Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 19 Januari 2023

Jakarta, ICMES. Penasihat senior Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Politik, Ali Asghar Khaji, menilai kondisi Suriah sekarang jauh berbeda, dan persoalan negara Arab ini tidak dapat diselesaikan tanpa partisipasi Iran.

Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) Mohammad Eslami membantah semua tuduhan AS dan sekutunya bahwa di Iran ada kegiatan atau materi nuklir yang tidak diumumkan.

Arab Saudi menyatakan bahwa kemajuan sedang dibuat untuk mengakhiri perang Yaman, di mana Riyadh memimpin koalisi militer, namun masih banyak pekerjaan diperlukan, termasuk mengubah gencatan senjata dari temporal menjadi permanen.

Berita Selengkapnya:

Teheran: Kondisi Suriah Sekarang Sudah Jauh Berbeda

Penasihat senior Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Politik, Ali Asghar Khaji, menilai kondisi Suriah sekarang jauh berbeda, dan persoalan negara Arab ini tidak dapat diselesaikan tanpa partisipasi Iran.

Penanggung jawab Iran dalam isu Yaman, Suriah dan Libya dalam sebuah pernyataan kepada lembaga pemberitaan mahasiswa Iran, ISNA, Rabu (18/1), mengatakan bahwa PBB harus berkontribusi menyelesaikan krisis dengan cara yang lebih netral.

“Kami sedang berusaha memperbarui formula Astana agar lebih efektif dan sejalan dengan kondisi baru di Suriah,” tuturnya.

Dia menjelaskan, “Proses Astana mengalami langkah-langkah yang diperlukan sesuai dengan situasi di Suriah, termasuk situasi lapangan, politik dan keamanan negara ini. Hari ini, situasi di Suriah adalah situasi baru. Saat ini, terorisme sebagian besar telah dikalahkan di Suriah, dan tentu saja, masih ada teroris. “

Dia menambahkan, “Di beberapa bagian Suriah mereka berusaha untuk menghidupkan kembali diri mereka, tapi secara umum, keamanan yang terlihat di Suriah saat ini sangat tinggi, dan kedaulatan pemerintah berjalan di sebagian besar tanah Suriah, sehingga situasi di Suriah hari ini berbeda dengan situasi kemarin di negara ini. “

Mengenai kunjungan Menlu Iran Hussein Amir Abdollahian ke Suriah belum lama ini, Asghar Khaji menyebutkan bahwa Abdollahian telah berbicara dengan otoritas Suriah tentang isu yang sama, bagaimana formula Astana harus melanjutkan aktivitasnya, dan bagaimana pertemuan segi tiga harus menjadi segi empat.

Dia menekankan bahwa Iran telah melakukan konsultasi yang baik dalam hal ini, dan mencatat bahwa dalam kunjungan mereka yang akan datang ke negara-negara anggota formula Astana lainnya, masalah ini akan diangkat.

“Kami berusaha membuat formula Astana lebih modern dan efektif dengan berbasis strategi yang tepat terkait situasi baru di Suriah,” ungkapnya.

Dia menambahkan bahwa Suriah saat ini sedang berunding dengan Turki, dan Rusia juga berpartisipasi dalam proses ini, dan jika Iran juga berpartisipasi dalam pembicaraan ini, kontak empat arah akan dilakukan.

Dia juga mengatakan bahwa belum ada konsensus yang dicapai mengenai tempat baru untuk negosiasi Komite Amendemen dan Perancangan Konstitusi Suriah.

Dia melanjutkan, “Kami selalu berusaha membantu dalam dialog antara pemerintah Suriah dan Kurdi di negara ini untuk mendekatkan mereka, sehingga mereka dapat menyelesaikan masalah mereka selama dialog. Kemajuan yang baik telah dibuat dalam hal ini di lapangan, tapi masih ada perbedaan yang perlu diselesaikan.”

Dia menilai Kurdi di Suriah sebagian bagian dari rakyat Suriah, sehingga Iran memandang Kurdi sebagai bagian dari rakyat dan warga negara di Suriah.

Dia mengaku percaya bahwa tentara Suriah harus menerapkan kedaulatan atas semua tanah Suriah, dan tentara Suriah harus dibantu agar dapat ditempatkan di seluruh bagian negara ini, termasuk perbatasan bersama dengan Turki, dan menjalankan tugasnya sebagai penjaga perbatasan.

Khaji juga menyebutkan bahwa Turki harus memperhatikan fakta bahwa kehadiran tentara Suriah di perbatasan bersama dengan negara ini tentunya untuk kepentingan Ankara.

Dia juga mengatakan bahwa setiap interaksi dan pemulihan hubungan negara-negara Arab dan non-Arab dengan Suriah adalah untuk kepentingan negara-negara di kawasan, perdamaian, stabilitas, dan kemajuan. (raialyoum)

Iran Bantah Klaim Barat Ada Program Nuklir Rahasia

Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) Mohammad Eslami membantah semua tuduhan AS dan sekutunya bahwa di Iran ada kegiatan atau materi nuklir yang tidak diumumkan.

