berbagai negara lainpun bahkan juga terjadi pawai-pawai simpati untuknya.

“Mereka (AS) mengira bahwa dengan membunuh pemimpin resistensi kami maka resistensi ini akan runtuh, tapi ternyata sebaliknya, resistensi di tengah masyarakat kami justru semakin mendalam,” ungkapnya.

Rouhani juga menekankan bahwa negaranya telah meraih banyak prestasi yang mencengangkan di bidang industri pertahanan, termasuk pertahanan udara di mana sistem Bavar 373 buatan Iran akan terus menguat, dan berhasil melakukan langkah-langkah besar dalam industri jet tempur dan tank.

Seperti diketahui, Jenderal Soleimani terbunuh bersama wakil ketua pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, serta beberapa orang lain yang menyertai keduanya, akibat serangan udara AS pada tanggal 3 Januari lalu.

IRGC membalas serangan AS itu pada 8 Januari  dengan menghantamkan belasan rudal balistiknya ke dua pangkalan militer AS di Irak, termasuk Lanud Ain Assad yang ditempati oleh sekira 1500 tentara AS. IRGC mengklaim korban tewas tentara AS di Ain Assad mencapai 120 orang.

Di pihak lain, Presiden AS Donald Trump semula mengklaim serangan balasan Iran itu tidak menjatuhkan korban tewas maupun luka, namun belakangan Pentagon beberapa kali mengumumkan pertambahan demi pertambahan jumlah korban cedera, di mana yang terbaru diantaranya, yaitu pada tanggal 10 Februari 2020, menyebutkan jumlah 109 orang.

Sementara itu, pangkalan militer al-Taji yang ditempati pasukan AS di Irak belum lama ini mendapat serangan roket yang menjatuhkan dua korban tewas dan beberapa korban luka di pihak tentara AS. (mm/alalam)

Kuasai Jawf, Ansarullah Yaman Sayembarakan Penangkapan Para Tokoh “Pasukan Bayaran”

Angkatan bersenjata Yaman yang bersekutu dengan gerakan Ansarullah (Houthi) menyatakan bahwa pada tahap selanjutnya mereka memprioritaskan penangkapan para pemimpin “pasukan bayaran” atau prajurit dan perwira pasukan asing koalisi Arab Saudi- Uni Emirat Arab. Dalam rangka ini, mereka mengumumkan sayembara.

“Siapa saja yang ikut andil dalam penangkapan atas siapapun di antara para pemimpin pasukan bayaran lokal ataupun asing, terlepas dari pangkatnya, akan mendapat perlindungan dan perhatian, selain anugerah materi dalam jumlah besar,” ungkap juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Brigjen Yahya Saree, dalam jumpa pers, Rabu (18/3/2020).

Dia menjelaskan bahwa sayembara ini ditujukan terutama kepada orang-orang biasa yang selama ini justru berada di pihak pasukan bayaran.

“Ini merupakan kesempatan besar bagi mereka untuk mendapatkan apa yang setara dengan apa yang akan mereka dapatkan dari kubu agresor selama beberapa tahun mendatang,” imbuhnya.

Dia juga mengatakan, “Setiap orang yang dapat menangkap orang asing yang terlibat di barisan agresor atau menangkap siapapun di antara para pemimpin pasukan bayaran dan menyerahkannya kepada Angkatan Bersenjata maka akan mendapatkan apa yang kami janjikan segera pada saat pelaksaan misi ini.”

Media Perang Yaman (al-I’lam al-Harbi al-Yamani) kemarin menayangkan video operasi militer masif Angakatan Bersenjata Yaman di provinsi Jawf dengan sandi dan slogan “fa amkana minhum”, yang berarti “(Allah) menjadikan(kalian) berkuasa atas mereka”.

Operasi ini dilancarkan sebagai reaksi atas eskalasi militer pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di provinsi di bagian utara Yaman tersebut.

Yahya Saree mengumumkan pihaknya berhasil merebut secara penuh kendali atas provinsi itu dari tangan pasukan loyalis presiden pelarian Abd Rabbuh Mansour Hadi yang dibantu pasukan koalisi.

Dia menjelaskan bahwa dalam operasi itu pihaknya telah menguasai sepenuhnya daerah-daerah al-Hazm, al-Maslub, al-Ghayl, al-Khalq, al-Maton dan distrik Khab wa al-Sha’af di provinsi Jawf. (alalam/presstv)