“Semua klaim ini adalah bagian dari kampanye propaganda melawan Teheran,” kata Eslami kepada wartawan di sela-sela rapat kabinet di Teheran,Rabu (18/1). Menurutnya, tuduhan itu berpangkal pada klaim oleh “elemen kontra-revolusi” di luar negeri.

Dia menambahkan Iran bekerjasama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam menyikapi klaim tersebut.

Eslami menyebut tuduhan demikian bukanlah hal baru, melainkan telah dibuat-buat sejak 20 tahun silam, dan menekankan bahwa kesepakatan nuklir 2015 seharusnya menyudahi klaim demikian.

Pihak Barat meninggalkan kesepakatan nuklir dan sekarang berusaha untuk kembali ke perjanjian itu, namun sembari memperbarui tuduhan itu.

“Kami menyatakan bahwa tidak ada kegiatan yang tidak diumumkan, dan situs yang tidak diumumkan di Republik Islam Iran. Ini adalah pernyataan dari badan (IAEA) itu sendiri, “lanjutnya.

Iran selalu bekerja sama penuh dengan IAEA dan mengizinkannya mengunjungi situs nuklir negara ini, namun menyebut pendekatan badan nuklir ini tidak konstruktif. Teheran meminta IAEA menghindari politisasi masalah tersebut dan fokus pada aspek teknis sesuai mandatnya.

Para pejabat Iran telah berulang kali meminta Dirjen IAEA Rafael Grossi untuk menghentikan pendekatan yang dipengaruhi Israel, dan menekankan bahwa Teheran tidak akan pernah menyerah pada perilaku politik pengawas nuklir PBB yang dipengaruhi oleh tekanan Zionis.

Mereka menolak pernyataan kepala IAEA bahwa ada “jejak uranium yang tidak dapat dijelaskan” di tengah upaya untuk pemulihan kesepakatan nuklir 2015, dan menyarankan Dirjen IAEA untuk tidak mengajukan tuduhan terhadap Iran berdasarkan klaim yang dibuat oleh Rezim Zionis Israel dan kelompok anti-Teheran. (fna)

Saudi Menilai Ada Kemajuan untuk Penyudahan Perang Yaman

Arab Saudi menyatakan bahwa kemajuan sedang dibuat untuk mengakhiri perang Yaman, di mana Riyadh memimpin koalisi militer, namun masih banyak pekerjaan diperlukan, termasuk mengubah gencatan senjata dari temporal menjadi permanen.

Dikutip Al-Jazeera, Rabu (18/1), Menlu Arab Saudi Faisal bin Farhan Al-Saud di panel Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, mengatakan konflik delapan tahun hanya akan dapat diselesaikan melalui jalur politik.

Dia menyebutkan pihaknya juga berusaha mencari jalan untuk berdialog dengan Iran sebagai cara terbaik untuk menyelesaikan perbedaan atas beberapa konflik, termasuk yang terjadi di Yaman.

Menurut Al-Jazeera, Saudi dan Iran telah bertahun-tahun terlibat persaingan pengaruh di seluruh wilayah dalam berbagai peristiwa seperti konflik di Yaman, Suriah, dan Lebanon.

Riyadh dan Teheran memutuskan hubungan pada tahun 2016 tetapi para pejabat dari kedua negara telah mengadakan lima putaran pembicaraan langsung yang dimedia oleh Irak sejak tahun lalu, yang terakhir pada bulan April, tanpa mencapai terobosan diplomatik.

Pada panel yang sama, utusan PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, mengatakan bahwa mengakhiri perang di Yaman “tidak akan mudah” dan ketidakpercayaan tetap ada, namun belakangan ini langkah serius telah diambil.

Grundberg mengaku terdorong oleh apa yang disebutnya intensifikasi upaya diplomatik untuk mengatur gencatan senjata baru dalam perang di Yaman.

Mengenai peningkatan diplomasi di sekitar Yaman, khususnya yang melibatkan Arab Saudi dan Oman, Grundberg menyinggung kemungkinan “perubahan langkah dalam lintasan” konflik, dan menyebutnya “kemungkinan yang tidak boleh disia-siakan dan menuntut tindakan yang bertanggung jawab”.

Menurutnya, kontak diplomatik baru-baru ini telah membantu mengklarifikasi posisi berbagai pihak dan  “pilihan untuk solusi yang dapat diterima bersama”.

Tetapi dia juga memperingatkan bahwa meskipun kedua belah pihak menunjukkan “pengekangan militer secara umum”, “salah perhitungan yang sederhana dapat menyalakan kembali siklus kekerasan yang akan sulit untuk dibalik.” (aljazeera)